19 Juli 2009. Selepas Tabanan, minibis ringkih yang kami tumpangi dari Terminal Ubung Denpasar akhirnya rusak juga. Setelah puas memaki-maki, supirnya mengoper kami ke minibis lain yang sesak namun sama ringkihnya. Kemudian saya terjebak dalam lamunan.
Perjalanan selalu mengajarkan saya banyak hal. Jauh lebih komplit daripada pendidikan moral yang dikemas dalam PPKn. Bahkan petuah guru agama bahwa “sebaiknya kita selalu menjaga hati” serasa ecek-ecek bila dibandingkan dengan apa yang disuguhkan sebuah perjalanan.

Gambar atas pose waktu sunrise, gambar bawah Pantai Sindhu, Sanur
Di hari pertama, seorang bapak yang mengimami shalat isya tiba-tiba memberi kami uang 20 ribu setelah saya bertanya-tanya tentang Bedugul. “Untuk tambahan beli bensin,” katanya. Saya dibuat malu karena sebelumnya saya sempat membatin dalam hati, “ini orang kok mukanya sombong bener sih?” Tapi nggak mungkin lah bapak ini menyangka saya tukang palak.
Masih di hari pertama. Tanpa syarat kawan-kawan Mapala Udayana menerima dan mengizinkan kami untuk menginap di sekretariatnya. Saya memang mengaku Mapala juga. Dan itu memang benar. Mereka sih percaya saja meskipun sebenarnya mereka bisa saja mengecek KTM saya. Tapi siapa tahu saya berbohong, siapa tahu saya cuma memanfaatkan jaringan persaudaraan Mapala Indonesia.
Di hari kedua saya dibuat terharu ketika melihat seorang bapak yang begitu kuat menggenggam pergelangan tangan anaknya yang masih kecil. Beliau seolah tidak akan membiarkan sedetik pun anak itu lepas darinya. Kasih sayang orangtua ternyata begitu besar pada anak-anaknya. Tiba-tiba saya jadi kangen dan ingin memeluk Ayah dan Ibu.
Hari terakhir di Bali seolah-olah tidak mau kalah untuk memberikan saya petuah. Saya diajari untuk husnudzon ketika berhadapan dengan seorang pemilik rental motor tatoan di Kartika Plaza. Penampilannya memang preman. Namun diluar dugaan ternyata dia maklum bahwa kami belum mengerti aturan penyewaan dan membatalkan penyewaan motor di hari terakhir, kemudian tanpa banyak omong Bli itu mengembalikan uang sewa motor sehari penuh.

“Dek, dek, oper ke bis yang di belakang sana, ya.” Bapak kenek bis yang, berdasarkan obrolan dengan beliau, keturunan melayu itu membangunkan saya dari renungan. Kami dioper lagi di daerah Negara.
Beberapa saat kemudian saya melihat gapura besar tanda sudah memasuki daerah Taman Nasional Bali Barat(?) yang diatasnya bertuliskan, “Selamatkan Jalak Bali … .” Lho? Selamat “kan” Badak Jawa?
(Tamat)
Kaitkata: Backpacking, Bali, Denpasar, Gilimanuk, Negara, Pulang, Sanur
Juli 31, 2009 pada 8:47 pm |
jadi ingat pengalaman bundo dulu, dalam perjalanan ke purwokerto bertiga teman.. satu bis dengan seorang bapak tua yang ternyata adalah seorang ustad.. beliau harus datang ke acara pelepasan jemaah haji disuatu desa yang beliau tak tau persis tempat.. dengan sok iye kami anter beliau sampai ditempat dan pulangnya dikasih uang, 20 ribu juga.. hehhhe
perjalanan kemarin itu adalah Le grand voyage milik shige
makaciy shige sudah berbagi, bundo senang menikmatinya
Juli 31, 2009 pada 8:55 pm |
musafir memang seolah selalu diberikan keuntungan, bundo. entah kenapa. adaaa saja bantuan yang datang.. dan dari arah yang tidak terduga.hehehe..
Juli 31, 2009 pada 9:05 pm |
akhirnya tamat jugaa… ditunggu cerita selanjutnya yaa!!
