Ketika Kebebasan Sudah Mati

*Kisah ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan kisah, nama tokoh, tempat, dan lain-lain, hanya merupakan kebetulan semata. Mohon blog ini jangan dibredel. Sekali lagi, ini hanya fiktif.

Sekarang sudah tahun 2020. Negeri ini telah menjelma lagi menjadi sebuah negeri otoriter yang pemimpinnya berkuasa secara penuh atas rakyat. Absolut.

Semuanya didikte. Mulai dari ‘tutur kata’ sampai ke ‘cara menulis di media’, semuanya diatur. Maka tak heran jika semenjak tahun 2010 rakyat diwajibkan memanggil semua petinggi dengan sebutan ‘Yang Dipertuan Agung‘. Semua itu awalnya disebabkan karena, pasti anda semua sudah tahu, kasus seorang wartawan senior berinisial BL yang dituduh menghina sekelompok ‘Yang Dipertuan Agung‘ dengan menyebut mereka ‘dungu‘. Padahal sebenarnya beliau hanya mengutip kalimat yang disebutkan Joesoef Iskak 3/4 abad yang lalu. Beliau diseret ke meja hijau oleh para ‘Yang Dipertuan Agung‘ yang merasa dihina. Dan yang memenangkan kasus -tentunya- adalah para penguasa itu. Kekalahan BL di pengadilan menjadi kekalahan KEBEBASAN di negeri ini.

Dan tahukah anda bahwa banyak koran dan majalah yang dianggap ‘menghina’ pemerintah sudah dibredel? Ya, begitulah kenyataannya. Jadilah sekarang yang terlihat bergelantungan di kios koran hanya segelintir koran dan majalah yang memancing syahwat dan menggoyahkan iman.

Demonstrasi pun sudah dilarang. Tidak ada lagi hiruk pikuk massa yang melakukan longmarch di jalanan manapun. Tidak ada lagi teriakan2 aktivis mahasiswa yang menyuarakan ‘demokrasi’ di halaman-halaman kantor pemerintah. Semuanya kini sepi. Sunyi.

Ya, kini kebebasan sudah mati.

===========================

Tembusan :

Tulisan Terkait :

Gambar diambil dari sini.

27 pemikiran pada “Ketika Kebebasan Sudah Mati

  1. Kebebasan memang harus diperjuangkan. Namun, apa jadinya bila kebebasan tersebut tidak diimbangi oleh moralitas bangsanya sendiri….ANARKI dimana-mana….ingat itu Wahai Anak Bangsa….Halaaah😀

  2. Kebebasan dan ketidak-bebasan itu batasnya tipis lho:mrgreen:
    Karena kebebasan kita itu sering membuat ketidak-bebasan pada sisi yang lain ..

    Tapi, well… selama kebebasannya masih terkendali oleh moralitas sendiri, kenapa tidak?😉

  3. kebebasan manusia memang sering jadi polemik, apalagi kalau sudah dihubungkan dgn kekuasaan.

    @ puputs :

    bukan hanya kebebasan, segala sesuatu yang tanpa kendali juga bisa jadi petaka.

  4. @qzink:mrgreen:
    ayo berjuang. dengan tulisan dulu aja.😆

    @almascatie
    keknya 2020 belum sampai seperti itu, deh..
    kalo menurut gw palingan baru robot2an biasa. spt anjing, kucing..
    yang humanoid kekna belum bakal merajalela..😀

    @reza
    makanya. suarakan kebebasan.😀

    @alief
    yang ‘yang dipertuan agung’ ya?
    enggak juga, sih..
    tapi kalo malay tersinggung, ya syukur..:mrgreen:

    @brainstorm
    *dan di depan pengadilan sudah berkumpul jutaan blogger Indonesia. siap meminta ‘keadilan’.:mrgreen:

    @bedh
    hihihi…
    sebenernya sih gw berharap saat kematian kebebasan itu gak pernah datang..:mrgreen:

    @prasso
    gw sepenuhnya setuju sama yang namanya ‘kebebasan bertanggung jawab’. untuk itu pemerintah gak perlu segan-segan menindak kelakuaan yang ‘keterlaluan’.
    ‘keterlaluan’, lho..
    pastinya mengkritik pejabat dengan ‘pengandaian’ boleh, dong.

    @mulut
    gpp, om mulut..
    saya juga sekarang sedang bersemangat..:mrgreen:

    @alex
    aku padamu, lex..
    hihihi..😆
    setoedjoe gw..

    @moerz
    ya gak sebebas itu, lah…
    ada batasannya..:mrgreen:

    @Mihael “D.B.” Ellinsworth
    saya juga benci, kok..
    tos dulu, dong..
    *ngajak tosan

    @puputs
    kalo dalam berbangsa dan bernegara, kendali itu ya hukum..
    makanya hukum itu harus ditegakkan..

    @Pyrrho
    persis, om..😀

  5. “Jadilah sekarang yang terlihat bergelantungan di kios koran hanya segelintir koran dan majalah yang memancing syahwat dan menggoyahkan iman “…nah ini bukanya bebas juga….hihihi ( gubraaaak….)

    pasti di negara yang fiktif itu tidak ada Fpi nya yak….

  6. kebebasan itu belum mati nak….

    selama masih ada kami
    rahimku, rahim ibumu, rahim adik perempuanmu, rahim kakak perempuan mu, rahim istrimu, rahim anak perempuanmu dan rahim perempuan – perempuan itu….

    rahim yang akan melahirkan BL- BL yang lebih tangguh, Gie , tan Malaka, Amien rais, buya Hamka akan terus ada.

    tentu saja nak, kebebasan yang kita perjuangkan itu adalah kebebasan dalam artian yang “sebenarnya”

    dan jadilah “bedil’ utk kebebasan itu sendiri

    btw …2020 gw masih hidup ngak yak…hihihihi heem

  7. Penyakit yang disebabkan oleh kuman Neisseria gonorrhoea ini dapat ditemukan pada segala golongan usia meski kebanyakan kasus dialami golongan dewasa muda. Penyakit ini terjadi di seluruh dunia tidak hanya pada kaum pria tetapi juga menyerang wanita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s