Ke Sabang

Halaman-halaman jurnal itu saya bolak-balik di bawah lampu temaram ruang tamu rumah. Buku itu bersampul keras dan tebal. Ia semakin tebal dijejali oleh berlembar-lembar tiket bis, kapal, karcis masuk obyek wisata, beberapa lembar foto karya fotografer amatir, serta log-book aktivitas penyelaman dari Rubiah Tirta Divers. Tuntas sudah perjalanan, saatnya sekarang untuk menuliskan catatan.

Siang diselingi rinai ketika itu, hari keberangkatan. Adek mengantarkan saya ke perwakilan bis Antar Lintas Sumatra (ALS) di Jalan Bypass, Padang. Ia yang menyupir. Kami agak terburu-buru sebab salat Jumat di Padang baru selesai menjelang pukul 13.00, sementara menurut tiket saya sudah harus hadir di lokasi pemberangkatan paling lambat pukul 13.30. Dalam riuh saya menata ulang keril. Keringat masih mengucur deras begitu pintu depan mobil saya tutup. Baju abu-abu itu basah. Saya berusaha tenang meskipun dalam hati cemas. Adek mulai memacu si roda empat menjauh dari rumah. Pukul 13.30 semakin dekat dan kami masih di tepi Banda Bakali.

20130902_143722

Mujur bis ALS kelas eksekutif itu belum diberangkatkan. Saya bergegas melapor, memasukkan barang ke dalam bagasi, membeli minuman untuk bekal, lalu pamitan. Setelah itu saya masuk ke dalam bis dan duduk di bangku sesuai yang tertera dalam tiket. Bangku saya di sisi koridor. Kursi samping jendela masih kosong, belum jelas siapa yang menduduki.

Entah kenapa saya selalu deg-degan menebak dengan orang seperti apa saya akan sebangku dalam sebuah perjalanan bis, kereta, atau pesawat. Rasanya seperti menanti-nanti bertemu kawan KKN untuk pertama kali. Emosi saya bak diaduk-aduk dalam sebuah adonan berisi kombinasi rasa cemas dan antusias. Seperti apa ia, apakah suka mengobrol, atau pendiam? Apakah saya yang harus memulai obrolan atau sebaliknya malah? Penasaran… sebuah rasa yang hanya dapat diobati dengan pertemuan.

Tak lama kemudian, hanya sejurus sebelum bis mulai berjalan, rekan sebangku yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Dengan sopan ia meminta jalan menuju bangkunya di sisi jendela. Setelah meletakkan ransel kecilnya di bawah dan menemukan posisi duduk paling nyaman, ia menyapa saya dengan bertanya “Ke Medan, Bang?”

Kami berjabat tangan. Ia memperkenalkan diri sebagai Abdul dari Padang Lawas. Pujakesuma alias putra Jawa kelahiran Sumatra. Mahasiswa Teknologi Pertanian Universitas Andalas angkatan 2010 yang sedang suntuk menjalani perkuliahan. Kuliah sedang padat-padatnya, katanya. Daripada sakit kepala karena stres, ia memilih rehat dulu selama seminggu.

Obrolan pembuka itu membuat perjalanan terasa lebih santai. Percayalah, sebuah perjalanan panjang akan terasa jauh lebih singkat jika dilewatkan dengan berbincang-bincang. Untuk mengusir rasa bosan, siang hari mungkin dapat dihabiskan dengan melongokkan kepala ke arah jendela mengamati jalanan, dan tanpa terasa sore menjelang. Tapi, di malam hari ketika dari jendela hanya tampak kelam, menjemukan, dan AC membuat suhu udara dalam bis turun drastis, kehangatan hanya dapat disarikan dari sebuah obrolan. Saat itulah baru akan terasa betapa beruntungnya sebangku dengan orang yang menyenangkan.

20130901_163214

Tiga jam berlalu, bis ALS itu berhenti di sebuah rumah makan Tapanuli. Masih di Bukittinggi. Padang-Bukittinggi ketika lalulintas lengang dapat dicapai dalam waktu 1,5-2 jam. Namun menjelang akhir minggu seperti ini waktu tempuh dapat menjadi lebih lama sebab semua orang seperti berbondong-bondong ingin melarikan diri ke dalam selimut dingin Bukittinggi demi melepas penat setelah bekerja keras sepanjang pekan.

Saya dan Abdul makan berhadap-hadapan di satu meja. Ketika menyantap Ayam Balado, dalam kepala saya muncul sebuah dilema: lalu, apa saya harus membayari dia makan?

Dalam hal-hal tertentu, cara berpikir saya masih konvensional. Terutama menyangkut hal-hal sepele. Seperti sekarang ini, saya berpendapat orang yang lebih tua harus membayari makan yang lebih muda. Terlebih dalam sebuah perjalanan seperti ini. Dan saya paham betul bahwa jika saya tidak sekalian membayari makan Abdul, saya sendirilah yang akan merasa tidak enak. Karena itulah, daripada nanti saya merasa tak enak sendiri, saya bayari Abdul makan kali itu.

Belakangan saya paham bahwa sebaliknya ia juga merasa tak enak saya bayari. Tengah malam, sewaktu bis berhenti di sebuah rumah makan di Aek Marian, Mandailing Natal, secara diam-diam ia gantian membayar untuk Pop Mie dan teh hangat yang saya santap.

Lalu malam pun menjelang. Ketika perut semua penumpang sudah terisi penuh, bis pun mulai meluncur ke utara. Meninggalkan gemerlap Kota Bukittinggi untuk larut dalam keheningan perbukitan Palupuh. Sang supir memacu bis ALS itu dengan kencang, tanpa gentar menembus tirai kabut yang mulai turun perlahan. Tak sedikitpun ia ragu mengendalikan roda kemudi, meski jalan yang harus dilalui kecil dan bersebelahan dengan jurang dalam. Agaknya ia sudah hapal betul jalur Padang-Medan.

Supir Medan memang istimewa. Biar bis melaju secepat kilat, penumpang di dalam tetap merasa tenang. Saya sendiri merasa seperti dalam buaian. Dalam hitungan menit semenjak bis melaju kembali, saya sudah mapan di alam mimpi.

 ***

Sembari bergerak turun dari bis, saya menggeliat mengumpulkan nyawa. Baru jam setengah enam pagi. Langit luar sana masih gelap. Hanya beberapa orang yang tersisa dalam bis. Sebagian besar telah turun untuk duduk-duduk di pelataran masjid, bercengkerama di warung kopi sambil menyeruput minuman hangat yang masih mengepul, atau sekadar bersandar di pagar mengetik sesuatu di ponselnya… Barangkali memberi kabar kepada orang tercinta. Saya sendiri bergegas mencari kamar mandi, mengeluarkan apa yang semestinya telah dikeluarkan dari tadi.

Tunai, saya kembali ke luar dan ikut bersandar di pagar. Saya sulut kretek kegemaran. Seketika asap putih mengepul-ngepul, menghangatkan paru-paru yang sepanjang malam kerjanya hanya menghirup hawa pendingin ruangan. Dingin juga ternyata di luar. Kedua telapak tangan saya secara refleks menempel dan menggesek-gesekkan diri. Mencari kehangatan.

“Bang!”

Abdul muncul, dari arah masjid ia. Saya balas sapaannya dengan bertanya sedang di mana kami sekarang. “Di Tarutung, Bang.” Jawabnya. “Abang tau ndak Tarutung itu artinya apa?”

Saya menggeleng.

“Durian, Bang,” jawabnya. Saya tergelak.

Durian? Tapi tak tampak sebatang durian pun di sekitar sini. Yang ada hanya samar-samar siluet pepohonan cemara yang berjejer di perbukitan, meruncing ke atas menantang langit. Apa karena masih gelap dan pohon-pohon durian itu masih tampak menyatu dalam pekat? Terang sedikit barangkali saya seperti terperangkap dalam hutan durian. Entahlah, saya terima saja aliran informasi baru yang saya dapat dari Abdul sejak kemarin. Masalah benar atau tidak urusan belakangan.

20130902_073617

Seru sekali sebangku dengan penduduk lokal. Engkau akan disuguhi beragam informasi yang kadang luput dari perhatian ketika kau merencanakan perjalanan. Barangkali tidak semuanya berguna, hanya berupa informasi-infromasi ringan, jumbai-jumbai cerita yang hanya menjadi pelengkap. Namun, ketika suatu saat kau menceritakan kembali kisahmu pada orang-orang tercinta, justru cerita-cerita ringan dan tak penting itulah yang akan membuat kisahmu menjadi lebih berwarna, membuat kisah petualanganmu itu menjadi lebih hidup.

Ketika kemarin bis masih di Bukittinggi, saya bercerita tentang seorang senior yang pernah menumpang bis legendaris bernama Sampagul, dulu sekali ketika ia masih nyantri di Banten. Bis reot berwarna kuning itu menempuh rute yang lumayan gila: Jakarta-Medan. Karena tarifnya lebih murah dari bis antar propinsi kebanyakan, bis itu menjadi primadona para pedagang jarak jauh. Atapnya selalu penuh oleh barang yang ditutupi oleh terpal tebal kemudian diikat dengan kencang agar tidak jatuh ketika bis oleng. Yang seru, penumpangnya kadang-kadang tidak hanya manusia, kambing dan sayur-sayuran juga sesekali ambil bagian dalam kabin.

“Tau nggak, Bang. Sampagul itu kepanjangannya apa?” Ia bertanya setelah saya selesai bercerita. Saya menggeleng, lalu ia menjawab. “Samosir, Pakpahan, Gultom. Tiga orang itu dulu yang punya. Tapi sekarang tinggal satu orang yang tersisa, entah yang mana.”

Ketika bis kami meluncur di atas jembatan yang membelah Sungai Batang Gadis, Abdul tak lupa memberi penjelasan. “Itu sungai paling aneh se-Sumatera Utara, Bang,” jelasnya. Saya memasang ekspresi bertanya, ia pun melanjutkan. “Tak pernah jernih di musim apapun!”

Beberapa saat setelah itu, dari balik jendela tampak sebuah pemandangan yang mengundang tandatanya. Rumah-rumah, yang di daerah sebelumnya masih terbuat dari tembok dan berukuran normal, di sana berubah menjadi pondok-pondok semipermanen dari kayu. Tersebar merata di kanan-kiri jalan. Ukurannya kecil namun seragam, sekitar tiga kali tiga. Sebuah jendela yang menghadap jalan menjadi pelengkap, di masing-masing rumah letaknya sama persis: tengah-tengah dinding kayu. Saya senggol lengan Abdul, “Bangunan-bangunan apa itu, Dul?”

Ini kawasan pesantren, jelas Abdul. Rumah-rumah itu adalah pondok para santri yang belajar di Pesantren Purba Baru. Ketika subuh atau pagi-pagi sebelum jam sekolah masuk, santri ramai berlalulalang di sini.

20130903_125313

Lihat, kan? Itu baru beberapa saja dari banyak cerita yang saya peroleh dari Abdul, mahasiswa asal Sumatra Utara yang sebangku dengan saya dalam perjalanan ke Medan. Tulisan ini akan jauh berbeda seandainya saya sebangku dengan orang yang dingin dan tidak suka mengobrol, paragraf-paragraf saya akan jauh lebih membosankan dan lebih singkat dari yang ini.

Sebelum terang sepenuhnya memancar, roda bis ALS itu kembali dipacu ke arah utara. Kami bergerak ke jantung Tarutung. Pepohonan cemara yang tadi hanya siluet sekarang menjadi nyata. Baru saya sadar, di Tarutung sini konivera ada di mana-mana; pegunungan, tepi jalan, halaman rumah… ya, halaman  rumah. Cemara paling banyak yang pernah saya lihat.

Bis berbelok ke kanan, melipir Sungai Aek Sigeaon yang seolah-oleh menjadi gerbang masuk Kota Tarutung. Dari jendela kiri, Kota Tarutung tampak anggun berdiri di lereng bukit. Berselimut kabut. Cahaya lampu gereja masih menyala meriah, memantul-mantul di sungai yang mengalir tidak terlalu deras. Pengeras suara bis memutar sebuah lagu batak bernada riang. Sekali dengar saya sudah jatuh hati pada lagu itu. Yakin ia akan mampu menjawab, saya bertanya pada Abdul. “Lagu apa itu, Dul?”

Sada do,” jawabnya. “Penyanyinya Marsada Band dari Tapanuli. Itu drumnya pakai gondang, Bang.”

Lihat, kan?

 ***

Sekitar tiga puluh jam kemudian saya mendapati diri sedang berjalan kaki menuju Kilometer Nol Indonesia, Pulau Weh. Di pertigaan Iboih, dekat tempat saya menginap, sebuah tanda memberitahu bahwa Kilometer Nol hanya berjarak delapan kilometer dari sana. Jiwa muda saya menganggap itu sepele. Apalah artinya jarak segitu, saya pernah berjalan malam hari sendirian sejauh sembilan belas kilometer dari Terminal Bungurasih ke Stasiun Gubeng. Keras kepala, tak saya pedulikan bahwa perjalanan dari Balohan ke Iboih tadi menyusuri lereng-lereng perbukitan, menerobos jalan yang dinaungi hutan tropis sangat lebat. Saya enyahkan pikiran bahwa topografi jalan Iboih-Kilometer Nol kurang lebih akan berbukit-bukit seperti itu juga.

Ternyata jalannya memang sama saja; naik-turun. Namun sore itu teramat indah. Tak saya pedulikan jalan yang terjal itu. Langkah saya ringan di bawah mentari sore. Ia sudah condong ke barat namun masih bersinar pijar tanpa penghalang, membuat keringat mengucur lumayan deras dari pelipis. Saya lihat jam. Masih pukul empat, paling lambat setengah enam saya sudah akan tiba di jalan raya paling ujung Indonesia. Saya lirik case ukulele, tempat saya menaruh sebotol air mineral satu setengah liter yang sudah habis seperempat. “Cukup, lah, untuk pergi-pulang,” batin saya.

Golden hours, jam keemasan, pencinta seni fotografi bilang. Mentari tua itu menyinari perbukitan Pulau Weh dengan cahaya kekuningan yang sempurna. Sesekali saya dapat melihat cahayanya terpantul di laut toska yang tenang, di lain kesempatan saya dapat melihatnya terpantul di laguna keruh yang tak dipedulikan orang.

20130901_173824

Saya terus melangkahkan kaki; di antara permukiman yang semakin ke barat semakin jarang, lahan-lahan tidur tertutup ilalang yang ditancapi papan bertuliskan “tanah ini dijual”, motor-motor yang dengan penuh kepercayaan ditinggalkan di tepi jalan oleh pemiliknya yang entah ke mana, gerbang yang menandai batas kawasan hutan lindung, pos jaga Markas Komando Pasukan Khas (Kopaskhas) AU, hutan yang semakin rapat…

Barangkali sudah lebih dari empat kilometer saya berjalan ketika seorang lelaki tua berpeci haji datang dari arah Iboih. Ia menghentikan keretanya tepat di samping saya. Sambil tersenyum ia bertanya, “Mau ke mana?”

“Kilometer Nol, Pak,” jawab saya sambil tersenyum pula. Ia kemudian menyuruh saya naik. Di atas motor ia bilang, “Tadi saya baru dari kebun, mau jalan-jalan sore juga ke Kilometer Nol.”

Bapak itu membawa saya ke ujung negeri. Ia memarkir kereta dekat sebuah warung souvenir. Saya lalu meminta diri untuk ke Tugu Kilometer Nol. Tugunya kecil, dua tingkat, dan tidak ada apa-apa selain prasasti peresmiannya yang ditandatangani B.J. Habibie, patung Garuda Pancasila di atas angka 0 yang telah tumbang di pucuk, dan empat bendera merah putih yang berkibar-kibar di masing-masing sudut puncak tugu. Sebentar saja waktu yang diperlukan untuk mengelilinginya.

Selesai berputar-putar di tugu, bapak itu mengajak saya ke sebuah warung. Senja itu saya minum kopi di warung paling ujung barat Indonesia. Di warung, sang bapak bertemu dengan kawan lamanya. Dari obrolan mereka, akhirnya saya tahu nama beliau: Pak Kong. Mereka bercerita seru. Dimulai dari rencana pembangunan jalan di sebuah lokasi yang menelan biaya sampai dua milyar, Pak Kong yang sedang menanam kembali kebun cengkehnya, sampai ke cerita mistis seru mengenai pengalaman beliau melawan arwah gentayangan tetangganya yang meninggal ketika sedang memanjat pohon cengkeh yang sempat menghantui rumah beliau selama beberapa waktu.

“Waktu istri saya sedang baca ayat kursi, ditumpahkannya kopi panas itu. Kaget istri saya.” Pak Kong bercerita sambil terbahak. “Saya ketawa-ketawa saja. Ndak open saya. Hahaha…”

Matahari semakin condong ke cakrawala. Pulau Rondo yang kesepian tampak keemasan jauh di sana. Ujung Indonesia sebelah barat ini jika dilihat-lihat mirip dengan Uluwatu di Bali. Alih-alih pantai, kawasan ini dipagari oleh tebing karang meninggi yang seolah sengaja menjauhkan Tugu Kilometer Nol dari jangkauan ganasnya Samudra Hindia. Seperti halnya uluwatu, kawasan ini juga dihuni oleh kawanan kera berekor panjang. Kera-kera penjaga beranda Indonesia.

Selain kera, kata Pak Kong, di sini juga ada babi hutan jinak. Namanya Bro, artinya “kotoran” dalam bahasa lokal Sabang. Ia sering keluar meminta makan pada orang-orang, sudah seperti binatang peliharaan saja. Anehnya, meskipun dinamai “kotoran”, banyak juga yang peduli dengan Si Bro ini. “Ada juga yang suka memandikan dia pakai sabun,” ungkap Pak Kong sambil meringis. Saya tertawa-tawa saja. Tiba-tiba teringat masa-masa KKN di Kalimantan Barat dulu. Di dekat pondokan kami di Singkawang, adalah pemandangan lazim mendapati babi menguik-nguik dalam karung ketika dibawa dengan motor ke rumah jagal oleh pemiliknya. Kami juga sempat jalan-jalan ke Entikong dan dalam perjalanan panjang pulang saya sempat melihat sekawanan babi berkejaran dengan riang di sebuah halaman rumah. Hari itu saya mendapatkan cerita baru lagi soal babi.

20130904_065522

Menjelang cahaya terakhir hari itu menghilang dari Nusantara, kawan Pak Kong itu pamit. Ia masih sempat menggoda saya sebelum menghilang dari pandangan. “Tadi saya lihat ada anak muda pakai baju abu-abu jalan sendirian. Semangat kali dia. Pak Kong lihat tidak tadi? Kira-kira sudah sampai mana, ya, dia?” Kami semua terkekeh.

Tidak sampai di Kilometer Nol saja, Pak Kong lalu membawa saya ke rumahnya. Sambil melihat-lihat kompleks kediamannya yang terletak di teluk kecil, ia bercerita bahwa dahulu ia bekerja dengan seorang Jerman. Ketika si Jerman balik ke negaranya, semua aset dijual dengan harga murah kepada Pak Kong. Sejak itu properti Pak Kong terus berkembang. “Orang-orang sini menjual tanah tepi pantai terus lari ke gunung,” kata Pak Kong. “Kalau saya terbalik. Saya beli tanah-tanah di pesisir.”

Malam belum berakhir di situ. Setelah salat magrib di Masjid Iboih, saya diajak Pak Kong ke Pantai Gapang. Kami berkendara melewati jalanan kelam yang berpenerangan minim. Di Gapang kami duduk-duduk, menyantap mie rebus telur, menikmati kelap-kelip lampu Kota Sabang yang bak mengambang di cakrawala.

Dalam hati saya takut juga jikalau semua ini scam. Semua mulai dari warung kopi tadi, rumah tadi, sampai cerita-cerita absurd tadi. Saya diajak jalan-jalan namun di akhir nanti bapak paruh baya itu akan meminta imbalan tertentu. Atau lebih buruk lagi, makanan dan minuman ini diberi obat bius dan setelah ini saya akan diculik, dibawa ke sebuah ruangan pengap tempat sindikat pedagang manusia mengumpulkan orang. Melihat saya yang bepergian sendirian, tentu gampang saja menghilangkan jejak keberadaan saya. Buang saja kartu sim ponsel. Voila! Saya akan hilang begitu saja dan… terlupa.

Tapi saya tepis jauh-jauh pikiran itu. Pikiran macam-maca seperti itu hanya akan menyebabkan seseorang menjadi paranoid sehingga enggan mencoba hal-hal baru. Barangkali inilah akibat dari terlalu banyak menonton film barat seperti “The Hostel” atau “Gone”, film-film bergenre adventure-thriller yang berkisah tentang para petualang sial yang tewas di sebuah lokasi terpencil akibat berkenalan dengan psikopat atau anggota sindikat perdagangan tubuh manusia.

Saya coba memposisikan diri sebagai Pak Kong. Walaupun sedikit, ia pasti menaruh curiga pada saya. Pribumi macam apa yang cukup gila untuk menempuh jarak delapan kilometer dengan berjalan kaki jika ia tak punya tujuan tertentu, misalnya merampok atau mencari ilmu pesugihan. Pun begitu ia tak peduli, ia tetap membawa saya ke Kilometer Nol, ke rumahnya, lalu ke Pantai Gapang ini, hanya dengan modal satu hal: kepercayaan.

Kepercayaan, sebuah hal yang sudah mulai langka di kota-kota besar, agaknya masih lumrah ditemukan di Sabang. Di sini lazim saja bagi seseorang untuk meninggalkan motor berhari-hari di tepi jalan tanpa perlu khawatir ada orang yang akan mencurinya. Bahkan jika kau secara teledor lupa mencabut kunci kontak. Apalagi sekadar memberi tumpangan pada orang asing yang sedang berjalan sendirian di tepi hutan, tentu tak memerlukan banyak pertimbangan.

Pak Kong bertanya jam pada saya. Sudah pukul sembilan, cukup malam untuk ukuran Sabang di hari-hari biasa. Berarti sudah beberapa jam waktu melarut dalam obrolan. Waktunya pulang. Pak Kong mengantarkan saya ke Iboih–Lihat! Tak terjadi apa-apa, kan?! Yang ada saya malah dapat kenalan baru, cerita-cerita baru. Kami berjanji untuk bertemu lagi keesokan harinya. Ia berkata akan mengantarkan saya jalan-jalan keliling Sabang. Namun kenyataannya saya dan Pak Kong tak bertemu lagi, pun sampai ketika akhirnya saya pulang meninggalkan Sabang…

 ***

Perjalanan ke Sabang sungguh panjang. Melibatkan perjalanan bis selama lebih kurang 35 jam, menyeberang naik kapal lambat hampir dua jam, naik ojek di beberapa tempat, dan jalan kaki sejauh beberapa puluh kilometer. Perjalanan ini juga melewati banyak tempat-tempat yang kata banyak orang “indah”; Danau Toba, pepohonan cemara di Tarutung, kaki Gunung Seulawah, gugusan kepulauan di sekitar Weh, Iboih, Rubiah, Kilometer Nol. Juga melibatkan petualangan bawah laut; bertemu hiu liar, penyu raksasa, trevally-trevally penyendiri, gurita ahli kamuflase, kawanan barakuda.

Namun, di atas semua itu, hanya satu hal yang mampu menginspirasi saya untuk menulis; persahabatan yang saya jalin sepanjang perjalanan.

20130903_183631

About these ads

Tag: , ,

3 Tanggapan to “Ke Sabang”

  1. MasCojack Says:

    Selalu, orang baik itu masih ada

  2. mila said Says:

    cakep… salah satu hal yang gw suka dr pergi ke tempat baru adalah ketemu orang-orang baru juga :D

  3. fifan Says:

    banyak hal menarik yg tak disangka kalo kita kita traveling ala woles ya bro? beneran beda kalo udah diburu2 waktu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 105 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: