BPC Challenge: Mengenali Kota Sendiri

Juni 29, 2010 oleh morishige

Semenjak rajin berkumpul dengan kawan-kawan Kaskus Backpacker Community (BPC) Regional Jogja, ada-ada saja aktivitas saya. Saya mulai sering keluar malam lagi. Mulai sering jalan-jalan di akhir pekan lagi. Dan mulai sering karaokean.

Sekitar seminggu yang lalu, tepatnya tanggal 20 Juni 2010, komunitas mengadakan sebuah acara yang diberi nama Backpacker Community Challenge (BPC Challenge). Terinspirasi dari semakin banyaknya kaskuser yang bertanya tentang Jogja di forum regional, beberapa orang anggota BPC terpikir untuk mengadakan sebuah event yang bertujuan untuk memperkenalkan obyek-obyek wisata Jogja kepada masyarakat yang berdomisili di luar kota Jogja. Maka keluarlah ide untuk mengadakan acara ini.

Dalam perlombaan tanpa hadiah ini, setiap tim yang berjumlah dua orang diberi uang saku sebanyak 25 ribu/orang. Dengan uang 50 ribu/tim, setiap tim berlomba-lomba untuk mengunjungi sebanyak-banyaknya obyek wisata yang ada di Jogja. Start dari Monumen Serangan Oemoem 1 Maret,  perlombaan dimulai dari pukul 12 siang dan berakhir pada pukul 5 petang.

Saya dan Kak Mina, partner saya, mengunjungi Kraton Ratu Boko, Candi Prambanan, Candi Sewu, Kebun Binatang Gembira Loka, Situs Pesanggrahan Warungboto, Museum Perjuangan Yogyakarta, kampung backpacker di Jl. Prawirotaman, dan Panggung Krapyak.

Beberapa nama di depan mungkin terdengar familiar. Siapa yang tidak kenal Candi Prambanan atau Kebun Binatang Gembira Loka? Namun bagaimana dengan situs Warungboto atau Panggung Krapyak? Saya yakin beberapa di antara kawan-kawan mungkin meringis sambil berpikir “apa ya itu?” ketika membaca dua obyek terakhir. :D

Situs Warungboto adalah sebuah pesanggrahan, tempat peristirahatan, peninggalan Sultan Hamengku Buwono II. Mungkin karena dahulunya tempat ini sepi, Sultan membangun “villa” di sini. Saat ini pesanggrahan Sultan itu hanya tinggal puing-puing. Sama seperti reruntuhan di sebelah timur Tamansari. Meskipun sudah diberi plang yang menandakan bahwa reruntuhan ini adalah bangunan Cagar Budaya, masih saja ada tangan-tangan iseng yang melakukan aksi vandalisme corat-coret. Seperti tidak peduli dengan akar sendiri.

Tidak dipungut biaya masuk karena memang belum bisa masuk. Sekeliling situs masih dipagar kawat.

Nama kedua yang mungkin masih terdengar aneh bagi wisatawan adalah Panggung Krapyak. Panggung saja kok dibilang tempat wisata? Bukan panggung konser musik yang saya maksud. Panggung yang ini beda.

Dahulunya Panggung Krapyak merupakan tempat sultan berburu binatang. Karena dahulunya daerah sekitar masih hutan, masih banyak binatang seperti rusa yang bisa diburu. Sekarang boro-boro berburu. Salah-salah yang kena tombak malah orang yang berlalu-lalang.

Panggung Krapyak terletak di sebelah selatan Alun-Alun Kidul. Tinggal berjalan sedikit ke arah barat dari Prawirotaman. Dari kejauhan di gerbang Alun-Alun Kidul, anda akan bisa menyaksikan samar-samar sebuah bangunan berwarna merah muda kusam yang berdiri kokoh di ujung jalan.

Sekarang daerah Krapyak merupakan “Kota Santri” Jogja. Di sini berdiri sebuah pesantren bernama Pondok Pesantren Al-Munawwir. Cobalah jalan-jalan di trotoar besar Krapyak di sore hari. Anda akan melihat banyak gadis berjilbab berjalan bergerombol sambil menenteng mukena. Sungguh pemandangan yang menentramkan hati.

Banyak hal baru yang saya petik pada BPC Challenge kemarin. Di antaranya adalah sebelum kau jalan-jalan ke kota lain, ke negara lain, atau bahkan ke planet lain, kenali dulu kotamu sendiri. Karena tanpa disadari, kita sering mengabaikan yang dekat-dekat… dan terlalu menganggap penting yang jauh-jauh. []

Photos are courtesy of Adi and Mina

Jazz Mben Senen

Mei 26, 2010 oleh morishige

Selama ini pertunjukan musik jazz pasti identik dengan kata “mahal” dan “eksklusif”. Konsernya jika tidak diadakan di dalam gedung berpendingin, pasti di dalam kafe terkenal yang harga menu-menunya tidak ramah di kantong. Dan biasanya penontonnya pun pasti semua berpenampilan rapi, mencerminkan status sosial mereka yang di atas rata-rata. Baca entri selengkapnya »

Banyak Cara Menuju Bandung (2)

Mei 11, 2010 oleh morishige

Kedua kalinya ke Bandung, masih saja saya naik bis. Bedanya kali ini saya berangkat dari Jogja, bukan dari Padang lagi. Sendirian. Armada yang jadi pilihan adalah Kramat Jati. Kata kawan saya, untuk trayek Jogja-Bandung, reputasi perusahaan bis tersebut lumayan bagus.

Karena bis malam, tentu saja berangkatnya malam hari. Sehabis magrib saya sudah berada di atas bis nyaman tanpa pendingin ruangan. Maklum, kelas bis juga harus disesuaikan dengan kantong anak kuliahan. Baca entri selengkapnya »

Banyak Cara Menuju Bandung (1)

Mei 5, 2010 oleh morishige

Bandung meninggalkan catatan tersendiri dalam kenangan saya. Dari kecil sebenarnya saya berkeinginan besar untuk kuliah di kota kembang. Kota dingin yang menyimpan segala pesona; kampusnya, udaranya, gadisnya. Namun takdir berkata lain dan menuntun saya ke Jogja. Baca entri selengkapnya »

Langkah (43): Tugu Muda, Semarang

April 9, 2010 oleh morishige

Dari dulu saya pengen banget jalan ke Semarang. Setelah lama ditahan-tahan, akhirnya sekitar seminggu lalu obsesi itu terwujud juga. Saya bingung mau sedih apa gembira karena tujuan saya ke Semarang adalah untuk melayat. Baca entri selengkapnya »

Sunset Yang Tenggelam*

April 1, 2010 oleh morishige

Walaupun sebenarnya belum pernah ada yang bertanya pada saya “Di manakah sunset terbaik yang pernah kau lihat?”, saya yakin akan menjawabnya dengan garukan di kepala. Bukannya bingung karena semua sunset menurut saya sama indahnya. Sebaliknya, menurut saya sunset itu di mana-mana sama. Baca entri selengkapnya »