Langkah (20): Jejak Pagaruyung, Dari Istano Baso Sampai Kubu Rajo

Istano Basa PagaruyungBerkat tipu muslihat, seusai lebaran kemarin saya berhasil mengajak si Aven ke Batusangkar untuk melihat-lihat jejak Kerajaan Pagaruyung. Untuk mencapai Nagari Pagaruyung butuh waktu sekitar 4 jam dari Padang. Namun saya bilang ke Aven waktu tempuhnya paling sekitar 15-20 menit dari Padang Panjang. Dan dia percaya.

Jika ingin berkunjung ke Nagari Pagaruyung dengan angkutan umum, anda bisa mencari bis jurusan Batusangkar di depan Universitas Negeri Padang. Setelah tiba di Batusangkar, anda bisa menumpang angkutan desa yang menuju Pagaruyung. Atau naik ojek.

Kami ke sana dengan motor. Keputusan yang tepat sekali karena jika memilih naik bis, kami akan terjebak dalam antrian panjang kendaraan roda empat yang terjebak macet di jalan Padang – Bukittinggi. Well, ruas jalan Padang – Bukittinggi memang hampir selalu macet beberapa hari menjelang dan setelah lebaran.

Jika ruas jalan Padang – Bukittinggi sampai Padang Panjang macet gila-gilaan, jalan Padang Panjang – Batusangkar sepinya minta ampun. Sudah sepi, pom bensin jarang pula. Sewaktu perjalanan kemarin saya sempat hampir kehabisan bensin di nagari tertua di Minangkabau, Pariangan. Akibatnya saya harus membeli bensin dengan harga ekstra.

Istano Basa tampak dari belakangSekitar zuhur kami tiba di Nagari Pagaruyung. Nagari ini dahulunya adalah pusat pemerintahan Kerajaan Pagaruyung. Sebuah kerajaan yang didirikan oleh Adityawarman. Seorang blasteran Minangkabau – Majapahit. Ibunya dari Kerajaan Dharmasraya, Ayahnya dari Majapahit.

Perubahan sistem kekerabatan Minangkabau dari Patrilineal menjadi Matrilineal berhubungan erat dengan terbentuknya Kerajaan Pagaruyung ini. Pengarang ES ITO dalam bukunya Negara Kelima menjelaskan hubungan ini dengan menarik.

Obyek pertama yang kami kunjungi adalah Istano Basa, Istana Kerajaan Pagaruyung. Istano Basa yang “ini” sebenarnya merupakan replika istana asli yang terbakar pada kerusuhan berdarah pada abad 19. Istana lama itu terletak di atas Bukit Batu Patah, sebelah utara istana sekarang. Karena memang terbuat dari kayu, Istano Basa sempat beberapa kali terbakar. Yang terakhir adalah pada bulan Februari 2007. Menariknya, dari sekian kali kebakaran, Tonggak Tuo (Tiang Tua) istana ini tidak pernah ikut dilalap si jago merah. Nah, malangnya, waktu saya ke sana Istano Basa belum selesai dibangun kembali.

Setelah shalat zuhur di Kantor Bupati Tanah Datar, kami berbalik arah ke utara dan melanjutkan perjalanan ke Istano Silinduang Bulan. Rumah Gadang Sambilan Ruang yang merupakan rumah pusaka dari Ahli Waris Daulat Yang Dipertuan Raja Pagaruyung. Sama seperti Istano Basa, istana ini juga pernah terbakar. Di dalam Istano Silinduang Bulan ini katanya banyak tersimpan benda pusaka peninggalan Kerajaan Pagaruyung. Tapi sayang sekali saya tidak bisa membuktikannya karena, lagi-lagi, rumah gadang ini tutup. Sungguh beruntung!

Istano Silinduang BulanDi halaman Istano Silinduang Bulan ada dua tenda yang menjual karih (keris) untuk oleh-oleh. Keris Minang dengan Jawa, meskipun bentuknya relatif sama, memiliki perbedaan dalam posisi pemasangannya di pakaian adat. Keris Jawa dipasang di belakang, keris Minang di depan.

Istano Silinduang Bulan~

Di sisi selatan halaman ada sebuah pohon kelapa yang aneh. Batang bagian atas pohon kelapa itu meliuk-liuk seperti spiral. Mungkin sewaktu masih berupa tunas kecil, pohon itu sering dipuntir-puntir orang. :mrgreen:

Kiri: Ustano Rajo Alam, Kanan: Batu tempat musyawarah

Perjalanan dilanjutkan. Kami berhenti di Ustano Rajo Alam. Ustano di sini berarti makam alias kuburan. Ustano Rajo Alam adalah kompleks pemakaman raja-raja Pagaruyung. Ada 13 makam di sini. Karena nisannya masih mirip menhir, tidak seperti nisan sekarang yang sudah dilengkapi dengan nama, saya tidak bisa melihat satu per satu itu makam siapa. Di bawah pohon beringin dalam kompleks ini juga terdapat batu seperti tempat duduk yang disusun secara melingkar. Konon tempat ini dahulunya dipakai oleh para petinggi adat untuk bermusyawarah.

Kanan: Kubu Rajo I, kiri: Kubu Rajo II

Pemberhentian terakhir kami sebelum balik ke Padang adalah Situs Prasasti Kubu Rajo. Di situs ini terdapat dua blok prasasti; Kubu Rajo I dan Kubu Rajo II. Kedua prasasti ini dikenal dengan nama Batu Basurek. Kubu Rajo I, yang ditulis dengan huruf palawa berbahasa sansekerta, berisi tentang silsilah Adityawarman. Sedangkan Kubu Rajo II hanya berisi simbol-simbol yang sepertinya menunjukkan tahun-tahun penting masa pemerintahan Adityawarman. Isinya tidak sejelas Kubu Rajo I.

Anyway, anda pasti heran kenapa bangunan-bangunan peninggalan Kerajaan Pagaruyung tidak terletak dalam benteng seperti lazimnya istana? Secara singkat saya hanya bisa menjawab bahwa di Minangkabau, pemimpin itu cuma “didahulukan selangkah, ditinggikan serantiang”.

About these ads

Tag: , , , , , , ,

34 Tanggapan to “Langkah (20): Jejak Pagaruyung, Dari Istano Baso Sampai Kubu Rajo”

  1. Joddie Says:

    woow… bangunannya eksotis… luar biasa..!!! jadi pengen maen ke sana neeh…

  2. Kurotsuchi Says:

    sungguh keren postingan yang ini, masbrur… apalagi saya cukup interest dengan kisah di era raja-raja ;) pake referensi juga kah?

    btw;

    pemimpin itu cuma “didahulukan selangkah, ditinggikan serantiang”

    malah jadi inget falsafah “mikul dhuwur, mendhem jero” :mrgreen:

  3. morishige Says:

    @joddie: main aja ke sana. :mrgreen:

    @kurotsuchi: trims, bro.. iya. referensinya sih yang paling utama pelajaran Budaya Alam Minangkabau yang saya dapat waktu SD dan SMP. lainnya bukunya ES ITO dan hasil searching di google. :mrgreen:

    aslinya sih bunyinya begini, “didahulukan salangkah, ditinggikan sarantiang…” artinya pemimpin itu nggak perlu “didewakan”.

    btw, karena berdiri di tengah2 masyarakat egaliter, kerajaan pagaruyung tumbuh dengan cara yang berbeda daripada kerajaan lain.. :D

  4. indra1082 Says:

    Kapan yah keliling Indonesia melihat peninggalan sejarah yg elok nian…

  5. nakjaDimande Says:

    bundo suka shige mengambil poin itu
    “didahulukan selangkah, ditinggikan serantiang”, singkat namun memang begitulah budaya luhur minangkabau yang bundo suka, tak ada yang perlu didewakan..

    eitss.. istana Pagarruyuang walaupun masih berupa rangka kayu tetap saja terlihat cantik..!! untung shige tau jalan kesana, kalau tidak terpaksa pula bundo kesitu untuk bikin artikelnya buat shige :P

  6. morishige Says:

    @indra1082: lha, kapan?

    @nakjaDimande: yoi, bundo. adat Minangkabau mengajarkan bahwa tak ada yang perlu didewakan.. :D

    hehe.. kalau ke Istana Pagaruyung, saya udah beberapa kali, bundo. dulu seringnya sih bareng keluarga. waktu masih kecil.. :mrgreen:

  7. komuter Says:

    pengalaman yang menarik….

  8. mandor tempe Says:

    waahh bangunan yang eksotik. Indoensia memang kaya akan budaya yang tidak tertandingi. Jadi kapan shige ngajak saya ke sana ?

  9. cantigi Says:

    hehehee.. sama dah kita. jalan2 terus, bikin artikelnya. mantap! jadi pengen juga maen ke ranah minang bro..

  10. morishige Says:

    @komuter: hehe… :mrgreen:

    @mandor tempe: kapan-kapan lah, bang mandor.
    doakan saja saya cepat lulus kuliah dulu. hehe.. :mrgreen:

    @cantigi: tos dulu dong, bro!
    mari kita sama-sama dukung “Visit Indonesia”.

    sekali-sekali coba aja main ke sumatra barat. :D

  11. munir ardi Says:

    blog yang bagus salam kenal sob

  12. lilliperry Says:

    menarik…
    besok kalo saya pulkam, lewat sini ah..
    btw tempat2 ini gak apa2 setelah gempa kemarin da..? *just asking* :)

  13. zam Says:

    [..] Ustano di sini berarti makam alias kuburan. [..]

    kalo di Jawa, makam itu disebut dengan “astana”. maka ada namanya Astana Giri Bangun, Astana Imogiri, Astana Mangadeg, dan sebagainya..

    soal keris, di Jawa juga punya aturan dalam pemasangan keris di badan. Beda lokasi dan beda posisi, beda maksud. ada yg memang bermaksud “damai”, ada juga yang bermaksud “perang”. biasanya kalo perang, keris dihunus di depan badan.. :D

    eh, foto karih-nya kok ndak ada ya? kecil banget. pengen tau juga apakah karih itu juga memiliki luk, pamor, dan sebagainya.. :D

  14. Pencerah Says:

    mangtafff kang, jadi pingin kesana nich

  15. dhodie Says:

    “didahulukan selangkah, ditinggikan serantiang”

    Mantaf kali ni peribahasa…. thanks untuk info matrilinialnya :mrgreen:

  16. morishige Says:

    @munir ardi: salam kenal juga, sob :mrgreen:

    @lilliperry: urang minang juga?
    keknya sih gpp. daerah “darek” nggak ada rumah yang hancur kabarnya..

    @zam: kalau di minang, keris ini lebih ke asesoris saja, kang. jarang banget kalo berantem itu make keris.. lagian juga kalo berantem paling silat pake tangan kosong.

    hehe.. kemarin itu saya segan buka2 kerisnya. sama sekali gak ada niat untuk beli soalnya. :mrgreen:

    @pencerah: silakan. main aja ke sana. :mrgreen:

    @dhodie: masyarakat minang memang menganut falsafah seperti itu. makanya gak heran dulu banyak tokoh yang terkesan radikal dan berseberangan dengan pemimpin. :mrgreen:

  17. lilliperry Says:

    bukan, saya orang tapanuli. tapi kalo mudik bolehlah mampir disitu :D

  18. kawanlama95 Says:

    Alam tanah datar adalah sebuah surga di minangkabau apalagi bila kita ke Istana pagaruyung dari atas kita bisa liat bukit2 nan hijau lepas mata memandang . ohh sebuah anugrah diri ini kesana lagi. bila wisata kuliner jangan lupa ke makan bakso yang deket pasar itu bakso paling enak di minangkabau versi aku. selamat minikmati

  19. dobleh yang malang Says:

    blue selalu exotic kalau dengar atau baca daerah padang ………….

    salam hangat selalu

    pa cabar

  20. intanmarthasari Says:

    ujayy
    i went there in my last holiday, too :D
    finally i made my account here
    and just come by to visit you

    great blog and posts, anyway :D

  21. morishige Says:

    @kawanlama95: ya, ya.. :mrgreen:

    @blue: excited maksudnya, blue? kapan2 main aja ke sumbar.. :mrgreen:

    @intan: thanks for dropping by.. :mrgreen:
    glad to meet one of my best friend on this blogosphere. :D

    keep blogging, anyway! :mrgreen:

  22. marshmallow Says:

    yupe! jadi tidak ada pula istilah menyembah dan menggelesot di hadapan raja seperti lazimnya ditemui di kerajaan-kerajaan di jawa.

    perjalanan yang sungguh beruntung, dri.

  23. pakacil Says:

    whuahahaha…
    terlaaaaluu, 4 jam dibilang 15-20 menit saja. whuahahaha…

    tapi tak rugilah, menempuh 4 jam untuk menemukan situs sejarah yang menarik macam ini. saya pun mau.

  24. novia Says:

    Ic… Sudah mulai dibangun lagi ya Istana yang sempet kebakar itu? Tapi sayang blom selesai…
    Btw, ga kena dampak gempa ya daerah ini?

  25. morishige Says:

    @marshmallow: itu yang saya suka, uni. :mrgreen: semuanya orang dianggap sama. egaliter. semangat revolusi prancis ternyata udah ada pada masyarakat kita sejak dulu.. :mrgreen:

    @pakacil: 15-20 menit dari Padang Panjang, Pakacil. Padangpanjang ini sekitar 1.5-2 jam dari Padang. hehe..
    jadi saya ngibulin temen saya itu. biar dia mau ikut. :mrgreen:

    @novia: iya, belum selesai. katanya sih sekitar 3 bulan lagi kelarnya. daerah batusangkar gak ada yang hancur keknya. yang parah itu Padang dan Pariaman. lainnya alhamdulillah stabil-stabil saja.. :mrgreen:

  26. almascatie Says:

    subahanallah.. begitu indah kalo ga sengaja ketemu yang bening2.. *belom baca lansung comment*

  27. ::: almascatie ::: » Bisul Says:

    [...] pak.. menulis tentang bisul biar kita pecahin bareng-bareng pak… *terkapar dibawah laras [...]

