Papandayan

Jika saja di Garut saya dan kawan-kawan tak berurusan dengan calo dan supir nakal barangkali kami tak akan pernah berkenalan dengan Pras, Mulki, Garry, dan Astri. Dan entah bagaimana pula nasib mereka: kehujanan di Pondok Salada; meringkuk kedinginan di bawah pohon sejenis cantigi; berlindung sia-sia di antara rumpun bunga abadi yang tak sanggup membendung derasnya terpaan angin gunung?

Menjelang pukul sembilan pagi ketika itu. Akhirnya kami duduk dalam elf yang akan mengantarkan ke Cisurupan, jalur paling umum untuk mendaki Gunung Papandayan. Seorang bapak paruh baya yang tidak jelas calo atau supir mewanti-wanti kami sesaat setelah keril diikat erat di atap mobil, “Pokoknya jangan mau kalau disuruh pindah.” Kami mengangguk sebab tanpa disuruh pun jelas sekali kami tak akan mau diusik dan disuruh pindah dari bangku elf yang sudah terlanjur nyaman ini. Tadi, sembari menunggu Zeni tiba, kami tiduran selama beberapa jam di atas ubin teras mushala Terminal Guntur yang dingin dan keras.

Lalu tiba-tiba sebuah elf lain memepet kami dari sisi kanan. Awaknya dengan seenak jidat membuka tali pengikat dan memindahkan keril kami satu per satu ke atap elf-nya. Lelaki lain membuka pintu elf kami kemudian menyuruh pindah ke sebelah. Meskipun adegan pemaksaan itu terjadi di depan matanya, bapak paruh baya yang tadi menyuruh kami untuk bertahan di elf itu diam saja.

Semula kami menolak. Namun ketika seseorang berceletuk bahwa ongkos yang harus kami bayar hanya sepuluh ribu, kami menurut juga. Biarlah berdesak-desakan sedikit asal bisa hemat lima ribu rupiah. Di dalam elf sudah ada empat pendaki lain, anak-anak Bandung yang namanya sudah saya sebutkan pada alinea pertama.

20131104_091148[1]

20131104_132412[1]

20131104_133850[1]

Menjelang berangkat sang supir mengumpulkan ongkos. Ketika lembaran sepuluh ribu berpindah tangan padanya, secara tak terduga ia berkata, “Lima belas ribu, Aa.” Saya jelas tak terima dan memilih untuk beradu argumen dengannya. Ini bukan soal harga yang terlalu mahal, ini soal kesepakatan yang dikhianati.

“Lho, tadi katanya sepuluh ribu?” Saya bersikeras sambil menatap matanya lekat-lekat.

“Lima belas, Aa,” ia tak mau kalah. “Itu tadi calo yang bilang sepuluh ribu.”

Saya katakan padanya bahwa itu urusan dia dengan calo, tak ada kaitannya dengan penumpang. Saya juga menambahkan bahwa kami bisa saja turun dan pindah ke angkutan lain. Namun ia masih saja bersikeras.

“Biasanya dua puluh ribu, Aa,” katanya sambil menghitung-hitung uang yang sudah dikumpulkannya dari penumpang lain. Matanya mengelak dari pandangan saya. Berkali-kali ia membolak balik lembaran uang itu, barangkali sudah tak nyaman beradu urat syaraf dengan saya.

Selamat datang di Indonesia. Negara kepulauan di mana calo sambung menyambung menjadi satu, dari Sabang sampai Merauke, selama tempat itu memilki terminal, stasiun, pelabuhan, bandara… kantor polisi, atau gedung dewan perwakilan rakyat. Begitu lazimnya ditemui sampai tak jelas lagi dari mana segala praktik percaloan ini berasal. Apakah memang menyemburat dari akar rumput? Atau malah sebaliknya diajarkan oleh elit politik yang kerjanya hanya berleha-leha di bangku kekuasaannya di Jakarta.

Calo-calo pasar lengang ini beda kelas dengan para calo berdasi yang kerap muncul di televisi. Bukan atas nama keserakahan, mereka jadi calo hanya sekadar agar hidupnya bertahan. Keberadaan mereka pun sesungguhnya merupakan keluaran dari sebuah sistem pendidikan yang karut marut. Sistem pendidikan yang gagal membuat para siswa berkembang dalam koridor potensinya masing-masing, yang menuntut semua untuk sama, seragam.

Alhasil, ketika ada yang dinilai “melenceng”, ia dipaksa untuk kembali berenang dalam arus yang sama bersama jutaan siswa lainnya. Ilmu alam diberi nilai tinggi sementara ilmu sosial menjadi anak tiri. Dan kreativitas tampaknya cuma sebuah rumah yang memiliki satu kamar: ilmu alam. Dalam kondisi seperti itu, hanya ada dua kemungkinan; sang siswa berakhir sebagai robot pekerja kantoran atau terlunta-lunta nasibnya menjadi pekerja serabutan. Barangkali calo-calo yang saya temui adalah para siswa yang bernasib sial…

“Pokoknya sepuluh ribu!” Berurusan dengan calo lapar yang merintang jalan sepanjang Bali sampai Lombok ternyata menguatkan mental saya. Saya kesal sekali, sungguh. Namun tak jelas saya kesal pada siapa; sang supir, para calo itu, atau pencipta sistem yang membuat mereka jadi calo. Mata saya semakin melotot, urat leher semakin menegang. “Tadi bilangnya segitu, kenapa tiba-tiba jadi berubah?”

Sang supir tampaknya sudah letih sebab akhirnya ia terima juga aliran uang sepuluh ribu dari kami bertujuh. Sebelum beranjak ke belakang kemudi dengan raut muka putus asa ia meminta kami untuk menambah sepuluh ribu, untuk bertujuh. Awalnya saya menolak namun kawan-kawan menyuruh saya mengalah dan memberikan lembaran merah itu pada sang supir. “Sudah, kasih saja.”

Sang supir menutup pintu lalu elf itu pun melaju. Ia masih saja menggerutu.

***

Zeni dan saya masih berkutat mencari ranting kering di sekitar Pondok Salada ketika suara guruh mulai bergemuruh menggetarkan kolong langit. Rintik hujan turun satu-satu, lembut bak tempias yang mengenai wajahmu seperti ketika kau duduk di tepi perahu yang sedang melaju. Kami bergegas kembali ke arah kemah. Berlari-lari kecil di antara edelweis sambil membawa ranting sebanyak yang kami bisa. Setiba di kemah kami langsung menyibukkan diri membantu kawan-kawan memasang sisa tenda yang belum kunjung berdiri.

Di Jakarta telah berkali-kali kami diperingatkan oleh kawan-kawan bahwa cuaca Pulau Jawa bagian barat saat ini “lagi nggak oke”. Sering hujan juga angin kencang. Memang, mendunglah yang menyambut ketika kami tiba di Pos Cisurupan. Fumarol yang menyembur dari kawah Papandayan tampak seperti kolom vertikal yang menyatu begitu saja dengan awan kelabu yang siap menjatuhkan hujan. Tapi agaknya kami sedang mujur sebab tidak setitik pun hujan turun ketika sedang dalam perjalanan. Rembesan air dari langit baru mengucur ketika tenda sudah hampir seluruhnya tegak di Pondok Salada.

Camera 360

Camera 360

Camera 360

Hampir seluruhnya tegak kecuali tenda sewaan yang dibawa rombongan Pras. Berkali-kali kami coba pasang namun tak jua bisa. Tenda itu tidak lengkap. Bingkainya yang terlalu ringan takkan sanggup untuk menahan layer yang beratnya lumayan. Semesta mungkin sedang iseng menjahili sebab hujan mengguyur semakin deras dan membuat layer­-nya menjadi semakin membebani. Pun jika tenda itu berhasil ditegakkan ia akan berada dalam keadaan basah kuyup luar dalam. Tak terbayangkan betapa dingin tidur dalam tenda seperti itu.

“Udah, kalian tidur di tenda kami saja. Masih banyak sisa tempat, kok. Tenang saja.” Ujar saya ketika Pondok Salada sudah dalam selimut pekat sementara tenda sial itu masih belum jadi. Lama-lama bosan juga. Kami biarkan ia tergeletak begitu saja di atas tanah basah, dipermainkan oleh angin yang bertiup semakin menjadi-jadi.

Menjelang pukul sembilan hujan reda. Perut sudah kenyang namun masih terlalu dini untuk mengistirahatkan badan dalam tenda. Kami keluar untuk membuat perapian. Ranting-ranting kering yang kami kumpulkan tadi sebagian besar sudah basah. Deli memilih-milih ranting yang lumayan kering, menyusunnya, kemudian mengguyurnya dengan sedikit spiritus, lalu terbakarlah ia mengeluarkan lelidah api yang menghangatkan perkemahan kami.

Malam itu, dalam pancaran hangat api unggun, saya terheran-heran. Kagum sekaligus geli membayangkan betapa ajaibnya cara kerja Tuhan. Pras ternyata kenal dengan Berto, kawan yang saya kenal ketika mendaki Argopuro. Selain itu Pras, Mulki, dan Garry ternyata adalah mahasiswa Fakultas Hukum Unpad yang berkawan dengan adik kawan lama saya ketika SD dan SMP. Dan kami semua, yang memiliki mutual friend sama, dipertemukan di sebuah tempat yang agak absurd: gunung. Kenapa harus di gunung? Kenapa tidak di mall, lapangan futsal, atau kafe?

Semua seperti sudah direncanakan dan diatur sedemikian rupa oleh sang tangan tak terlihat. Ia membuat kami diturunkan bus patas beberapa kilometer menjelang Kampung Rambutan, membuat kami naik bis Kurnia Bakti dan tiba di Terminal Guntur menjelang Subuh, membuat kami tertidur di emperan masjid menunggu Zeni yang datang lebih cepat dari waktu yang telah direncanakan, membuat kami naik elf yang “salah” kemudian dipindahkan, lalu bertemu dengan empat orang kawan baru itu. Jika saja langkah kami berbeda sedikit, seperti misalnya naik bis Primajasa, barangkali kami tak akan pernah kenal dengan mereka, ceritanya juga pasti akan jauh berbeda.

Pertemuan saya dengan empat kawan baru itu membuat saya bertambah yakin bahwa tiap langkah yang diambil seorang manusia akan membawanya persis ke satu titik. Dan setiap pilihan yang ada, tiap-tiap cabang di ujung jalan, akan membawanya ke tempat-tempat yang berbeda pula. Bukan cuma soal yang berat seperti memutuskan akan kuliah di jurusan apa. Pilihan itu juga meliputi hal-hal sederhana seperti jumlah ketukan di pintu ketika bertamu, warna pulpen yang digunakan ketika menulis, pilihan ringtone ponsel….dan semua pilihan yang secaras sekilas terlihat tidak signifikan.

Saya menengadah ke langit. Saya tulis “langit” sebab saya rasa “atas” terlalu subjektif. Atas bagi kita mungkin bawah bagi umat manusia yang menghuni benua Amerika, bawah menurut beruang kutub arktik mungkin atas menurut pinguin antartika. Langit masih berselimut awan. Selimut putih translusen yang menghalangi cahaya bintang berusia jutaan tahun untuk segera tiba ke mata para penghuni bumi. Malam semakin larut sementara minuman hangat di gelas sudah hampir semua tandas. Satu per satu kami masuk ke dalam tenda. Dan api unggun yang tadi kecil sekarang berkobar besar, seolah mengejek manusia-manusia yang tadi duduk mengelilinginya.

20131104_171440[1]

About these ads

Tag: , , ,

10 Tanggapan to “Papandayan”

  1. Felicity Says:

    Asli keren banget foto2xnya….. baca ceritanya jadi serasa ikutan berkelana…

    BTW, salah satu yang paling saya kesel banget kalau berwisata di Indonesia adalah calo dan ketidakpastian peraturan. Ribet deh kalau sudah begini. Harga yang seenaknya saja, kata2x dan ucapan yang tidak bisa dipegang dll…. Lebih parah lagi kalau saya jalan dengan temen atau suami yang jelas2x terlihat non lokal….jadi mangsa empuk deh. Mau dibenahi juga bingung musti mulai darimana ya…

    • morishige Says:

      trims kak. :)

      secara ngga langsung institusi pemerintah juga mengajarkan rakyat untuk mengambil untung sebesar2nya dari orang asing. liat aja di bromo, borobudur, prambanan….selisih harga tiket masuknya antara turis domestik dan manca gila2an.

      masyarakat ya ikut…”masa saya ga bisa untung besat juga,” barangkali begitu menurut mereka. jadilah gini keadaanya.

  2. lazione budy Says:

    kalau saya pas naik ke Papandayan, ada calo mbawa rangsel kami. kiranya mau bantu naik, dia sekalian ikut naik. Eh sampai puncak kita diminta uang jasa 50 ribu. duh! Endonesah….!

    Mbawa rangsel gitu mah kita-kita dah biasa, merusak mood tuh calo sialan.

  3. meirzaniko Says:

    kereb mas catpernya, mampir kesini http://bagsontheback.wordpress.com/ mas terimakasih

  4. Black_Claw Says:

    Wah,lama ga liat Shige, ternyata sekarang sudah suka jalan-jalan. =))

  5. mila said Says:

    Fujiiii tulisannya keren seperti biasa, apalg di paragraf terakhir itu.. bagus bangeettt

  6. MasCojack Says:

    piknik ke papandayan :p

  7. suryowidiyanto Says:

    wah indah sekali pemandangannya….

  8. outbound malang Says:

    seru sekali pengalamanya :) apalagi ditambah pic yang bikin makin keren gan (y) …..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 103 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: