Yang paling menarik dari Ngayogjazz 2011 seminggu yang lalu adalah venue-nya. Kotagede didaulat sebagai lokasi perhelatan dan panitia sukses menyulap seputaran pasar kotagede menjadi kampung jazz selama sehari. Sungguh eksotis; sisa-sisa kejayaan masa lalu berupa gedung-gedung tua dipadukan dengan alunan musik jazz. Penonton seperti diombang-ambing dalam mesin waktu.

Acara dibuka di Panggung Spleker yang terletak di bawah pohon beringin raksasa, di halaman kompleks makam raja-raja mataram. Di panggung ini juga diadakan peluncuran album ketiga Komunitas Jazz Jogjakarta yang diberi judul “Lain Ladang, Lain Jazz-nya”, sebuah album berisi interpretasi bergaya etnik terhadap lagu-lagu standar jazz.


Panggung Spleker menampilkan banyak musisi muda lokal. Di sinilah letak kelebihan Ngayogjazz kali ini, penggagas acara berkomitmen memberikan kesempatan luas bagi musisi-musisi muda untuk memperkenalkan musik mereka kepada publik. Dibandingkan Ngayogjazz Januari lalu, line-up pengisi acara memang lebih didominasi oleh musisi lokal. Hanya beberapa orang musisi ibukota yang diundang; Sierra, Ligro Trio, Rieka Roslan, Trie Utami, dan Idang Rasjidi.


Panggung lain ditempatkan di jalan sebelah selatan los daging Pasar Kotagede. Dinamakan Panggung Sirine. Sejak pukul tiga jalan tersebut ditutup. Trotoar diberi dekorasi berupa tiang bergantungkan lampion warna-warni, dilatarbelakangi oleh lampu jalan bergaya kerajaan khas Jogja.


Panggung Tjorong yang terletak di depan Toko Abang, beberapa puluh meter sebelah barat Pasar Kotagede, juga unik. Panggung dan tempat menonton dipisahkan oleh jalan kecil. Sembari menonton pertunjukan keroncong, penonton juga akan disuguhi pertunjukan orang dan kendaraan yang berlalu lalang. Panggung ini khusus menampilkan grup keroncong lokal asal Kotagede.


Secara keseluruhan, panggungnya berjumlah enam; Panggung Gaog, Spleker, Horn, Sirine, Tjorong, Swara Warga. Di antara keenam panggung tersebut, yang paling eksotis menurut saya adalah Panggung Horn. Untuk menuju panggung itu, anda harus melewati gang kecil di antara rumah-rumah kuno peninggalan zaman kerajaan. Dengan cerdas panita menaruh baliho berisi foto-foto Ngayogjazz terdahulu sepanjang gang tersebut.


Puncak acara dilangsungkan di Panggung Gaog, tepat di utara Pasar Kotagede yang telah eksis selama ratusan tahun. Sekitar dua jam sebelum tengah malam, Djaduk Ferianto, Trie Utami, Rieka Roslan, dan Idang Rasjidi jamming di sini. Penonton tumpah ruah, berbaur dengan masyarakat sekitar. Sama-sama belajar dan mengapresiasi musik yang tak kenal diskriminasi.[]
Kaitkata: Ngayogjazz 2011, Ngayogjazz 2011 edisi 2, Ngayogjazz 2011 Kotagede
November 21, 2011 pada 11:06 am |
wuihh jazzz
November 22, 2011 pada 11:19 am |
wah ini event tiap taun yah? kyknya taun dpn musti dateng nih.. seruuuu
November 22, 2011 pada 2:14 pm |
@mila
iya, mbak. tiap tahun, tempat penyelenggaraannya beda-beda, tapi tetap di jogja.
November 30, 2011 pada 11:05 pm |
Pemanfaatan venue yang mengingatkan saya akan beberapa event di dunia seni yang dilangsungkan di Bergen, Norwegia. Merasakan musik dengan venue yang tua, bersejarah dan bernilai artistik tinggi sepertinya memang dapat menimbulkan mood yang berbeda ya
Desember 4, 2011 pada 12:52 am |
nostaljik! saya menghabiskan masa kecil saya di Kotagede, the big city. dan pohon ringin itu juga nostaljik lantaran menjadi tempat yang mengingatkan saya sewaktu di situ bersama keluarga
Februari 27, 2012 pada 1:19 pm |
wow, mantap acaranya, dalam rangka apa itu?