Backpacking Ke Bali (3)

Lambung ferry terbuka. Satu per satu bis dan truk keluar dari dalam kapal yang telah mengantarkan mereka dari Ketapang ke Gilimanuk. Tak terkecuali bis yang kami tumpangi.

Ada sedikit perasaan berdebar ketika pertama kali berada di tanah Pulau Dewata itu. Ya, mengingat bahwa sebelumnya aku baru pernah berkeliaran di Pulau Sumatra dan Jawa. Ada juga sedikit perasaan puas karena telah berhasil mewujudkan rencana perjalanan yang aku rancang.

Pendatang tidak bisa dengan seenaknya masuk ke Pulau Bali. Begitu keluar dari pelabuhan, setiap penumpang bis diturunkan dari bisnya. Kemudian mereka akan berjalan kaki melewati pos pemeriksaan KTP. Untung aku dan temanku membawa KTP. Bagaimana jika sebelum berangkat tadi aku lupa mengambil KTP di rental VCD? Kita tanya saja pada rumput yang bergoyang😀

Jarak Gilimanuk – Denpasar adalah sekitar 140 km. Biasanya ditempuh dalam waktu 2,5 – 3 jam. Tak banyak yang bisa kuamati pada “perjalanan malam” ini. Gelap semua. Paling hanya; (1) beberapa bagian jalan Gilimanuk – Denpasar yang mirip dengan beberapa bagian jalan menuju Pantai Siung. Aspal mulus dengan pepohonan rindang di kedua sisi yang membuat jalan menjadi teduh. (2) Pagi-pagi pukul 03.30 WITA sudah banyak penduduk yang membawa sesajen untuk hari raya Sugian. Pada jam segitu pasar-pasar juga sudah ramai.

Daerah-daerah yang dilewati dalam perjalanan ini antara lain adalah Negara, Jembrana, dan Tabanan. Menyenangkan mendapati bahwa aku akhirnya berada di tempat-tempat yang biasanya aku lihat di Atlas.

Tak banyak obrolan dengan rekan seperjalananku. Sepanjang perjalanan dia  sibuk smsan. Selain itu kami juga tidak banyak bahan pembicaraan (ya.. dulu kami satu SMA di Padang. Namun tidak pernah satu kelas. Cara bergaul pun berbeda). Satu tips dari saya; lebih baik backpacking sendiri kemudian bertemu dengan teman backpacker di perjalanan daripada pergi bersama orang yang tidak begitu kau kenal.😀

Terminal Ubung, Denpasar

Sekitar pukul 04.00 WITA kami tiba di Terminal Ubung, Denpasar. Terminalnya tidak besar. Angin bertiup kencang pagi itu.

Begitu turun dari bis reot itu, kami langsung dikerubuti oleh sopir taksi yang menawarakan jasa tumpangan. Banyak juga yang menawarkan untuk mencarikan hotel atau penginapan.

Dahulu aku akan langsung pasang muka masam dan tidak menjawab ketika di terminal ada agen bis yang menanyakan, “mau ke mana?” Tapi sekarang aku maklum. Begitulah adanya terminal. Ya, jika tidak menanyakan “mau ke mana?” ke calon penumpang, bagaimana agen bis di terminal itu bisa dapat uang?

Yang pertama kali kami cari begitu tiba di Ubung adalah musholla. Ada. Tapi sangat kecil dan sederhana. Tutup pula. Sambil menunggu mushola itu buka, kami sarapan dulu di sebuah warung soto ayam ala Jawa Timur.

Ada sedikit masalah. Berhubung hari ini Jumat, kami butuh menemukan masjid untuk shalat Jumat. Dan, kau tahu lah, susah mencari masjid di Bali ini. Aku sempat teringat kata-kata seorang kawan, “di Bali itu masjid paling banyak ada di Singaraja.” Dan Singaraja itu jauh, kawan.

Saya yang pakai baju Pram
Saya yang pakai baju Pram

Akhirnya setelah berdiskusi sebentar kami memutuskan untuk berjalan kaki menuju kuta dan berusaha menemukan masjid sepanjang perjalanan itu. Tapi saat itu aku belum sadar kalau kami melakukan sebuah kesalahan; tidak membawa peta.

Bersambung…

5 pemikiran pada “Backpacking Ke Bali (3)

  1. @Sawali
    trims, pak..
    bali memang paradise island deh..😀

    @Rany
    hey.. alhmdllah baik..
    rany gmn?

    @Afwan
    Kemasi aja ranselmu sekarang.. berangkat
    hehehe😀

    @Mybenjeng
    makanya, mas.. masa muda ini saya manfaatkan sebaik2nya..😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s