“Oh, begitu… Aku baru ngerti kalo Mega nomer satu, SBY nomer dua, Kalla nomer tiga.” (teman saya)
Baru tadi saya sempat menonton acara, yang katanya, debat capres. Ternyata debatnya tidak sama dengan acara debat kebanyakan.
Saya dahulu kala pernah terlibat kepanitiaan dalam acara debat bahasa Inggris yang diadakan hima. Walaupun menghandle perlengkapan alih-alih acara, sedikit banyak saya mengerti bentuk umum acara debat itu. Sepertinya sih debat Bahasa Inggris dengan Bahasa Indonesia yang beda cuma bahasanya saja.
Ada dua kubu. Affirmative, yang pro dengan statement. Dan negative yang kontra statement. Masing-masing mempertahankan pendapat di sebuah podium yang telah disediakan. Menghadap ke penonton. Kami menyelenggarakan debat yang masing-masing kubu terdiri dari tiga orang. Satu orang sebagai pemapar masalah. Satu orang memberi alasan. Satu orang menyimpulkan. Jumlah anggota tim tergantung kebijakan panitia sih. Tapi umumnya dua sampai tiga orang. Ingat film The Great Debaters? Di sana satu tim dua orang.
Apa yang saya lihat dalam debat tadi? Ada tiga orang capres yang disuruh KPU untuk berdebat. Mereka diberi pertanyaan. Disuruh menjelaskan pendapatnya. Mirip ujian lisan kewarganegaraan. Mungkin ini improve dari KPU ya. Tapi saya kok menilainya rada aneh.
Saya mempunyai beberapa gagasan tentang pelaksanaan debat capres/cawapres ini. Pertama, sebaiknya KPU “menagih dulu” visi masing-masing capres/cawapres dan memilah-milah visi mereka yang saling bertentangan. Itulah yang akan menjadi statemen debat. Kalau dipikir-pikir acaranya akan jauh lebih seru. Karena masing-masing calon akan mempertahankan visi yang telah mereka rancang.
Kedua, mengenai teknisnya. Mereka hendaknya diadu satu lawan satu. Atau satu pasang lawan satu pasang. Perbedaan antarcalon akan terlihat lebih menyolok. Rakyat akan lebih mudah menilai siapa calon terbaik dan paling pantas dicontreng kepalanya.
Tapi di samping kekurangan yang saya paparkan di atas, saya mengangkat topi dan memberikan tabik ke KPU yang telah menyelenggarakan acara-acara “debat” yang disiarkan secara nasional seperti ini. Semoga 2014 debatnya lebih mak nyus!






ia sich…debat2 nya rada agak krang panas…..
saya juga mau angkat topi buat KPU tapi lagi ngak pake topi….:P
2014.. hmm, bundo lihat shige di panggung debat itu kelak
Tampaknya capres kita juga jaga images.. Soalny kalo panas apalagi sampe marah-marahan, bisa-bisa pandangan masyarakat jadi lain… Makany jadi jaga sikap gitu… Akibatny debat kurang panas… Tapi SBY emang gentle.. Katanya kalo dia gag menang, dia bakal ngasih selamat kepada yg menang. HIDUP SBY. Andai aku sudah boleh nyontreng…
Aloo mlm..sangat menarik menyaksikan perdebatan dari capres dan cawapress, tp menurut sya,tidalah akan bnyk membantu bangsa ini berdiri dari keterpurukan bila pemimpinnya hanya jago debat. Akan tetapi setidaknya bisa menjadi referensi masyarkat untuk mengenal lebih jauh tentang calon mereka dan tidak lebih dari itu. Trims
iia, gga hot gitu.
tapi, bukanx bagus iia klo bgini?
menandakan kalo mreka tu rukun” aja gitu [gtw degh sbanarnya gimana]
Debat, ajang untuk saling menjatuhkan. Salam kenal.
makin ndak karuan tuh debat presiden untuk mendokrak namanya saja harus bayar lebih dari 50 Juta lewat poling sms. salam kenal dari Tigaw.wordpress.com. main-main ya mas
kalo visi misi sih udah dipaparkan pada debat capres yang pertama,, cuma ga ada debatnya..
ya maklumlah, KPU baru pertama menyelenggarakan debat.
mudah2an 2014 debatnya lebih OK
@cinker: angkat kepala saja kalau begitu. haha.
@nakjaDimande:
@catatan rudy: hehe.. debat itu kan adu argumen, bukan marah-marahan. dan untuk mengeluarkan argumen kan butuh ilmu sama strategi. ya, walaupun sedikit kita kan bs menilai kapabilitas calon dalam membuat sebuah kebijakan.
@sige: ya, memang itu tujuannya.
@riffy: hehe..
@zian: bukan untuk saling menjatuhkan sebenarnya. tapi untuk membuktikan cara berpikir siapa yang lebih bagus.
@tigaw: oke..
@pakdhe wicak: ya, kita sama-sama berharap selanjutnya bisa lebih baik.
seruan debat tim suksesnya…
ndak panas, tapi sebenarnya dari acara kemaren rakyat sudah bisa menyimpulkan siapa yang bisa ngomong, siapa yang menguasai fakta, dan siapa yang cuma bisa ndobos ndak jelas ujungnya.
hm… tapi kok setelah saya lihat hasil pemilunya, debat itu efeknya dikit banget ya???
hehe…