Singgalang

Adalah sebuah kesalahan tidak menggunakan baju berlengan panjang ketika mendaki Gunung Singgalang. Miang dari hutan pimpiang, bambu hutan berdiameter kecil yang mendominasi bagian awal pendakian, cukup untuk membuat gatal bagian tubuh sial yang tak dibalut kain. Bersandar pada sebuah tiang listrik, saya usap-usap gatal pada lengan.

Tengah hari saat itu. Adek, Teguh, dan saya baru saja menyelesaikan trek pimpiang. Kami bertiga berhenti sebentar demi menghormati orang-orang yang sedang salat jumat. Hening hanya beradu dengan merdu suara burung. Kepik menjerit-jerit ditingkahi hembusan angin. Sejuk sebab panas mentari meluruh ditapis kanopi hutan tropis. Udara segar merasuk ke dalam paru-paru, juga sagun bakar yang bersatu dengan air segar, semua mengalir beriringan menjejali kerongkongan.

DSCN3144

Tiang listrik tempat saya bersandar ini tidak berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari ratusan tiang listrik yang berbaris rapi membelah Gunung Singgalang. Sebagian pendaki merasa terganggu oleh tiang-tiang itu sebab keberadaanya serta merta menghilangkan unsur liar Singgalang, sebagian lagi jeri sebab banyak pendaki yang iseng menomori: “84 menuju puncak, 83 menuju puncak.” Memang rasanya agak janggal melihat kombinasi antara tiang listrik beserta kabel dengan pohon tinggi lebat berlumut. Tapi, ya, menurut saya tidak masalah. Toh saya bukan penjelajah pionir seperti George Mallory atau Sir Edmund Hillary. Buat apa berpura-pura menjadi explorer di sebuah tempat yang sudah jutaan orang menjejakkan kaki di sana? Lagian, tiang-tiang itu bisa menjadi pemandu agar pendaki tak mengambil jalan yang salah. Dan lebih dari itu, tiang listrik mampu membuat kondisi sebuah peradaban berubah dalam semalam. Tidak adil rasanya meniadakan tiang listrik hanya untuk memenuhi ego sejumlah penjelajah kesiangan.

Seolah muncul dari dalam keheningan, dua sosok familiar muncul ke dalam area pandang. Putra dan Yudi, dua orang kawan lama dari masa lalu yang telah kabur. Terakhir kali saya bertemu dengan mereka, selain semalam di Masjid Kotobaru, adalah hampir dua puluh tahun yang lalu.

Mereka sama kagetnya dengan kami, yang menyangka kami belum mulai naik. Sebaliknya kami menduga mereka telah memulai pendakian sejak semalam. Tipikal pemegang janji mereka itu. “Ketemu di tower, ya?” ujar mereka semalam, sejenak sebelum melaju dengan motor ke titik awal pendakian Singgalang. Kenyataannya kami tidak sampai tower malam itu. Kecapaian dan tertidur di Lapau Etek, Pos Pendakian, setelah melambung agak jauh dari jalur menuju tower yang semestinya. Sementara mereka mendirikan tenda di samping tower.

Sejenak kami menyambung vakum pertemuan, saling bertanya apa saja yang sudah kami alami selama dua puluh tahun ini. Mungkin terdengar klise tapi rencana Tuhan memang luar biasa. Siapa sangka tiga bocah yang terakhir kali bertemu ketika belum becus mengelap ingus bisa reuni di bawah kanopi hutan Gunung Singgalang.

20130817_075344

Tersembunyi di antara pepohonan dan rumpun-rumpun cantigi yang memerah, Talago Dewi bak oasis yang menjadi pemberhentian pengembara padang pasir di kala malam tiba. Saat kami menginjakkan kaki di tepiannya, di sana sudah berdiri beberapa tenda. Asap mengepul-ngepul. Gemeretak api unggun yang menghangatkan bersahut-sahutan dengan suara orang-orang yang sedang bernyanyi. Tiang bendera dari kayu berdiri di beberapa penjuru. Sang Merah Putih anggun berkibar seolah sudah tak sabar menyongsong peringatan HUT RI ke-68 keesokan hari.

