Generalisasi=hati-hati nyawa melayang..

Seringkali seseorang dibingungkan dan salah kaprah jika orang lain menarik kesimpulan. Banyak sebabnya. Antara lain data yang kurang valid dan banyak, sumber yang kurang bisa dipercaya, atau orang yang berkesimpulan itu kurang bisa dipercaya(lho?). Dan ada satu penyebab lagi, yaitu kesalahan memilih metode yang paling baik dalam menyimpulkan suatu permasalahan.

Dahulunya, para filsuf memakai metode deduksi dalam membuat kesimpulan. Namun setelah metode induksi ditemukan, deduksi tumbang. Alasannya adalah karena metode induksi lebih bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Nah, metode induksi yang sering digunakan ada dua:

  1. Silogisme : metode induksi yang menarik kesimpulan berdasarkan premis umum dan premis khusus yang telah ada sebelumnya. Contohnya : Semua manusia mempunyai tangan, Fuji manusia, kesimpulan : Fuji mempunyai tangan..
  2. Generalisasi : metode induksi yang menghasilkan satu kesimpulan umum berdasarkan data yang ada. Contohnya : X rajin belajar, X juara kelas. Y rajin belajar, juga juara kelas. Z juga rajin belajar dan juara kelas. Dari keterangan-keterangan di atas dapat ditarik suatu kesimpulan umum yaitu : semua anak yang rajin belajar juara kelas. Tapi apakah semua anak yang rajin belajar juara kelas? Oh, tidak, kawan.

Tentu kita telah memahami metode-metode penarikan kesimpulan. Selanjutnya kita akan mempersempit bahasan kita mengenai metode induksi generalisasi.

Nah, kita harus sangat hati-hati dalam menggeneralisasikan sesuatu. Tidak semua hal bisa digeneralisasikan. Menurutku, ada dua jenis generalisasi berdasarkan akibatnya terhadap nyawa kita sendiri (atau bisa dibilang : salah-salah generalisasi, bisa kehilangan nyawa) :

  • Generalisasi positif : generalisasi yang menyimpulkan kepada yang baik. Pembuat kesimpulan (jika tidak dipanggil malaikat maut) tidak akan kehilangan nyawanya dalam waktu dekat. Contoh : W adalah alumni smansa padang, dia ganteng. X alumni smansa padang, X ganteng. Y alumni smansa padang, juga ganteng, Z juga alumni smansa padang, juga ganteng. Jadi bisa digeneralisasikan bahwa hampir alumni smansa padang ganteng-ganteng. Jadi, aku yang notabene tidak terlalu ganteng, bisa saja masuk ke dalam hampir semua alumni itu. Jelas kesimpulan itu tidak akan menimbulkan kericuhan. (mweheheheh…)
  • Generalisasi negatif : atau bisa kubilang generalisasi ke yang negatif. Pembuat kesimpulan terancam kehilangan nyawa begitu pernyataan diungkapkan. Contoh : Di sebuah kosan cowok berjudul Putra Bejat diketahui bahwa : A adalah penjahat kelamin, B juga penjahat kelamin, C begitu juga, penjahat kelamin, D juga penjahat kelamin. Jika ada yang berkesimpulan tolol bahwa hampir semua penghuni kosan Putra Bejat itu adalah penjahat kelamin, dipastikan si pembuat kesimpulan segera masuk acara BUSER.

Klasifikasi di atas hanya menurut pemikiranku, lho. Gak semua yang lo baca itu bener.. hehe. Nah, sebagai penutup ada beberapa saran yang bisa kuberikan kepada orang-orang yang berencana setelah ini akan menggeneralisasikan sesuatu :

  1. Pahamilah dulu dengan benar apa itu generalisasi.
  2. Berhati-hatilah jika akan menggeneralisasikan sesuatu yang negatif.

Itu saja dulu. Ciao!!

3 pemikiran pada “Generalisasi=hati-hati nyawa melayang..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s