Film: Before Sunset (2004)

Jesse dan Celine kembali bertemu. Bukan enam bulan setelah “Before Sunrise” dan bukan juga Vienna. Tapi sembilan tahun kemudian di Paris. Di sebuah toko buku ketika Jesse sedang tur keliling Prancis untuk mempromosikan bukunya. Tentu saja buku ini berkisah tentang semalam di Vienna itu.

Jesse baru saja menjawab pertanyaan terakhir wartawan ketika dia melihat Celine berdiri tersenyum di luar toko buku.

Hari itu adalah hari terakhir Jesse di Prancis. Dia akan kembali ke Amerika menumpang pesawat sore. Meskipun waktunya sudah sangat mepet untuk berangkat ke bandara, dia tetap memaksa untuk jalan-jalan sebentar bersama Celine.

Jalan-jalan singkat itu mengungkap semuanya. Bahwa ternyata Celine tidak datang ke Vienna enam bulan setelah mereka bertemu dulu, karena hari itu neneknya meninggal. Bahwa ternyata Jesse menunggu Celine hari itu di tempat yang mereka janjikan. Celine mengaku bahwa selama ini dia masih memikirkan Jesse. Begitu juga Jesse terhadap Celine. Memang ada cinta di antara mereka.

Namun sayang. Sekarang keadaan sudah sangat jauh berbeda. Jesse sudah menikah dan bahkan mempunyai anak. Obrolan mereka pun menyiratkan penyesalan. Bagaimana jika dulu kita bertemu di Vienna? Keadaan pasti akan menjadi lain. Bagaimana jika nenekmu meninggal seminggu setelah hari janjian kita? Film ini mengingatkan saya bahwa di atas segalanya masih ada takdir. Believe it or not. Fate controls us.

Oh, ya. By the way, kalau menurut saya endingnya bagus banget. Film ini adalah sekuelnya “Before Sunrise“. Supaya lebih seru tonton dulu prekuelnya, ya. :mrgreen:

26 Tanggapan ke “Film: Before Sunset (2004)”


  1. 2 nakjaDimande Juli 12, 2009 pukul 4:08 pm

    hahhha.. akhirnya muncul juga review ‘Before Sunset’ nya shige..!

    sekuel ini benar-benar menghancurkan hayalan romantis bundo yang menonton prekuelnya dengan perasaan menggebu-gebu..

    bahkan saat perjumapaan pertama di toko buku itu digambarkan dengan sangat ‘biasa’.. tak ada gerak lambat.. tak ada tatapan mata penuh rindu.. tiada pelukan menggebu-gebu.. atau apalah.. :P

    kesimpulannya tim pembuat film ini pintar, terlalu pintar..
    tak mau manjakan penonton dengan ending yang diharapkan

    tapi ini adalah ending yang manis shigee,
    dimana dua orang yang saling mencintai dengan sangat kuat pada masa lalu
    lalu bertemu dan menghadapi takdir secara dewasa

    Memory is a wonderful thing if we dont have to deal with the past.. [Before Sunset]

    manis sekali..

  2. 3 morishige Juli 12, 2009 pukul 4:23 pm

    @edratna: :mrgreen:
    @nakjaDimande: iya.. diluar ekspektasi semua. mulai dari ternyata mereka gak saling bertemu di Vienna. jesse datang tapi celine ga datang. trus ternyata si jesse udah punya anak. ya, gak mungkin lah celine yang cerdas bersikap egois dan mengabaikan keadaan jesse sekarang.
    bener, bundo. endingnya manis banget. si jesse cuma senyum-senyum dan tertawa kecil melihat celine yang goyang mendengarkan irama musik. asli, itu adegannya saya suka banget. directornya cerdas.
    ini sepertinya salahsatu film paling romantis, ya bundo?

    • 4 nakjaDimande Juli 12, 2009 pukul 4:49 pm

      justru ending yang begini, paling romantis shigeee..!!!

      **hahhhaaa.. bundo senang shige punya pendapat yg sama, karena kebanyakan teman yang lain ngomel sama ending ini

      • 5 morishige Juli 12, 2009 pukul 4:58 pm

        gimana ya, bundo. endingya itu meaningful dan realistic.
        gak semua yang kita ingin itu akan dikabulkan.

        btw film ini juga mengajarkan saya untuk tidak tergesa-gesa dalam “memilih” pacar. hehe..

  3. 6 Nisa Juli 12, 2009 pukul 7:47 pm

    Sepertinya bagus ya pilemnya ^^

  4. 7 Riffy Juli 12, 2009 pukul 7:50 pm

    lun pernah nonton nih…

  5. 8 qzink666 Juli 13, 2009 pukul 12:54 am

    Wah nih pilem ditonton dirumah sambil belai rambutnya istri / pacar keknya lebih asik tuh, Ji.. :D

  6. 10 warm Juli 13, 2009 pukul 5:21 am

    saya udah nonton dua-duanya,
    tetep lebih seru before sunset :)
    bagaimana smua bisa terungkap dalam waktu kurang dari satu hari,
    itu yang menarik, apalagi latar belakang tempat eh lokasinya juga keren,
    nice film ..

  7. 11 bocahbancar Juli 13, 2009 pukul 6:03 am

    Wahhh…..
    Saya minim banget pengetahuan mengenai fil,-film, dan alhamdulillah saya mendapatkan sedikit ilmu dari sini, maybe nantinya saya akan mencarinya lebih jauh..

    Before sunset, dari review ini kelihatannya menarik dech…

    Salam semangat yawh Morishige… ;)

  8. 12 Aribicara Juli 13, 2009 pukul 6:38 am

    Ak blm
    Nton sich, tp yg penting alurnya jgn monoton aja :-)

    Salam :-)

  9. 13 yoan Juli 13, 2009 pukul 9:02 am

    humm…
    itu orang dua pada gak punya hape apa ya kok bisa2nya sampe gak ngasi kabar kenapa ngga bisa dateng pas janjian…

    *ditimpukmassa*

    hummm… iya ya… hidup itu ngga selamanya ‘happy ending’…

    aaarrrrgggghhhhh……….. *numpangteriak*

    *peace*

  10. 14 dan Juli 13, 2009 pukul 9:42 am

    weheheh, percaya atau nggak, saya nontonnya Before Sunset duluan. Beberapa bulan kemudian, eh ternyata baru tau kalau ada prekuelnya. wkwkwkwkwk.

    Kalo ga salah si Richard Linklater bikin Before Sunrise emang bener2 9 tahun setelah Before Sunrise. CMIIW. dua film yang jadi all time fave saya. hehe.

  11. 15 angga chen Juli 13, 2009 pukul 11:57 am

    sepertinya filmnya seru ya…apalagi cerita singkatnya bagus banget diceritakan dalam blog ini ! thanks ya

  12. 16 geRrilyawan Juli 13, 2009 pukul 3:33 pm

    udah nonton dua-duanya. oke banget…
    before sunrise lebih anak muda banget, petualangan, mencoba hal baru. kalo before sunset lebih dewasa, soal hubungan, pernikahan…
    ini film yang isinya ngomong terus tapi nggak pernah bikin bosen.
    saya suka lagu apa itu “waltz….” yang terakhir dinyanyiin celine.

    saya pribadi lebih suka before sunrise…tapi before sunset juga oke kok.

  13. 17 morishige Juli 13, 2009 pukul 3:44 pm

    @warm: saya juga keknya lebih suka before sunset. lebih banyak hal yang bisa dipetik.
    @bocahbancar: thanks, bro. :mrgreen: saya kan sekalian memasyarakatkan hobi menonton film. hehe..
    @aribicara: menurut saya sih nggak monoton. karena saya suka film yang seperti ini. subjektif saya lho. tapi film ini full dialog lho.
    @yoan: btw, di “before sunset” mereka sadar kok kalo dulu mereka young and stupid sampe-sampe gak tukeran alamat atau no telepon. :mrgreen:
    @dan: untung saya nonton Before Sunrise dulu.. hehehe..
    @angga chen: then you ought to watch this film immediatelty.. :mrgreen:
    @gerrilyawan: iya, judulnya Waltz. mulai dari Celine nyanyi itu, saya suka banget scenenya..

  14. 18 mightylesthi Juli 13, 2009 pukul 4:38 pm

    dua-duanya, Before Sunrise dan Before Sunset, film wajib ditonton pas weekend. huff..lengkap deh ^^

  15. 20 kidungjingga Juli 13, 2009 pukul 6:38 pm

    ya…ya…. recomended banget tuh filmnya..

  16. 21 uke poet Juli 13, 2009 pukul 11:52 pm

    Dah nonton both movies.
    Intinya sih, dibalik bakwan gak selalu ada udang.
    :D

  17. 22 Sawali Tuhusetya Juli 14, 2009 pukul 1:22 am

    mas morish memang paling bisa bikin review film. utk bisa membikin postingan ini setidaknya dibutuhkan banyak pengetahuan ttg sinematografi. selama ini saya barus bisa sebatas mengapresiasinya, mas.

  18. 24 Riffy Juli 14, 2009 pukul 6:57 pm

    kamu dapat award .
    xixi .
    jgn lupa mampir ke blog gue untuk mengambilnya .

  19. 25 BP™ Juli 17, 2009 pukul 2:50 am

    sunset? hmm… sepertinya saya harus bergegas nyari dvd nya..

  20. 26 kupatahu28 Juli 27, 2009 pukul 12:36 pm

    Nih film bagus, gw suka… Setelah gw nonton yang Before Sunrise, gw langsung nyari film yang ini pengen tau lanjutan nya gimana…
    Tapi buat yang ga begitu suka film drama (action maniak) mungkin film ini agak membosankan…


Tinggalkan Balasan




the author

The name is Morishige. A twenty something young boy. The hobby is travelling. And hiking. And reading. And watching film. And playing guitar.

my twitter

kategori

arsip

online guests

who's online

hits

  • 57,637 netters