Siapa yang pertama kali menginjakkan kaki di Puncak Gunung Singgalang dan bagaimana kira-kira reaksinya ketika pertama kali menyibak tabir Talago Dewi? Saya yang mengekor jejak jutaan pendaki saja masih tetap terkesima ketika melihat Talago Dewi untuk pertama kali. Rasa-rasanya memang tak mungkin ada telaga di sana. Trek sebelum Talago Dewi becek, dahan-dahan pohon besar melintang di jalur sehingga pendaki sesekali harus melangkahinya. Tersembunyi.

Di kaki cadas tadi, dua kawan lama saya malah berniat untuk mendirikan tenda karena menyangka bahwa puncak berada persis di atas cadas, mereka menganggap Talago Dewi luput dari pengamatan. “Ini Talago Dewi, kan? Tapi mana talagonya?”. Mereka sampai celingak-celinguk mencari-cari keberadaan telaga legendaris itu. “Talago Dewi masih di atas cadas, Wan. Mending kemping di sana saja,” saya menyarankan.

Semburat jingga yang terpantul di permukaan telaga perlahan menghilang. Terang berganti petang dan perlahan-lahan gemintang muncul dari dalam kegelapan. Berkelap-kelip mereka seolah tak mau kalah dengan bulan yang hampir mencapai purnama.

Tenda telah berdiri. Teguh dan Adek berada di dalam. Saya memasak sementara duo kawan lama menyusuri semak-semak, mencari ranting patah untuk digunakan sebagai bahan bakar api unggun. Seharusnya suasana akan terasa damai sekali seandainya rombongan pendaki di seberang sana tidak menghidupkan boombox dengan volume maksimal. Suara orang bernyanyi bersama dalam iringan gitar masih dapat ditoleransi oleh telinga, tapi suara speaker boombox?

Meskipun berisik, suasana Talago Dewi malam itu masih kalah dibanding riuhnya Ranu Kumbolo ketika saya ke Semeru Juni kemarin; lampu sorot menyala-nyala, suara pemutar musik lebih keras walaupun jelas-jelas ada larangan membawa tape, radio, atau alat musik ke dalam kawasan taman nasional, camping ground seperti pasar malam. Ah, ketenangan semakin susah ditemukan.

Tapi barangkali ketenangan sesungguhnya ada dalam diri dan hanya dapat ditemukan oleh orang-orang yang mencarinya. Malam itu saya memilih untuk mengirup udara kedamaian, mengabaikan orang-orang berisik yang tak peduli sekeliling. Dingin tandas oleh bara dan canda. Lapar hilang oleh nostalgia; tentang guru pertama kami di sekolah dasar, tentang warung dan pedagangnya yang kini hanya tinggal cerita, tentang gerhana matahari yang membuat kami pulang sekolah lebih cepat dari biasanya.

Pemandangan dari puncak

About these ads

Tag: , , ,

5 Tanggapan to “Singgalang”

  1. MasCojack Says:

    Entah, suatu saat nanti aku akan bertemu sang Dewi

  2. mila said Says:

    wih, ngapain gitu naik gunung bawa2 boombox? O_o

  3. fifan Says:

    hahaaaha baca suara musik boombox jadi ingat waktu di semeru…

  4. Yuliaa August Says:

    :”Jadi ingat waktu sya d sana pertama kali jga. Ga 17-san sih, tapi tetap kmi upacara dsana. *diseberang jlur awal

    ah, ingt jga musicnya, ktika 10 nov kmrn brsama sahabat t’cinta

    Salam Lestari

  5. Sewa mobil jakarta Says:

    salah kostum dong nih :D kedingan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 102 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: