Ketika Analog Menjadi Andalan

Desember 6, 2011

Awal 2010 lalu kamera saku digital saya hilang. Semua foto di Gili Trawangan dan Pulau Lombok ikut-ikutan raib. Praktis sejak itu yang menjadi andalan hanya kamera ponsel dan kamera pinjaman, itu pun jika ada yang bersedia meminjamkan. Akibatnya perjalanan-perjalanan yang saya lakukan antara awal sampai akhir tahun 2010 minim dokumentasi. Sampai pada suatu malam di awal bulan syawal 1432 H, malam terakhir di kampung ketika mudik tahun itu, papa melungsurkan Canon Prima Junior ke saya, “Ini kamera lama, bawa saja. Sudah tidak dipakai lagi.”

Sejak itu saya jadi menggilai kamera analog. Dan sekarang di kamar saya sudah ada tiga kamera lawas yang masih menggunakan film; Canon Prima Junior, Yashica FX-3, dan Fujica M1. Canon Prima Junior merupakan kamera saku, sudah agak modern dan operasionalnya membutuhkan baterai, penggulungan filmnya sudah otomatis, tinggal ungkit tombol sedikit film dapat menggulung balik sendiri. Kamera kedua, Yashica FX-3 agak lebih tua umurnya, SLR produksi tahun ‘70an. Kamera ini sudah memiliki light meter (indikator pencahayaan) dan punya slot untuk flash. Lensa favorit saya adalah lensa fixed. Dengan efek bokeh yang dihasilkan, lensa ini sempurna untuk memotret manusia dalam jarak dekat. Kamera ketiga, Fujica M1, adalah toycam mainan mama waktu masih muda dulu. Lebaran kemarin saya temukan teronggok di tumpukan barang rongsok di pojok rumah. Semula saya kira rusak, namun tanpa diduga kamera ini masih bisa digunakan, meskipun lensa dan kekerannya kotor, warnanya masih keluar.

Sampai saat ini, di antara ketiga kamera jadul tersebut yang paling sering menemani saya si Canon Prima Junior. Ia ikut menyaksikan Candi Muara Jambi, ikut terbang dari Jambi ke Jakarta, nonton Ngayogjazz, ikut juga ke Kawah Ijen dan Bali, melu menyupir bersama saya ke Tanjung Papuma, dan terakhir jadi senjata juga ketika malala trans-Sumatera. Kamera ini cocok untuk mengambil foto narsis, mau minta tolong diambilkan foto pun gampang karena sangat gampang dioperasikan.

Yashica agak susah digunakan, setidaknya butuh pengetahuan dulu tentang bukaan diafragma, kecepatan rana, ISO, dan fokus. Karena lumayan rumit, kamera ini tidak bisa sembarangan digunakan untuk foto narsis, tidak semua orang yang ditemui di jalan bisa menggunakannya. Ketika ke Belitung medio Oktober lalu saya pernah minta tolong seseorang untuk mengambil foto saya. Dan bisa ditebak bahwa hasilnya blur, hanya membuang sia-sia satu frame film. Kamera ini lebih cocok digunakan untuk mendokumentasikan aspek sosio-kultural yang ditemui pada sebuah perjalanan. Saya puas sekali dengan jepretan ritual Buang Jong si Yashica.

Debut si Fujica bersama saya dimulai sewaktu Sri Sultan Hamengkubuwono X menggelar perhelatan pernikahan putrinya. Fujica sempat saya bawa jalan-jalan bersepeda keliling alun-alun. Yang berhasil dipotretnya cuma seekor kuda hitam penarik kereta kencana dan tugu jam tua di pojok alun-alun utara. Hasilnya gelap. Jika tidak ada flash, kamera ini memang butuh banyak cahaya untuk menangkap sebuah obyek. Kemarin si Fujica saya bawa ke Dataran Tinggi Dieng. Dari dua roll yang saya bawa, hanya sebuah yang jadi, lainnya gagal karena kurang cahaya.

Menjelajah dengan kamera analog memberikan pengalaman dan kenangan tersendiri. Anda harus teliti dan hati-hati dalam menginstalasi rol film. Film harus benar-benar menyangkut dalam kamera, jika tidak anda harus berbesar hati merelakan 36 frame terbuang sia-sia. Oktober lalu, satu rol film perjalanan palembang-bangka-belitung mesti saya relakan. Foto di Prabumulih, Sungai Musi, Pulau Bangka dan Belitung hilang begitu saja ketika sangkutan film terlepas di tengah-tengah.

Keterbatasan isi roll film membuat saya harus selektif dalam memilih momen, saya juga jadi sangat menghargai arti sebuah frame foto. Sebelum menjepret, saya harus benar-benar mengatur parameternya terlebih dahulu agar gambar yang dihasilkan sesuai harapan. Harus hati-hati, salah sedikit foto bisa menjadi blur, terlalu gelap, atau malah terlalu terang, dan sebuah momen bisa terlewatkan tanpa saya bisa menangkapnya.[]

Ngayogjazz Edisi Kotagede

November 18, 2011

Yang paling menarik dari Ngayogjazz 2011 seminggu yang lalu adalah venue-nya. Kotagede didaulat sebagai lokasi perhelatan dan panitia sukses menyulap seputaran pasar kotagede menjadi kampung jazz selama sehari. Sungguh eksotis; sisa-sisa kejayaan masa lalu berupa gedung-gedung  tua dipadukan dengan alunan musik jazz. Penonton seperti diombang-ambing dalam mesin waktu. Baca entri selengkapnya »

Buang Jong

November 3, 2011

Luar biasa sekali pagi di Tanjung Kelayang hari itu. Matahari terbit dari balik deretan pohon kelapa, jauh di timur sana. Jingga, bulat sempurna, dan tampak tidak ragu-ragu menunaikan tugas wajibnya; menerangi kehidupan makhluk-makhluk Tuhan. Agak ke tengah laut, puluhan yacht peserta Sail Wakatobi-Belitong 2011 terparkir rapi, terpatri dengan mantap di sauhnya masing-masing. Baca entri selengkapnya »

Garis Khayal Khatulistiwa Bonjol

Oktober 21, 2011

Saya termenung tepat di garis imajiner yang membagi bumi menjadi dua, khatulistiwa. Satu langkah ke utara, saya berada di lintang utara, begitu juga jika saya melangkah ke selatan, akan tiba di lintang selatan. Lama-lama di sini hobi saya bisa bertambah satu; latitude hopping.

Banyak yang berkecamuk dalam kepala; perasaan bingung, perasaan dibohongi mentah-mentah, kekecewaan. Apa pasal? Empat jam berkendara ke utara dengan motor matic hanya mengantarkan saya ke sebuah gerbang bertuliskan “Anda Melintasi Khatulistiwa” beserta terjemahan, dengan gedung bundar rusak di sisi baratnya. Baca entri selengkapnya »

Hari Terakhir di Belitung

Oktober 13, 2011

Hari terakhir di Belitung adalah yang paling menguras tenaga. Pagi-pagi sekali saya sudah  meluncur dari Tanjung Kelayang dengan Honda CS1. Motor “meleset” itu dari kemarinnya memang sudah berulah. Tidak bisa digeber ngebut. Digas sedikit saja langsung meraung-raung. Tidak mungkin motor itu kehausan, bensinnya terus saya isi penuh. Agak-agaknya koplingnya yang bermasalah. Motor itu berkopling tapi seperti tanpa kopling.

Jadi senin pagi itu, dengan motor yang meraung-raung, saya turun ke Tanjung Pandan. Beberapa belokan pertama kondisi motor masih dalam antisipasi saya; jalannya agak pelan tapi kalau dipaksa sedikit bisa laju. Saya masih bisa meliuk-liuk kanan kiri sesekali, walaupun memotong kendaraan lain agak susah. Baca entri selengkapnya »


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 34 pengikut lainnya.