Lawu

Maret 6, 2014

Barangkali terlalu berlebihan untuk menyebutnya badai. Apalagi saya kurang paham mengenai klasifikasi angin. Namun yang jelas pagi ini angin bertiup teramat kencang. Pohon-pohon cemara di pinggir tebing tak henti goyang. Kabut pembawa dingin terombang-ambing dipermainkan oleh si udara yang bergerak. Meninggalkan jejak berupa putih translusen di Cemoro Kembar, Gunung Lawu. Pos 5 masih berjarak beberapa ratus meter vertikal lagi.

Seolah tak mau kalah, hujan ikut ambil bagian. Di pojok terpal, untuk menampung air Benny menaruh beberapa botol air minum kemasan yang sudah dipangkas bagian atasnya. Akhirnya saya mampu menghayati kalimat “hujan adalah berkah” sebab air meteorit itu turun persis ketika persediaan pemuas dahaga kami semakin menipis.

Hari ketiga pendakian. Dinihari tadi bingkai tenda saya patah. Tak kuasa lagi ia menahan terpaan angin setelah selama setahun menemani saya melewati malam-malam di gunung. Seolah meratap, terpal hitam yang setia menaunginya mengepak-ngepak hebat dipermainkan angin.

Angin kencang ini mungkin adalah hukuman bagi kami yang tanpa perasaan meninggalkan Jogja di saat kota itu sedang diselimuti abu vulkanik kiriman Gunung Kelud. Saya masih ingat, Senin itu ketika kami berangkat, civitas akademika UGM sedang kerja bakti membersihkan kampus yang suram disapu aksen kelabu. Jika saja masih berstatus mahasiswa, saya pasti akan turut serta.

Gerbang Candi Cetho

Menjelang pukul sepuluh, Benny, Risa, dan saya masuk ke dalam gerbong kereta Sriwedari menuju Surakarta. Selang sebentar kereta mulai berjalan. Melintasi persawahan yang semakin ke timur semakin meluas. Seharusnya kolong langit sebelah utara diisi oleh Merapi dan Merbabu. Tapi tidak hari ini. Mereka memilih bersembunyi di balik putih yang entah awan entah abu gunung berapi.

Sekarang jeda keberangkatan kereta jarak pendek menuju Surakarta semakin singkat. Setiap jam ada saja yang berangkat. Dari mulai ba’da subuh sampai malam pukul sepuluh. Tempo hari hanya ada Kereta Prambanan Ekspres (Prameks), kini sudah ada pula Sriwedari dan Madiun Jaya Ekspres–yang namanya disingkat nakal oleh PT KAI sebagai Manja Ekspres.

Pernah saya harus menyelinap memanjat gerbong kereta minyak ketika telat mengejar Prameks, semester satu dulu ketika turun dari Lawu. Waktu itu jeda kereta masih dua jam, bis Transjogja juga masih belum beroperasi. Waktu tempuh Surakarta-Jogja yang normalnya satu jam berlipat-lipat menjadi dua setengah jam sebab kereta minyak harus mengalah dengan para saudara tuanya: kereta eksekutif, bisnis, ekonomi, dan kereta barang. Hampir di setiap stasiun ia berhenti. Sialnya ia tidak berhenti di stasiun besar seperti Lempuyangan dan Tugu, hanya melambat. Saya dan kawan-kawan harus turun dengan cara melompat. Cara heroik yang sekarang menjadi agak sukar dilakukan sebab PT KAI sudah berbenah.

Kami turun di Stasiun Balapan, menyelinap di antara para juru mudi becak dan ojek yang menawarkan jasa, lalu keluar pagar stasiun menyusuri jalanan Surakarta yang masih kelabu oleh abu. Dari lampu merah Jl. Monginsidi kami berbelok ke kiri menuju pertigaan Jl. Ahmad Yani. Di sana kami menunggu bis jurusan Tawangmangu.

“Ini lewat terminal Karang Pandan, Mas?” Tanya saya pada kondektur ketika kami sudah berada di dalam bis.

“Iya, Mas,” jawabnya. “Mau ke mana, Mas?”

“Naik Lawu, Mas. Lewat Candi Cetho.”

Ia lalu menjelaskan bahwa dari Karang Pandan kami harus menyambung naik angkutan yang lebih kecil menuju Kemuning. Kemudian ia terdiam sebentar, melihat kami bertiga satu per satu, lalu kembali bicara. “Saya sih nggak berani, Mas, naik Lawu lewat Candi Cetho.”

Pos 3

Jalur ke Hargo Dumilah, puncak Lawu, via Candi Cetho memang terkenal lebih panjang dan berat. Sekitar lima belas kilometer dan harus melewati hutan lebat, tanjakan-tanjakan terjal, serta sabana yang luas. Tapi barangkali bukan kedua hal itu yang membuat Mas Kondektur berpikir panjang sebelum naik lewat Cetho. Jalur ini disebut-sebut sebagai rute pelarian raja terakhir Majapahit, Brawijaya V, yang akhirnya moksa di kawasan puncak. Atmosfir spiritualnya begitu kental.

“Pokoknya hati-hati saja, Mas. Jangan sampai terpisah. Usahakan barengan terus,” tambahnya, menciptakan selubung misteri. Bagi sebagian orang, cerita-cerita tak sempurna seperti ini bisa berujung menjadi sugesti.

Di Pasar Karang Pandan kami melengkapi perbekalan. Setelah semua beres, kami naik bis kecil yang mengantarkan ke Pasar Kemuning. Candi Cetho masih berjarak lima kilometer dari Kemuning. Dari sana kami menumpang ojek melintasi perkebunan teh milik Astra yang tampak muram akibat dilapisi muntahan abu Kelud.

Semula Suzuki Bravo yang saya tumpangi santai saja melipir punggungan demi punggungan sembari bermanuver menghindari lubang yang menganga di sana-sini. Namun akhirnya ia menyerah juga dihadang tanjakan panjang yang berujung di Gerbang Candi Cetho. Meraung-raung ia, lalu berhenti begitu saja. Saya memilih turun dan berjalan, sekalian pemanasan sebelum memulai pendakian.

Seorang pria bertopi tersenyum ramah di balik meja loket tiket masuk Candi Cetho. Ia memperkenalkan diri sebagai Harsono. Tiga tiket masuk candi disobeknya dari bundel.

“Cuma tiga ribu, Pak?” Saya menatap tak percaya pada lembaran tiket yang ia sodorkan. “Sama dengan harga tiket masuk Cetho, dong?”

“Iya, Mas,” jawabnya tetap sambil tersenyum. “Ini sebenarnya hanya pos bantuan.” Ia lalu mencatat nama dan kontak kami bertiga di sebuah kertas. Sebaliknya saya juga mencatat kontak beliau dan berjanji akan mengabari seturun kami di Cemoro Sewu.

***

“Kalau gue nggak balik dalam satu jam, susul gue ke pertigaan ya, Ben?” Pinta saya pada Benny sambil memasukkan botol-botol kosong ke dalam ransel Vaude kecil. Benny mengiyakan. Lalu saya turun dari Pos 4, berlari-lari kecil menapaki turunan terjal.

Dari pertigaan di bawah saya melihat aliran sungai kecil. Jauh di dasar lembah dan diapit tebing curam menganga. Walau lirih, saya juga dapat mendengar desirnya. Barangkali karena sulit dijangkau, jalur menuju ke sana diberi tanda X dari ranting-ranting yang disusun. Beberapa catatan perjalanan yang saya baca memang menyebutkan keberadaan sumber air di Pos 4 namun tak satu pun dari mereka yang menyatakan diri benar-benar mengambil air.

Kekurangcermatan dalam perencanaan membuat kami hanya membawa enam botol minuman kemasan bervolume satu setengah liter, untuk bertiga. Menurut perkiraan, air sejumlah itu akan mencukupi persediaan kami selama dua hari satu malam. Seharusnya pada malam kedua, jika sudah tiba di Mbok Yem, kami tak perlu lagi memikirkan persediaan air. Tinggal bilang ke empunya warung, segelas kopi hangat akan tiba di depan mata dalam satu kedipan. Nyatanya sampai hari kedua kami bahkan belum mencapai Pos 5, sementara air hanya tersisa satu botol.

Mau tak mau kami harus memaksimalkan semua kemungkinan yang ada untuk mencari tambahan persediaan air.

Semula jalur setapak pinggir jurang itu tampak wajar. Masih ada sampah permen di sana-sini menandakan bahwa secara berkala ia masih dijamah manusia. Beberapa kali saya melangkahi potongan paralon putih yang entah kenapa bisa berada di sana–barangkali peninggalan dari proyek pipa air yang terbengkalai. Mata saya tak henti mencari-cari jalan menurun yang akan membawa saya ke aliran air di dasar lembah.

Lalu jalur itu menjadi semakin sulit untuk dilewati. Beberapa kali saya bahkan harus melakukan traversing dengan hanya berpegangan pada batu besar yang licin. Hampir lima belas menit saya berjalan, jalan ke bawah urung jua ditemukan. Saya terus berjalan sampai akhirnya berhadapan dengan tebing hampir vertikal. Kiri tebing, kanan jurang. Buntu. Saya harus rela balik kanan.

Dalam perjalanan kembali ke Pos 4, sandal gunung saya putus akibat tersangkut tanaman merambat yang menutupi jalur.

Sabana Bulak Peperangan

Impossible, Ben!”

Tampak dari ekspresinya, Benny kaget melihat saya tiba-tiba muncul kembali di Pos 4 tanpa diiringi suara apapun. Ia sedang sibuk membuat bivak dari terpal berukuran dua kali tiga, terpal yang selalu ia banggakan dan bandingkan dengan terpal buatan lokal milik saya yang boros tempat.

“Lho, Jo?” Ia lepaskan  terpal itu dari pegangan. “Kok nggak kedengeran suara kaki lu?”

Saya tunjuk sandal putus yang tergeletak di tanah.

“Mustahil, Ben,” entah kenapa saya mengulang kalimat pertama tadi, kali ini dalam Bahasa Indonesia. “Udah gue susurin jalan itu sampai ujung tapi nggak ketemu jalur turun ke bawah.”

“Ya udah, Jo. Enggak apa-apa. Mudah-mudahan di Telaga Menjagangan ada air,” tanggapnya ringan. “Gue hampir aja bangun bivak. Siap-siap kalau kita kemalaman dan nggak bisa jalan lagi.”

Tidak mau terjebak gelap di Pos 4 yang cukup terbuka, kami lanjutkan perjalanan. Sudah sore. Angin mulai bertiup kencang, kabut datang, dan guruh mulai bersuara dari entah sebelah mana. Kami berusaha santai menerima kenyataan. Tapi jauh dalam hati kami bertiga sama-sama paham, bahwa pada titik itu satu-satunya hal yang mampu kami lakukan adalah menanti kemurahan hati tuhan.

***

Meskipun corong suara avanza itu memutar lagu Rafika Duri–yang saya tak paham judulnya–namun dalam kepala saya yang bergaung malah lagu The Kinks yang berjudul “This Time Tomorrow”. Benar kiranya bahwa apa yang tersaji di masa depan sama sekali tak dapat ditebak.

Tadi pagi kami masih berkemah di tepi sabana Telaga Menjangan. Siang sedikit kami mulai berjalan melipir bukit, melintasi jalan setapak yang berhias cantigi di kanan-kiri, terbius suasana mencekam Pasar Dieng yang legendaris, sampai akhirnya tiba di Hargo Dalem yang hening. Sekitar satu jam kami menghabiskan waktu di Warung Mbok Yem, menyeruput minuman bersoda dan kopi sambil bermain-main dengan ayam kampung peliharaan Si Mbok.

Sekitar satu jam yang lalu kami masih sibuk berjibaku menuruni jalan berbatu jalur Cemoro Sewu. Sekarang kami duduk nyaman di bangku sebuah mobil, dimanjakan oleh pendingin ruangan bertemperatur pas. Risa yang kecapaian tidur di samping saya.

Telaga Menjangan

“Kayak di Selandia Baru ya, Jo?” Ujar Benny sambil menunjuk pada perbukitan yang telah disulap manusia menjadi lahan pertanian. Saya hanya menjawab dengan senyuman sebab sama sekali belum pernah ke negeri yang dimaksud Benny itu, negeri tempat Sir Edmund Hillary berasal. Tapi jalan meliuk-liuk yang menghubungkan Karanganyar dan Tawangmangu itu memang tak pernah terasa membosankan. Setiap kali lewat ada saja hal baru yang bisa saya lihat.

Kami diberi tumpangan oleh dua orang peziarah dari Karanganyar. Mereka naik tadi pagi dari Cemoro Sewu dan tiba di puncak sekitar pukul sebelas siang. Kami berpapasan dengan mereka di Hargo Dumilah. Mereka naik, kami turun. Mereka tiba di bawah hanya selang beberapa menit setelah kami sampai. Kontras sekali dibandingkan kami yang melakukan pendakian selama empat hari tiga malam.

“Nggak capek, Pak?” Tanya Benny. Tak jelas pada siapa.

“Wah… Kalau ini niatnya lain. Bukan wisata,” salah seorang menjawab sambil tersenyum.

Saya ikut tersenyum. Lalu saya palingkan wajah ke jendela mobil, mengagumi rona jingga yang memenuhi langit. Meskipun obyeknya sama, setiap orang memiliki tujuan masing-masing ketika mendaki gunung. Bagi mereka naik gunung adalah sebuah perjalanan spiritual, perjalanan menuju diri sendiri yang sebaliknya justru berujung pada penghayatan atas kebesaran Sang Khalik. Sedang tujuan saya naik gunung masih praktis dan dangkal: sekadar melatih fisik, menikmati alam, dan menciptakan kenangan.

Saya termenung. Mendadak merasa sedang terjebak dalam pusaran arus utama yang menyeret saya entah ke mana–arus utama orang-orang yang hanya menganggap gunung sebagai arena bermain–dan terombang-ambing dipermainkan jeram. Tapi biarlah dulu. Saya sadar ini baru permulaan. Mungkin di ujung jeram nanti  saya akan mampu melihat semua dengan lebih jelas dan menyimpulkan semua dengan lebih jelas pula.

Mobil tiba-tiba berhenti. Lalu mundur dan masuk ke sebuah jalan kecil yang berujung ke sebuah restoran lumayan besar.

“Ayo kita makan dulu?” Melihat ekspresi kami yang kurang yakin, bapak yang mengemudikan mobil menambahkan sambil tergelak. “Tenang saja. Saya yang bayar. Toh, kalian kan masih mahasiswa. Masih minta sama orangtua, kan?”

Hargo Dumilah

Logistik
Jogja-Surakarta dengan kereta (Rp. 20.000), Solo-Karang Pandan dengan bis (Rp. 10.000), Karang Pandan-Kemuning dengan bis kecil (Rp. 5.000), Ojek Kemuning-Candi Cetho (Rp. 15.000), tiket masuk Candi Cetho (Rp. 3000). Kontak loket Candi Cetho +6285229494251 (Harsono).

Rakutak

Januari 25, 2014

Akhirnya kami berlima berbalik arah, kembali menuruni punggungan yang dipenuhi tanaman rumput gajah. Langit telah gelap pekat namun kami urung jua sampai di Danau Ciharus. Hujan semakin lebat, kabut tipis yang nakal menghalangi mata melihat. Tanda-tanda alam itu seakan berusaha memberi pesan bahwa berjalan di malam hari tak akan membawa kami ke mana-mana. “Kalau kata gue sih kita nge-camp dulu di sini,” usul Novel, kawan baru dari Bandung.

Sepakat, tidak satu pun suara protes. Memang begitulah seharusnya ketika tersesat di gunung. Harus satu kepala. Tiap anggota tim harus rela meleburkan egonya ke dalam satu suara bulat. Banyak cincong hanya akan menghasilkan perselisihan. Saya jadi teringat kisah dua orang pendaki Gunung Merbabu, jauh bertahun-tahun yang lalu, yang berselisih paham soal jalan sesaat sebelum mencapai Sabana Pertama. Salah seorang memilih jalur kanan sementara yang lain bersikeras ke jalur kiri. Kata sepakat tak tercapai malah golok yang berbicara. Perselisihan mereka meninggalkan kenangan yang sampai sekarang masih dapat disaksikan para pendaki Merbabu: memoriam. Baca entri selengkapnya »

Monas

Januari 20, 2014

Monas menjadi penanda bahwa sebentar lagi kereta yang saya tumpangi dari Bandung akan tiba di Stasiun Besar Gambir. Kereta Argo Parahyangan itu meluncur di bawah langit Jakarta yang kelabu. Ia perlahan melambat sebelum sepenuhnya menghentikan laju. Para penumpang yang semula duduk berbondong-bondong keluar dari gerbong. Bergegas  mereka–dikejar entah apa–mencari pintu keluar untuk masuk ke dalam dunia masing-masing. Barangkali sudah tak sabar ingin menuntaskan urusan yang telah ditunda perjalanan selama tiga jam.

