Berkat tipu muslihat, seusai lebaran kemarin saya berhasil mengajak si Aven ke Batusangkar untuk melihat-lihat jejak Kerajaan Pagaruyung. Untuk mencapai Nagari Pagaruyung butuh waktu sekitar 4 jam dari Padang. Namun saya bilang ke Aven waktu tempuhnya paling sekitar 15-20 menit dari Padang Panjang. Dan dia percaya.
Jika ingin berkunjung ke Nagari Pagaruyung dengan angkutan umum, anda bisa mencari bis jurusan Batusangkar di depan Universitas Negeri Padang. Setelah tiba di Batusangkar, anda bisa menumpang angkutan desa yang menuju Pagaruyung. Atau naik ojek.
Kami ke sana dengan motor. Keputusan yang tepat sekali karena jika memilih naik bis, kami akan terjebak dalam antrian panjang kendaraan roda empat yang terjebak macet di jalan Padang – Bukittinggi. Well, ruas jalan Padang – Bukittinggi memang hampir selalu macet beberapa hari menjelang dan setelah lebaran.
Jika ruas jalan Padang – Bukittinggi sampai Padang Panjang macet gila-gilaan, jalan Padang Panjang – Batusangkar sepinya minta ampun. Sudah sepi, pom bensin jarang pula. Sewaktu perjalanan kemarin saya sempat hampir kehabisan bensin di nagari tertua di Minangkabau, Pariangan. Akibatnya saya harus membeli bensin dengan harga ekstra.
Sekitar zuhur kami tiba di Nagari Pagaruyung. Nagari ini dahulunya adalah pusat pemerintahan Kerajaan Pagaruyung. Sebuah kerajaan yang didirikan oleh Adityawarman. Seorang blasteran Minangkabau – Majapahit. Ibunya dari Kerajaan Dharmasraya, Ayahnya dari Majapahit.
Perubahan sistem kekerabatan Minangkabau dari Patrilineal menjadi Matrilineal berhubungan erat dengan terbentuknya Kerajaan Pagaruyung ini. Pengarang ES ITO dalam bukunya Negara Kelima menjelaskan hubungan ini dengan menarik.
Obyek pertama yang kami kunjungi adalah Istano Basa, Istana Kerajaan Pagaruyung. Istano Basa yang “ini” sebenarnya merupakan replika istana asli yang terbakar pada kerusuhan berdarah pada abad 19. Istana lama itu terletak di atas Bukit Batu Patah, sebelah utara istana sekarang. Karena memang terbuat dari kayu, Istano Basa sempat beberapa kali terbakar. Yang terakhir adalah pada bulan Februari 2007. Menariknya, dari sekian kali kebakaran, Tonggak Tuo (Tiang Tua) istana ini tidak pernah ikut dilalap si jago merah. Nah, malangnya, waktu saya ke sana Istano Basa belum selesai dibangun kembali.
Setelah shalat zuhur di Kantor Bupati Tanah Datar, kami berbalik arah ke utara dan melanjutkan perjalanan ke Istano Silinduang Bulan. Rumah Gadang Sambilan Ruang yang merupakan rumah pusaka dari Ahli Waris Daulat Yang Dipertuan Raja Pagaruyung. Sama seperti Istano Basa, istana ini juga pernah terbakar. Di dalam Istano Silinduang Bulan ini katanya banyak tersimpan benda pusaka peninggalan Kerajaan Pagaruyung. Tapi sayang sekali saya tidak bisa membuktikannya karena, lagi-lagi, rumah gadang ini tutup. Sungguh beruntung!
Di halaman Istano Silinduang Bulan ada dua tenda yang menjual karih (keris) untuk oleh-oleh. Keris Minang dengan Jawa, meskipun bentuknya relatif sama, memiliki perbedaan dalam posisi pemasangannya di pakaian adat. Keris Jawa dipasang di belakang, keris Minang di depan.

Di sisi selatan halaman ada sebuah pohon kelapa yang aneh. Batang bagian atas pohon kelapa itu meliuk-liuk seperti spiral. Mungkin sewaktu masih berupa tunas kecil, pohon itu sering dipuntir-puntir orang.

Perjalanan dilanjutkan. Kami berhenti di Ustano Rajo Alam. Ustano di sini berarti makam alias kuburan. Ustano Rajo Alam adalah kompleks pemakaman raja-raja Pagaruyung. Ada 13 makam di sini. Karena nisannya masih mirip menhir, tidak seperti nisan sekarang yang sudah dilengkapi dengan nama, saya tidak bisa melihat satu per satu itu makam siapa. Di bawah pohon beringin dalam kompleks ini juga terdapat batu seperti tempat duduk yang disusun secara melingkar. Konon tempat ini dahulunya dipakai oleh para petinggi adat untuk bermusyawarah.

Pemberhentian terakhir kami sebelum balik ke Padang adalah Situs Prasasti Kubu Rajo. Di situs ini terdapat dua blok prasasti; Kubu Rajo I dan Kubu Rajo II. Kedua prasasti ini dikenal dengan nama Batu Basurek. Kubu Rajo I, yang ditulis dengan huruf palawa berbahasa sansekerta, berisi tentang silsilah Adityawarman. Sedangkan Kubu Rajo II hanya berisi simbol-simbol yang sepertinya menunjukkan tahun-tahun penting masa pemerintahan Adityawarman. Isinya tidak sejelas Kubu Rajo I.
Anyway, anda pasti heran kenapa bangunan-bangunan peninggalan Kerajaan Pagaruyung tidak terletak dalam benteng seperti lazimnya istana? Secara singkat saya hanya bisa menjawab bahwa di Minangkabau, pemimpin itu cuma “didahulukan selangkah, ditinggikan serantiang”.








woow… bangunannya eksotis… luar biasa..!!! jadi pengen maen ke sana neeh…
sungguh keren postingan yang ini, masbrur… apalagi saya cukup interest dengan kisah di era raja-raja
pake referensi juga kah?
btw;
malah jadi inget falsafah “mikul dhuwur, mendhem jero”
@joddie: main aja ke sana.
@kurotsuchi: trims, bro.. iya. referensinya sih yang paling utama pelajaran Budaya Alam Minangkabau yang saya dapat waktu SD dan SMP. lainnya bukunya ES ITO dan hasil searching di google.
aslinya sih bunyinya begini, “didahulukan salangkah, ditinggikan sarantiang…” artinya pemimpin itu nggak perlu “didewakan”.
btw, karena berdiri di tengah2 masyarakat egaliter, kerajaan pagaruyung tumbuh dengan cara yang berbeda daripada kerajaan lain..
Kapan yah keliling Indonesia melihat peninggalan sejarah yg elok nian…
bundo suka shige mengambil poin itu
“didahulukan selangkah, ditinggikan serantiang”, singkat namun memang begitulah budaya luhur minangkabau yang bundo suka, tak ada yang perlu didewakan..
eitss.. istana Pagarruyuang walaupun masih berupa rangka kayu tetap saja terlihat cantik..!! untung shige tau jalan kesana, kalau tidak terpaksa pula bundo kesitu untuk bikin artikelnya buat shige
@indra1082: lha, kapan?
@nakjaDimande: yoi, bundo. adat Minangkabau mengajarkan bahwa tak ada yang perlu didewakan..
hehe.. kalau ke Istana Pagaruyung, saya udah beberapa kali, bundo. dulu seringnya sih bareng keluarga. waktu masih kecil..
pengalaman yang menarik….
waahh bangunan yang eksotik. Indoensia memang kaya akan budaya yang tidak tertandingi. Jadi kapan shige ngajak saya ke sana ?
hehehee.. sama dah kita. jalan2 terus, bikin artikelnya. mantap! jadi pengen juga maen ke ranah minang bro..
@komuter: hehe…
@mandor tempe: kapan-kapan lah, bang mandor.
doakan saja saya cepat lulus kuliah dulu. hehe..
@cantigi: tos dulu dong, bro!
mari kita sama-sama dukung “Visit Indonesia”.
sekali-sekali coba aja main ke sumatra barat.
blog yang bagus salam kenal sob
menarik…
besok kalo saya pulkam, lewat sini ah..
btw tempat2 ini gak apa2 setelah gempa kemarin da..? *just asking*
[..] Ustano di sini berarti makam alias kuburan. [..]
kalo di Jawa, makam itu disebut dengan “astana”. maka ada namanya Astana Giri Bangun, Astana Imogiri, Astana Mangadeg, dan sebagainya..
soal keris, di Jawa juga punya aturan dalam pemasangan keris di badan. Beda lokasi dan beda posisi, beda maksud. ada yg memang bermaksud “damai”, ada juga yang bermaksud “perang”. biasanya kalo perang, keris dihunus di depan badan..
eh, foto karih-nya kok ndak ada ya? kecil banget. pengen tau juga apakah karih itu juga memiliki luk, pamor, dan sebagainya..
mangtafff kang, jadi pingin kesana nich
“didahulukan selangkah, ditinggikan serantiang”
Mantaf kali ni peribahasa…. thanks untuk info matrilinialnya
@munir ardi: salam kenal juga, sob
@lilliperry: urang minang juga?
keknya sih gpp. daerah “darek” nggak ada rumah yang hancur kabarnya..
@zam: kalau di minang, keris ini lebih ke asesoris saja, kang. jarang banget kalo berantem itu make keris.. lagian juga kalo berantem paling silat pake tangan kosong.
hehe.. kemarin itu saya segan buka2 kerisnya. sama sekali gak ada niat untuk beli soalnya.
@pencerah: silakan. main aja ke sana.
@dhodie: masyarakat minang memang menganut falsafah seperti itu. makanya gak heran dulu banyak tokoh yang terkesan radikal dan berseberangan dengan pemimpin.
bukan, saya orang tapanuli. tapi kalo mudik bolehlah mampir disitu
@lilliperry: woyoi.. tinggal naik bis “kurnia” ya? hehe..
Alam tanah datar adalah sebuah surga di minangkabau apalagi bila kita ke Istana pagaruyung dari atas kita bisa liat bukit2 nan hijau lepas mata memandang . ohh sebuah anugrah diri ini kesana lagi. bila wisata kuliner jangan lupa ke makan bakso yang deket pasar itu bakso paling enak di minangkabau versi aku. selamat minikmati
blue selalu exotic kalau dengar atau baca daerah padang ………….
salam hangat selalu
pa cabar
ujayy
i went there in my last holiday, too
finally i made my account here
and just come by to visit you
great blog and posts, anyway
@kawanlama95: ya, ya..
@blue: excited maksudnya, blue? kapan2 main aja ke sumbar..
@intan: thanks for dropping by..
glad to meet one of my best friend on this blogosphere.
keep blogging, anyway!
yupe! jadi tidak ada pula istilah menyembah dan menggelesot di hadapan raja seperti lazimnya ditemui di kerajaan-kerajaan di jawa.
perjalanan yang sungguh beruntung, dri.
whuahahaha…
terlaaaaluu, 4 jam dibilang 15-20 menit saja. whuahahaha…
tapi tak rugilah, menempuh 4 jam untuk menemukan situs sejarah yang menarik macam ini. saya pun mau.
Ic… Sudah mulai dibangun lagi ya Istana yang sempet kebakar itu? Tapi sayang blom selesai…
Btw, ga kena dampak gempa ya daerah ini?
@marshmallow: itu yang saya suka, uni.
semuanya orang dianggap sama. egaliter. semangat revolusi prancis ternyata udah ada pada masyarakat kita sejak dulu..
@pakacil: 15-20 menit dari Padang Panjang, Pakacil. Padangpanjang ini sekitar 1.5-2 jam dari Padang. hehe..
jadi saya ngibulin temen saya itu. biar dia mau ikut.
@novia: iya, belum selesai. katanya sih sekitar 3 bulan lagi kelarnya. daerah batusangkar gak ada yang hancur keknya. yang parah itu Padang dan Pariaman. lainnya alhamdulillah stabil-stabil saja..
subahanallah.. begitu indah kalo ga sengaja ketemu yang bening2.. *belom baca lansung comment*
@almascatie: welcome back, bro!! kemana ajaaa??