Saya termenung tepat di garis imajiner yang membagi bumi menjadi dua, khatulistiwa. Satu langkah ke utara, saya berada di lintang utara, begitu juga jika saya melangkah ke selatan, akan tiba di lintang selatan. Lama-lama di sini hobi saya bisa bertambah satu; latitude hopping.
Banyak yang berkecamuk dalam kepala; perasaan bingung, perasaan dibohongi mentah-mentah, kekecewaan. Apa pasal? Empat jam berkendara ke utara dengan motor matic hanya mengantarkan saya ke sebuah gerbang bertuliskan “Anda Melintasi Khatulistiwa” beserta terjemahan, dengan gedung bundar rusak di sisi baratnya. (lagi…)