Saya sendiri segera melangkahkan kaki ke sana, ke monumen raksasa perlambang lingga-yoni yang dibangun pada masa orde lama. Monas memang cuma selemparan batu dari Stasiun Gambir. Sudah bertahun-tahun saya mendamba memasukinya, sejak ayah membawakan oleh-oleh kaos putih bergambar Monas dahulu sekali ketika saya bocah. Selama ini saya hanya bisa melihatnya dari jauh; dari kaca jendela kereta Taksaka dalam perjalanan mudik, dari kaca jendela bis Damri yang mengantar saya ke Soekarno-Hatta. Baca entri selengkapnya »

Lewat Pos Cemara

Desember 20, 2013

“Tutupi pakai mantel!” Pinta saya pada Eka ketika hujan mendadak turun dengan lebatnya, hanya beberapa ratus meter dari pos ketiga Gunung Slamet, Pos Cemara. “Aku ambil flysheet dulu. Kita bikin bivak.”

Dengan sigap Eka, Arta, dan saya membentangkan kain berukuran tiga kali tiga meter berwarna hitam itu lalu mengikatkannya dengan tali rafia kuning ke tiap sudut. Dalam beberapa menit saja kemah darurat bikinan kami siap. Lengkap dengan alas berupa mantel hujan dan parit-parit kecil untuk mengalirkan air. Baca entri selengkapnya »

Papandayan

November 18, 2013

Jika saja di Garut saya dan kawan-kawan tak berurusan dengan calo dan supir nakal barangkali kami tak akan pernah berkenalan dengan Pras, Mulki, Garry, dan Astri. Dan entah bagaimana pula nasib mereka: kehujanan di Pondok Salada; meringkuk kedinginan di bawah pohon sejenis cantigi; berlindung sia-sia di antara rumpun bunga abadi yang tak sanggup membendung derasnya terpaan angin gunung?

Menjelang pukul sembilan pagi ketika itu. Akhirnya kami duduk dalam elf yang akan mengantarkan ke Cisurupan, jalur paling umum untuk mendaki Gunung Papandayan. Seorang bapak paruh baya yang tidak jelas calo atau supir mewanti-wanti kami sesaat setelah keril diikat erat di atap mobil, “Pokoknya jangan mau kalau disuruh pindah.” Kami mengangguk sebab tanpa disuruh pun jelas sekali kami tak akan mau diusik dan disuruh pindah dari bangku elf yang sudah terlanjur nyaman ini. Tadi, sembari menunggu Zeni tiba, kami tiduran selama beberapa jam di atas ubin teras mushala Terminal Guntur yang dingin dan keras. Baca entri selengkapnya »

Argopuro

Oktober 26, 2013

There is a pleasure in the pathless woods,
There is a rapture on the lonely shore,
There is society, where none intrudes,
By the deep sea, and music in its roar:
I love not man the less, but Nature more.

Lord Byron, Childe Harold’s Pilgrimage

Suara merak yang membahana seantero Cikasur membangunkan saya dari mimpi yang juga tentang merak. Saya tergeregap, membuka ritsleting tenda, lalu melongokkan kepala keluar. Sekujur tubuh masih dalam balutan kantong tidur. Saya mendapati diri tengah berada di sabana mahaluas.

“Mereka kalau mau terbang heboh, Jo,” ujar Berto, kawan dari Himpala Unas Jakarta, yang kemarin sore telah melihat kawanan burung berperawakan anggun itu. Tenda consina magnum-nya bahkan sudah dihiasi sebatang bulu merak yang tercecer dan telah kehilangan “mata”. Ia lanjut memanasi saya, “Kalau berjalan, Jo, ekornya goyang-goyang.” Baca entri selengkapnya »

Ke Sabang

September 27, 2013

Halaman-halaman jurnal itu saya bolak-balik di bawah lampu temaram ruang tamu rumah. Buku itu bersampul keras dan tebal. Ia semakin tebal dijejali oleh berlembar-lembar tiket bis, kapal, karcis masuk obyek wisata, beberapa lembar foto karya fotografer amatir, serta log-book aktivitas penyelaman dari Rubiah Tirta Divers. Tuntas sudah perjalanan, saatnya sekarang untuk menuliskan catatan.

Siang diselingi rinai ketika itu, hari keberangkatan. Adek mengantarkan saya ke perwakilan bis Antar Lintas Sumatra (ALS) di Jalan Bypass, Padang. Ia yang menyupir. Kami agak terburu-buru sebab salat Jumat di Padang baru selesai menjelang pukul 13.00, sementara menurut tiket saya sudah harus hadir di lokasi pemberangkatan paling lambat pukul 13.30. Dalam riuh saya menata ulang keril. Keringat masih mengucur deras begitu pintu depan mobil saya tutup. Baju abu-abu itu basah. Saya berusaha tenang meskipun dalam hati cemas. Adek mulai memacu si roda empat menjauh dari rumah. Pukul 13.30 semakin dekat dan kami masih di tepi Banda Bakali. Baca entri selengkapnya »

Singgalang

Agustus 22, 2013

Adalah sebuah kesalahan tidak menggunakan baju berlengan panjang ketika mendaki Gunung Singgalang. Miang dari hutan pimpiang, bambu hutan berdiameter kecil yang mendominasi bagian awal pendakian, cukup untuk membuat gatal bagian tubuh sial yang tak dibalut kain. Bersandar pada sebuah tiang listrik, saya usap-usap gatal pada lengan.

Tengah hari saat itu. Adek, Teguh, dan saya baru saja menyelesaikan trek pimpiang. Kami bertiga berhenti sebentar demi menghormati orang-orang yang sedang salat jumat. Hening hanya beradu dengan merdu suara burung. Kepik menjerit-jerit ditingkahi hembusan angin. Sejuk sebab panas mentari meluruh ditapis kanopi hutan tropis. Udara segar merasuk ke dalam paru-paru, juga sagun bakar yang bersatu dengan air segar, semua mengalir beriringan menjejali kerongkongan. Baca entri selengkapnya »

Pangrango

Juli 17, 2013

Seperti berada di dalam adegan film Gie, saya dikepung oleh rumpun-rumpun edelweis yang legendaris. Konon, pada bulan mei-juni biasanya bunga abadi itu telah mekar dan melapisi Lembah Mandalawangi yang tersembunyi dengan selimut putih. Namun kini, ketika penanggalan sudah bergeser ke juli, bebungaan itu masih kuncup. Hanya beberapa rumpun saja yang sudah dikaruniai kembang kecil-kecil.

Tepat di antara dua bukit, Gunung Salak mengintip. Jauh dan disamarkan oleh halimun tipis yang entah kenapa tak bosan-bosan menaunginya saban pagi. Kedua puncak Salak bak sepasang tanduk yang terlihat angkuh menjulang, seperti mempertegas citra angker yang terlanjur melekat erat pada dirinya. Keangkeran yang akan membuat seorang pendaki enggan menjelajahinya untuk yang kedua kali. “Sudah. Cukup sekali saja saya ke sana,” ujar Zeni, rekan saya dari Bandung, ketika saya berbasa-basi mengajaknya menerabas kerimbunan hutan Gunung Salak. Katanya lagi, pun ikut, ia hanya akan mengantarkan saya sampai basecamp. Baca entri selengkapnya »

Sewaktu di Semeru

Juni 20, 2013

Semula saya kebingungan dalam hal memilih cerita apa yang sebaiknya saya sampaikan tentang pendakian Semeru. Soal keindahan sudah banyak yang memaparkan, akan membosankan jika terus diulang-ulang. Begitu juga soal betapa kotornya gunung itu sekarang setelah sebuah vendor peralatan pendakian mengadakan kumpul-kumpul di sana, atau setelah film 5 cm ditayangkan. Saya coba menelusuri lokus-lokus pemikiran, berusaha menemukan cerita yang sekiranya menarik untuk disampaikan. Kemudian tercetuslah gagasan bahwa hulu dari semua hal yang dialami Semeru, tak lain tak bukan, adalah manusia. Lalu kenapa tak saya tulis saja kisah sebagian manusia yang mendaki Mahameru?

Jika ada satu hal yang dapat saya petik dari pendakian Gunung Semeru, itu ialah “perlakukan seorang raja sebagaimana mestinya.” Sebagai gunung tertinggi di pulau Jawa, Semeru adalah raja. Walaupun ia sudah sering disambangi, tetap saja ia raja gunung-gunung di Jawa. Dan kau seharusnya tidak memandang raja dengan sebelah mata. Sempat berlaku demikian, ia tak akan segan-segan melumatmu, melahapmu, mengenyahkanmu dari muka bumi. Baca entri selengkapnya »


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 94 pengikut lainnya.