Ini adalah sebuah kisah yang menakjubkan tentang seorang pemuda kulit hitam bernama Vivien Thomas. Dia berhenti dari pekerjaannya sebagai seorang tukang kayu dan kemudian bekerja sebagai pembersih laboratorium di sebuah rumah sakit.
Dokter Blalock, dokter periset di laboratorium itu, seringkali mendapati Vivien sedang membaca buku kedokteran di lab. Vivien memang berencana untuk masuk sekolah kedokteran dan penghasilan yang diperolehnya dari pekerjaan ini akan digunakan untuk membiayai sekolah dokternya. Blalock kemudian menguji Vivien dengan menyuruhnya mempraktekkan penggunaan alat-alat bedah. Tanpa diduga, tangan Vivien sungguh terampil. Dr. Blalock pun mempekerjakannya sebagai asisten.
Lalu Blalock pindah ke rumah sakit Johns Hopkins University. Bisa ditebak. Blalock memboyong Vivien bersamanya. Di rumah sakit itu mereka berdua berhasil menemukan metode dan melakukan bedah jantung pada manusia untuk pertama kalinya.
Periode awal di Johns Hopkins ini adalah periode yang sangat menyakitkan bagi Vivien. Akar permasalahannya, ya, karena pada waktu itu rasisme masih kental: hanya karena berkulit hitam, walaupun pekerjaannya adalah teknisi lab, dia diklasifikasikan sebagai pekerja kelas tiga. Hanya karena berkulit hitam dia awalnya bahkan tidak dimasukkan dalam “line up” operasi jantung pertama, walaupun akhirnya ikut. Padahal dia dan Blalocklah yang menemukan metodenya.
Setelah 40 tahun mengabdi, Vivien Thomas kemudian dianugerahi Doktor Honoris Cause oleh rumah sakit Johns Hopkins University. Two thumbs up! untuk film ini.
Di ujung Jl. Mayjen S. Parman Surakarta sana sudah terlihat tembok Puro Mangkunegaran. Saya kemudian berbelok ke timur, menyusuri Jl. Suharjo. Karena tujuan utama saya adalah alun-alun utara Surakarta, di ujung jalan saya belok ke selatan.
Travellous adalah sebuah jurnal petualangan seorang pemuda bernama Andrei Budiman, yang diangkat dari blognya 
Akhir-akhir ini hobi saya bertambah. Pertama, menepuk jidat setiap kali membaca berita safari capres dan cawapres. Baik hati sekali mereka. Mereka seperti tidak bosan-bosannya “meninjau” daerah. Bahkan ada kandidat yang sehari bisa jalan-jalan di lima propinsi. Banyak bener duit orang itu.





komentar