Jika ketika mudik tahun yang lalu saya tidak bisa menemukan sebuah warung internet pun di Pariaman, tahun ini di sekitar balai (pasar) nagari saja saya sudah menemukan dua warnet. Wow! Betapa cepat teknologi menjamah daerah ini.
Maka bertambahlah satu lagi pilihan saya melewatkan waktu luang di kampung. Jika dahulu cuma ada tiga pilihan; duduk santai di teras sambil mengobrol dengan keluarga, membaca buku di ruang tamu, dan jalan-jalan, sekarang pilihannya bertambah satu. Main internet.
Siang terakhir bulan puasa kemarin, saya ke warnet. Suntuk di rumah. Sedari masih di Jogja, sebelum mudik, saya sudah bertekad untuk jalan-jalan sepuas-puasnya di Sumatra Barat. Karena alasan itu, sewaktu ngenet saya mencoba memasukkan keyword “Pantai di Sumatra Barat” ke kolom search google. Sumatra Barat memang memiliki banyak pantai. Kemudian keluarlah beberapa judul artikel mengenai keyword yang saya masukkan. Yang saya klik adalah sebuah artikel dari blog ini.

Dari sekian banyak pantai yang dibahas di sana, Pantai Tiku lah yang paling menarik minat saya. Pertama karena untuk mencapai tempat ini dari tempat saya hanya membutuhkan waktu sekitar 45 menit. Pantai Tiku terletak di Nagari Tiku, Kecamatan Tanjung Mutiara, Kabupaten Agam. Artinya pantai ini sangat mungkin untuk dikunjungi sekarang juga. Kedua, karena saya tergiur dengan sepotong penjelasan tentang Pantai Tiku dalam blog ini. Katanya, “Tiku sering digelari orang pantai mutiara …” dan “Bicara tentang Tiku mau tak mau harus bicara tentang pantai dan lagunanya“.
Tidak mau kehilangan momen, saya langsung melaju dengan Mio adik ke Tiku. Sendirian. Hanya dengan bekal berupa informasi dari sebuah artikel di internet. Yeah! Internet menuntun saya.
Jalan ke Tiku datar-datar saja. Dibanding jalan ke Painan, ruas-ruas aspal ke Tiku bisa dikatakan lebih mulus. Internet hanya memberikan clue bahwa laguna itu terletak di belakang rumah penduduk. Artinya tidak akan ada plang nama yang bertuliskan “Selamat Datang di Laguna Pantai Tiku”. Maka begitu memasuki Tiku, saya memasang mata baik-baik. Berusaha mencocokkan visualisasi di mata dengan foto yang saya lihat di Beach West Sumatra tadi. Untunglah ketemu.
Saya menepi di halaman samping sebuah kedai tua bertingkat dua, ruko zaman dulu mungkin, kemudian memarkir motor di antara pohon-pohon kelapa yang menjulang tinggi. Tak ada seorang pun yang menarik bea masuk, juga tak ada yang menarik uang parkir.
Sayang sekali saat itu air yang mengisi laguna surut. Hanya ada beberapa genangan air. Selebihnya didominasi oleh lumpur. Padahal saya ingin sekali menyaksikan laguna ini terisi penuh oleh air. Beberapa saat saya duduk di atas rumput, menikmati “suguhan” alam.
Blog itu hanya menyajikan foto Laguna Tiku. Foto pantainya tidak ada. Karena penasaran dengan pantainya, setelah puas duduk-duduk menikmati pemandangan dari laguna, saya coba mencari jalan ke pantai. Di barat jalan banyak terlihat jalan pasir setapak menuju pantai. Saya pilih salahsatu kemudian saya susuri.

Beberapa saat kemudian saya tiba di sebuah pantai yang lebar, landai, sepi, tersembunyi, dan sepertinya jarang dikunjungi. Seperti sengaja ditanam sebagai hiasan, di sepanjang garis pantai tumbuh cemara laut (Casuarina equisetifolia).

Saya duduk di atas pasir. Hembusan angin sepoi-sepoi membuai saya. Pantai ini bersih. Yang terlihat di hamparan pasir hanya tanaman-tanaman merambat dan cangkang-cangkang kerang. Di bawah pepohonan cemara, berdiri sebuah pondok yang tampaknya didirikan oleh warga sekitar. Sekadar tempat untuk berteduh atau bercengkrama menikmati hembusan angin pantai. Entah pantai apa namanya ini. Meskipun letaknya di Tiku, pantai ini bukan Pantai Tiku. Seperti pantai-pantai di Gunung Kidul, kan tidak semuanya bernama Pantai Gunung Kidul. Ada pantai Sundak, Baron, Drini, dll.

