Message in a Bottle

Alkisah, seorang pengembara yang sedang menyusuri pantai menemukan kertas berisi tulisan di bawah ini dalam sebuah botol.

Susah untuk mengerti orang lain. Setiap manusia unik. Masing-masing memiliki gagasan masing-masing terhadap segala sesuatu.

Baru-baru ini saya menyimpulkan bahwa dengan diam dan tidak mengusik orang lain, berarti saya menghargai mereka. Saya coba untuk diam dan tidak mengusik, mind your own bussiness method ternyata gagal, malah jadi garing. Ini sebenarnya kepribadian orang yang ingin saya coba pada diri saya.

Kemudian saya tampil vokal dengan protes sana-sini. Semuanya saya komentari. Semua yang beda dengan gagasan saya dan saya anggap jelek, saya libas. Semua yang pantas; saya suka, saya rangkul, dan saya rebut. Semua yang tidak pantas; saya benci dan saya buang jauh-jauh ke laut. Akhirnya semua menjauh.

Terlalu idealis, diisolasi.

Ada yang bilang, “kau itu terlalu idealis. Cobalah untuk lebih berpikir realistis. Capai yang mungkin-mungkin saja. Tidak baik itu cari-cari musuh…”

Jika realistis menjadikan saya munafik, bagaimana? Jika realistis menghalangi saya untuk menggapai mimpi, bagaimana? Jika realistis membuat saya akan menyesali kehidupan yang hanya sekali ini, bagaimana?

8 pemikiran pada “Message in a Bottle

  1. idealis membuat kita memaksakan kehendak tanpa melihat realita-realita yang ada, padahal belum tentu kita dapat meraihnya.

    jangan idealis, capai yang mungkin-mungkin saja.
    –> tapi jangan pasrah sama keadaan

  2. terserah kamu bos, boleh idealis tapi kan ada rambu-rambu realistis yang membatasi. that’s it. kompromi emang gak bisa ya? kesannya emang mencla-mencle, tapi begitulah adanya

  3. Semprotan “terlalu idealis” itu relatif. Terkadang yang bilangnya berniat baik utk menegur jangan terlalu jauh berutopia. Terkadang juga (dan ini rasanya sering) karena frustasi pernah ber-idealis-ria tapi kepentok atau memang gak bisa meninggalkan comfort-zonenya sendiri…

    Udah, cuekin aja. Ntar juga pembuktian masing2 lah yang menentukan. Been there done that😉

  4. duh saya nggak begitu ngerti ih’
    soalnya di bidang yang saya geluti setelah beberapa kali berpegang teguh pada idealisme membuat saya menjadi tidak berpenghasilan. ujung-ujungnya saya malah tak bisa menggapai tujuan utama saya ber prinsip idealis.
    huhuhuhuhu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s