Langkah (30): Silakan Pilih, Jember atau Situbondo

Hari kedua perjalanan kami awali dari Surabaya. Target hari ini adalah mencapai Banyuwangi. Syukur-syukur bisa langsung menyebrang ke Pulau Dewata. Masih ngaret seperti kemarin. Maklum, tiba di kontrakan Eko saja sudah hampir tengah malam, setelah berpusing-pusing di daerah Wonokromo.

Aha! ada hal lucu semalam ketika saya menanyakan jalan ke seorang satpam di Jl. Ahmad Yani. Jadi ceritanya kawan kami, si Eko, ini tinggal di daerah Ngagel. Aturannya dibaca Ngag’l, dengan E pepet yang diucapkan samar. Konyolnya, saya malah nanya sama satpam “Pak, mau ke NgagEl lewat mana, ya?” dengan E yang diucapkan dengan jelas seperti bilang ember. Lidah Sumatra ini bikin satpam itu terheran-heran kemudian mengoreksi pengucapan saya sebelum menunjukkan arah.

Pukul 10 pagi tanggal 27 januari kami baru cabut dari kontrakan Eko. Foto-foto di halaman, cari makan, dan bocor ban di jalan – kutukan “minus dua” itu masih berlanjut. Hehe – membuat kami baru bergerak meninggalkan Surabaya sekitar jam 11 siang. Hehe.

Jalan dari Surabaya ke Banyuwangi akan bercabang di daerah Probolinggo. Satu melewati Jember dan satu lagi melewati Situbondo. Kami memilih melewati gemunung Jember alih-alih Situbondo yang datar dan beraspal mulus. Mengenai pilihan ini ada lagi ceritanya.

Flashback ke hari Selasa (26/01). Di Ngawi kami mampir di rumah seorang kawan yang terletak dekat situs purbakala Trinil. Di rumah Hanung ini kami disambut dengan hangat, mungkin karena kawan-kawan kuliah lain jarang singgah ke sini. Kami disuguhi makan siang, dengan lauk Lele dan gulai-enak-khas-Ngawi-yang-saya-lupa-namanya, yang lezat oleh Ibunya Hanung. Sebelum makan saya dan kawan-kawan sempat ngobrol sebentar dengan Ayah Hanung. Beliau menyarankan lewat Jember sedang Hanung merekomendasikan lewat Paiton, Situbondo. “Katanya” sih lewat Jember lebih cepat. Lagian kereta api, kan, lewat sana.

Saya juga teringat obrolan dengan Hendra, kenek Elf Probolinggo-Bromo yang keturunan Situbondo. “Di Situbondo itu banyak preman. Sangar-sangar pula!” Kami pun teryakinkan, lewat Jember akhirnya.

Sore hari sebelum magrib kami tiba di Jember. Sholat ashar dan magrib di Masjid Jami’ Jember baru yang terletak berdampingan dengan Masjid Jami’ Jember lama. Kemudian makan malam sambil menikmati hujan di “HIK”nya ibu-ibu Madura depan Radar Jember. Sampai Jember sih kami masih haha-hihi saja karena jalanan dari Jember ke Probolinggo masih wajar, masih datar-datar.

Omong-omong sepanjang jalan saya kok merasa kota-kota kecil di Jawa ini hampir semuanya “semarak” ya? Hampir semua punya jalan dua arah di pusatnya, punya alun-alun dan stasiun, pokoknya kesannya teratur. Beda banget sama kota-kota kecil di Sumatra, pulau yang propinsi-propinsinya lebih populer dengan istilah “daerah”, yang apa adanya dan memang terkesan agak-agak “tertinggal” dalam masalah pembangunan. Heran saja, padahal kan Indonesia sudah berumur 64 tahun, masa pembangunannya masih jomplang aja? Yang pasti ini bukan “lagi” salah Belanda yang menjadikan Jawadwipa sebagai pusat pemerintahan dahulunya. Sudah, ah. Lupakan saja masalah klasik itu.

Jalan mulai menunjukkan kesangarannya ketika mulai memasuki pinggiran kota Jember. Mendaki dan mendaki kemudian perlahan permukiman hilang dari pandangan. Yang tersisa hanya hutan perbukitan sepi dengan jalanan jelek berkelak-kelok tanpa penerangan. Sebenarnya jalan yang gelap dan seperti ular itu bukan masalah kalau pengendara motor berhati-hati. Yang jadi masalah adalah aspalnya yang jelek minta ampun. Salah-salah bisa kejeblos lubang dan “blush”, ban bocor. Kalau sudah begitu, alamat menunggu sampai pagi, kemudian mendorong motor ke permukiman, karena tidak ada orang yang mau bersusah payah membuka kios tambal ban di jalanan seram seperti itu. Mungkin karena takut “kenapa-kenapa” dan tidak ada orang yang akan menolong di jalanan spooky itu, sewaktu lewat di sana beberapa motor bergabung dengan kami membentuk konvoi kecil. Probolinggo-Banyuwangi via Jember kami tempuh dalam waktu sekitar 7-8 jam. Sepanjang jalan saya mengamati jalanan, “Kok sepi-sepi aja? Mana bis Surabaya-Banyuwangi?” Belakangan saya mengerti ternyata bis umum lebih milih lewat Situbondo.

Yang menakjubkan dan bikin “Teot!”, ternyata jika lewat Situbondo waktu tempuh Probolinggo-Banyuwangi hanya sekitar 4 jam. Hanya setengah waktu via Jember. Tinggal ngegas saja karena jalannya mulus bin datar. Dan yang paling asyik rute ini lewat Taman Nasional Baluran yang indah di siang hari. Meskipun sama menakutkannya dengan hutan Jember-Banyuwangi di malam hari. Hehe. Anda juga harus berhati-hati karena di siang hari, sepanjang TN Baluran banyak orang yang meminta sumbangan di ruas-ruas jalan yang sedang dalam proses pelebaran. Salah-salah bisa nabrak dan menimbulkan perkara. Rute ini juga melewati PLTU Paiton, membelah hutan bakau yang luas, dan obyek wisata keluarga “Pantai Pasir Putih”. Ini kami ketahui belakangan ketika pulang dan menyusuri jalur Situbondo.

Alhamdulillah kami keluar dari Jalanan yang berliku dan penuh “ranjau” itu dengan selamat tanpa kebanan. Di Rojojampi, kota kecamatan pertama yang kami temui setelah melintasi hutan Banyuwangi, saya dan kawan-kawan langsung menghampar di trotoar dan menarik napas lega. Sambil ketawa-ketawa edan dan mengutuki ketololan kami memilih lewat Jember tentunya.

Tiba di Ketapang malam telah larut. Tak mungkin memaksakan untuk menyeberang sekarang karena kami sudah komit untuk tidak jalan “dini hari”. Malam kedua itu kami tidur di sebuah pom bensin di Ketapang karena menurut saya nginap di Gilimanuk kurang aman pun nyaman; perilaku tukang ojeknya sudah ngasih lihat pada saya gambaran kehidupan malam di sana. :D

Jadi, pilih lewat Jember atau Situbondo?[]

Langkah (29): Diarios de Motocicleta Minus Izin

Ceritanya saya dan kawan-kawan sok-sokan meniru Che Guevara, melakukan perjalanan lintas negeri dengan sepeda motor. Overall sama lah. Bedanya cuma (1) Che touring berdua, kami berempat (2) Che menggunakan motor gede sedangkan motor kami cuma Shogun butut dan Vario (3) Che melintasi beberapa negara di Amerika Selatan, kami cuma melintasi 5 pulau di Jawa dan di gugusan Nusa Tenggara Indonesia, dan (4) Che dan kawannya jalan dengan mengantongi izin orang tua, rombongan kami izinnya “minus dua” alias cuma dua orang yang minta izin sebelum berangkat. Lanjutkan membaca ‘Langkah (29): Diarios de Motocicleta Minus Izin’

Langkah (28): Candi Sewu

Kamis kemarin, diiringi rintik gerimis yang turun malu-malu, saya menggeber motor ke arah Prambanan. Niatnya sih ingin mengunjungi Candi Sewu. Candi Budha yang kalah pamor dibandingkan Candi Roro Jonggrang-lebih populer sebagai Candi Prambanan-yang tersohor. Lanjutkan membaca ‘Langkah (28): Candi Sewu’

Book: Selimut Debu

Buku keren memang selalu susah untuk diresensi, seperti buku ini. Pembaca setia rubrik petualang di kompas.com tentu telah akrab dengan nama Agustinus Wibowo. Penulis serial Titik Nol. Pemuda asal Jawa Timur ini adalah seorang alumnus sebuah universitas di Beijing yang melakukan perjalanan darat lintas Asia tanpa henti sejak 2005. Seorang diri dia melewati Tibet dan tempat-tempat berbahaya lain di Atap Dunia. Buku ini menceritakan fragmen perjalanannya selama di negeri Taliban, Afghanistan.

Afghanistan dalam kepala Agustinus sebenarnya tidak jauh berbeda dengan bayangan kita; penuh ranjau, perempuannya memakai burqa, dipenuhi Taliban, markas Osama bin Laden, dan hal-hal buruk lain. Namun yang berbeda adalah dia mempunyai keinginan untuk mengetahui “Bagaimana, sih, sebenarnya?” Lanjutkan membaca ‘Book: Selimut Debu’

Halaman Berikutnya »


the author

The name is Morishige. A twenty something young boy. The hobby is travelling. And hiking. And reading. And watching film. And playing guitar.

Photobucket

my twitter

kategori

arsip

online guests

who's online

hits

  • 65,536 netters