Internet memang menyimpan potensi untuk memberikan pengaruh buruk bagi generasi muda. Namun, sebanding dengan itu, internet juga menawarkan “kebaikan”. Sepuluh tahun yang lalu, ketika sharing informasi via internet belum begitu semarak seperti sekarang, sebagian besar dari kita mungkin belum begitu mengenali keindahan nusantara. Text book sekolah maupun suratkabar lebih sering memaparkan keindahan tempat-tempat yang memang sudah dikenal: Bali, Danau Toba, Bunaken. Jarang sekali ada tulisan atau liputan mengenai Pulau Tidung, Pulau Sempu, Karimun Jawa, The Three Gilis, Pulau Moyo, Pulau Cubadak, pantai terpencil di Tiku ini, or another remote and deserted places. Manfaat dan mudharat internet bagai dua sisi mata uang.
Sebuah suara dari perut membuyarkan lamunan saya. Sudah jam 5 sore dan sebentar lagi berbuka. Saya harus pulang. Sekali lagi internet berhasil mengantarkan saya ke tempat-tempat indah. Hah? Tenang saja. Saya nggak akan beralih ke Googleism, kok.






Wah, asyiknya. Saya belum sampai tahap itu kayaknya. Atau memang harus dipaksa kali ya ^_^
dahsyat shige..! internet justru membuatmu melangkah, bukannya terpaku di depan monitor.. bujang petualang sejati
O,o komen bundo dianggap spam..
salut saya memanfaatkan internet dan langsung action. inspiratif.
Salam kenal ya !!
siapa dong yang bbikin postingan yg punya blognya…ya kan bang
salam hangat sellau
met berakhir pekan yah
Pantainya cantik sekali terutama pantai dengan pemandangan pohon dan ada hamparan pasir serta cangkak kerang, wahhhhhhh mupeng ..semoga bisa sampai sana untuk lihat langsung
Jangan sampai nyerempet ke hal2 yang lain ya
huah! memang petualang sejati kamu, dri.
apakah pantai-pantai di pasisia masih sama setelah bencana?
hiks… mudah-mudahan allah memelihara semuanya.
Pemandangannya indah juga uda
kunjungan malam hari…hendak menyapa dan bersilaturrahmi..
salam,
pemandangannya indah sekali….
salam blogger…
semoga internet bermanfaat utk kemajuan kita bukan membuat generasi rusak..amin
salam, ^_^
Berkat internet pula keinginan terpendam saya, yaitu menulis bisa tersalurkan. Pantai perawannya indah nian ,bang sighe.
@bangaswi: kalau saya sih selama masih ada waktu luang, kenapa nggak? soalnya sering saya temukan orang yang mengeluh “saya udah sibuk banget sekarang. gak bisa jalan-jalan…”
@nakjaDimande: hehe. bundo bisa aja. jadi malu.. he..
iya, komen yang pertama ditangkis askimet. kok bisa ya?
@arkasala: kan lebih enak melihat langsung daripada cuma melihat2 foto di google..
@tikapinkhana: amin..
@hadi: hehe..
@marshmallow: kalau pantainya sendiri sih nggak perlu dikhawatirkan. orang-orang di sana yang jadi pikiran saya. untungnya di daerah tiku ini bagunan tidak sebanyak di pariaman, uni. jadi kalaupun ada kerusakan, tidak sehebat di pariaman. mudah2an orang di sana gpp.
@miyabi sister: yoa.
@caride: trims udah berkunjung.
@d-gadget: salam blogger juga!
@didien: amin..
@tukangpoto: iya, pak. pantainya indah banget. sayang saya ngambil gambarnya cuma pake camera hp.. hehe..
nyaris tercampur ingatan antara Tiku dan Talu
yg pernah saya kunjungi adalah Talu
jadi pengen ke Tiku
karna lihat foto2 dari situ
Pantai yang begitu indah harus dipromosikan sebagai tempat tujuan wisata yang perlu didukung melalui promosi yang gencar, tak semua orang mengenal internet jadi mana tahu ada tempat semenarik pantai tiku
internet memang ibarat pisau bermata dua
hehehe…tapi ya pengalaman kan gan…hehe…
tapi selama ini google membantu saya bgt ..hehe..
apa aja ada..hehe
lanjut gan..
ane nyimak teruss
poto daun diatas pasir nya keren shig. keren-keren.
gw baca postingan ini sambil dengerin lagunya U2.. berasa melayang. feel peace, feel so high.
bagus banget fotonya. sampeyan datang dipandu dengan internet, ternyata internet membimbing ke jalan menuju pantai sepi itu.
God bless the Internet!
oleh karena itu mas bro, mari kita menyumbang konten yang baik. aku merasa terbantu dengan informasi yg aku dapat di internet, makanya aku pun mau membagi apa yg saya punya ke Internet supaya orang lain bisa mendapatkan manfaat yg sama.
FYI, Indonesia memiliki garis pantai terpanjang di dunia.
berkat internet juga kita bisa kenalan kan shige? hehehe…
terima kasih sudah berbagi informasi soal tiku ini, terus terang saya belum pernah ke sana, tapi berkat tulisan shige ini, saya seperti berada di sana
berkat internet yang maya jadi nyata…
Yep, zaman udh bergeser skr.
mau tau sesuatu org pilih serach di internet
Yuuukz kita isi blog kita dengan tulisan yg bertanggung jawab supaya lbh byk org yg terbantu (siapa tahu)
salam, EKA
salah satu harta karun bangsa ini yang belum “digosok” dan di ekspos.. semoga dengan sedikit review [kurang lebihnya begitu] bisa sedikit menambah pengetahuan para blogger yang berkunjung..
Dengan adanya internet juga akhirnya saya tahu ada Sebuah pemandangan pantai yang indah nun jauh disana. Alangkah baiknya jika di manfaatkan untuk menjadi objek wisata.
berkunjung
berkunjung.
Wah pantainya sepertinya damai yah.
nice info nih…
Sungguh …. internet membuat kita lebih dekat …..
@pradna satunya: hm.. kalo Talu itu di pasaman barat. pesisir bagian utara. nah, tiku ini di selatannya..
@mamah aline: tapi, kadangkala gak semua orang harus tau sebuah tempat indah.. karena, ya, menurut yang sudah-sudah, semakin banyak orang berkunjung ke suatu obyek, semakin kotorlah tempatnya.
@wira: yoi, bro. seperti pisaunya Batosai.
@felizkusmanto: tunggu aje, gan.
trims udah nyimak..
@gimbal: tapi jangan lupa balik ke daratan lu, gim..
@mandor tempe: yap. thank god for giving our experts such brain to create this technology..
@zam: yoi, bro. mari kita bahu-membahu membuat posting yang bermanfaat bagi umat.
toh kata Alex Supertramp: “happiness only real when shared…”
iya bro.. saking panjangnya butuh waktu yang lama banget buat menjelajahinya. hehe..
@vizon: iya, udah. berkat internet pula kita bisa kenal.
kapan-kapan kalo udah pulang gak ada salahnya buat main ke pantai ini.
pantainya keren, uda..
@the bunglon’s: yap. jangan sampai kehidupan yang nyata malah jadi maya.
@eka situmorang-sir: sepakat, mbak!!!
@thepenks: amin..
@deka: asal dikelo dengan baik aja. sayang pantai seperti itu dikelola dengan asal…
@soulharmony: monggo…!!
@kaneadventure: damai sekali, gan.
@si_noby85: yap!
Saia gak yakin sampean gak ikut faham Googleism
Udah punya Google Wave belum
Wah pantai yang indah, serta sebuah pengalaman yg mengesankan tentunya yah…Internet emang ajaib deh, tinggal pandai2 kita lah mau menggunakan sisi yg mana dari kedua sisi mata uang dari internet tersebut…
Salam kenal Shige, dan saya tautkan yah link blognya. Terima kasih.
sip, mantep ulasannya…
dengan internet kita bisa tahu segalanya, asal jangan males baca aja…
internet selalu menjadi awal pencarian saya mengenai suatu tempat yang ingin dikunjungi…
hooooo. *terpesona*
Apa semua gambar itu, pemandangan pantai Tiku?
*masih gak percaya kalo yang seperti itu ada di Sumbar*
BTW, kerang nya itu sengaja disusun ya?
wah pantainya indah bener… lagi surut ya mas..
jadi pengin kesana..
Wah, hebat sekali kau sobat. Saya jarang sekali bisa bepergian tanpa persiapan. Teruslah berpetualang bro..
@dhodie: hehe.. saya udah ngirim permohonan untuk diinvite ke Google. tapi belum dijawab. kelihatannya Google Wave ini menarik sangat.
@ritasusanti: salam kenal. trims, mbak. blognya saya linkback..
@eskopidantipi: betul bro!!
@snowie: iya, itu semua pantai di tiku. coba aja ke sana kalo gak percaya.. hehe.
iya, kulit kerangnya susun.
@muhamaze: waktu itu keknya memang lagi surut. soalnya sampai jam 4 sore lagunanya masih aja gak berair..
@pushandaka:
Percaya sekarang.
Kebetulan, jumat kemaren saya ke maninjau, lewat Tiku, so, ada sedikit bisa lihat dari jalan pantai yang ada di atas. Dari jauh udah bisa lihat pasir pantainya yang warna putih. Sayang, gak bisa mampir.
lagi-lagi pantai yang indah…
sebagaimana blog mas shige ini, yang notabene juga menggunakan akses internet, dan digunakan untuk memperkenalkan daerah-daerah atau tujuan wisata yang sebelumnya tak terekspos secara maksimal. mugkin inilah salah satu jalan yang dapat digunakan banyak pihak semaksimal mungkin. keren.