Ternyata ilmu dan pengetahuan itu memang sudah dihamparkan seluas-luasnya oleh Sang Pencipta. Tinggal manusia saja yang mau menggalinya atau tidak.
Di ujung Jl. Mayjen S. Parman Surakarta sana sudah terlihat tembok Puro Mangkunegaran. Saya kemudian berbelok ke timur, menyusuri Jl. Suharjo. Karena tujuan utama saya adalah alun-alun utara Surakarta, di ujung jalan saya belok ke selatan.
Siang ini matahari Solo bersinar terik sekali. Kerongkongan ini butuh minuman lain selain air mineral. Maka begitu saya melihat sebuah warung jus buah-buahan di dalam gerbang timur Puro Mangkunegaran, saya langsung berlarian ke sana dan memesan jus mangga.
Modal saya untuk membuka percakapan dengan seorang bapak, yang awalnya saya kira cuma penduduk sekitar, hanya ini, “umum bisa masuk ke Puro Mangkunegaran ini nggak, pak?“
Berlanjutlah obrolan ke hal-hal lain. Namun kebanyakan yang kami bicarakan adalah tentang Nyi Roro Kidul yang ternyata hubungannya kurang akur dengan Kiyai Petruk penjaga merapi. Tentang kehebatan Legiun Mangkunegaran sampai-sampai Soeharto mengaplikasikan sistem-sistem yang dipakai Legiun Mangkunegaran pada TNI. Juga tentang kepercayaan-kepercayaan yang berlaku di Gunung Lawu (mis: sebaiknya kalau naik jumlah anggota jangan ganjil. Ada kabut putih mematikan yang disebut apak-apak, dan lain-lain). Dan masih banyak obrolan menarik lainnya.
Tiga puluh menit serasa sebentar. Di akhir-akhir pembicaraan saya baru mengerti ternyata bapak yang biasa dipanggil Kiyai Jarot ini adalah seorang abdi dalem yang mengurus benda pusaka di Puro Mangkunegaran. Oh, pantas.
Perjalanan saya lanjutkan ke alun-alun utara, lalu ke Pasar Gede. Akhirnya setelah dua setengah jam keliling Solo sendirian, saya terduduk kelelahan di peron Stasiun Solobalapan sambil menikmati matahari senja yang tenggelam tepat di sebelah Merbabu.








Alhamdulillah blom pernah ke solo mas, cma pernah lewat doang
Padahal dari cerita2 katanya di sana asri yah
foto stasiun Balapan disenja hari
sungguh membuat jatuh cinta, shige
@angga: lumayan asri sihl. saya paling seneng jalan di Jl. Slamet Riyadi. Semacam pedestriannya Solo. Jalannya teduh.
@nakjaDimande: iya, bundo. apalagi kalau lihat langsung.. keren bgt..
huwow… saya juga harus menjelajahi tempat baru saya nih… hohoho…
maklum, saya sekarang menempati tempat baru dan indah, namun belum sempat aku jelajahi..
aih , kangen nih ma solo jadinya =(
@ndop: di mana, paman?
@riffy:
Sampeyan juga beli kacamata di alun-alun utara ndak ?
Subhanallah indah nya sunset itu kawan…
-salam- ^_^
@regso: waduh. nggak tuh bos. saya beli gelang satu. saya gak cocok pake kacamata. hehe
@hariez: banget, kawan.
nggak mampir ke pasar legi apa RRI gitu???
siapa tau ketemu ama tante2 di san huahahahhhh
salam sinting!!!
duh, aku jarang ke solo e mas. stagnan: jogja, kebumen, jogja, kebumen.
@zulhaq: hmm.. cuma lewat doang di depan pasar legi.. waduh. saya nyarinya daun muda tuh, man!! haha..
@samsul: keenakan di jogja kali ya.. he..
wah sunsetnya manteb dab..!
jepretanya buagus..
lihat photonya jadi ingat kenangan di purwosari jeh (doh) masa lalu…
wah, pernah tinggal di purwosari ya mas?
btw, skrg di mana?