Lawu

Barangkali terlalu berlebihan untuk menyebutnya badai. Apalagi saya kurang paham mengenai klasifikasi angin. Namun yang jelas pagi ini angin bertiup teramat kencang. Pohon-pohon cemara di pinggir tebing tak henti goyang. Kabut pembawa dingin terombang-ambing dipermainkan oleh si udara yang bergerak. Meninggalkan jejak berupa putih translusen di Cemoro Kembar, Gunung Lawu. Pos 5 masih berjarak beberapa ratus meter vertikal lagi.

Seolah tak mau kalah, hujan ikut ambil bagian. Di pojok terpal, untuk menampung air Benny menaruh beberapa botol air minum kemasan yang sudah dipangkas bagian atasnya. Akhirnya saya mampu menghayati kalimat “hujan adalah berkah” sebab air meteorit itu turun persis ketika persediaan pemuas dahaga kami semakin menipis.

Hari ketiga pendakian. Dinihari tadi bingkai tenda saya patah. Tak kuasa lagi ia menahan terpaan angin setelah selama setahun menemani saya melewati malam-malam di gunung. Seolah meratap, terpal hitam yang setia menaunginya mengepak-ngepak hebat dipermainkan angin.

Angin kencang ini mungkin adalah hukuman bagi kami yang tanpa perasaan meninggalkan Jogja di saat kota itu sedang diselimuti abu vulkanik kiriman Gunung Kelud. Saya masih ingat, Senin itu ketika kami berangkat, civitas akademika UGM sedang kerja bakti membersihkan kampus yang suram disapu aksen kelabu. Jika saja masih berstatus mahasiswa, saya pasti akan turut serta.

Gerbang Candi Cetho

Menjelang pukul sepuluh, Benny, Risa, dan saya masuk ke dalam gerbong kereta Sriwedari menuju Surakarta. Selang sebentar kereta mulai berjalan. Melintasi persawahan yang semakin ke timur semakin meluas. Seharusnya kolong langit sebelah utara diisi oleh Merapi dan Merbabu. Tapi tidak hari ini. Mereka memilih bersembunyi di balik putih yang entah awan entah abu gunung berapi.

Sekarang jeda keberangkatan kereta jarak pendek menuju Surakarta semakin singkat. Setiap jam ada saja yang berangkat. Dari mulai ba’da subuh sampai malam pukul sepuluh. Tempo hari hanya ada Kereta Prambanan Ekspres (Prameks), kini sudah ada pula Sriwedari dan Madiun Jaya Ekspres–yang namanya disingkat nakal oleh PT KAI sebagai Manja Ekspres.

Pernah saya harus menyelinap memanjat gerbong kereta minyak ketika telat mengejar Prameks, semester satu dulu ketika turun dari Lawu. Waktu itu jeda kereta masih dua jam, bis Transjogja juga masih belum beroperasi. Waktu tempuh Surakarta-Jogja yang normalnya satu jam berlipat-lipat menjadi dua setengah jam sebab kereta minyak harus mengalah dengan para saudara tuanya: kereta eksekutif, bisnis, ekonomi, dan kereta barang. Hampir di setiap stasiun ia berhenti. Sialnya ia tidak berhenti di stasiun besar seperti Lempuyangan dan Tugu, hanya melambat. Saya dan kawan-kawan harus turun dengan cara melompat. Cara heroik yang sekarang menjadi agak sukar dilakukan sebab PT KAI sudah berbenah.

Kami turun di Stasiun Balapan, menyelinap di antara para juru mudi becak dan ojek yang menawarkan jasa, lalu keluar pagar stasiun menyusuri jalanan Surakarta yang masih kelabu oleh abu. Dari lampu merah Jl. Monginsidi kami berbelok ke kiri menuju pertigaan Jl. Ahmad Yani. Di sana kami menunggu bis jurusan Tawangmangu.

“Ini lewat terminal Karang Pandan, Mas?” Tanya saya pada kondektur ketika kami sudah berada di dalam bis.

“Iya, Mas,” jawabnya. “Mau ke mana, Mas?”

“Naik Lawu, Mas. Lewat Candi Cetho.”

Ia lalu menjelaskan bahwa dari Karang Pandan kami harus menyambung naik angkutan yang lebih kecil menuju Kemuning. Kemudian ia terdiam sebentar, melihat kami bertiga satu per satu, lalu kembali bicara. “Saya sih nggak berani, Mas, naik Lawu lewat Candi Cetho.”

Pos 3

Jalur ke Hargo Dumilah, puncak Lawu, via Candi Cetho memang terkenal lebih panjang dan berat. Sekitar lima belas kilometer dan harus melewati hutan lebat, tanjakan-tanjakan terjal, serta sabana yang luas. Tapi barangkali bukan kedua hal itu yang membuat Mas Kondektur berpikir panjang sebelum naik lewat Cetho. Jalur ini disebut-sebut sebagai rute pelarian raja terakhir Majapahit, Brawijaya V, yang akhirnya moksa di kawasan puncak. Atmosfir spiritualnya begitu kental.

“Pokoknya hati-hati saja, Mas. Jangan sampai terpisah. Usahakan barengan terus,” tambahnya, menciptakan selubung misteri. Bagi sebagian orang, cerita-cerita tak sempurna seperti ini bisa berujung menjadi sugesti.

Di Pasar Karang Pandan kami melengkapi perbekalan. Setelah semua beres, kami naik bis kecil yang mengantarkan ke Pasar Kemuning. Candi Cetho masih berjarak lima kilometer dari Kemuning. Dari sana kami menumpang ojek melintasi perkebunan teh milik Astra yang tampak muram akibat dilapisi muntahan abu Kelud.

Semula Suzuki Bravo yang saya tumpangi santai saja melipir punggungan demi punggungan sembari bermanuver menghindari lubang yang menganga di sana-sini. Namun akhirnya ia menyerah juga dihadang tanjakan panjang yang berujung di Gerbang Candi Cetho. Meraung-raung ia, lalu berhenti begitu saja. Saya memilih turun dan berjalan, sekalian pemanasan sebelum memulai pendakian.

Seorang pria bertopi tersenyum ramah di balik meja loket tiket masuk Candi Cetho. Ia memperkenalkan diri sebagai Harsono. Tiga tiket masuk candi disobeknya dari bundel.

“Cuma tiga ribu, Pak?” Saya menatap tak percaya pada lembaran tiket yang ia sodorkan. “Sama dengan harga tiket masuk Cetho, dong?”

“Iya, Mas,” jawabnya tetap sambil tersenyum. “Ini sebenarnya hanya pos bantuan.” Ia lalu mencatat nama dan kontak kami bertiga di sebuah kertas. Sebaliknya saya juga mencatat kontak beliau dan berjanji akan mengabari seturun kami di Cemoro Sewu.

***

“Kalau gue nggak balik dalam satu jam, susul gue ke pertigaan ya, Ben?” Pinta saya pada Benny sambil memasukkan botol-botol kosong ke dalam ransel Vaude kecil. Benny mengiyakan. Lalu saya turun dari Pos 4, berlari-lari kecil menapaki turunan terjal.

Dari pertigaan di bawah saya melihat aliran sungai kecil. Jauh di dasar lembah dan diapit tebing curam menganga. Walau lirih, saya juga dapat mendengar desirnya. Barangkali karena sulit dijangkau, jalur menuju ke sana diberi tanda X dari ranting-ranting yang disusun. Beberapa catatan perjalanan yang saya baca memang menyebutkan keberadaan sumber air di Pos 4 namun tak satu pun dari mereka yang menyatakan diri benar-benar mengambil air.

Kekurangcermatan dalam perencanaan membuat kami hanya membawa enam botol minuman kemasan bervolume satu setengah liter, untuk bertiga. Menurut perkiraan, air sejumlah itu akan mencukupi persediaan kami selama dua hari satu malam. Seharusnya pada malam kedua, jika sudah tiba di Mbok Yem, kami tak perlu lagi memikirkan persediaan air. Tinggal bilang ke empunya warung, segelas kopi hangat akan tiba di depan mata dalam satu kedipan. Nyatanya sampai hari kedua kami bahkan belum mencapai Pos 5, sementara air hanya tersisa satu botol.

Mau tak mau kami harus memaksimalkan semua kemungkinan yang ada untuk mencari tambahan persediaan air.

Semula jalur setapak pinggir jurang itu tampak wajar. Masih ada sampah permen di sana-sini menandakan bahwa secara berkala ia masih dijamah manusia. Beberapa kali saya melangkahi potongan paralon putih yang entah kenapa bisa berada di sana–barangkali peninggalan dari proyek pipa air yang terbengkalai. Mata saya tak henti mencari-cari jalan menurun yang akan membawa saya ke aliran air di dasar lembah.

Lalu jalur itu menjadi semakin sulit untuk dilewati. Beberapa kali saya bahkan harus melakukan traversing dengan hanya berpegangan pada batu besar yang licin. Hampir lima belas menit saya berjalan, jalan ke bawah urung jua ditemukan. Saya terus berjalan sampai akhirnya berhadapan dengan tebing hampir vertikal. Kiri tebing, kanan jurang. Buntu. Saya harus rela balik kanan.

Dalam perjalanan kembali ke Pos 4, sandal gunung saya putus akibat tersangkut tanaman merambat yang menutupi jalur.

Sabana Bulak Peperangan

Impossible, Ben!”

Tampak dari ekspresinya, Benny kaget melihat saya tiba-tiba muncul kembali di Pos 4 tanpa diiringi suara apapun. Ia sedang sibuk membuat bivak dari terpal berukuran dua kali tiga, terpal yang selalu ia banggakan dan bandingkan dengan terpal buatan lokal milik saya yang boros tempat.

“Lho, Jo?” Ia lepaskan  terpal itu dari pegangan. “Kok nggak kedengeran suara kaki lu?”

Saya tunjuk sandal putus yang tergeletak di tanah.

“Mustahil, Ben,” entah kenapa saya mengulang kalimat pertama tadi, kali ini dalam Bahasa Indonesia. “Udah gue susurin jalan itu sampai ujung tapi nggak ketemu jalur turun ke bawah.”

“Ya udah, Jo. Enggak apa-apa. Mudah-mudahan di Telaga Menjagangan ada air,” tanggapnya ringan. “Gue hampir aja bangun bivak. Siap-siap kalau kita kemalaman dan nggak bisa jalan lagi.”

Tidak mau terjebak gelap di Pos 4 yang cukup terbuka, kami lanjutkan perjalanan. Sudah sore. Angin mulai bertiup kencang, kabut datang, dan guruh mulai bersuara dari entah sebelah mana. Kami berusaha santai menerima kenyataan. Tapi jauh dalam hati kami bertiga sama-sama paham, bahwa pada titik itu satu-satunya hal yang mampu kami lakukan adalah menanti kemurahan hati tuhan.

***

Meskipun corong suara avanza itu memutar lagu Rafika Duri–yang saya tak paham judulnya–namun dalam kepala saya yang bergaung malah lagu The Kinks yang berjudul “This Time Tomorrow”. Benar kiranya bahwa apa yang tersaji di masa depan sama sekali tak dapat ditebak.

Tadi pagi kami masih berkemah di tepi sabana Telaga Menjangan. Siang sedikit kami mulai berjalan melipir bukit, melintasi jalan setapak yang berhias cantigi di kanan-kiri, terbius suasana mencekam Pasar Dieng yang legendaris, sampai akhirnya tiba di Hargo Dalem yang hening. Sekitar satu jam kami menghabiskan waktu di Warung Mbok Yem, menyeruput minuman bersoda dan kopi sambil bermain-main dengan ayam kampung peliharaan Si Mbok.

Sekitar satu jam yang lalu kami masih sibuk berjibaku menuruni jalan berbatu jalur Cemoro Sewu. Sekarang kami duduk nyaman di bangku sebuah mobil, dimanjakan oleh pendingin ruangan bertemperatur pas. Risa yang kecapaian tidur di samping saya.

Telaga Menjangan

“Kayak di Selandia Baru ya, Jo?” Ujar Benny sambil menunjuk pada perbukitan yang telah disulap manusia menjadi lahan pertanian. Saya hanya menjawab dengan senyuman sebab sama sekali belum pernah ke negeri yang dimaksud Benny itu, negeri tempat Sir Edmund Hillary berasal. Tapi jalan meliuk-liuk yang menghubungkan Karanganyar dan Tawangmangu itu memang tak pernah terasa membosankan. Setiap kali lewat ada saja hal baru yang bisa saya lihat.

Kami diberi tumpangan oleh dua orang peziarah dari Karanganyar. Mereka naik tadi pagi dari Cemoro Sewu dan tiba di puncak sekitar pukul sebelas siang. Kami berpapasan dengan mereka di Hargo Dumilah. Mereka naik, kami turun. Mereka tiba di bawah hanya selang beberapa menit setelah kami sampai. Kontras sekali dibandingkan kami yang melakukan pendakian selama empat hari tiga malam.

“Nggak capek, Pak?” Tanya Benny. Tak jelas pada siapa.

“Wah… Kalau ini niatnya lain. Bukan wisata,” salah seorang menjawab sambil tersenyum.

Saya ikut tersenyum. Lalu saya palingkan wajah ke jendela mobil, mengagumi rona jingga yang memenuhi langit. Meskipun obyeknya sama, setiap orang memiliki tujuan masing-masing ketika mendaki gunung. Bagi mereka naik gunung adalah sebuah perjalanan spiritual, perjalanan menuju diri sendiri yang sebaliknya justru berujung pada penghayatan atas kebesaran Sang Khalik. Sedang tujuan saya naik gunung masih praktis dan dangkal: sekadar melatih fisik, menikmati alam, dan menciptakan kenangan.

Saya termenung. Mendadak merasa sedang terjebak dalam pusaran arus utama yang menyeret saya entah ke mana–arus utama orang-orang yang hanya menganggap gunung sebagai arena bermain–dan terombang-ambing dipermainkan jeram. Tapi biarlah dulu. Saya sadar ini baru permulaan. Mungkin di ujung jeram nanti  saya akan mampu melihat semua dengan lebih jelas dan menyimpulkan semua dengan lebih jelas pula.

Mobil tiba-tiba berhenti. Lalu mundur dan masuk ke sebuah jalan kecil yang berujung ke sebuah restoran lumayan besar.

“Ayo kita makan dulu?” Melihat ekspresi kami yang kurang yakin, bapak yang mengemudikan mobil menambahkan sambil tergelak. “Tenang saja. Saya yang bayar. Toh, kalian kan masih mahasiswa. Masih minta sama orangtua, kan?”

Hargo Dumilah

Logistik
Jogja-Surakarta dengan kereta (Rp. 20.000), Solo-Karang Pandan dengan bis (Rp. 10.000), Karang Pandan-Kemuning dengan bis kecil (Rp. 5.000), Ojek Kemuning-Candi Cetho (Rp. 15.000), tiket masuk Candi Cetho (Rp. 3000). Kontak loket Candi Cetho +6285229494251 (Harsono).
About these ads

Tag: , ,

10 Tanggapan to “Lawu”

  1. mandor Says:

    keren banget perjalanan sampeyan ke gunung lawu kali ini. Serasa saya mengikut di ceritanya. Eh padahal kan bisa naik dari cemoro sewu yah …

  2. Fancuy Says:

    CIE MASIH DIANGGAP MAHASISWA HAHA! Masih minta sama orang tua nih…

  3. lazione budy Says:

    kangen ke Lawu lagi..

  4. MasCojack Says:

    “masa muda, masa yang berapi-api.” – H.Rhoma Irama

  5. molen Says:

    belum pernah ke sana. suatu saat mungkin… mantab euy pemandangannya

  6. mila said Says:

    cieeee… selandia baru. Tapi cerita cari air itu beneran menegangkan.

  7. Pista Simamora Says:

    cukup tebal ya embun nya :D

  8. Kurology Says:

    hanya dengan membaca postingan ini saya ikut merasakan capek. lalu teringat kembali ketika tracking masuk ke hutan gambut, sampai saya beberapa kali terkapar. air minum habis, dan kami berburu kantong semar untuk diminum airnya. saya baru merasa selamat ~ sama dengan yang sampean rasakan ~ ketika sudah berada di dalam mobil, sambil mengingat-ingat lagi waktu-waktu yang berat itu

  9. setyawanrizal Says:

    dramatis mas critanya dan terimakasih, karena cerita ini kemarin saya dan rombangan saya bawa banyak bekal air minum.

  10. zetri Says:

    Nice trip ajo !!… never give up.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 102 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: