Monas

Monas menjadi penanda bahwa sebentar lagi kereta yang saya tumpangi dari Bandung akan tiba di Stasiun Besar Gambir. Kereta Argo Parahyangan itu meluncur di bawah langit Jakarta yang kelabu. Ia perlahan melambat sebelum sepenuhnya menghentikan laju. Para penumpang yang semula duduk berbondong-bondong keluar dari gerbong. Bergegas  mereka–dikejar entah apa–mencari pintu keluar untuk masuk ke dalam dunia masing-masing. Barangkali sudah tak sabar ingin menuntaskan urusan yang telah ditunda perjalanan selama tiga jam.

Saya sendiri segera melangkahkan kaki ke sana, ke monumen raksasa perlambang lingga-yoni yang dibangun pada masa orde lama. Monas memang cuma selemparan batu dari Stasiun Gambir. Sudah bertahun-tahun saya mendamba memasukinya, sejak ayah membawakan oleh-oleh kaos putih bergambar Monas dahulu sekali ketika saya bocah. Selama ini saya hanya bisa melihatnya dari jauh; dari kaca jendela kereta Taksaka dalam perjalanan mudik, dari kaca jendela bis Damri yang mengantar saya ke Soekarno-Hatta.

Sebenarnya beberapa bulan yang lalu, seturun dari Gunung Pangrango, saya sudah diantar Benny ke Monas. Namun gagal masuk sebab sampai di sana sudah terlalu sore, selewat pukul setengah empat. Kami tiba tepat ketika para petugas sedang sibuk menggiring para pengunjung keluar dari area teras.

20140115_122920

20140115_123656

Saya lalu ikut larut dalam riuh rombongan siswa SD dari Cibinong dan masuk ke lorong bawah tanah. Lorong itu mengingatkan saya pada terowongan-terowongan bawah tanah dalam lingkup kastil Tamansari Yogyakarta. Barangkali ini adalah versi modernnya, versi yang dilengkapi lampu neon dan colokan listrik. Terowongan itu berakhir pada sebuah anak tangga yang mengantarkan saya ke ujung kaki Monas. Dari sudut pandang tersebut monumen yang dirancang R.M. Soedarsono itu tampak seperti lawan tanding Godzilla.

Dengan keril di punggung saya menyusup ke ruang bawah tanah Monas: Museum Sejarah Nasional. Jika saja ruangan itu sepi saya pasti akan dapat dengan jelas mendengar lagu-lagu daerah yang diputar melalui pengeras suara. Waktu itu ruangan museum berisik sekali. Lebih mengingatkan saya pada suasana Pasar Malam Sekaten ketimbang bangunan yang menyimpan rahasia purba. Siswa SD berseragam merah berlari-larian seenaknya melintasi ruang raksasa itu tanpa pengawasan. Kelompok siswa yang patuh berjejeran menghadap dinding, sibuk menyalin cerita dari papan keterangan diorama ke dalam buku catatan masing-masing.  Sementara itu para orangtua menunggu di lantai, duduk santai sambil minum atau menyamil makanan kecil. Sama sekali tak mengindahkan plang yang mengandung pesan lugas: dilarang makan dan minum.

Saya berkeliling searah jarum jam menyusuri deretan diorama. Rasanya nama “Museum Sejarah Nasional” terlalu berlebihan sebab yang dipajang di sana hanyalah diorama-diorama yang menceritakan fragmen sejarah nusantara; tentang masa prasejarah sampai zaman kerajaan-kerajaan raksasa seperti Sriwijaya dan Majapahit, masa-masa perlawanan terhadap penjajah oleh kerajaan-kerajaan di penjuru nusantara, masa-masa pergerakan nasional, dan masa kemerdekaan sampai pembebasan Irian Barat. Tidak ada satupun artefak langka hasil galian ahli purbakala. Saya merasa sekadar sedang mengulang kaji semasa sekolah dasar dan menengah dulu; membosankan. Jika ingin mendapatkan pengunjung setia, bukan sekadar siswa darmawisata, sepertinya Museum Sejarah Nasional perlu berbenah.

20140115_125755

20140115_125325

Beranjak saya ke lantai berikutnya, melintasi teras berubin marmer, lalu masuk ke dalam pintu berhias ukiran. Dari sana ada tiga pilihan. Saya bisa ke Ruang Kemerdekaan, ke puncak, atau ke cawan monas. Saya memilih untuk ke Ruang Kemerdekaan sebab ruang itu tampak gelap dan terbengkalai.

Yang pertama kali saya jumpai di ruangan itu adalah beberapa kelompok orang yang sedang tidur-tiduran di undakan-undakan seperti bangku penonton amfiteater. Hanya saja ini tidak melengkung radial melainkan persegi. Begitu saya tengadahkan wajah ke arah tengah ruangan tampak sebuah kubus raksasa seperti ka’bah berlapis marmer hitam.

Saya susuri kubus itu lalu pada satu sisi saya dapati peta Indonesia dari logam bersapih emas. Di sisi lain saya menemukan sebuah Garuda Pancasila raksasa yang terbuat dari perunggu. Sisi selanjutnya adalah teks proklamasi yang disusun oleh huruf-huruf yang juga  terbuat dari perunggu. “Semakin menarik,” batin saya. Lalu di sisi berikutnya pandangan saya beradu dengan sebuah pintu raksasa misterius.

Tingginya sekitar lima meter, berukiran warna emas dengan dasar hijau tua. Barangkali itu adalah pintu geser mekanis sebab tak saya lihat sebuah gagang pintu pun di kedua daun pintunya. Yang paling membuat penasaran adalah sebuah cahaya kuning yang memancar dari sela pintu yang tampaknya ditutup kurang erat. Saya dekati celah itu lalu saya intip: sebuah pelat logam. Sekilas tampak seperti “Surya Bolong” yang menjadi lambang Universitas Gadjah Mada. Tapi tak ada keterangan apapun tentang pintu besar yang celahnya berpendar itu.

20140115_130304

20140115_131018

Saya tinggalkan ruang gelap itu dalam keadaan penasaran. Semula saya berniat melanjutkan perjalanan ke Puncak Monas namun terpaksa mengurungkannya sebab elevator masih dalam masa perbaikan. “Minggu depan, lah,” jawab salah seorang petugas ketika saya tanya kapan elevator tersebut dapat kembali digunakan.

Saya daki anak tangga yang entah berapa jumlahnya menuju cawan. Bagi sebagian orang, Cawan Monas adalah pusat atraksi. Banyak yang memilih melewatkan ruang diorama yang membosankan untuk langsung melihat Jakarta dari cawan. Tapi memang benar, dari sana engkau bisa melihat ibukota dari sudut yang berbeda.

Dari cawan, awan hitam tampak menggantung rendah di langit Jakarta. Begitu rintik pertama jatuh saya langsung buru-buru turun.

Sambil menunggu kawan yang akan menjemput sepulang ia kerja, saya duduk membaca buku di teras Monas. Saya bersandar ke dinding, ke yoni yang semakin ke atas semakin meluas dan melengkung. Sekilas saya merasa sedang berada di dasar ombak. Dalam keadaan tak berdaya, siap untuk ditelan seketika.

Baru saja saya terserap ke dalam dunia Maya karangan Ayu Utami ketika dari pengeras suara tiba-tiba terdengar pengumuman: “Bagi para pengunjung yang ingin menyaksikan pembukaan Gerbang Kemerdekaan dan mendengarkan rekaman pembacaan naskah proklamasi oleh Bung Karno, harap segera menuju Ruang Kemerdekaan sebab pembukaan gerbang akan dilakukan tepat pukul 14.00.”

Tanya saya berjawab. Saya kemasi tas kemudian bergegas ke Ruang Kemerdekaan.

20140115_132216

About these ads

Tag: , , ,

3 Tanggapan to “Monas”

  1. lazione budy Says:

    lambang ibu kota kita.
    sekali ke sana, sejuk hawanya saat kita berteduh di sekitar Monas.

  2. MasCojack Says:

    apa yang tidak lebih membosankan dari rangkaian sejarah yang entah?
    kita dipaksa menghapal dan bukan mengerti. Entah

  3. Temudgin Says:

    Saya sudah beberapakali, tetapi selalu pas elevatornya perbaikan. Ampun deh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 102 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: