My Hometown Pariaman

Di semua fakultas, jumat kemarin adalah hari terakhir UAS. Dan jumat kemarin pula sebagian besar kawan sekampus saya pulang ke kampung masing-masing. Tinggallah saya kesepian di Pogung yang tiba-tiba menjadi sunyi.

Ketika masih SMA di Padang, libur-libur begini biasanya saya pulang ke rumah nenek di Pariaman. Sebuah kota kabupaten yang bisa dicapai dalam waktu 1 jam ke arah utara dari Padang.

Pariaman “laweh“. Kata orang-orang. Secara wilayah Pariaman memang luas sekali. Tapi Pariaman Laweh ini juga merujuk pada kebiasaan orang Pariaman untuk merantau ke mana-mana. Bahkan ke tempat-tempat terjauh. Di mana ada orang Pariaman, berarti itu wilayah Pariaman.:mrgreen:

Pariaman Kota Tabuik

Apa pula itu Tabuik? Tabuik adalah sebuah perayaan untuk memperingati menunggalnya salah seorang cucu Rasulullah, Husein. Tabuik yang besar ini digotong bersama-sama, digoyang-goyang (bahasa minangnya “hoyak”), kemudian dihanyutkan ke laut. Pekan perayaan tabuik ini sudah menjadi agenda tahunan Pariaman.

Makanan-makanan khasnya bagaimana, Gan? Mak nyus?

Yang pasti pedas. Menurut saya yang paling terkenal adalah Sala Lauak. Sebuah jajanan berbentuk bola, diamaternya sekitar 3-4 cm, yang terbuat dari adonan tepung beras. Warnanya oranye. Kalau digigit kulitnya berbunyi “kress!!”. Saya sudah setahun tidak mencobanya.😦

Ketupat Gulai Tunjangnya juga pantas untuk dapat “mak nyus!” dari bondan. Ketupat ini disirami kuah, dan di dalam kuah ini ada potongan jangek atau kulit sapi. Jangek ini jika digigit akan terasa pas di gigi(?).

Pariaman juga terkenal dengan gulai ikan lautnya. Setiap pulang, Ayah pasti mengajak saya untuk makan di Pantai Pasia Sunua. Gulai ikan di sini memang lezat. Bayangkan: menyantap gulai plus dibelai angin. Enak gak?

Pariaman dan Alamnya

Karena terletak daerah pesisir, Pariaman dikaruniai pantai yang banyak. Pantainya pun lebar-lebar. Jarang sekali ada teluk-teluk kecil macam di pantai selatan Jawa. Ombaknya juga relatif jinak.

Yang paling saya suka adalah Pantai Cermin yang terletak di belakang rumah dinas Bupati. Karena ditumbuhi banyak Cemara Laut yang tinggi dan rindang, pantai ini teduh. Tidak terlalu jauh di tengah laut, terlihat gugusan pulau-pulau kecil yang merupakan outer arc ridge (punggungan busur luar) Sumatra.

cL!cK001 cL!cK005

Saya juga suka sekali melihat pemandangan dari sebuah dusun yang bernama Palak Aneh. Dari sana, jika cerah, akan terlihat Gunung Marapi, Singgalang, Tandikek, dan Talamau. Di bawah ini fotonya.

pariaman_1

Pariaman dan “Gege Mengejar Cinta”

Saya jadi ingat sebuah dialog di “Gege Mengejar Cinta”. Ketika Sulaeman Chaniago (Eman) launching antologi puisinya, seorang wartawan luar bertanya. Penasaran dengan namanya, “Your name is Chaniago. Are you from Paraguay?”

Eman menggeleng, “No. I’m from Pariaman.:mrgreen:

22 pemikiran pada “My Hometown Pariaman

  1. Aslkm…ambo takana waktu makan katupek gulai tunjang di pasa kuraitaji,,tambah jo sala bulek..minum jo teh susu..ondeh sabana sero..makan jo urang rumah pulo. (dapek urang sebarang lawuik _jawa ).salam rindu dari ambo dirantau..buat sanak sudaro di desa toboh palabah dusun tembok..depan STM karya Pariaman..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s