Sumber Kencono dan The Amazing Race

Ada sebuah adegan yang menarik di The Amazing Race Season 1. Sewaktu para kontestan sedang berada di India. Nancy dan Emily, tim ibu dan anak, mengumpat-umpat ketika si supir taksi India terus menerus membunyikan klakson. Bahkan ketika jalanan sepi dan tidak ada satu kendaraan pun yang lewat atau memapas. “Tangannya nggak pernah lepas dari klakson,” ujar Emily dalam sesi wawancara.

Yang langsung muncul di kepala saya begitu melihat adegan ini adalah, “Wah. Anak ini belum pernah nyobain naik Sumber Kencono, nih.” Masih mending Bung Vijay itu dibandingkan bapak-bapak driver Sumber Kencono (SK).

Beberapa waktu yang lalu saya diberi kesempatan mulia untuk menumpang Sumber Kencono dari Surabaya ke Jogja. Sebenarnya sih ini sebuah keterpaksaan. Kami telat mengejar jadwal kereta Sri Tanjung. Rute awal yang sudah dirancang, Probolinggo – Jogja langsung naik Sri Tanjung, berubah menjadi Probolinggo – Surabaya – Jogja naik bis.

Kami bertiga menaiki SK di Terminal Purabaya (Terminal Bungurasih) Surabaya. Walaupun SK berangkat tiap sebentar, tetap saja bisnya penuh-penuh. Mungkin karena saat itu malam minggu. Saya dan kawan asli Wonosari duduk di samping Pak Supir. Berdesak-desakan dengan penumpang lain. Kawan yang asli Ngawi beruntung mendapat bangku nyaman di belakang.

Saya memang pernah mendengar dari kawan-kawan sassus tentang kenekatan dan skill “istimewa” drivers SK yang konon kabarnya menyaingi supir-supir Medan. Sebelumnya sih saya cuma menganggap kawan-kawan saya itu lebay, terlalu mendramatisasi.

Ternyata memang benar. Di dalam kota saja, bis itu sudah dibawa melaju meliuk-liuk mencari celah agar bisa tiba lebih cepat. Setiap kendaraan yang mencoba memotong diklakson seolah yang berhak untuk lewat di jalan itu cuma bis SK. Tidak lupa Bapak Driver sering membumbui klakson-mengklakson itu dengan umpatan-umpatan khas Suroboyoan seperti “gathel” atau “jancuk”. :mrgreen:

Uniknya karena jeda waktu keberangkatannya yang sempit, kadang-kadang sesama bis Sumber Kencono saling salip dan berebut penumpang. Oleh karena itu untuk menghindari akibat buruk dari salip-menyalip ini, manajemen SK memasang stiker berbunyi “Sesama Sumber Kencono dilarang saling mendahului” di jendela samping atau belakang bis. :mrgreen:

Meskipun reputasinya dalam hal menjaga keselamatan penumpang tidak terlalu gemilang, Sumber Kencono telah mendapat tempat di hati para penumpang. Terutama mereka yang lebih mengutamakan kecepatan. Ini terbukti dari lumayan banyaknya penumpang yang memakai Kartu Langganan (KL). Penumpang yang bisa menunjukkan KL akan mendapat diskon ongkos yang lumayan. Bukti lain, kawan saya yang asli Ngawi itu bahkan berencana akan menulis; Terima kasih kepada PO Sumber Kencono yang telah mengantarkan saya kuliah ke Jogja. :mrgreen:

Nah, seandainya kontestan The Amazing Race diberikan detour menumpang SK Surabaya – Jogja, kira-kira apa yang akan mereka katakan di sesi wawancara, ya?

Gambar dicolong dari blog PO. Sumber Kencono

Langkah (24): Pagi di Ngadisari

Bromo

Ketika kami keluar dari penginapan pagi itu, matahari sudah menggantung tinggi di langit. Baru kali itu saya melihat langit sebiru dan sebersih ini.

Meskipun masih jam setengah tujuh pagi, kami harus buru-buru check out dari penginapan seharga 100 ribu semalam itu. Maklum lah. Tujuan utama perjalanan ini kan Lanjutkan membaca ‘Langkah (24): Pagi di Ngadisari’

Langkah (23): Susahnya Ngeteng ke Bromo

Stasiun Probolinggo

Sebenarnya ada dua pilihan rute ngeteng ke Bromo. Pertama Jogja – Malang – Bromo. Kedua Jogja – Probolinggo – Bromo. Kami, dalam rangka survey pendahuluan praktikum desember depan, memilih untuk ke Bromo lewat Probolinggo. Selain lebih ramah di kantong, katanya ke Bromo dari Probolinggo juga lebih dekat. Lanjutkan membaca ‘Langkah (23): Susahnya Ngeteng ke Bromo’

Langkah (22): Perkenalkan, Keraton Ratu Boko

Gapura Keraton Ratu Boko

Lokasinya terpencil. Tidak seperti Prambanan yang terletak di Jalan Solo yang besar, letak situs ini agak remote. Dua kilometer ke arah selatan dari Candi Prambanan. Kecuali anda ke sana dengan bis wisata atau berjalan kaki, kendaraan pribadi anda harus melewati jalan yang berbelok menyusuri permukiman penduduk dulu untuk sampai di pos pembelian tiket masuknya. Ya, usaha ekstra memang diperlukan untuk mencapai situs Keraton Ratu Boko. Lanjutkan membaca ‘Langkah (22): Perkenalkan, Keraton Ratu Boko’

Langkah (21): Menyelinap ke Gubernuran Yogyakarta

Gerbang Kantor Gubernur DIY

Mungkin jika dibandingkan dengan Kantor Gubernur daerah lain, Gubernuran di Jogja lah yang paling menarik. Pasalnya Gubernuran Jogja, yang juga dikenal sebagai Kepatihan, bukan merupakan gedung baru yang dibuat baru-baru ini pasca kemerdekaan. Bangunan ini merupakan eks kantor Patih alias eks kantor “Sekdaprov”nya Kasultanan Ngayogyakarto. Lanjutkan membaca ‘Langkah (21): Menyelinap ke Gubernuran Yogyakarta’

Angkringan Jogja, Sang Penyelamat Akhir Bulan

Angkringan JogjaJika kawan saya bilang “ngangkring, yuk?”, itu artinya dia mengajak saya untuk makan di angkringan. Semua orang yang pernah tinggal atau pernah jalan ke Jogja pasti kenal tempat makan sejuta umat ini. Angkringan merupakan semacam warung yang menjual makanan dengan harga sedikit lebih miring daripada warung kebanyakan. Lanjutkan membaca ‘Angkringan Jogja, Sang Penyelamat Akhir Bulan’

Halaman Berikutnya »


the author

The name is Morishige. A twenty something young boy. The hobby is travelling. And hiking. And reading. And watching film. And playing guitar.

my twitter

  • Kakek Pram harusnya diberi gelar pahlawan nasional! 15 hours ago
  • Lapar+malas keluar=kelaparan 17 hours ago
  • Fate spread us out, folks. But I know that someday we'll meet again and recall our memories. 19 hours ago
  • Again, I just realized that the pain of toothache is... Real! Wtf! 1 day ago
  • Sudah bc buku 'honeymoon with my brother'? Ternyata ad sekuelny lho. Baru nemu td. Ntar lah sy review d blog. 1 day ago
  • Mama! Anakmu sakit gigi! Tulung! 1 day ago

Indonesian

BlogFam Community

kategori

arsip

online guests

who's online

hits

  • 53,602 netters