Film: Something the Lord Made (2004)

Ini adalah sebuah kisah yang menakjubkan tentang seorang pemuda kulit hitam bernama Vivien Thomas. Dia berhenti dari pekerjaannya sebagai seorang tukang kayu dan kemudian bekerja sebagai pembersih laboratorium di sebuah rumah sakit.

Dokter Blalock, dokter periset di laboratorium itu, seringkali mendapati Vivien sedang membaca buku kedokteran di lab. Vivien memang berencana untuk masuk sekolah kedokteran dan penghasilan yang diperolehnya dari pekerjaan ini akan digunakan untuk membiayai sekolah dokternya. Blalock kemudian menguji Vivien dengan menyuruhnya mempraktekkan penggunaan alat-alat bedah. Tanpa diduga, tangan Vivien sungguh terampil. Dr. Blalock pun mempekerjakannya sebagai asisten.

Lalu Blalock pindah ke rumah sakit Johns Hopkins University. Bisa ditebak. Blalock memboyong Vivien bersamanya. Di rumah sakit itu mereka berdua berhasil menemukan metode dan melakukan bedah jantung pada manusia untuk pertama kalinya.

Periode awal di Johns Hopkins ini adalah periode yang sangat menyakitkan bagi Vivien. Akar permasalahannya, ya, karena pada waktu itu rasisme masih kental: hanya karena berkulit hitam, walaupun pekerjaannya adalah teknisi lab, dia diklasifikasikan sebagai pekerja kelas tiga. Hanya karena berkulit hitam dia awalnya bahkan tidak dimasukkan dalam “line up” operasi jantung pertama, walaupun akhirnya ikut. Padahal dia dan Blalocklah yang menemukan metodenya.

Setelah 40 tahun mengabdi, Vivien Thomas kemudian dianugerahi Doktor Honoris Cause oleh rumah sakit Johns Hopkins University. Two thumbs up! untuk film ini.

Cerita Dari Solo

Ternyata ilmu dan pengetahuan itu memang sudah dihamparkan seluas-luasnya oleh Sang Pencipta. Tinggal manusia saja yang mau menggalinya atau tidak.

Image042Di ujung Jl. Mayjen S. Parman Surakarta sana sudah terlihat tembok Puro Mangkunegaran. Saya kemudian berbelok ke timur, menyusuri Jl. Suharjo. Karena tujuan utama saya adalah alun-alun utara Surakarta, di ujung jalan saya belok ke selatan.

Siang ini matahari Solo bersinar terik sekali. Kerongkongan ini butuh minuman lain selain air mineral. Maka begitu saya melihat sebuah warung jus buah-buahan di dalam gerbang timur Puro Mangkunegaran, saya langsung berlarian ke sana dan memesan jus mangga. Lanjutkan membaca ‘Cerita Dari Solo’

Book: Travellous

Berkali-kali sudah saya lihat resensi ini di blogosphere. Penasaran, saya cari juga buku ini. Buku ini tidak, atau belum, terpajang di jejeran buku bestseller Togamas. Saya malah menemukan buku ini di pojokan yang kurang perhatian publik.

Image026Travellous adalah sebuah jurnal petualangan seorang pemuda bernama Andrei Budiman, yang diangkat dari blognya travellous.blogspot.com. Menceritakan perjalanannya mewujudkan mimpi untuk menapakkan kaki di tanah Eropa.

Di buku ini dia seakan ingin menyampaikan pesan, yang mirip kata-kata Alexander Supertramp, kepada pembacanya, “if you want something in life, reach out and grab it.

Kisahnya sendiri terlampau seru untuk saya ceritakan ulang. Lanjutkan membaca ‘Book: Travellous’

“Debat” Capres Sebaiknya …

“Oh, begitu… Aku baru ngerti kalo Mega nomer satu, SBY nomer dua, Kalla nomer tiga.” (teman saya)

Debat CapresBaru tadi saya sempat menonton acara, yang katanya, debat capres. Ternyata debatnya tidak sama dengan acara debat kebanyakan.

Saya dahulu kala pernah terlibat kepanitiaan dalam acara debat bahasa Inggris yang diadakan hima. Walaupun menghandle perlengkapan alih-alih acara, sedikit banyak saya mengerti bentuk umum acara debat itu. Sepertinya sih debat Bahasa Inggris dengan Bahasa Indonesia yang beda cuma bahasanya saja.

Ada dua kubu. Lanjutkan membaca ‘“Debat” Capres Sebaiknya …’

Menepuk Jidat, Melongo, Geleng-geleng

janjiAkhir-akhir ini hobi saya bertambah. Pertama, menepuk jidat setiap kali membaca berita safari capres dan cawapres. Baik hati sekali mereka. Mereka seperti tidak bosan-bosannya “meninjau” daerah. Bahkan ada kandidat yang sehari bisa jalan-jalan di lima propinsi. Banyak bener duit orang itu.

Kemudian saya juga tiba-tiba hobi melongo di depan koran. Lanjutkan membaca ‘Menepuk Jidat, Melongo, Geleng-geleng’

My Hometown Pariaman

Di semua fakultas, jumat kemarin adalah hari terakhir UAS. Dan jumat kemarin pula sebagian besar kawan sekampus saya pulang ke kampung masing-masing. Tinggallah saya kesepian di Pogung yang tiba-tiba menjadi sunyi.

Ketika masih SMA di Padang, libur-libur begini biasanya saya pulang ke rumah nenek di Pariaman. Sebuah kota kabupaten yang bisa dicapai dalam waktu 1 jam ke arah utara dari Padang.

Pariaman “laweh“. Kata orang-orang. Secara wilayah Pariaman memang luas sekali. Tapi Pariaman Laweh ini juga merujuk pada kebiasaan orang Pariaman untuk merantau ke mana-mana. Bahkan ke tempat-tempat terjauh. Di mana ada orang Pariaman, berarti itu wilayah Pariaman. :mrgreen:

Pariaman Kota Tabuik

Apa pula itu Tabuik? Lanjutkan membaca ‘My Hometown Pariaman’

Halaman Berikutnya »


my twitter

  • Tomorrow will go to Palgading to prepare the geoelectric line. People said, there was a huge buddha temple (candi) stood right there. 1 week ago
  • Saya heran. Kok sepertinya mudah sekali suku-suku, organisasi-organisasi profesi, dan persatuan lain ngasi gelar kehormatan pada capres...?! 1 week ago
  • Surfing the net all night long. 1 week ago
  • @caplang jalan tol suramadu keknya boleh tuh bro. :lol: 2 weeks ago
  • I'm in chapter 11 right now. It soon will be finished. ;D 2 weeks ago
  • Wow wow... What's happening here? Every candidate starts to publish anothers' mistakes... 2 weeks ago

Indonesian

BlogFam Community

kategori

arsip

online guests

who's online

hits

  • 39,902 netters