Agustus 1, 2009 pada 1:23 am |
haddiiirrr..
kunjungan balik neh
moga2 jalak bali selalu lestari ya…
cu…
Agustus 1, 2009 pada 2:05 am |
wah aku inget jejak petualangku waktu baru lulus kuliah ya hampir samalah dengan dikau. ya kesanur juga seeh. memang meyenangkan ya.jangan lupa ke pulau sarangan ada tokoh muda disitu rumahnya deket mejid lama tuh.salami ya
Agustus 1, 2009 pada 7:59 am |
selamatkan jalak bali tapi kok gak ada foto jalaknya?? hohoooo
semangat!!!
Agustus 1, 2009 pada 10:12 am |
saya jalan-jalan…
tpi bisanya baru jalan-jalan berkunjung ke blog orang.
Agustus 1, 2009 pada 10:42 am |
yuhuuuuuuuuu bali tak ada matinye…
kapan kesana lagi ya
Agustus 1, 2009 pada 11:46 am |
muantap nian …. pelajaran dari perjalanan ….
yuhuuu, agustus jalan2 lagi, kau masi libur kan?
ditunggu cerita2 lainnya
Agustus 1, 2009 pada 12:00 pm |
@diazhandsome: doakan saja rencana saya selanjutnya bisa jalan.. hehe..



@faza: oke.. tapi… intinya sih bukan di Jalak Balinya, mas.. hehe..
@kawanlama95: wah, kebetulan saya nggak ke situ tuh paman.. bagus ya, pulaunya?
@fadhilatul muharram: ya.. karena intinya bukan di Jalak Bali malang ituu..
@belajar: perlahan-lahan saja, tante..
@kw: kapan? kapan? kapan? kapan?
@nadya: iya, masi libur.. rencananya minggu depan mau ke sempu… yay!!! doakan saja jadi..
Agustus 1, 2009 pada 12:09 pm |
Segalanya harus diselamatkan,,ga cuma flora dan fauna Indonesia tercinta,,tp juga jatidiri bangsa dan semangat nasinalisme yang harus dijaga agar tidak pudar,,
I love Indonesia…Merdeka!!!
Agustus 1, 2009 pada 12:29 pm |
Sbnarnya kita ga bs hnya ngliat org dr pnampilanna aja, krna d blik itu smua pasti trsimpan sbuah kbaikan yg tulus
Agustus 1, 2009 pada 1:14 pm |
Ngumungin jalak bali ya?
Agustus 1, 2009 pada 2:40 pm |
wah…. Setuju ama Pengalaman adalah guru terbaik…
Agustus 1, 2009 pada 5:43 pm |
keren bgt traveling nya.. jadi pengen bro..
Agustus 1, 2009 pada 7:44 pm |
waa.. ternyata judulnya hanya disinggung di akhir cerita hehehe….
pantesan bingung, tentang jalak balinya mana nih
Agustus 1, 2009 pada 8:47 pm |
Jalan-jalan mlulu neh…
Pengen jadinya….
Agustus 1, 2009 pada 9:17 pm |
hadddiiirrr….
malam mingguan menyambangi sobatku sayang
Hhh.., gara-gara ga bisa pulang neh….
Agustus 1, 2009 pada 10:41 pm |
setuju! kalau bukan kita, siapa lagi?
Agustus 2, 2009 pada 8:48 am |
perjalanan memang mengajarkan banyak sekali hal, mulai dari geografis, sosiobudaya, akhlak dan perilaku, komunikasi, dan begitu banyak hal lainnya. menariknya, semua diajarkan melalui praktek langsung, bukan petuah abstrak para guru.
sayang serial perjalanan ke bali ini sudah selesai.
jalak bali, burung yang secara fisik tidak terlalu unik atau conspicuous kupikir, tapi memang hanya ada di sana. memiliki jalak bali harus dengan izin. aku pernah melihat seorang pejabat kecamatan di nusa penida memiliki jalak bali bewarna putih. wah, musti perkara tuh kalau ketahuan.
Agustus 2, 2009 pada 2:06 pm |
wah asiknya liburan ke bali. sekali-kali liburan ke Lombok donk, keren lo….
Agustus 2, 2009 pada 8:13 pm |
hhaaddiirrr….
malam2 mengunjungi sahabat, berharap ada secangkir kopi tuk menghilangkan dahaga ini…
cu…
Agustus 2, 2009 pada 8:42 pm |
malam bang
wah senangnya perjalanan yg menyenangkan pastinya
dan blue harap masih ada cerita yg tersisah di tempat yg selalu kau jejeki
salam hangat selalu
Agustus 2, 2009 pada 11:03 pm |
@mel: iya, tante..

@edda: itu diaa..
@ditda: itu cuma judulnya, cuy.. he..
@norland: yap.
@cantigi: tunggu apa lagi, bro. begitu ada waktu luang, langsung jalan
@mahardika: judulnya ini juga sekalian pengen liat, orangnya baca atau nggak.. hehe..
@kanglurik: hehe..
@perigitua: iya sobatku saayaaankkk..
@AeArc: ya ya..
@marshmallow: btw di indonesia sebenernya kan banyak banget hewan2 endemi seperti itu uni: ada ikan bilih di singkarak, komodo di pulau komodo, jalak bali, harimau sumatra, badak jawa… semua itu perlu banget untuk dipelihara. kelemahan kita tuh baru mulai konservasi setelah “sesuatu” itu mau punah. sayang banget kan?
@casualcutie: mudah2an bisa ke sana.. pengen ke the three gilis dan bima..
@blue: amin..
Agustus 3, 2009 pada 6:58 am |
Halo bos, nice trip.. perjalanan backpacking ini emang seru karena bisa ngebuka perspektif kita akan sesuatu yang baru.. Berwisata namun merasa menjadi bagian dari masyarakat dimana kita berkunjung!! Sukses ya bos!
Agustus 3, 2009 pada 2:06 pm |
Sukses.. mori…
dah sampai kan dirimu..
daku lupa, lupa ijin hehehe
linkmu tak masukin ke myblogroll …
udah lama sich.. maaf ya ndak ijin dulu
piss…
Agustus 3, 2009 pada 2:17 pm |
@agn: berarti kita sepaham, bro..
santai… saya masukin juga deh di blogroll..
@pilar: udah dong.
Agustus 3, 2009 pada 4:02 pm |
Fotonya apik2 mas..
Nakal nih endingnya, udah baca serius ternyata pelesetan haha..
Agustus 3, 2009 pada 4:05 pm |
@jiewa: hehe.. trims bro. sayangnya cuma dikit yang nangkep kalo itu plesetan…
Agustus 3, 2009 pada 11:16 pm |
Eugh…senangnya backpeckeran…. Ada rencana BPan lagi ga mas? Boleh dech kasi2 info, sapa tau bisa ikutan ngerasain jadi mushafir. Ini seriusan loh…. +pasang tampang serius, hehehehe+
Agustus 3, 2009 pada 11:46 pm |
@ayam cinta: rencana terdekat sih backpackingan ke sumatra.. mudik. hehehe… ikut?
Agustus 4, 2009 pada 12:16 pm |
Fotonya bagus-bagus
Salam hangat
Popop
Agustus 4, 2009 pada 8:32 pm |
Jadi inget iklan jadul ‘Utamakan Selamat”
Agustus 5, 2009 pada 6:13 pm |
SALUT !
bisa menarik pelajaran juga
Agustus 5, 2009 pada 11:16 pm |
@coretanpinggir: trims bro..
@ade: hehe.. iklan tahun berapa tuh, uni? saya sih generasi milenium.. hehe..
@eka situmorang-sir: selain menarik rambut orang, saya sepertinya juga bisa menarik pelajaran…. hehe..
Agustus 7, 2009 pada 7:02 am |
Ya ya.. saya setuju. Perjalananmu memang menarik luar biasa, apalagi klo dialami sendiri ya..
Kisah diterima mapala itu misalnya, saya juga takjub.
Btw ternyata jalak balinya cuma seuprit di ujung paragraf. Hahaha. Menipu..
Juni 8, 2012 pada 3:08 pm |
superb journey!! meski telat bacanya tapi feel nya masih tetep kerasa