Foto oleh @failureproject
Di dalam kamar yang sempit ini kening saya berkeringat. Barangkali bukan karena lupa menghidupkan kipas angin. Sudah sekitar setengah jam saya mengubek-ubek folder demi folder dalam hardisk komputer jinjing ini untuk mencari tulisan pembuka saya mengenai Pendakian Rinjani, yang saya buat sebelum wisuda, namun tiada kunjung saya temukan. Padahal, sepanjang ingatan, saya puas sekali dengan tulisan itu. Dan apa yang lebih berarti dari kepuasan terhadap karya sendiri?
Semesta berpendapat lain mungkin, bahwa tulisan itu belum layak terbit di blog, masih prematur, masih perlu perenungan yang lebih mendalam. Apapun, saya berusaha untuk memulai kembali cerita Rinjani dari awal.
Sebuah pendakian tak ubahnya bagai perjalanan seorang manusia yang dimulai dari pertemuan sel gamet, lahir, tumbuh besar, menanjak ke atas, mengalami masa keemasan secara fisik dan mental, untuk kemudian perlahan kembali melemah, menurun kondisinya sampai pada suatu ketika meninggal, membusuk, terurai. Nol, hampa, suwung, tiada. Jarang sekali manusia yang mampu mengingat tahap demi tahap perkembangan yang mereka alami. Begitu juga saya. Yang dapat saya ingat hanya minggu pagi itu kami bertiga masuk ke dalam peron Stasiun Lempuyangan, menyandang keril besar di pundak dan ransel kecil di depan.
Kami melangkah ke dalam gerbong lima Kereta Api Sri Tanjung yang membuat saya pangling. Sebuah kejutan dari PT KAI, kereta legendaris itu sekarang punya pendingin ruangan. Perusahaan jawatan itu berbenah. Hilang sudah pengap, bau, dan orang-orang yang berjejalan. Tak lagi dijual tiket berdiri, setiap orang dengan tiketnya masing-masing duduk pada bangku yang telah ditentukan.
Lalu setelah Sri Tanjung melaju, rasanya seperti ada bising yang hilang. Di mana para pedagang asongan? Biasanya sepagian ini sudah berlalu-lalang mbok-mbok penjaja nasi goreng atau nasi rames berlauk ayam atau ikan. Juga para pedagang minuman dan rokok. Ah, ya, tidak boleh lagi merokok di dalam gerbong dan di bordes.
Sebagai ganti, pagi itu yang beredar adalah petugas berseragam dari gerbong restorasi. Mereka menjajakan nasi, minuman, dan menawarkan bantal. Ada juga yang diberi tugas khusus untuk menyapu sampah penumpang, menggantikan peran orang-orang yang biasa menyapu sampah dengan menuntut imbalan.
Sebelum memulai aktivitas, para petugas itu berkumpul di bangku-bangku kosong. Di samping latar persawahan yang bergerak cepat, mereka berkelakar, bersenda gurau, tertawa kencang, dan terkadang terasa berlebihan. Namun, setelah mengamati mereka seharian, saya menjadi maklum bahwa itu semua mereka lakukan untuk mengisi energi sebelum tenggelam dalam derita jam kerja yang panjang. Tiada pergantian giliran tugas dalam perjalanan sekitar dua belas jam itu. Mereka harus tetap bugar dan tampak segar sepanjang perjalanan.
Melihat ransel di kompartemen dan penampilan kami, salah seorang dari petugas itu bertanya, “Mau ke mana, Mas?”
“Ke Lombok, Mas. Mau naik Rinjani,” jawab Eka yang duduk paling dekat dengan lorong.
Kemudian mengalirlah pembicaraan. Salah seorang lalu mengungkapkan bahwa ia telah menjelajah sampai ke pulau-pulau terujung gugusan Nusa Tenggara Timur. “Sambil bekerja, sebenarnya,” tambahnya. Namun, katanya, ia tak betah dan meminta untuk pulang saja ke Jawa. Pahit! Kami bertamasya ke Lombok menghabiskan duit, ia ke ujung Nusa Tenggara untuk mencari.
Saya agak teriritasi dengan salahseorang dari mereka yang berkali-kali berkata: “Wah, mending uangnya kasih saya, Mas.” Saya bukan tidak berempati padanya yang terkadang harus terjungkal, secara harfiah, untuk sekadar menyambung hidup. Namun saya sendiri memaknai perjalanan lebih dari sekadar perak demi perak rupiah yang dikeluarkan. Bagi saya sebuah perjalanan tidak ditandai dengan seberapa sedikit atau banyak uang yang dihabiskan. Perjalanan merupakan salahsatu bentuk dari peresapan saripati kehidupan.
Sebagai mahasiswa, kondisi keuangan saya ditentukan oleh kiriman orang tua. Untuk melakukan perjalanan, saya harus menyisihkan sebagian jajan, sekaligus dituntut bersiap-siap mengencangkan ikat pinggang di akhir bulan. Baju baru bagi saya bukan pilihan. Perjalanan, iya.
Dan lagi, jumlah uang yang dihabiskan seseorang tidak selalu linier dengan pengalaman yang didapatkan, tergantung cara masing-masing menghayatinya. Kira-kira, seandainya saya menghibahkan anggaran perjalanan yang tidak seberapa ini untuk petugas itu, akan ia gunakan untuk apa? (lagi…)












