Lewat Pos Cemara

“Tutupi pakai mantel!” Pinta saya pada Eka ketika hujan mendadak turun dengan lebatnya, hanya beberapa ratus meter dari pos ketiga Gunung Slamet, Pos Cemara. “Aku ambil flysheet dulu. Kita bikin bivak.”

Dengan sigap Eka, Arta, dan saya membentangkan kain berukuran tiga kali tiga meter berwarna hitam itu lalu mengikatkannya dengan tali rafia kuning ke tiap sudut. Dalam beberapa menit saja kemah darurat bikinan kami siap. Lengkap dengan alas berupa mantel hujan dan parit-parit kecil untuk mengalirkan air.

Dari arah bawah serombongan pendaki muncul dalam keadaan basah kuyup. Mantel tampaknya tak kuasa menahan derasnya guyuran hujan. Ramai, tak sempat saya hitung jumlah mereka. Namun yang saya ingat sebagian dari mereka ikut berteduh di bivak kami sementara sebagian lain langsung bergerak sigap membangun sebuah pelindung darurat untuk mereka sendiri. Saya nikmati saja adegan itu dari bawah bivak.

“Nanti kalo di Slamet hujan asyik, Jo.” Zeni pernah bilang begitu beberapa waktu yang lalu. Rupanya ia benar.

Seiring semakin derasnya hujan, semakin dingin pula hawa. Kami butuh penghangat, air hangat. Arta mengeluarkan Trangia dari keril saya lalu menyulutnya. Beberapa saat kemudian tersedialah sepanci minuman hangat; nutrisari rasa jeruk dengan tambahan potongan jeruk nipis. Ia tuangkan minuman itu ke beberapa gelas. Setelah itu saya berikan sebuah pada rombongan sebelah yang baru saja menyelesaikan bivaknya. Dengan asap masih mengepul saya seruput minuman itu; panas!

Tapi jika engkau berada di hutan, apalagi di tengah tirai hujan begini, percayalah, lebih baik kepanasan daripada kedinginan. Seperti halnya lebih baik berteduh dulu daripada memaksakan berjalan.

Dulu sekali, ketika baru saja memulai hobi mendaki gunung, saya pasti tidak akan pikir panjang untuk tidak berhenti saat hujan menghadang. Prioritas saya dulu adalah tiba di puncak secepatnya. Hujan, dingin, kabut, trek licin, akan saya tempuh saja. Kesehatan diri dan kawan-kawan sependakian bukanlah masalah besar yang harus dipikirkan.

Modalnya pun hanya nekat sebab jarang sekali kami membawa perlengkapan pendakian yang memadai. Kami sudah cukup puas dengan hanya membawa kompor gas mini dan nesting, dengan hanya berbekalkan mie instan, energen, dan sebatang coklat. Istirahat tak pernah cukup sebab tidur cuma beralas mantel hujan dan berselimut jaket.

Namun lama kelamaan, seiring dengan bertambahnya langkah yang saya habiskan di ketinggian, cara lama itu mulai kelihatan tak masuk akal. Apalagi setelah saya bergabung dengan mapala fakultas dan memperoleh pengetahuan-pengetahuan dasar tentang mountaineering. Mulailah tersibak pemahaman bahwa mendaki gunung bukan melulu soal puncak, soal tujuan. Naik gunung yang sekilas tampak sederhana mulai menunjukkan detail-detail rumit yang ternyata saling mengunci.

20131207_123216

20131207_153454

DSC_0260

DSC_0297

Mendaki gunung adalah sebuah proses integral yang meliputi persiapan, eksekusi, sampai pulang kembali. Agar sebuah pendakian berjalan dengan lancar, tiap-tiap proses tersebut harus diperhatikan dengan saksama. Persiapan yang amburadul hanya akan menghasilkan eksekusi yang setengah-setengah. Eksekusi yang setengah-setengah tak akan memberikan apa-apa pada si pendaki kecuali rasa capai.

Barangkali hanya dua hal yang dibutuhkan agar seseorang dapat menikmati kegiatan mendaki gunung; kesabaran dan konsistensi. Sabar untuk belajar mulai dari dasar; konsisten untuk secara berkala melakukan pendakian.

Saat kuliah semester satu saya pernah punya sejilid buku panduan pendakian gunung di Indonesia yang berjudul “Jejak Sang Petualang”. Di sanalah pertama kali saya membaca tentang Gunung Slamet. Sejak itu gunung tertinggi di Jawa Tengah itu selalu mengawang-awang dalam pikiran saya. Kadang ia muncul jelas dalam angan namun lebih sering terpendam rapat di alam bawah sadar. Namun selama ini seperti ada sebuah energi yang menahan saya untuk menyambangi Slamet. Energi misterius yang termanifestasi dalam pikiran sebagai suara yang menjeritkan: “Jangan! Belum saatnya kau ke Slamet.”

“Mungkin memang baru sekarang aku bisa naik Slamet,” saya sikut Arta. Sibuk memasak, dia cuma membalas: “Ha?”

Lagi tidak fokus dia. Saya amati saja aliran coklat yang mengisi parit di samping bivak itu. Sudah lewat jam dua belas siang namun hujan masih saja turun dengan lebat. Dari tempat ini, sebagian hujan itu akan terserap kemudian mengalir ke dalam lapisan akifer, sebagian lain akan mengalir ke sungai-sungai nun jauh di sana dan bergerak menuju hilir. Selanjutnya nasiblah yang akan menentukan akan ke mana tiap-tiap molekul air itu; apakah akan sekadar mengalir ke sungai, bermuara ke laut, lalu menguap lagi ke atas dan mengalami kondensasi? Ataukah mereka akan berpetualang; keluar di sebuah sumur, diminum orang; sebagian mengalir dalam darah sebagian menguap sebagai peluh sebagian lagi terpancar sebagai kencing, lalu bersama-sama dengan limbah kota mengalir dari sungai ke laut? Seperti jalan hidup manusia saja; berbeda-beda meskipun sama-sama diawali dengan kelahiran dan diakhiri dengan kematian.

“Nih, dimakan supnya,” Arta menyikut saya, membangunkan dari lamunan. Ia lalu mengoper segelas sup racikannya. Saya genggam gelas panas itu erat-erat lalu saya hirup aromanya dalam-dalam; sepertinya lezat. Saya ambil sesendok lalu saya makan. Lezat memang, bergizi pula; ada brokoli, bakso, kentang; bahan-bahan yang di kota malah jarang saya makan.

About these ads

Tag: , ,

8 Tanggapan to “Lewat Pos Cemara”

  1. mila Says:

    gunung slamet dimana ya? bwahahaaa geografi gw jelek banget wkt sekolah x_x

  2. MasCojack Says:

    slamet wuiiiii….

  3. Rio Praditia Says:

    di paragraf kedua sebelum terakhir, pembaca bisa melihat si penulis kuliah di bidang apa.

  4. choco chika Says:

    Keren.!! Pembaca serasa bisa membayangkan di TKP yang penulis tulis. keep on writing. :)

  5. Tozca Leather Says:

    wah mas satu ini petualang sejati liat view nya aja dah indah apa lagi langsung kita mengikuti jejak mas ini mantap

  6. fajar Says:

    naik naik ke puncak gunung
    seru-seru sekali
    hehehehe

  7. wisata outbound malang Says:

    kereenn … cukup menarik
    apalagi ditambah pic dengan view yang indah sangat mengagumkan :D

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 107 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: