AAC~ part II

Ini bukan tulisan tentang sekuel AAC😀 Akhirnya gw menemukan novel AAC untuk dipinjam. Dan akhirnya gw juga mengerti kenapa banyak pembaca novel AAC yang kecewa dengan filmnya.

FYI, ternyata cerita di film AAC memang ‘sedikit’ berbeda dengan cerita di novel aslinya. Perbedaan itu antara lain terletak pada,

Maria dan Keluarga

  • Jika di film Maria terkesan seperti seorang anak yatim yang hanya tinggal berdua dengan ibunya, di novel ternyata keluarga Maria masih lengkap. Dia tinggal bersama ayahnya (Boutros), ibunya (Madame Nahed), dan adik laki-lakinya (Yousef).
  • Hurghada ternyata bukan kampung Maria, keluarga Maria hanya pergi berlibur ke sana. Oh, dear. Jauh bener bedanya..
  • Madame nahed digambarkan sebagai sosok yang pada awalnya tidak menerima bahwa fahri nikah dengan aisha, ternyata berbeda. Ada apa ini???
  • Maria tidak pernah ditabrak mobil.
  • Sebelum meninggal, Maria sempat membaca dua kalimat syahadat. Beda dengan di film, Maria hanya mengajak Fahri dan Aisha untuk shalat berjamaah.

Aisha

  • Aisha ternyata adalah sosok wanita yang lebih ikhlas daripada yang terlihat di film. Kacau!

Penangkapan Fahri oleh polisi Mesir

  • Setidaknya ada sekitar lima orang narapidana yang satu sel dengan fahri. Bahkan ada seorang professor yang ditangkap gara-gara alasan politik.
  • Pengacara yang mengurusi kasus Fahri bukanlah pengacara dari KBRI. Kalau tidak salah pengacara ini bernama Amru. Tidak jelas kebangsaannya, yang jelas dia bukan dari KBRI.

Hmm.. Kok filmnya beda jauh gitu ya dengan yang di novel? Apa karena kekurangan dana? Tapi ya, seharusnya pihak pembuat film sudah siap dengan segala konsekuensi karena sudah berani untuk memfilmkan sebuah buku bestseller. Masalahnya cerita dan watak tokohnya agak sedikit berbeda dengan yang di novel.. Anggap saja tulisan saya ini kritik yang membangun..

17 pemikiran pada “AAC~ part II

  1. Saya udah baca novelnya, karena konon dgn membaca novel itu seperti belajar agama tanpa merasa di gurui. Tapi, begitu baca, saya malah tidak melihat sosok manusia di tokoh Fahri. Akhirnya, nonton pelmnya juga males..😛

  2. Sepertinya demam-nya belum redah untuk ngebahas tentang novel dan film yang konon — katanya — sudah ditonton oleh 3 juta orang seluruh Indonesia.

    Sebenarnya memang itu hak sutradara dan produser untuk mengintreprestasi cerita. Hanya saja .. yang saya sayangkan .. untuk pembuatan sekelas film, rasanya tidak optimal. Makanya, dalam postingan saya kemarin .. saya samakan film tersebut dengan sinetron.

    Bahkan menurut seorang teman, siapa pun yang menyutradai dan memproduseri film tersebut, ditanggung laris manis. Karena buku nya aja — konon katanya — laris 400 ribu buku.

  3. Saya malah baru baca novelnya setengah, nonton pilemnya udah. Saya terusin baca dulu, karena koq ngeganggu yah, banyak yang ngomongin tapi saya belum punya pendapat sendiri. Malah ngagguk sana hooh sini. Berbeda banget kah?

  4. saia mbaca novelnya yg versi bajakana (pdf-an boo…)
    walo akirnya beli yg aslinya juga…

    dan di kos sudah hadir pula pilem nya yg versi curian…
    tp akirnya ya saya hapus tanpa sempat saya tonton..

    lha wong temen2 saya dah rame cerita2 ttg setiap adegan dari pilem itu…
    jd lebih baik saya g usah nonton pilemnya aja, keknya imajinasi saya trhdp novelnya bakalan jauh lebih indah drpd pilemnya sendiri..
    setidaknya untuk ukuran saya…

  5. @LiSan
    sepertinya kalimat :

    Hmmm katanya siey kalo yang sudah membaca novelnya agak kecewa dengan filmnya ^o^

    bisa diubah jadi kalimat seperti ini :

    barangsiapa yang pernah membaca sampai tuntas novel ayat-ayat cinta itu pasti akan kecewa

    karena ngga menyertakan keterangan waktu kapan orang itu baca novelnya.. hehehe..

    @Bedh
    mending baca novelnya dah.. menggugah..:mrgreen:

    @Mbok venus
    *membujuk*
    ikutan baca deh, mbok..🙂

    @Qzink
    emang bener zink. novel AAC ini memang mengajarkan nilai2 tanpa menggurui.
    dan gw juga setuju kalo tokoh fahrinya terlalu “malaikat”. tapi ya ambil positifnya aja..
    daripada nonton film horor gak jelas..
    ya kan?

    @Erander
    bener bang. kekna pembuatan filmnya itu gak optimal. tanggung-tanggung. dan kekna masalahnya klasik deh : Dana.
    tapi, seperti yang saya tulis di atas, harusnya mereka bertanggung jawab lah karena udah berani mengangkat novel itu jad film.

    @maxbreaker
    iye apa?
    habibie sampe nonton?

    @payjo
    yup, beda banget. banyak yang ditambahin dan dikurangin. bikin ceritanya agak berubah lah..

    @Imil
    huhuhu..
    iya, caksimil. mending kalo yang belum pernah nonton gak usah nonton deh. imajinasi kita jadi berubah.

    @Hanggadamai
    *tendang:mrgreen:

    @mbelgedez
    semuanya tergantung diri kita masing-masing sih, bro. kalo gw pribadi emang suka banget baca buku. jadi ya mesti dibaca..:mrgreen:

    @nurussadad
    gw sih udah beberapa kali nonton ulang filmnya. gak pernah tuh gw lihat Mr. Boutroz.. yang ada paling yousef. itupun gak dibilang kalo itu yousef..

    @Hoeda
    sebenernya sih gak gitu-gitu amat..
    hehehe…:mrgreen:

    @Anang
    hohoho… terserah anda.
    toh nonton atau gak nonton juga gak ada pengaruhnya sama diri kita.
    just for fun…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s