Argopuro

There is a pleasure in the pathless woods,
There is a rapture on the lonely shore,
There is society, where none intrudes,
By the deep sea, and music in its roar:
I love not man the less, but Nature more.

Lord Byron, Childe Harold’s Pilgrimage

Suara merak yang membahana seantero Cikasur membangunkan saya dari mimpi yang juga tentang merak. Saya tergeregap, membuka ritsleting tenda, lalu melongokkan kepala keluar. Sekujur tubuh masih dalam balutan kantong tidur. Saya mendapati diri tengah berada di sabana mahaluas.

“Mereka kalau mau terbang heboh, Jo,” ujar Berto, kawan dari Himpala Unas Jakarta, yang kemarin sore telah melihat kawanan burung berperawakan anggun itu. Tenda consina magnum-nya bahkan sudah dihiasi sebatang bulu merak yang tercecer dan telah kehilangan “mata”. Ia lanjut memanasi saya, “Kalau berjalan, Jo, ekornya goyang-goyang.”

Mengulet sebentar, saya lalu keluar tenda mengikuti Berto dan Rere berjalan ke selatan. Dengan bekal segelas teh hangat di tangan kami menyusuri sabana kecoklatan yang meranggas dan kesepian. Di barat, sebatang pohon yang dikenal sebagai Pohon Penyiksaan tampak berdiri muram, seolah tak kuat menahan beban dari sejarahnya yang kelam.

Mentari mulai bersinar condong menghangatkan dari ufuk timur. Pucat sekaligus dramatis. Samar-samar, dari hutan cemara di kejauhan sekawanan babi hutan tanpa ragu keluar dari persembunyian, lalu berbaris beriringan menuju timur. Saya buru-buru meminjam kamera berlensa tele milik Eka dan menge-zoom sampai maksimal. Empat ekor; satu ekor berukuran besar, tiga sisanya kecil. Barangkali seekor induk yang sedang mengajari empat anaknya cara mencari makan. Barangkali juga mereka adalah keturunan dari babi hutan yang sempat menyaksikan peristiwa pembangunan landasan pesawat perintis di Cikasur pada zaman penjajahan Jepang dulu. Saya tersenyum takjub.

Selain babi hutan, pagi itu hanya kami yang ada di Cikasur. Pegunungan Hyang yang membentengi Argopuro benar-benar sepi. Saking sepinya, baru pada hari kedua kami berpapasan dengan rombongan lain yang akan turun ke Baderan. Sebuah paradoks lagi tentang keindahan, bahwa adalah sepi yang membuat keindahan Pegunungan Hyang tetap lestari. Di lereng Argopuro itu, binatang-binatang seperti musang, kera, babi hutan, merak, bahkan macan masih banyak berkeliaran. Manusia yang rapuh benar-benar seperti masuk ke dunia lain di mana hewanlah yang meraja. Berbeda sekali suasananya dibandingkan gunung-gunung kebanyakan di Jawa yang lama kelamaan menjadi seperti pasar malam mingguan, yang perlahan bertransformasi menjadi mall tempat kalangan menengah memamerkan pakaian-pakaian mahal keluaran terbaru.

Cikasur di pagi hari

Kawan-kawan lain bergabung. Kami duduk pada sebuah pohon tumbang di tepi hutan cemara. Menanti munculnya merak Cikasur yang legendaris. Sambil menunggu, kami mengobrol tentang segala. Walaupun kebanyakan memang cerita tentang pengalaman kami mendaki gunung. Beberapa hari bersama di gunung membuat kami tak lagi sungkan bertukar cerita.

Itu adalah hari ketiga pendakian kami menuju Puncak Argopuro. Kemarin malam kami mendirikan camp di Mata Air 1 setelah berjalan seharian di bawah panas terik dan  dalam kepulan debu dari Pos Baderan. Sebenarnya fase Baderan-Cikasur dapat ditempuh dalam waktu lebih singkat dengan cara menumpang ojek yang ongkosnya gila-gilaan. Namun kami semua merindukan petualangan–dan capek adalah konsekuensi dari bertualang–sehingga dengan suara bulat tim memilih untuk berjalan kaki perlahan menyusuri ladang tembakau, melewati puluhan air terjun, mengagumi siluet Gunung Raung yang bergerigi gagah berdiri seolah mematri Pulau Jawa di pojok timur.

Perjalanan hari kedua semakin seru. Kami sudah benar-benar berada dalam hutan. Debu kering dan panas mentari tak lagi menjadi masalah utama seperti hari pertama. Kanopi hutan yang rindang membuat trek agak lebih lembap sehingga menghalangi debu beterbangan. Menjelang sore kami masuk ke hutan cemara yang membawa ingatan saya kembali ke trek membosankan Cemoro Kandang Semeru. Lalu, tak lama setelahnya kami berjumpa dengan sabana pertama yang dinamai Alun-Alun Kecil.

Sabana itu memang tak ubahnya seperti sebuah alun-alun yang kecil; datar dan lapang. Jika saja ramai, saya pasti akan menyangka sedang berada di Alun-Alun Kidul, Yogyakarta. Di samping trek, tanaman liar berbunga warna-warni tumbuh secara mengesankan membentuk taman. Ada juga beberapa kuntum Verbena brasiliensis yang di Semeru disalahkaprah sebagai tanaman lavender. Di sekeliling, Alun-Alun Kecil dipagari oleh pepohonan pinus yang penyebarannya rata mengikuti kontur perbukitan.

Sejenak beristirahat di bawah pohon besar, terdengar suara knalpot motor meraung-raung. Sebuah motor tiba-tiba melintas di tengah sabana Alun-Alun Kecil, diikuti oleh motor lain di belakangnya. Saya tergagap, tak mampu berkata apa-apa. Gagasan dalam kepala bahwa ini adalah petualangan agung dimentahkan oleh kenyataan bahwa fase Baderan-Cikasur dapat dengan mudah ditempuh menggunakan motor. Sebenarnya saya sudah paham bahwa jalur Baderan-Cikasur dapat ditempuh oleh motor. Saya hanya tidak siap menyaksikan sendiri bahwa dua ekor kuda Jepang itu dapat dengan enteng menyalip kami yang sudah berjalan selama hampir dua hari, sementara mereka mungkin baru berangkat tadi pagi. Saya membatin sekadar untuk membereskan harga diri yang berantakan. “Kalem, Bro! It’s not about the destination. But the journey itself.

Sungai Cikasur

Lalu kami meninggalkan Alun-Alun Kecil, berjalan beriringin membelah perbukitan, melintasi sabana demi sabana lain yang lebih luas. Saya berusaha mengenyahkan dua motor tadi dari dalam pikiran. Ketika gelap mulai menyelimut dan terang yang tersisa hanya berasal dari cahaya lindap gemintang yang perlahan mulai memenuhi garis langit, padang-padang sabana itu berubah menjadi lebih dramatis. Rasanya seperti sedang berjalan di permukaan bulan dan saya adalah Neil Amstrong yang berkeliaran meloncat-loncat di satelit bumi itu.

Beberapa derajat di atas cakrawala, sebuah benda langit muncul dan bersinar terang. Barangkali Mars sebab ia tak berkelap-kelip. Namun saya iseng bertanya pada Benny si gila. “Ben, yang paling terang itu apaan, sih?” Ia lalu menjawab tanpa ragu, “Bipater, Jo.”

“Bipater?”

“Bintang paling terang!” Dan kami semua terkekeh. Kawan saya satu itu memang paling jago ngeles.

Malam sudah sepenuhnya turun ketika kami akhirnya tiba di Cikasur. Secara alami rombongan kami terpisah menjadi dua: rombongan depan yang cepat dan rombongan belakang yang santai. Jauh sekali terpisah sampai-sampai interval waktu kedatangan kami dua jam! Begitu saya dan kawan-kawan menginjakkan kaki di reruntuhan bangunan Cikasur, Zeni dan kawan-kawan lain sudah menyibukkan diri memasak dan bercengkerama di depan tenda. Mereka menyambut kami dengan teh hangat dan makanan ringan yang sudah lama dirindukan oleh lambung. Kami lalu bersulang merayakan keberhasilan mencapai Pos Cikasur. Berteman, bercerita, bercanda-tawa…

Suara merak membangunkan saya dari kenangan semalam. Kali ini suaranya lebih dekat dan heboh. Mata saya mencari-cari sang merak yang anggun ke seluruh penjuru padang rumput. Masih nihil. “Yang ramai kemarin dekat sungai itu, lho, Jo,” ujar Wisnu, kawan dari Bandung. Saya tersenyum getir sebab sampai saat itu belum melihat seekor pun merak. Kembali saya hirup teh hangat yang asapnya masih mengepul.

Saya menengadah ke atas dan memohon pada kekuatan besar di langit ketujuh agar mengirimkan seekor merak untuk saya lihat. “Sungguh! Tak akan saya apa-apakan,” janji saya dalam hati. Lalu sebuah tangan tak terlihat menempatkan seekor merak di batas hutan pinus. Ia berjalan sendirian, kepalanya saja yang tampak dari kejauhan. Badannya disembunyikan ilalang coklat yang menjulang. Hampir saja saya berpikir itu adalah seorang anggota suku bushman yang sedang menyamar burung unta. Kemudian saya ingat bahwa tempat itu adalah Argopuro, bukan Afrika!

***

Kami masih sedikit terguncang barangkali dan berusaha menyembunyikannya dengan ketenangan yang dibuat-buat. Baru saja kami tersesat untuk kali kedua dalam pendakian itu. Tersesat kali pertama terjadi pada hari ketiga, pada fase Cikasur-Cisentor. Hampir saja kami tiba di Jember dan melewatkan Puncak Argopuro jika saja “warlok” (warga lokal) bermotor tidak memberitahu bahwa kami salah jalan. Deli, Teguh, dan saya harus berlari sambil berteriak sampai parau sepanjang hampir satu kilometer demi mengejar rombongan depan yang kebablasan. Di Argopuro kau tak boleh sedikit pun keliru memilih jalan sebab setiap percabangan akan membawamu ke tempat-tempat yang berbeda. Jika ingin melipir bukit, kau harus sangat berhati-hati. “Kalau masih lihat tanda ‘hm’, berarti benar,” begitu trik yang disampaikan “warlok” pada Zeni. Hm adalah singkatan dari hektometer. Tapi untung juga nyasar, kapan lagi saya diberi kesempatan menyusuri bekas lapangan terbang Cikasur dari ujung ke ujung?

Rawa Embik

Tersesat kedua, yang baru saja terjadi, adalah dalam perjalanan turun dari Cisentor menuju Taman Hidup, sehari setelah kami menggapai Puncak Rengganis dan Argopuro. Sekitar dua jam berjalan trek tiba-tiba berakhir; jalan buntu. Bukan jalan setapak menuju Bremi yang kami telusuri melainkan jalur berburu. Kembali saya keluarkan skill berteriak yang saya peroleh ketika mengikuti ekskul Paskibra. Untung lagi, rombongan belakang masih mampu mendengar teriakan saya. Ternyata kami terpaut sekitar dua ratus meter dari trek yang sebenarnya, begitu menurut Adit yang membawa GPS. Lalu kami kembali menyusuri jalan setapak itu sampai ke percabangannya. Syaehu memberi tanda silang dari kayu pada mulut jalur yang keliru itu agar rombongan-rombongan selanjutnya tidak ikut-ikutan tersesat. Ternyata untuk turun ke Taman Hidup kami harus terlebih dahulu melipir naik ke beberapa punggungan.

Benny mengeluarkan kompor ultralight-nya lalu memasak makaroni dan mie instan campur sosis. Kawan-kawan lain sudah berangkat lebih dahulu. Benny, Deli, Teguh, dan saya memilih untuk santai dulu di belakang dan duduk menghampar di antara ilalang setinggi manusia dewasa. Sudah tengah hari, perut perlu diisi. Dalam perjalanan gunung lebih dari dua hari, hanya dua hal yang perlu dicukupi: istirahat dan nutrisi. Dalam beberapa menit makanan dalam nesting Benny tandas.

“Sebabut, ya?” Merokok sebatang sebelum cabut artinya. Frasa paling populer dalam pendakian saya kali ini. Benny mengeluarkan dua batang mild yang kami hisap bergantian bertiga. Itu adalah bungkus mild terakhir Benny.

Rokok bungkusan menjadi terasa begitu nikmat sebab sehari-hari yang kami hisap adalah rokok “lingwe”. Bagi seorang perokok, semakin lama durasi pendakian berarti semakin banyak pula anggaran yang harus dikeluarkan untuk membeli rokok. Demi memangkas biaya, Zeni dan saya membeli satu setengah ons tembakau di pojok Tugu Jogja, alih-alih rokok bungkusan. Satu ons tembakau Boyolali, setengah ons tembakau Dji Sam Soe. Rata-rata satu ons tembakau dihargai sekitar Rp. 7000 dan satu setengah ons tembakau mampu memenuhi kebutuhan rokok kami selama sekitar seminggu di gunung. Bonusnya, kemampuan melinting kami semakin meningkat hari demi hari.

Habis rokok, kami kembali melanjutkan perjalanan. Masih di jalan setapak kecil di antara ilalang, sesekali melangkahi pepohonan tumbang, melewati lembahan-lembahan yang ditumbuhi ratusan kuntum edelweis sang simbol keabadian. Edelweis Argopuro berwarna putih kekuningan dan melampar kemana-mana; sejak mulai Alun-Alun Kecil, Puncak Rengganis dan Argopuro, sampai ke tempat kami berjalan siang itu. Barangkali yang dapat menyaingi kepadatan populasi edelweis hanyalah sejenis tumbuhan jelatang yang secara kejam diberi nama Jancuk, tumbuhan yang jika daunnya dipegang akan terasa menyengat dan gatal di kulit.

Puncak Rengganis

Puncak Argopuro

Lalu kami tiba di sebuah tempat bernama Kalimati. Di sana, di antara hutan cemara yang berbaris teratur, membujur sebuah aliran sungai kering. Barangkali sungai temporer, atau memang sudah mati sama sekali. Jalan setapak menuntun kami menyeberang, lalu masuk ke dalam semak ilalang yang bahkan lebih lebat dan tinggi dari yang tadi kami lewati.

Deli berjalan paling depan, memimpin jalan kami menerobos semak itu dengan cepat. Mengikuti pita-pita plastik yang sengaja diikatkan para pendaki sebelumnya sebagai pemandu jalan agar tidak tersesat. Di gunung yang ramai, melihat pita-pita seperti itu saya kesal. Tapi di sini, di gunung yang teramat sepi, pita-pita itu rasanya begitu membantu. Terlebih pada trek yang jalurnya sangat tertutup.

Jalan-jalan setapak sempit Argopuro akan membuatmu merasa begitu kecil, tak berarti, tak berdaya. Sekadar debu kecil yang nyaris nihil. Tak ada apa-apanya manusia dibanding ibu bumi yang memiliki mekanismenya sendiri untuk menjaga keseimbangan diri. Ia menjaga keseimbangan dengan melakukan semua; melebatkan semak belukar, melongsorkan tanah, membakar hutan, meluapkan sungai… Semua yang dianggap manusia sebagai bencana. Itu semua, manusia tak punya kuasa untuk membendungnya. Jika tanah mesti longsor, maka longsorlah. Jika sungai mesti meluap, maka meluaplah. Jika hutan mesti terbakar, maka terbakarlah.

Seperti pada hari pertama pendakian. Ketika itu kami sedang meniti langkah di sadel yang menghubungkan dua bukit. Jauh di sebuah punggungan, saya melihat beberapa kolom asap mengepul ke atas ditiup angin. Jelas sekali itu bukan kabut melainkan asap yang berasal dari ilalang yang terbakar. Saya terperangah sebab itulah kali pertama saya menyaksikan langsung kebakaran hutan di gunung. Tidak ada manusia di sana dan hutan itu terbakar begitu saja secara alamiah. Ajaib. Rasa-rasanya akan teramat susah untuk mematikan api jika kebakaran itu terjadi di tengah pegunungan seperti ini.

Di Argopuro, idiom “menaklukkan alam” adalah omong kosong sebab pada kenyataannya manusialah yang dileburkan ke dalam lebatnya rimba Pegunungan Hyang. Bukan manusia yang memegang kendali melainkan alam. Barangkali jika bisa berbicara, Argopuro yang kesepian akan berkata: “Persetan dengan segala jargon! Urus saja dirimu terlebih dahulu!”

Lepas dari semak belukar itu kami kembali meniti sadel untuk turun ke bukit yang lebih rendah. Di tepi jurang kami berhenti sejenak, sekadar meluruskan kaki yang penat dan meneguk sedikit air untuk membasahi kerongkongan yang kering. Danau Taman Hidup masih jauh.

“Stttt… Diam dulu sebentar.”

Entah siapa yang menyuruh diam, yang jelas selama beberapa saat kami hening. Sunyi. Suwung. Bahkan suara angin pun terdengar lirih, selirih bunyi rumpun-rumpun ilalang kering yang saling bergesekan.

“Argopuro benar-benar sepi, ya?” Ujar Deli. Kami semua membalas dengan anggukan. “Ini baru gunung namanya.”

Danau Taman Hidup

About these ads

Tag: , ,

7 Tanggapan to “Argopuro”

  1. mosoklali Says:

    Jo, kok bisa nulis sepanjang ini to? Pake pelumas apa? Eh..

  2. mosoklali Says:

    Tapi komentarmu neng sebelah kae menarik lho. Ada nggak istilah selain ‘responsible travelling’? Istilah yang mengacu pada gaya travelling yang memposisikan kita sebagai pendatang. Kita bukan turis. Kita bukan dewa uang yang mau bagi2 rejeki. Kita pendatang yang numpang lihat-lihat di tanahmu, orlok.

    Like we both know, travelling macam ini jauh lebih menarik daripada sekedar menuju ke satu tempat, komentar ‘Wow keren!’, poto-poto, aplod ke media. Ada unsur ‘bertemu manusia lain’-nya. Ada interaksinya.

    Apa istilahnya? Bagemana cara membumikannya?

    • morishige Says:

      Ketoke yo durung ono istilahe. Setidaknya yang populer di Indonesia. Sustainable traveling pun konteksnya memposisikan diri traveler sebagai orang yang lebih paham, lebih di atas. Jadi tetep wae “talking down” sama orlok. Paling sing paling cerak traveling “incognito”. :))

      Tapi pemahaman seperti itu menurutku ga bisa dibentuk dengan instan. Butuh persistensi sekaligus keinginan untuk belajar, juga dibarengi dengan perenungan yang terus-menerus.

      Dan itu agak susah dibentuk kalo kita senengnya pergi rame-rame. AFAIK, pergi rame-rame justru membuat seseorang alpa menilik lingkungan sekitar, malah mereka yang jadi pusat perhatian bakalan.

      Contoh yang paling keren dan bisa dijadikan inspirasi menurutku adl kisah-kisah perjalanannya Agustinus Wibowo. Dia pergi sendiri melintasi negeri-negeri asing, lalu mengabarkan apa yang ia lihat pada dunia.

      Proses untuk membumikannya bakal lama, kalau nggak bisa dibilang mustahil, karena kebanyakan orang menganggap perjalanan sekadar liburan, sekadar mengeluarkan diri dari rutinitas kehidupan yang membosankan. Sedikit yang menganggap bahwa pejalan adalah orang beruntung yang diberi karunia untuk melihat tempat-tempat yang luput dari perhatian, dan menunggu-nunggu untuk dikabarkan.

  3. fifan Says:

    mantap JO….mudah2an bsa segera kesana juga :), mupeng habis baca critomu

  4. MasCojack Says:

    kesunyian,
    keindahan yang hanya sebagian orang rasakan
    keheningan yang mengingatkan kita tentang apa dan siapa kita dibanding alam semesta…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 103 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: