Arsip untuk ‘highland’ Kategori

Selubung Anjani

Juni 12, 2013

Foto oleh @failureproject

Di dalam kamar yang sempit ini kening saya berkeringat. Barangkali bukan karena lupa menghidupkan kipas angin. Sudah sekitar setengah jam saya mengubek-ubek folder demi folder dalam hardisk komputer jinjing ini untuk mencari tulisan pembuka saya mengenai Pendakian Rinjani, yang saya buat sebelum wisuda, namun tiada kunjung saya temukan. Padahal, sepanjang ingatan, saya puas sekali dengan tulisan itu. Dan apa yang lebih berarti dari kepuasan terhadap karya sendiri?

Semesta berpendapat lain mungkin, bahwa tulisan itu belum layak terbit di blog, masih prematur, masih perlu perenungan yang lebih mendalam. Apapun, saya berusaha untuk memulai kembali cerita Rinjani dari awal.

DSC_0096

Sebuah pendakian tak ubahnya bagai perjalanan seorang manusia yang dimulai dari pertemuan sel gamet, lahir, tumbuh besar, menanjak ke atas, mengalami masa keemasan secara fisik dan mental, untuk kemudian perlahan kembali melemah, menurun kondisinya sampai pada suatu ketika meninggal, membusuk, terurai. Nol, hampa, suwung, tiada. Jarang sekali manusia yang mampu mengingat tahap demi tahap perkembangan yang mereka alami. Begitu juga saya. Yang dapat saya ingat hanya minggu pagi itu kami bertiga masuk ke dalam peron Stasiun Lempuyangan, menyandang keril besar di pundak dan ransel kecil di depan.

Kami melangkah ke dalam gerbong lima Kereta Api Sri Tanjung yang membuat saya pangling. Sebuah kejutan dari PT KAI, kereta legendaris itu sekarang punya pendingin ruangan. Perusahaan jawatan itu berbenah. Hilang sudah pengap, bau, dan orang-orang yang berjejalan. Tak lagi dijual tiket berdiri, setiap orang dengan tiketnya masing-masing duduk pada bangku yang telah ditentukan.

Lalu setelah Sri Tanjung melaju, rasanya seperti ada bising yang hilang. Di mana para pedagang asongan? Biasanya sepagian ini sudah berlalu-lalang mbok-mbok penjaja nasi goreng atau nasi rames berlauk ayam atau ikan. Juga para pedagang minuman dan rokok. Ah, ya, tidak boleh lagi merokok di dalam gerbong dan di bordes.

Sebagai ganti, pagi itu yang beredar adalah petugas berseragam dari gerbong restorasi. Mereka menjajakan nasi, minuman, dan menawarkan bantal. Ada juga yang diberi tugas khusus untuk menyapu sampah penumpang, menggantikan peran orang-orang yang biasa menyapu sampah dengan menuntut imbalan.

Sebelum memulai aktivitas, para petugas itu berkumpul di bangku-bangku kosong. Di samping latar persawahan yang bergerak cepat, mereka berkelakar, bersenda gurau, tertawa kencang, dan terkadang terasa berlebihan. Namun, setelah mengamati mereka seharian, saya menjadi maklum bahwa itu semua mereka lakukan untuk mengisi energi sebelum tenggelam dalam derita jam kerja yang panjang. Tiada pergantian giliran tugas dalam perjalanan sekitar dua belas jam itu. Mereka harus tetap bugar dan tampak segar sepanjang perjalanan.

Melihat ransel di kompartemen dan penampilan kami, salah seorang dari petugas itu bertanya, “Mau ke mana, Mas?”

“Ke Lombok, Mas. Mau naik Rinjani,” jawab Eka yang duduk paling dekat dengan lorong.

Kemudian mengalirlah pembicaraan. Salah seorang lalu mengungkapkan bahwa ia telah menjelajah sampai ke pulau-pulau terujung gugusan Nusa Tenggara Timur. “Sambil bekerja, sebenarnya,” tambahnya. Namun, katanya, ia tak betah dan meminta untuk pulang saja ke Jawa. Pahit! Kami bertamasya ke Lombok menghabiskan duit, ia ke ujung Nusa Tenggara untuk mencari.

Saya agak teriritasi dengan salahseorang dari mereka yang berkali-kali berkata: “Wah, mending uangnya kasih saya, Mas.” Saya bukan tidak berempati padanya yang terkadang harus terjungkal, secara harfiah, untuk sekadar menyambung hidup. Namun saya sendiri memaknai perjalanan lebih dari sekadar perak demi perak rupiah yang dikeluarkan. Bagi saya sebuah perjalanan tidak ditandai dengan seberapa sedikit atau banyak uang yang dihabiskan. Perjalanan merupakan salahsatu bentuk dari peresapan saripati kehidupan.

Sebagai mahasiswa, kondisi keuangan saya ditentukan oleh kiriman orang tua. Untuk melakukan perjalanan, saya harus menyisihkan sebagian jajan, sekaligus dituntut bersiap-siap mengencangkan ikat pinggang di akhir bulan. Baju baru bagi saya bukan pilihan. Perjalanan, iya.

Dan lagi, jumlah uang yang dihabiskan seseorang tidak selalu linier dengan pengalaman yang didapatkan, tergantung cara masing-masing menghayatinya. Kira-kira, seandainya saya menghibahkan anggaran perjalanan yang tidak seberapa ini untuk petugas itu, akan ia gunakan untuk apa? (lagi…)

Sri Gethuk’s untold stories

Maret 21, 2013

Mendung itu perlahan berubah menjadi hujan. Semula hanya rintik, namun ketika saya dan ketiga kawan tiba di parkiran Sri Gethuk, ia berubah deras. Deras itu membuat air Sungai Slempret menjadi keruh, berbeda drastis dibandingkan alirannya ketika musim kering–biru jernih kehijauan, walau tak sampai toska.

Perbukitan batugamping yang mengapit sungai disamarkan oleh tirai hujan yang tebal. Di kejauhan malah sebagian sudah berselimut halimun. Meskipun begitu, alam tetap tak kuasa menyembunyikan puncak air terjun yang menyembul di antara rekahan gemunung. (lagi…)

What doesn’t kill you

Januari 3, 2013

Tangan saya meraih-raih sekuat tenaga mencari pegangan yang tak kunjung ditemukan. Tubuh ini tetap saja merosot dan tergerus kerikil tajam. Perih. Teguh dan Eka yang berada di bawah memanggil-manggil nama saya dengan cemas. Saya tahu sejenak lagi mereka pasti akan menahan napas, saya sudah di ujung punggungan kecil itu dan sedikit lagi akan jatuh menggelinding ke dalam mulut jurang.

Tekad untuk bertahan hiduplah yang menyelamatkan saya. Setengah mati saya dekapkan tubuh ke tebing kemudian saya tahan lajunya dengan perut. Berhasil, saya berhenti merosot. Kedua kawan bernapas lega. Di atas tebing yang stabil, saya duduk sambil menghela napas panjang. Di bawah, sambil sesekali tertutup kabut, tampak Pasar Bubrah, camp terakhir Gunung Merapi sebelum puncak, ramai dihiasi tenda beraneka warna. Hari ini Merapi sedang berbaik hati, saya tidak jadi ditelannya. Mungkin karena ia ikut bersuka cita menyambut tahun baru 2013. (lagi…)

Di Gedong Songo

Oktober 25, 2012

Senja

Jika ingin menikmati sebuah tempat indah, pergilah ke sana ketika tempat itu berada dalam keadaan sepi. Suatu sore di awal Oktober, saya turun di pertigaan Poli, Ambarawa. Dari Poli saya menyambung naik elf, bergelantungan bersama penduduk lokal sampai ke pertigaan jalan masuk Candi Gedong Songo.

Dari pertigaan saya berjalan kaki sekitar tiga kilometer sampai ke gerbang Gedong Songo. Sebenarnya di pertigaan ada pangkalan ojek. Namun saya lebih memilih untuk berjalan kaki. Naik ojek pasti akan mahal. Ongkosnya barangkali lebih mahal daripada yang saya bayar untuk naik bis sekitar 100 km dari Jogja ke Ambarawa. Dan selain hemat, jalan kaki ke Candi Gedong Songo juga menyenangkan karena kau akan melewati perkebunan bunga. Sesekali tengoklah ke belakang, gemunung tersibak di balik awan, dan di kakinya air Rawa Pening berpendaran. (lagi…)

Di Jalan Daendels

Oktober 3, 2012

Keajegan itu melenakan. Tadi, selama beberapa saat saya harus berkonsentrasi berkendara di jalan bukit selepas Pantai Ayah. Sekarang kami berada di Jalan Daendels Selatan yang lurus bukan main. Membujur sekitar 150 kilometer dari Cilacap sampai Purworejo. Mata saya harus bekerja ekstra menahan kantuk yang sesekali datang menyerang. Terkadang motor yang kami tumpangi oleng kanan-kiri karena berpapasan dengan truk. Jalan militer yang dibangun pada dekade pertama abad ke-19 itu menyusur pesisir selatan Jawa, berjarak sekitar satu kilometer dari pantai. Jejeran pepohonan kelapa seolah secara sukarela memagari Jalan Dandels dari ganasnya Samudra Hindia. Saat itu pagi menjelang siang namun matahari sudah garang. Bahkan, sesekali saya dapat melihat fatamorgana di kejauhan; awalnya tampak seperti genangan air di tengah jalan, namun setelah didekati ia hilang. Lagu “This Time Tomorrow” gubahan The Kinks terngiang-ngiang dalam kepala saya. (lagi…)

Di Haribaan Nglanggeran

Juni 18, 2012

Di sinilah saya. Duduk bersila bersama kawan-kawan di pucuk undakan breksi andesit di sebuah situs kemping. Barangkali hanya terpaut 20 meter dari puncak Gunung Nglanggeran. Kaki langit tampak semarak dengan kemerlap lampu sejuta warna. Sangat kontras dengan langit malam yang sepi gemintang. Mestinya kami naik kemarin malam, ketika langit telanjang tanpa selimut awan. Tapi tak mengapa, toh tujuan bukan segalanya. (lagi…)

Hari Terakhir di Belitung

Oktober 13, 2011

Hari terakhir di Belitung adalah yang paling menguras tenaga. Pagi-pagi sekali saya sudah  meluncur dari Tanjung Kelayang dengan Honda CS1. Motor “meleset” itu dari kemarinnya memang sudah berulah. Tidak bisa digeber ngebut. Digas sedikit saja langsung meraung-raung. Tidak mungkin motor itu kehausan, bensinnya terus saya isi penuh. Agak-agaknya koplingnya yang bermasalah. Motor itu berkopling tapi seperti tanpa kopling.

Jadi senin pagi itu, dengan motor yang meraung-raung, saya turun ke Tanjung Pandan. Beberapa belokan pertama kondisi motor masih dalam antisipasi saya; jalannya agak pelan tapi kalau dipaksa sedikit bisa laju. Saya masih bisa meliuk-liuk kanan kiri sesekali, walaupun memotong kendaraan lain agak susah. (lagi…)

Beranda Negeri

Juni 11, 2011

Semakin jauh melangkah ke ujung negeri, semakin saya sadar bahwa pemerintah memberlakukan standar ganda; mereka minta dihargai namun tidak mau menghargai. Kampanye untuk mempertahankan NKRI terus digaungkan, sementara kondisi masyarakat di perbatasan luput dari perhatian. Entah sengaja, entah tidak.

Entikong, kecamatan paling utara Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Negara Jiran, namanya tidak semahsyur Nunukan. Daerah ini jarang diekspos, meskipun di sana berdiri sebuah Pos Lintas Batas besar yang setiap hari melayani ribuan imigran. (lagi…)

Kawah Ijen 650 KM

Februari 16, 2011

Kamis tengah hari, awal Februari. Akhirnya saya dan Obi sampai juga di bibir Kawah Ijen, perbatasan Banyuwangi-Bondowoso, Jawa Timur. Kak Mey dan Asep masih jauh di bawah. Kabut dingin dan asap belerang seperti bahu membahu bersekutu menyembunyikan keindahan Danau Kawah Ijen yang berwarna biru toska itu dari pandangan. (lagi…)

Sunset Yang Tenggelam*

April 1, 2010

Walaupun sebenarnya belum pernah ada yang bertanya pada saya “Di manakah sunset terbaik yang pernah kau lihat?”, saya yakin akan menjawabnya dengan garukan di kepala. Bukannya bingung karena semua sunset menurut saya sama indahnya. Sebaliknya, menurut saya sunset itu di mana-mana sama. (lagi…)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.