Percuma Menyi[n]dir Mereka

Kembali lagi ke sebuah negeri antah berantah. Yang bercakap-cakap masih Badu dan Atai. Yaps, si Badu masih full ide dan Atai masih skeptis.

Badu memulai pembicaraan.

“Tai,” *bacaanya tay, bukan ta-i. “Udah lihat iklan di tipi itu belum?”.

“Yang mana?” Atai balik bertanya. Badu mencari tali nilon untuk bunuh diri.

“Arrghh!!” Badu mengusap-usap muka kegemesan, “itu lho, yang katanya yang muda belum boleh bicara. Kalo gak salah syutingnya di bus gitu..”

“Oo, itu. Ya, ya, ya..” Atai mengangguk-angguk. “yang mana, sih?”

*Gubrak!!

Singkat cerita si Atai sudah tau iklan yang dimaksud dan pembicaraan sudah nyambung. Obrolan pun bergulir.

“Benar-benar menohok, ya, iklannya,” Badu mengungkapkan pendapat, “karena memang benar di negeri ini kalo udah tua baru pendapatnya didengarkan.”

“Ehm, tapi kurasa iklan itu tidak akan memberikan pelajaran moral bagi petinggi-petinggi kita itu. Palingan cuma penjualan rokoknya aja yang naik. Tidak akan ada diantara mereka yang tersindir. Mereka itu kalau mendengarkan orang : masuk kanan keluar kiri. Tidak dimasukkan ke otak,” ujar Atai berapi-api.

“Jadilah negeri kita seperti ini. Lebih kacau dari rimba. Yang kaya karena korupsi semakin kaya, yang miskin karena jatahnya dikorupsi semakin miskin.” Lanjutnya.

“Iya juga, ya?” Pikir Badu.

34 pemikiran pada “Percuma Menyi[n]dir Mereka

  1. [OOT]
    Headernya keren euyy..!
    Dapat darimana itu anak genjreng2 gitar begitu?😛

    *minat*
    [/OOT]

    Ya, kalo ndak bisa disindir, kemplang saja. Berontak donk!😈

  2. Sebenarnya .. bukan soal tua atau muda. Tapi apakah seseorang itu open mind atau kagak. Saya pikir .. selama seseorang itu open mind dan ga antipati .. Insya Allah, masukan tetap berguna. Ga peduli apakah orang itu sudah tua atau muda.

    Ada koq (bukan banyak loh) orang tua yang mau mendengar yang dikatakan oleh orang muda. Dan aja juga (bukan banyak loh) orang muda yang ga mau dengar apa yang dikatakan oleh orang tua.

    Kalau soal otak sih, pasti ada lah di setiap manusia. Kalo ga ada, ga mungkin hidup. Hanya saja sering ga dipakai untuk berpikir .. apa yang dilihat, dirasa, didengar, dibaca, dicium lewat seluru indra yang ada langsung direspon ga melalui proses berpikir. Kira2 begitu deh.

    Oya .. thanks ya sudah mampir. Keep in touch bro.

  3. @hoek
    hmm… sbnarnya juga terpikir kemungkinan seperti itu..
    tapi, buktinya mereka masih bisa menggelapkan uang rakyat ngibulin publik.. kan artinya mereka cerdik..
    yah, masih punya otak lah, tapi digunakan untuk hal yang menyimpang..:mrgreen:

    @beratz
    wehehe… anda belum beruntung..😆
    thx dah mampir, om beratz..😀

    @goop
    thx bro,

    Atay : tapi kita tetep kudu menyindir mereka du!!
    Badu : Ayolah, siapa tau ad yg masih berotak, meski kecil dan kotor

    lanjutan yang bagus, setuju gw..
    he..😈

    @Resta
    hmm,,, sepertinya memang perlu dirukyah..:mrgreen:

    @alex
    #ya iya lah keren,, he…:mrgreen:
    itu sebenernya wallpaper BECK yang gw crop..
    dapat dari komputer temen, he…
    #wuih,radikal..
    tapi kita cari pendukung dulu,, haha,,

    @gimbal
    berarti lo perlu berusaha lebih baik lagi, gim..
    he..
    RSS feed aja blog gw ini:mrgreen:

    @Anang
    ada kemungkinan juga..
    orang yg sudah terlalu sering melakukan hal jahat hatinya memang jadi beku, buta..

    @Akbarkadabra
    yoi, bro..
    thx dah mampir..😀

    @Xaliber von Reginhild
    Amin..
    tapi gw masih heran. udah banyak sinetron yang menceritakan akhir hayat orang yang menggelapkan uang umat, masiihh aja belum sadar..😦

    @Regsa
    generasi siapa?? mereka atau kita??
    cuma kalo dipikir2 kita juga dapet pengaruh mereka, lho..
    lihat aja contohnya Mulyana W Kusumah yang dulu juga dikenal sebagai seorang reformis.. malah ujung2nya ditahan karena dugaan korupsi.. ckck..
    tapi solusi itu gw kira tepat untuk IPDN.. he..

    @GRak
    ayo, ayo kita ngomong..
    dan BIKIN mereka mendengarkan..

    @almascatie
    bener, bener,,
    keputusan tetap berada di tangan bapak😈

    @erander
    yaps, tergantung orangnya open minded atau tidak.
    namun sepertinya sudah hukum alam kalo orang yang sedang berada di atas walaupun ORANG2 yang mengangkatnya ke atas untuk menutup telinganya dari pendapat orang yang sedang berada di bawah..
    hmm.. yang di paragraf 2 juga gw setuju..
    dan pastilah ada formula untuk mengatasinya (misalnya diberikan terapi ESQ)..
    hehehe..
    sama2 bro. yaps, keep in touch.

    @almascatie2
    wehehe,,,
    menyi[n]dir.. thx atas koreksinya, bro..
    gile, lo teliti juga..
    untuk belum banyak yang sadar😆

    @qzink
    hwehwe..
    bener tuh.
    yang digembar-gemborkan kan “KEBEBASAN BERPENDAPAT”,
    cuma “HAK UNTUK DIDENGARKAN” gak disebut2 tuh..😆

    @kurt
    wehehe…
    thx atas pujiannya sama Atai..😆
    artikel anda sudah saya baca,
    menarik..😆
    thx dah mampir, ya..

    @calonorangtenarsedunia
    apa perlu kita beliin mereka congkel telinga??
    heran, duit banyak tapi seperti gak ada duit beli congkel telinga:mrgreen:

    @abeeyang
    wehehehe..
    kan orang tua yang di perwakilan itu sudah berpengalaman dalam hal menipu rakyat.. hehehe…
    mending mereka dulu gak usah kampanye.. daripada nambah dosa..
    tapi gw heran aja kok masih ada juga massa yang datang mendengarkan mereka menipu😆

    @alex
    lex, mending pedopil daripada odipus kompleks itu.. hehehe…😆

  4. walaupun telinga “mereka” sudah tebal setebal es di kutub utara, bukan berarti tidak bisa ditembus kan ?😉

    sekedar berbagi cerita,

    dulu saya juga waktu ngeblog pertama kali dan meneriakkan idealisme anak muda, sempat terpikir oleh saya : apakah teriakan ini akan didengar ?

    tapi akhirnya pikiran itu menghilang dengan sendirinya. yang penting saya telah bersuara. mau masalah didengar atau tidak, itu bukan masalah lagi. Teriakan itu adalah wujud idealisme (atau bisa dikatakan kepedulian). Kalau saya sudah nggak peduli lagi, maka saya akan menambah ribuan orang yang nggak peduli di negeri ini.

    nice post…..

  5. @fertobhades
    hmm…

    >walaupun telinga “mereka” sudah tebal setebal es di kutub utara, bukan berarti tidak bisa ditembus kan ?

    bener2, setuju.. dinuklir aja telinganya, mas.. dijamin beres

    *mikir
    bener juga, mas..
    kalo setiap orang berpikiran untuk berhenti bersuara, otomatis tidak ada lagi yang akan bersuara. dan mereka akan lebih berkuasa.
    yah, walaupun cuma sekedar menggelitik telinga mereka, setidaknya kita sudah bisa mengusiknya..

    thx dah mampir, mas..
    thx..
    rajin2 mampir, ya..:mrgreen:

  6. Sindirian rahsia umum kadang emang ga ngefek, bagianda.😆

    Ngefeknya itu sindiran skandal…😆

    Contohnya ada anggota dewan bikin felem bokep, nah, heboh tuh, dan ‘mereka’ kelabakan juga…😆

  7. akh kalian yang masih muda ini pasti nga tau ..kalau mereka itu (para petingi petingi itu), sudah belajar moral dari esde sampe es teler, kalau kata yang lebih tua lagi dari saya ini ( yang udah tua tapi bukan petinggi)…mereka itu dulu waktu sekolah sudah di beri pelajaran PMP (pendidikan moral pancasila, ppkn, budi pekerti, apa lagi yak…

    mereka hafal semua teori tentang ke- moral-an tapi karena sudah tua jadi lupa mempraktekanya…( ????)

    btw salam kenal
    awas ‘UDA’ cucuku..jangan mangil tante tapi pangil nenek ajah..hihihi

    ttd
    dhe ‘( lagi pingin berceloteh)

    bolg mu aku link ..punten

  8. @rozenesia
    hehe..
    jadi inget bung yahya zaini gw..:mrgreen:

    @’K
    males ah make nama2 seperti itu..
    ntar dikira cerita setantron lagi,,😀

    @kurtubi
    thx dukungannya, om..
    serahkan pada kami.. he😆

    @felixradioholix😀

    @Sayap KU
    wah, kalo nungguin mereka berlalu, kitanya juga udah keburu tua, dong??
    he..
    salam kenal, mbak.
    thx dah mampir..😆

    @katasa07
    mereka kalo bawa kendaraan helmnya di dengkul, mbak..
    he.. he,, he;;
    terpikir sih seperti itu. dan jangan sampai kita2 pemuda ini malah jadi pelanjut tradisi2 mereka itu.

    thx mbak, ntar aku link back..😆

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s