Rencana B

September 15, 2014

“Don’t think about what you’ll tell people afterward. The time is here and now. Make the most of it.” – Paulo Coelho, Aleph.

 

Empat menit setelah kereta berangkat, saya baru tiba di Stasiun Lempuyangan. “Sudah, mas,” jawab satpam stasiun ketika saya memastikan sekali lagi. “Sudah berangkat.”

Rencana yang saya susun berantakan sudah. Padahal ini baru perjalanan hari pertama! Dari seminggu yang lalu saya sudah mulai mencorat-coret jadwal di catatan, semacam itinerary sederhana yang detilnya saya sesuaikan begitu rupa dengan anggaran yang saya punya. Dalam angan, hari ini saya akan menumpang Kereta Api Ekonomi Sri Tanjung ke Banyuwangi. Saya hanya perlu duduk manis di dalam gerbong yang kini sudah dilengkapi pendingin ruangan, sesekali barangkali akan membuka Coelho yang saya bawa, sampai tiba di Banyuwangi kisaran pukul delapan malam. Setelah istirahat sejenak di sekitar pelabuhan, mengisi perut yang keroncongan, membiarkan mulut seharian masam merasakan nikmatnya kretek, saya akan menyeberangi Selat Bali dengan kapal roro kemudian sandar di ujung barat Pulau Dewata. Setiba di Gilimanuk, pukul tiga dinihari, saya akan menumpang bis langsung pertama yang bakal mengantarkan saya sampai tepat ke depan terminal keberangkatan Padang Bai.

Tiket kereta api itu sudah saya beli beberapa hari yang lalu. Sempat merasa beruntung ketika saya tahu bahwa bea tiket kereta api masih disubsidi pemerintah, tetap Rp. 50.000. Gembira sekali rasanya ketika lembaran Rp. 100.000 yang saya sodorkan pada petugas loket dikembalikan setengahnya. Tapi pagi itu saya hanya bisa membolak-balik tiket malang itu, menyesali bahwa selembar kertas tipis itu tidak akan pernah menyempurnakan kodratnya – diperiksa dan dicoblos oleh kondektur kereta bertopi dan berseragam rapi.

Mau tak mau saya melangkahkan kaki keluar dari stasiun. Rasanya seperti menjadi seorang tentara yang disuruh pulang sebelum berperang. Saya hampiri Deli, kawan yang mengantarkan saya pagi itu, yang sedang asyik menikmati teh hangat di angkringan. Selain mengantarkan saya, omong-omong, ia juga sedang menunggu seorang kawan lama dari Jakarta yang akan transit sehari di Jogja sebelum melanjutkan perjalanan ke Gunung Rinjani di Nusa Tenggara. Deli terbahak ketika tahu bahwa saya ketinggalan kereta.

Dulu saya pernah juga ketinggalan kereta saat akan menonton Arkarna di Java Rockingland 2011, masa ketika lagu “Kereta Tiba Pukul Berapa” yang dinyanyikan Iwan Fals masih relevan dengan kondisi perkeretaapian Indonesia. Dari balik portal rel Lempuyangan, saya menyaksikan Progo yang seharusnya saya tumpangi bergerak pasti ke arah barat menuju Jakarta. Tapi saya tak perlu hirau sebab tiket Progo masih bisa dipakai buat kereta Bengawan yang berangkat beberapa saat setelah magrib. Saya dan Obi, kawan baik yang kebetulan dulu juga ada urusan ke Jakarta, tetap dapat menumpang kereta hari itu juga meskipun harus duduk menghampar di bordes restorasi. Sekarang tak bisa lagi seperti itu; PT KAI benar-benar sudah berbenah.

Rencana B terpaksa harus dijalankan: naik bis. Sebagai pulau yang pembangunannya paling pesat se-Indonesia, Jawa menyediakan sejuta alternatif moda transportasi, dari yang mahal sampai gratisan. Pun tidak ada bis, saya bisa setiap saat meloncat ke bak truk, atau diam-diam menyelinap ke gerbong kereta pengangkut minyak Pertamina. Masih ada ruang untuk rencana B, C, sampai Z sekalipun.

“Ayo antar aku ke Giwangan, Del,” saya coba dulu rencana B.

Giwangan, terminal bis paling besar di Jogja, hanya berjarak sekitar setengah jam dari stasiun. Sak plintingan watu – selemparan batu – kalau dari sentra kerajinan perak Kotagede. Dan bis menuju Jawa Timur selalu tersedia sepanjang hari. Bis ke Surabaya bahkan beroperasi 24 jam, sepanjang waktu. Saya belum sempat riset soal bis langsung ke Banyuwangi, rute maupun ongkosnya. Namun melihat wujud bis yang tampak mewah – ber-AC dan mengilap – sekaligus intimidatif, saya jadi berpikiran bahwa ongkos langsung ke ujung timur Jawa itu akan mahal. Jadi saya pilih untuk ngeteng saja – ke surabaya dulu lalu lanjut dengan bis lain ke Banyuwangi.

“Berarti, jam berapa nanti kamu sampai di Banyuwangi, Jo?” Tanya Deli dalam perjalanan ke Giwangan, di atas motor CB berknalpot berisik yang telah dimodifikasi menyerupai Harley.

“Paling jam dua belas malam atau dinihari, Del,” jawab saya mengira-ngira. Deli terkekeh lagi.

***

Perkiraan saya tidak jauh meleset. Sekitar pukul dua dinihari saya meloncat turun dari bis tepat di depan pelabuhan ketapang. Perjalanan panjang, sungguh.

Dari Jogja saya akhirnya naik Mira. Salah satu dari dua perusahaan otobis yang kerap saya tumpangi ketika bepergian dari Jogja ke arah Surabaya ataupun sebaliknya.

Ongkosnya lebih murah beberapa ribu rupiah daripada armada bis satu lagi, Sumber Kencono (SK), yang sejak setahun lalu, demi alasan yang konon berbau klenik, mengganti namanya jadi Sumber Selamat. Menurut rumor, yang menjadi sebab adalah frase Sumber Kencono yang berrima dengan sumber bencono, sumber bencana. Sumber Kencono adalah pengejawantahan dari istilah “benci tapi rindu”. Ketika sedang di dalam bis, penumpangnya mungkin kerap dipaksa keadaan untuk mengumpat akibat ulah sopir bis yang mengendara dengan ugal-ugalan. Tidak jarang bis SK berakhir di parit atau markas polantas setelah menghabisi nyawa orang malang yang kebetulan menyeberang pas sewaktu bis itu melintas. Koran Kedaulatan Rakyat sekali waktu pernah memuat cerita bis SK yang tiba-tiba mejeng di tengah hutan jati tanpa ada bekas tabrakan. Spekulasi berkembang, ada yang bilang bis itu diportal makhluk halus. Entahlah.

Di sisi lain bis ini adalah andalan bagi komuter Jogja-Jawa Tengah-Jawa Timur – PNS, pebisnis, pelajar dan mahasiswa, masyarakat umum. Bis ini selalu ramai. Pemberitaan negatif media tentang bis ini tidak mengurangi jumlah pendaftar Kartu Langganan. Tak peduli siang atau malam, mereka konsisten berlari kencang. Dan yang paling penting, tidak suka ngetem. Kawan saya ketika kuliah dulu, yang berasal dari Ngawi, bahkan pernah mencoba memasukkan nama SK ke dalam halaman ucapan terima kasih sebab telah mengantarkannya, secara harafiah, kuliah ke Jogja – yang ditolak mentah-mentah oleh dosen pembimbingnya.

Dalam kadar tertentu, Mira dan SK dapat dikategorikan profesional sebab memiliki tarif yang jelas, setiap penumpang diberi selembar karcis.

Mira dan SK memiliki satu persamaan; sopirnya sama-sama malas mengerem ketika berhadapan dengan polisi tidur. Bagi SK, polisi tidur bukanlah rintangan, ia adalah musuh yang mesti ditaklukkan, harus dilindas sampai tandas. Setiap kali menumpang Mira dan SK, tak terhitung berapa kali saya terbangun dari lelap, terlonjak tinggi hampir terantuk ke langit-langit mengikuti bis yang juga terbang sepersekian detik ketika menabrak polisi tidur.

Pendek kata, setiap penumpang akan merasakan love-hate relationship dengan kedua armada bis legendaris ini.

Dan itu siang, Bis Mira tiba-tiba berhenti di tengah perjalanan. Di daerah Nganjuk atau Jombang, saya lupa. Koplingnya tiba-tiba rusak dan, tidak mau mengambil risiko, awak bis mengalihkan penumpang ke Mira di belakang.

***

20140819_191550

Sudah gelap ketika saya tiba di Terminal Purabaya, Surabaya, yang lebih populer dengan sebutan Bungurasih. Kerumunan calo menyambut para penumpang yang berdesakan keluar dari pintu bis. Mereka menawarkan jasa ke setiap orang, termasuk saya. Saya berjalan dengan memasang postur bagus lagi meyakinkan supaya mereka tidak memaksa saya. Tapi masih ada saja satu yang nekat. Ia menanyai saya akan ke mana namun saya hanya menjawab dengan senyum. Ia tidak terima dan menuntut pertanyaannya dijawab.

“Saya tanya baik-baik,” ia berkata dengan nada kasar. “Tolong dijawab.”

“Kalem, Mas,” saya menampiknya dan terus berjalan ke arah terminal keberangkatan. Saya enggan berurusan dengan calo terminal. Terlebih mereka yang agresif dan menggunakan cara intimidatif untuk menjaring calon penumpang. Mencari moda transportasi menggunakan jasa calo, semua akan terasa mudah pertama-tama. Namun lama kelamaan, ketika sudah di jalan, masalah pun satu per satu muncul: tidak ada kursi atau duduk di bangku serep, bayar ongkos ekstra, diturunkan di antah berantah.

Di atas Mira tadi, penumpang yang duduk di samping saya menyarankan untuk naik AKAS ke Banyuwangi. “Lewat Pantura. Lebih cepat,” ujarnya. Bis kebanyakan memilih lewat Jember yang medannya bergunung-gunung dan, tentu saja, memakan waktu tempuh yang lebih lama. Sekali waktu di 2010 dulu saya dan tiga orang kawan pernah bepergian menggunakan sepeda motor ke Bali dan memilih untuk lewat Jember. Demikianlah Jember; bergunung-gunung. Jalan penghubung Jember dan Banyuwangi pun berlubang-lubang dan, lebih buruk lagi, minus penerangan. Dulu itu, di ruas-ruas jalan yang kondisinya paling mengenaskan, tidak satu pun saya lihat tambal ban. Tak terbayang bagaimana jika tiba-tiba ban motor kami gembos di tengah malam… Mungkin akan jadi santapan begal.

Bis AKAS jurusan Banyuwangi selanjutnya akan bertolak pada pukul 9 malam. Dua jam lagi. Tidak tahan dengan Bungurasih yang keras dan riuh, saya meloncat ke bis ekonomi pertama yang melaju ke Banyuwangi. Di dinding bis itu tertera nama Restu. Sudah teramat bobrok dan saya ragu ia akan mampu mengantarkan saya sampai dengan selamat ke Banyuwangi. Terlebih jika lewat Jember.

Duduk di bangku paling belakang, saya head-to-head dengan seekor kecoa ketika coba menyandarkan kepala ke jendela kaca. Saya perhatikan saja makhluk itu sampai ia mundur ke persembunyiannya. Entah kecoa itu bisa sampai ke bis ini karena mengendus bau busuk, atau justru bau busuk yang saya cium itu berasal dari kawanan kecoa yang menyuruk di sela-sela bis, hanya Tuhan yang tahu.

Lewat Sidoarjo, kondektur bis mulai bergerak menariki ongkos. Di terminal tadi saya sempat melihat daftar tujuan dan tarif bis. Untuk ke Banyuwangi, pemutakhiran terakhir data menyebutkan bahwa batas atas tarif angkutan ke Banyuwangi tidak lebih dari Rp. 50.000. Ketika kondektur menghampiri, saya berikan saja satu lembar uang biru itu sembari menyebutkan “Banyuwangi”.

Ia tampak menimbang-nimbang sejenak lalu menoleh pada saya kembali.

“Banyuwangi mana?”

“Terminal.”

“Sepuluh ribu lagi.”

Saya keluarkan selembar merah dari saku dan saya berikan padanya. Entah benar entah tidak, tak lagi saya peduli. Sepanjang jalan dari Jogja tadi dalam benak saya yang berkelebatan hanyalah soal apakah uang saya cukup untuk melakukan perjalanan ini. Terbayang kota demi kota yang akan saya singgahi, selat demi selat yang akan saya seberangi, dan pulau demi pulau yang akan saya lintasi, apakah tabungan saya akan cukup? Apalagi melihat kenyataan bahwa di hari pertama ini saja sudah banyak pengeluaran ekstra. Sementara, dalam kepala saya, perjalanan ini akan berlangsung paling tidak tiga minggu.

Kemudian saya insaf bahwa pemikiran-pemikiran seperti itu hanya akan mengisolasi saya dari masa kini. Akan ada banyak pengalaman dan perenungan yang terlewatkan. Barangkali saya akan lupa untuk sekadar menarik napas, menghirup udara, dan bersatu dengan pojok bumi yang baru pertama kali saya tapaki. Perjalanan yang sudah saya dambakan sekian lama hanya akan berakhir di album foto. Sekilas tampak manis namun nyatanya hampa tiada bernas sebab sepanjang jalan pikiran saya sibuk sendiri. Barangkali benar bahwa melakukan perjalanan bukan perkara punya uang atau tidak, melainkan soal punya tekad atau tidak, ada nyali atau tidak.

Lama saya memejamkan mata. Ketika bangun bis sudah tiba di daerah perkebunan tebu perbatasan Lumajang-Jember dan yang membangunkan saya adalah sebuah hentakan yang barangkali disebabkan oleh bis yang menghajar polisi tidur. Pelipis kanan saya memar dan bengkak, terasa nyeri.

Di Jember, keraguan saya terbukti. Bis yang bobrok ini tidak sanggup terus ke Banyuwangi dan para penumpang mesti dioper ke bis lain yang lebih kecil dan tangguh, yang bangkunya lebih empuk dan nyaman, tidak bau, dan ber-AC. Di bis keempat saya hari itu, saya tidur pulas sampai kondektur membangunkan saya. Memberitahu bahwa bis sudah tiba di Pelabuhan Ketapang.

20140820_025840

April

Juli 20, 2014

The night was still young in late April–or early May–when Dimas, Ficher, and I were riding our bikes along the empty Brawijaya St., the main road of Tulungrejo, Pare. Though it was only few minutes past ten, we saw no motor vehicle. It made me feel that I was being left behind by the rest of the people in the world.

Ficher was by himself but I rode along with Dimas. In the cold dark night, our faces were still filled by the reminiscence of laughter from Jendela Mimpi Cafe. We then turned to Dahlia Street. Ficher’s boarding house was not far from the three way junction intertwining the roads of Dahlia and Brawijaya. From its yard, I could see Ficher’s friends were still busy talking in the living room. Baca entri selengkapnya »

Over the fence

Mei 19, 2014

I have never rented a bicycle ever since I arrived here about two months ago. In Pare, everyone rides a bicycle to go to their English classes. I choose not to rent one.

Right now, I am staying in a dormitory named Samudra. Located about one kilometer from Elfast, I have to walk for about 10 minutes to the course everyday. I see it as a work out to exercise my fat belly. Besides, I am always eager to do it because I have to step my feet along a small irrigation canal separating beautiful large green rice fields from the bumpy narrow road of Kemuning street. Also, the fresh air of dawn is too good to be passed. Baca entri selengkapnya »

Lawu

Maret 6, 2014

Barangkali terlalu berlebihan untuk menyebutnya badai. Apalagi saya kurang paham mengenai klasifikasi angin. Namun yang jelas pagi ini angin bertiup teramat kencang. Pohon-pohon cemara di pinggir tebing tak henti goyang. Kabut pembawa dingin terombang-ambing dipermainkan oleh si udara yang bergerak. Meninggalkan jejak berupa putih translusen di Cemoro Kembar, Gunung Lawu. Pos 5 masih berjarak beberapa ratus meter vertikal lagi.

Seolah tak mau kalah, hujan ikut ambil bagian. Di pojok terpal, untuk menampung air Benny menaruh beberapa botol air minum kemasan yang sudah dipangkas bagian atasnya. Akhirnya saya mampu menghayati kalimat “hujan adalah berkah” sebab air meteorit itu turun persis ketika persediaan pemuas dahaga kami semakin menipis. Baca entri selengkapnya »

Rakutak

Januari 25, 2014

Akhirnya kami berlima berbalik arah, kembali menuruni punggungan yang dipenuhi tanaman rumput gajah. Langit telah gelap pekat namun kami urung jua sampai di Danau Ciharus. Hujan semakin lebat, kabut tipis yang nakal menghalangi mata melihat. Tanda-tanda alam itu seakan berusaha memberi pesan bahwa berjalan di malam hari tak akan membawa kami ke mana-mana. “Kalau kata gue sih kita nge-camp dulu di sini,” usul Novel, kawan baru dari Bandung.

Sepakat, tidak satu pun suara protes. Memang begitulah seharusnya ketika tersesat di gunung. Harus satu kepala. Tiap anggota tim harus rela meleburkan egonya ke dalam satu suara bulat. Banyak cincong hanya akan menghasilkan perselisihan. Saya jadi teringat kisah dua orang pendaki Gunung Merbabu, jauh bertahun-tahun yang lalu, yang berselisih paham soal jalan sesaat sebelum mencapai Sabana Pertama. Salah seorang memilih jalur kanan sementara yang lain bersikeras ke jalur kiri. Kata sepakat tak tercapai malah golok yang berbicara. Perselisihan mereka meninggalkan kenangan yang sampai sekarang masih dapat disaksikan para pendaki Merbabu: memoriam. Baca entri selengkapnya »

Monas

Januari 20, 2014

Monas menjadi penanda bahwa sebentar lagi kereta yang saya tumpangi dari Bandung akan tiba di Stasiun Besar Gambir. Kereta Argo Parahyangan itu meluncur di bawah langit Jakarta yang kelabu. Ia perlahan melambat sebelum sepenuhnya menghentikan laju. Para penumpang yang semula duduk berbondong-bondong keluar dari gerbong. Bergegas  mereka–dikejar entah apa–mencari pintu keluar untuk masuk ke dalam dunia masing-masing. Barangkali sudah tak sabar ingin menuntaskan urusan yang telah ditunda perjalanan selama tiga jam.

Saya sendiri segera melangkahkan kaki ke sana, ke monumen raksasa perlambang lingga-yoni yang dibangun pada masa orde lama. Monas memang cuma selemparan batu dari Stasiun Gambir. Sudah bertahun-tahun saya mendamba memasukinya, sejak ayah membawakan oleh-oleh kaos putih bergambar Monas dahulu sekali ketika saya bocah. Selama ini saya hanya bisa melihatnya dari jauh; dari kaca jendela kereta Taksaka dalam perjalanan mudik, dari kaca jendela bis Damri yang mengantar saya ke Soekarno-Hatta. Baca entri selengkapnya »

Lewat Pos Cemara

Desember 20, 2013

“Tutupi pakai mantel!” Pinta saya pada Eka ketika hujan mendadak turun dengan lebatnya, hanya beberapa ratus meter dari pos ketiga Gunung Slamet, Pos Cemara. “Aku ambil flysheet dulu. Kita bikin bivak.”

Dengan sigap Eka, Arta, dan saya membentangkan kain berukuran tiga kali tiga meter berwarna hitam itu lalu mengikatkannya dengan tali rafia kuning ke tiap sudut. Dalam beberapa menit saja kemah darurat bikinan kami siap. Lengkap dengan alas berupa mantel hujan dan parit-parit kecil untuk mengalirkan air. Baca entri selengkapnya »

Papandayan

November 18, 2013

Jika saja di Garut saya dan kawan-kawan tak berurusan dengan calo dan supir nakal barangkali kami tak akan pernah berkenalan dengan Pras, Mulki, Garry, dan Astri. Dan entah bagaimana pula nasib mereka: kehujanan di Pondok Salada; meringkuk kedinginan di bawah pohon sejenis cantigi; berlindung sia-sia di antara rumpun bunga abadi yang tak sanggup membendung derasnya terpaan angin gunung?

Menjelang pukul sembilan pagi ketika itu. Akhirnya kami duduk dalam elf yang akan mengantarkan ke Cisurupan, jalur paling umum untuk mendaki Gunung Papandayan. Seorang bapak paruh baya yang tidak jelas calo atau supir mewanti-wanti kami sesaat setelah keril diikat erat di atap mobil, “Pokoknya jangan mau kalau disuruh pindah.” Kami mengangguk sebab tanpa disuruh pun jelas sekali kami tak akan mau diusik dan disuruh pindah dari bangku elf yang sudah terlanjur nyaman ini. Tadi, sembari menunggu Zeni tiba, kami tiduran selama beberapa jam di atas ubin teras mushala Terminal Guntur yang dingin dan keras. Baca entri selengkapnya »

Argopuro

Oktober 26, 2013

There is a pleasure in the pathless woods,
There is a rapture on the lonely shore,
There is society, where none intrudes,
By the deep sea, and music in its roar:
I love not man the less, but Nature more.

Lord Byron, Childe Harold’s Pilgrimage

Suara merak yang membahana seantero Cikasur membangunkan saya dari mimpi yang juga tentang merak. Saya tergeregap, membuka ritsleting tenda, lalu melongokkan kepala keluar. Sekujur tubuh masih dalam balutan kantong tidur. Saya mendapati diri tengah berada di sabana mahaluas.

“Mereka kalau mau terbang heboh, Jo,” ujar Berto, kawan dari Himpala Unas Jakarta, yang kemarin sore telah melihat kawanan burung berperawakan anggun itu. Tenda consina magnum-nya bahkan sudah dihiasi sebatang bulu merak yang tercecer dan telah kehilangan “mata”. Ia lanjut memanasi saya, “Kalau berjalan, Jo, ekornya goyang-goyang.” Baca entri selengkapnya »

Ke Sabang

September 27, 2013

Halaman-halaman jurnal itu saya bolak-balik di bawah lampu temaram ruang tamu rumah. Buku itu bersampul keras dan tebal. Ia semakin tebal dijejali oleh berlembar-lembar tiket bis, kapal, karcis masuk obyek wisata, beberapa lembar foto karya fotografer amatir, serta log-book aktivitas penyelaman dari Rubiah Tirta Divers. Tuntas sudah perjalanan, saatnya sekarang untuk menuliskan catatan.

Siang diselingi rinai ketika itu, hari keberangkatan. Adek mengantarkan saya ke perwakilan bis Antar Lintas Sumatra (ALS) di Jalan Bypass, Padang. Ia yang menyupir. Kami agak terburu-buru sebab salat Jumat di Padang baru selesai menjelang pukul 13.00, sementara menurut tiket saya sudah harus hadir di lokasi pemberangkatan paling lambat pukul 13.30. Dalam riuh saya menata ulang keril. Keringat masih mengucur deras begitu pintu depan mobil saya tutup. Baju abu-abu itu basah. Saya berusaha tenang meskipun dalam hati cemas. Adek mulai memacu si roda empat menjauh dari rumah. Pukul 13.30 semakin dekat dan kami masih di tepi Banda Bakali. Baca entri selengkapnya »


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 103 pengikut lainnya.