Di sinilah saya. Duduk bersila bersama kawan-kawan di pucuk undakan breksi andesit di sebuah situs kemping. Barangkali hanya terpaut 20 meter dari puncak Gunung Nglanggeran. Kaki langit tampak semarak dengan kemerlap lampu sejuta warna. Sangat kontras dengan langit malam yang sepi gemintang. Mestinya kami naik kemarin malam, ketika langit telanjang tanpa selimut awan. Tapi tak mengapa, toh tujuan bukan segalanya.
Dan di sinilah saya. Di Gunung Nglanggeran. Ia lebih populer dengan sebutan Gunung Api Purba. Teman-teman malah banyak yang dengan gampang menyingkatnya menjadi GAP, seolah “gunung api” dan “purba” merupakan dua istilah yang tidak begitu berarti.

Nglanggeran disebut purba sebab ia telah mati sekitar 60 juta tahun yang lalu. Daur hidupnya telah lama tuntas dan hanya menyisakan segunduk breksi andesit raksasa. Dan sekarang, orang-orang yang kebetulan mendiami kakinya menyulap Gunung Purba tersebut menjadi wana wisata.
Jaraknya yang hanya 25 kilometer ke arah selatan dari Kota Jogja, ketinggiannya yang hanya 200-700 meter dari permukaan laut, suhu udaranya yang hanya berkisar antara 23-27°C, ditambah keberadaan tebing-tebing breksi andesit yang menjulang, membuat Gunung Api Purba Nglanggeran istimewa. Maka setiap pekan dan hari libur berduyun-duyunlah manusia ke sana. Sekadar berkasih dengan yang tercinta, sekadar memanjat tebing, sekadar trekking dan kemping menciutkan eksistensi di tengah alam luas.


Gunung yang sepi kadang membuat seseorang berkontemplasi. Seringkali tanpa disadari. Malam itu saya merasa kecil, bergidik membayangkan betapa singkat perjalanan hidup manusia. Bumi begitu tua dan alam raya seolah di luar kuasa usia. Umat manusia seringkali menerka riwayat jagad, namun tiada yang pernah benar-benar yakin, mengerti, dan dapat membuktikan.
Dalam linimasa semesta, peradaban manusia baru muncul di bumi sekitar empat ribu tahun yang lalu. Dalam benak, saya membayangkan peristiwa apa yang sekiranya terjadi di tempat saya duduk sekarang di masa lalu. Apakah pernah ada manusia yang duduk di sini, seperti apa pula wujudnya? Apa pula yang mereka pandang, hamparan luas hutan? Sementara sekarang saya sedang menatap berjuta lampu kota. Lalu bagaimana pula cara mereka menuju puncak. Apakah mereka meniti jalan yang sama dengan yang kami lalui malam tadi, menelusuri rekahan-rekahan tebing sambil disaksikan gerombolan kera yang haus perhatian, ataukah mereka memanjat langsung ke puncak tanpa perlengkapan seperti Alex Honnold si pendaki free solo?

Umur manusia tidak ada artinya dibandingkan 60 juta tahun eksistensi Nglanggeran. Enam puluh tahun usia rerata masyarakat Indonesia, dibandingkan dengan usia Nglanggeran, hanya ibarat sebuah masa melancong yang sekejap. Hidup kita di dunia cuma ibarat trekking ke Puncak Nglanggeran. Kemudian, setelah mereguk waktu beberapa saat di puncak kehidupan, kita akan kembali turun ke Pendopo Kalisong. Sejajar dengan permukaan tanah yang merupakan asal kehidupan.

Lantas, apakah rencana besar kehidupan yang digariskan Tuhan? Entahlah, saya tidak mengerti. Yang pasti gagasan itu jauh lebih berarti dibanding tersingkirnya Dion di ajang Indonesian Idol, jauh lebih berarti dibanding kehidupan seorang manusia yang hanya berpikir tentang dirinya, dan bahkan jauh lebih mulia dibanding komitmen para kepala negara di dunia untuk bersama-sama mengurangi dampak pemanasan global. Hanya Tuhan yang tahu. Sementara tugas kita hanyalah menjalankan peran masing-masing.
Dan di sinilah saya, di haribaan Nglanggeran. Langit sudah tersibak, sejuta gemintang mulai tampak, dan semburat jingga mulai menyeruak. Saya bersama kawan-kawan bergegas menuju puncak. Kami menatap ke timur menyaksikan sang fajar secara perlahan membuka hari.Terhenyak.[]
Kaitkata: Gunung Api Purba, Gunung Api Purba Nglanggeran, Gunung Nglanggeran, Nglanggeran, Trekking Gunung Api Purba
Juni 18, 2012 pada 9:16 pm |
Puitis tanpa bertele-tele, menyampaikan kecintaan kepada alam dan hasil kontemplasi dengan tulus, jujur, dan apa adanya. Love this post!
Juni 19, 2012 pada 5:07 am |
another hidden paradise in Indonesia….. nice post, as always, Morishige
Juni 19, 2012 pada 9:32 am |
Dan gw ga ngerti hubungannya kemping, gunung berumur 60 juta tahun dan tersingkir nya Dion dari indonesia idol -____-”
Juni 20, 2012 pada 7:19 am |
Wow. Coba itu perbukitan dijadikan setting film.
Juni 23, 2012 pada 8:46 am |
wah sayang sekali, ketika saya masih kuliah di jogja saya tidak sempat menikmati suasana alam disana..
Juni 27, 2012 pada 11:06 am |
Salam Kenal Untuk Semuanya Yaa…
Juni 27, 2012 pada 11:08 am |
Sangat menginspirasi sekali.. Menulislah Selagi Kita Masih Bisa Berkarya..
Semangat..
Juli 13, 2012 pada 2:30 am |
Yang Sepi ini sedang ditemai oleh secangkir Kopi dan Sebatang Rokok.. Namun Ditambah Baca Artikel.. Mancaaapppp..
Juli 13, 2012 pada 10:53 am |
Kisah terbaik kehidupan adalah kisah yang diangkat dari kehidupan nyata..
Juli 28, 2012 pada 7:28 pm |
wah…amazing.
Membuat saya iri ingin menginjakan kaki di puncak gunung purba.
Kunjungi blog saya: http://bocahrimba.wordpress.com
Juli 30, 2012 pada 3:18 pm |
bagus sekali artikelnya, thx
Agustus 12, 2012 pada 5:06 pm |
bang, ada berita terbaru nihh, jangan lupa sempatin buat lihat isinya http://klikharry.com/2012/08/12/menjadi-publisher-wordads-part-ii/
November 13, 2012 pada 8:19 pm |
ah jadi kangen bapak tampan…
apa kabarnya ya beliau
November 13, 2012 pada 8:35 pm |
makin tampan, jek. ciyusss
November 13, 2012 pada 9:42 pm
enelan? miapah?