Kemarin, setelah shalat jum’at gw tepar. Sampai jam 2.
Tanpa sikat rambut dan cuci muka, seperti orang yang ngebet pergi perang, gw menyongsong SIC. Ngenet gratis.
Tanpa gw sadari, penampilan gw hari itu agak kontradiktif satu sama lain. Dan di negeri yang mengutamakan image ini, penampilan adalah segala-galanya. Dari penampilan, publik katanya bisa menilai seseorang. Mungkin sikapnya, imannya, atau bahkan duitnya. Who knows?
Yep, celana gw ngatung. Pakai jaket Geofisika. Dan penampilan awut-awutan. Orang-orang dibuat bingung.
Kalo ada yang mengira gw salafi, mereka pasti mikir: Nih anak penampilannya awut-awutan banget, tp celana ngatung kayak gw. Alirannya apa ya??
Padahal itu celana bokap waktu masih muda.
Yah, bukannya su’udzon, tapi kira-kira begitulah penilaian orang. Dan ceritanya sekarang gw sudah sampai di depan SIC. Dengan antusiasme berlebihan gw membuka pintu. Untung gw gak teriak: Selamat siang, Dunia..!!!
Huff… Tiba-tiba langkah gw terhenti. Pintu masih seperempat terbuka. Kenapa? Karena pandangan gw beradu dengan secarik kertas yang tertempel di pintu SIC. Di kertas itu diberitahukan bahwa SIC hari ini tutup jam 3. Gw datang jam 2 lewat seperempat.
Untuk memastikannya, gw teruskan membuka pintu. Begitu pintu terbuka, mbak-mbak operator langsung melambai-lambai pantomim mengisyaratkan bahwa SIC mau tutup dan sudah tidak bisa lagi menghidupkan komputer baru.
Gubrak!! langsung deh seperti di film kartun. Tiba-tiba terjengkang. *)plis, deh..!!
Dan kesimpulan bahasan tidak jelas hari ini:
- Orang-orang mengira gw salafi, padahal celana ngatung itu celana bokap waktu masih muda.
- Gw capek-capek melangkah ke kampus mengira SIC buka sampai jam 5 sore, padahal sudah mau tutup jam 3.
-Makasih-





Apa sih maksudnya????