  28. morishige Says:

    @almascatie: welcome back, bro!! kemana ajaaa??

  29. hidayatul rahmi Says:

    sebaiknya anda sajikan secara lengkap berita tentang kubu rajo dan isi prasastinya

  30. Aden Koo Says:

    mantap, rancak bana….

  31. Jejak Pagaruyung, dari Istano Baso Sampai Kubu Rajo « Suprizal Tanjung's Surau Says:

    […] http://morishige.wordpress.com/2009/10/19/langkah-20-jejak-pagaruyung-dari-istano-baso-sampai-kubu-r… […]

  32. junaidhy Says:

    Siapa Ÿª♌g †ɑ̤̈̊ʊ kubur rajo daulad di mna?

  33. ronauli T Says:

    Banyak Kejanggalan, Sejarah Adityawarman Diteliti Ulang
    Khairul Ikhwan – detikNews
    Medan – Sejarah sosok Adityawarman yang dikenal sebagai pendiri Kerajaan Malayupura (Pagaruyung) di Sumatera Barat, diteliti ulang oleh Prof Uli Kozok dari University of Hawaii, Amerika Serikat. Sejauh ini penelitian tersebut menemukan banyak kejanggalan dari catatan sejarah yang sudah dituliskan.

    Penelitian tersebut masih dilaksanakan Uli Kozok hingga sekarang. Beberapa kejanggalan yang sudah ditemukan, antara lain fakta bahwa Adityawarman bukanlah utusan Majapahit untuk wilayah Pulau Sumatera, dan kebenaran tentang lokasi makamnya juga diragukan.

    “Catatan yang menyebutkan makam Adityawarman di Kubur Raja, itu tidak benar. Tidak ada daerah dengan nama seperti itu, yang ada hanya Kubu Raja, atau Kubu Rajo, yang menunjukkan itu merupakan lokasi kubu atau benteng pertahanan kerajaan, bukan lokasi pemakaman. Sedangkan makam Adityawarman tidak diketahui sejauh ini,” ujar Kozok di Universitas Negeri Medan (Unimed) Jl. Willem Iskandar, Medan, Selasa (9/3/2010).

    Kozok yang berbicara dalam seminar Meruntuhkan Mitos Adityawarman: Tokoh Penting dalam Sejarah Jawa-Sumatera, yang dilaksanakan Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial (Pussis) Unimed, lebih lanjut menyatakan, Adityawarman sebenarnya lahir dan dibesarkan di Pulau Sumatera bukan di Pulau Jawa dan bukan pula tinggal di Majapahit sebagaimana yang disampaikan sejarawan Slamet Muljana dalam Pemugaran Sejarah Persada Leluhur Majapahit (1983) yang menjadi referensi di Indonesia selama ini.

    “Adityawarman bukanlah anak Dara Jingga, tapi keturunannya, mungkin keturunan kedua. Adityawarman lahir dan besar di Sumatera, lantas pada saat berumur 20-an tahun diundang ke Majapahit dalam rangka sahabatan Melayu – Majapahit, lantas diangkat menjadi menteri (wreddamantri) di Majapahit. Hal itu merupakan hal yang biasa saat itu,” kata Kozok, namun tidak memberikan contoh kasus pengangkatan serupa yang menunjukkan pengangkatan raja menjadi menteri di kerajaan lain sebagai suatu yang biasa.

    Kozok juga menyatakan beberapa keterangan status Adityawarman sebagaimana tercatat kitab Negara Kertagama yang ditulis Mpu Prapanca tidak bisa dipercaya begitu saja dan perlu diteliti lebih mendalam. Sebab kitab tersebut banyak isinya yang hanya memuji-muji Majapahit dan memuji-muji raja.

    Dalam seminar ini, tidak banyak bantahan yang muncul terhadap hasil awal penelitian Uli Kozok. Seminar di Unimed ini merupakan diseminasi awal penelitian tersebut, dan belum dilaksanakan di Sumatera Barat, yang merupakan menjadi daerah penelitian.

    ITU COPIAN DARI DETIK NEWS , dari saya mmg setuju apa kata Uli kozok , org2 di Jawa itu dulupun bilang candi Borobudur itu dibangun raja Jawa padahal setelah diteliti oleh ahlinya haji Muslihun arkeolog dari Bangka yg bangun adalah raja Sriwijaya dari Palembang dan di Jawa ada kerajaan sendiri itu sejak abad 12 sebelumnya mereka adalah wilayah kekuasaan Sriwijaya .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 105 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: