Ketika menulis ini, saya sedang berada di terminal 1B Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. Pesawat Lion Air yang akan membawa saya ke Padang baru akan berangkat sekitar tengah hari, Boarding Time di tiket 12.10.
Kemarin saya berangkat dari Jogja ke Jakarta dengan Kereta Api Ekonomi Progo. KA murah-meriah dengan tarif hanya Rp. 35.000. Semalam relatif sepi, tidak ada penumpang yang berdiri. Jika sedang ramai-ramainya, pemuda-pemuda seperti saya biasanya hanya akan dapat tempat duduk di sambungan gerbong kereta, kereta akan sangat penuh sekali sampai-sampai pedagang asongan kesusahan berpindah menjajakan dagangan.
Jika ditanya, “lebih nyaman mana naik kereta ekonomi dibanding kereta eksekutif?” Pasti saya tidak akan menampik jika eksekutif jauh lebih nyaman. Namun jika ditanya “lebih enak mana?” Tanpa ragu akan saya jawab kereta ekonomi.
Nyaman tidak harus berbanding lurus dengan “enak”, kan?
Enaknya naik ekonomi, salah satunya, adalah orangnya rata-rata ramah. Sebagian besar senang menebar senyum, walaupun tidak semuanya. Berbeda sekali dengan penumpang kerete eksekutif yang cenderung individualis. Bagaimana tidak jika begitu masuk kereta kau sudah dimanja pendingin ruangan dan kursi nyaman yang empuk?
Enaknya naik ekonomi lagi, orang-orangnya senang cerita, dan banyak cerita yang bisa dipetik di kereta penumpang kelas “anak tiri” ini. Semalam saya ketemu dengan seorang kakek yang naik dari Purworejo. Beliau berangkat ke barat bersama seorang cucu yang masih kecil. Sekitar satu jam bercakap-cakap, beliau cerita banyak. Mulai dari tujuannya yang ternyata adalah ke rumah anaknya di perbatasan bekasi-cibubur, anaknya yang ada enam orang dan sudah berpencar di berbagai kota di Indonesia, cucunya yang lahir prematur dengan usia kandungan hanya 6.5 bulan dan berat 1.6 kg, seorang anaknya yang pernah kuliah di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa tapi tidak lulus, sampai ke kisah nostalgik perjalanan naik kereta bersama orangtuanya tahun 1960an silam. “Naik kereta hitam itu, perjalananannya sampai 2 hari 3 malam,” ujar beliau sembari tersenyum. “Kalau harga tiketnya, ya, satu ekor kambing, lah.” Bahan bakar kereta lama kan tidak sembarangan: kayu jati.
Namun semalam saya juga kebagian cerita sedih. Di daerah Purworejo naik juga seorang ibu berusia sekutar 40 tahun, bersama tiga orang anaknya yang masih kecil-kecil. Menurut “investigasi” saya, tentu saja dengan cara bertanya langsung, jumlah total anaknya adalah enam. Kemungkinan tiga ini gerombolan yang bontot. Yang tertua perempuan kalem, nomor dua laki-laki yang hobi berdiri di atas bangku, yang ketiga perempuan lagi. Jarak mereka bertiga terpaut dua-dua tahun.
Nah, di sekitar daerah Purwokerto, si ibu muda menerima telepon. Ketika sedang berbincang bersama lawan bicaranya, mendadak air matanya mengalir, kemudian terisak. “Bapak sudah nggak ada,” begitu saya menguping pembicaraannya dengan kawan sekampungnya di bangku depan.
Kisah hidup manusia sebenarnya jauh lebih dramatis daripada sinetron. Bayangkan, di atas kereta, bersama anak-anak yang masih kecil, kau menerima telepon yang mengabarkan bahwa salahsatu orangtuamu meninggal…. Kurang dramatis apa coba?
Kalau diibaratkan, kereta adalah mikrokosmos kehidupan. Ada awal dan ada akhirnya. Di perjalanan, orang-orang datang dan pergi dengan ceritanya sendiri-sendiri. Dan kita bisa memilih; hanya menjadi penumpang atau membuat kisah “dramatis” sendiri.[]
Agustus 21, 2011 pada 4:47 am |
hmm kereta ekonomi – baru sekali seumur hidup aku naik kereta ini
Agustus 21, 2011 pada 11:04 am |
Hal-hal seperti itu yang membuat perjalanan menjadi lebih bermakna bukan, kemampuan kita melihat, mengamati dan mengobservasi berbagai hal kecil yang seringkali luput dari perhatian. Dan kamu selalu bisa menjadi seorang observer yang baik. Sayang, sampai sekarang saya belum punya banyak keberanian untuk mencoba kereta ekonomi Jakarta – Jogja
PS: Awal Desember nanti saya main ke Jogja, kopdaran yaa, bareng Agustinriohisteris juga. Kalian bertanggung jawab untuk mengenalkan sisi Jogja yang berbeda kepada saya
Agustus 23, 2011 pada 11:50 am |
sungguh hebat…
Agustus 24, 2011 pada 12:49 pm |
Wuah pengalamannya menarik. Nanti saya mau coba ah naik ekonomi.
Agustus 25, 2011 pada 5:58 am |
Banyak banget ya, nasehat hidup yang bisa didapat dari KA gerbong ekonomi….
Agustus 25, 2011 pada 11:20 am |
Hidup adalah suatu ujian dan cobaan, di situlah letak keindahannya. Tuhan telah menggariskan kehidupan kita masing-masing, syukurillah selagi kita masih bisa menerima cobaan dan ujian. Karena Tuhan masih sayang kepada kita.
Salam kenal dari blogger Surabaya.
September 1, 2011 pada 1:02 am |
sekali2 para petinggi negara harus ikutan naik kereta ekonomi tuh..
biar inget untuk apa dan untuk siapa dy berada di “atas”
September 1, 2011 pada 5:53 pm |
nice post
menyamakan kereta dengan mikrokosmos kehidupan? hmm.. the train station itself is the better fit
September 6, 2011 pada 11:03 am |
Masih menyenangkan membaca tulisanmu, bro. Sayangnya, saya ndak pernah naik kereta belakangan ini. Dulu pernah, itu pun “cuma” kelas eksekutif yang ndak banyak ceritanya.
September 9, 2011 pada 10:37 am |
Dulu, ketika masih nyantri di Ponorogo, saya selalu naik kereta ekonomi ini ke Jakarta untuk kemudian lanjut dengan bus ke Sumatera. Bahkan di beberapa kali liburan, saya tidak pulang ke Sumatera, tapi berkeliling pulau Jawa dengan menggunakan kereta ekonomi ini.
Aih… sensasinya luar biasa. Bertungkuslumus dengan aneka ragam manusia dan aneka tingkahnya, yang terlihat jelas di depan mata kita, membuat perjalanan semakin berwarna..
Sekarang…? Saya nyaris tidak pernah lagi naik kereta api. Barangkali karena tujuan perjalanan saya yang mengharuskan cepat sampai di tempat yang membuat saya tidak memilih kereta api untuk itu…
Apa kabar Shige? Sudah kembali ke Jogja?
Maaf lahir batin ya…
September 11, 2011 pada 10:40 am |
Nice artikel….. like this..
http://joetrizilo.wordpress.com/2011/09/11/expedisi-syahripal-fahmi-menyusuri-trans-kaltim-bagian-utara-menantang-bahaya-membelah-belantara-kaltim-utara/
September 14, 2011 pada 10:10 am |
artikelnya bagus, perlu dipraktekkan nih..
September 18, 2011 pada 12:27 pm |
pertama kali naik kereta ekonomi, aku jadi penumpang tiket suplisi yang mesti berdiri dari jakarta sampe gombong. kebayang gak bang? progo yg sesak orang jual-jualan segala macam barang itu tambah sesek sama kami yg 18 orang berjejalan dalam satu gerbong, kehabisan uang karena nekat ikutan festival dan harus balik ke jogja malam itu juga karena besoknya mesti kuliah. dramatis! macam yg abang bilang.
September 26, 2011 pada 8:24 am |
Sayang, sampai sekarang saya belum punya banyak keberanian untuk mencoba kereta ekonomi Jakarta – Jogja
Oktober 16, 2011 pada 10:17 am |
Menanggapi komen mas di blogku, Sudjiwo Tedjo emang kayaknya kesannya horor. Tapi pas udah tahu, ternyata orangnya kocak.
Wahhh saya belum pernah naik kereta ekonomi jarak jauh. Paling pol bisnis, itu aja mumet banget. Penuh orang berlalu-lalang, banyak orang jualan, bau lagi gerbongnya *&(^%&*^& wkwkwk~
November 7, 2011 pada 9:11 am |
menarik tulisan anda…salam kenal yaa
November 19, 2011 pada 3:35 pm |
menarik juga posnya,..!!! perjalanan menyenangkan
November 22, 2011 pada 8:46 pm |
Sya punya kenangan indah dengan KA ekonomi PROGO jogja-senen.
Kenangan yg tak bisa kulupakan,stiap qu mendengar suara KA,qu langsung tringat knangan indahku.