Langkah (2): Ongkos? Seberapa Kuat Kau Tawar-menawar?

17 Juli 2009. Alarm ponsel Arif, teman seperjalanan saya, berbunyi. Berarti sudah jam 3 pagi dan inilah waktunya menyeberang ke Gilimanuk. Kami seketika bangun kemudian mengepak sleeping bag.

Malam itu kami tidur di lantai dua stasiun Banyuwangi Baru. Lantai itu pasti awalnya dibuat untuk dijadikan kantor, tapi entah kenapa sekarang terlihat seperti diabaikan. Diselimuti udara dingin kami berjalan ke pelabuhan ketapang.

Dari dulu entah kenapa saya tidak suka membeli tiket dari calo. Rasanya kurang aman. Karena itu saya langsung menggeleng ketika di pelabuhan ketapang ada yang memberikan penawaran menarik berupa tiket menyeberang “langsung tanpa harus ke loket karcis” seharga 5 ribu. Sedikit lebih murah memang dari harga normalnya yang Rp. 5.700.

Saya memilih ferry paling kosong yang tertambat di dermaga paling ujung. Pilihan itu membuat saya memperoleh souvenir gratis berupa E-Ticket Indonesia Ferry asdp. Bukan salah saya karena memang tidak ada yang mengambil kembali kartu itu.:mrgreen:

Begitu penyeberangan dimulai, semburat cahaya jingga mulai memenuhi horizon timur. Matahari terbit. Seolah tidak mau kalah, di barat menjulang tinggi gunung-gunung paling ujung Pulau Jawa. Pemandangan yang memukau.

Bali4

Belum sampai jam setengah 7 ketika kami mendarat di pelabuhan gilimanuk. Sewaktu berjalan menyusuri dermaga, sempat-sempatnya saya memikirkan apa kira-kira arti “Gilimanuk”. Saya pernah sekali membaca di sebuah artikel bahwa Gili itu artinya pulau. Entah bahasa mana saya lupa. Manuk, saya yakin sekali, adalah burung dalam bahasa jawa. Apakah Gilimanuk artinya Pulau Burung?

Setelah melewati pos pemeriksaan KTP, saya langsung melangkah ke terminal Gilimanuk. Seorang kenek menghampiri dan menawarkan bis ke Denpasar dengan ongkos 30 ribu. Kemahalan itu. Saya tawar menjadi 20 ribu. Penawaran yang agak kejam memang, mengingat trayek Gilimanuk-Denpasar tidak bisa dibilang ramai dan ongkos normalnya adalah 25 ribu. Kesepakatan akhirnya 25 ribu. Normal, ngga apa-apa lah. Belakangan waktu sholat di terminal Ubung dalam perjalanan balik ke Jogja, saya diberitahu penjaga mushola bahwa kalau mau ngotot kita bisa dapat ongkos 15 ribu saja.

Dengan penumpang kurang dari lima orang, bis yang saya tumpangi mulai melaju menyusur pesisir barat Pulau Dewata. Daerah pertama yang dilewati adalah Kawasan Taman Nasional Bali Barat. Dari jalan di kawasan ini, jika cerah, kau akan bisa melihat pemandangan Gunung Watukaru (saya sotoy duluan mikir itu gunung agung, ternyata agung masih jaaauh di timur.. untung nanya ke pak supir. hehe..)

Saya tertidur pulas sampai Tabanan. Di Tabanan inilah saya mendapat kabar buruk dari Jakarta yang akan sedikit mempengaruhi perjalanan ini..

(… Bersambung)

23 pemikiran pada “Langkah (2): Ongkos? Seberapa Kuat Kau Tawar-menawar?

  1. shige, naluri minangnya kurang keluar.. nawarnya masih ga tegaan yaa..
    **apalagi bundo, hehhhhe.. bisa kalah mulu klo nawar

    hmm.., semoga kabar buruknya sudah teratasi ya shige..

  2. terlalu nawar harga bis, kadang gak bagus juga buat kita yg sedang melakukan travelling.. kalo terlalu murah tapi safetynya kurang juga gimana..? hehe…
    wew, jadi pengen juga nih travelling….

  3. @catatan rudy: tunggu aja.. hehe..๐Ÿ˜€
    @cantigi: yap.๐Ÿ˜†
    @omagus: hm.. gimana ya, om. nggak juga sih sebenernya. dampaknya itu bukan cuma berakibat terhadap saya. terhadap banyak orang.
    @nakjaDimande: hehehe.. tapi waktu perjalanan balik saya nawarnya lumayan gila2an bundo. 20 ribu saja..๐Ÿ˜†
    @pilar: nyok!
    @alfaroby: itu.. menyenangkan.๐Ÿ™‚
    @~noe~: wah, kalo semua dibikin seperti swalayan, gak seru lagi dong bro.๐Ÿ˜€
    @edratna: hehe. sebenernya mau nawar atau nggak itu tergantung persediaan vulus juga sih, bu.๐Ÿ˜€
    @sakurata: haha.. kalo dari dulu saya lihat dompet dulu sebelum jalan-jalan, gak jadi2 keknya. kalo buat saya, yang penting berani melangkah dulu.๐Ÿ˜€
    @m!ke: iya juga sih bro. keamanan dan kesehatan kan yang paling penting kalo lg jalan2. kalo saya sih berusaha balance aja. *ngeyel mode on*๐Ÿ˜†
    @nadya: oce oce…

  4. Makjang.. 15 rb jadi 30 rb.. hihi, saya juga ga ahli menawar, suka ga tega.. sama ga tau harga juga sih..
    Trus kata temen saya, klo pergi2 gtu muka n penampilan saya turis banget, jadi pasti dikasih mahal (hiks).
    Ngomong2, emang hati2 lho sama tiket ferry (terutama yang bisnis), saya mendapati ada tiket ganda dalam penyebrangan Karimun-Jepara. Entah ya klo ferry2 yang lain..

  5. pengen komen, tapi ga tau mau komen apa… gimana dong? *halah*

    ikut yg di atas2 aja dah…

    wah, kalo masalah tawar-menawar sih tergantung mood. kalo lagi mood tega, saya bisa tega nawar. tapi kalo engga ya gak pake nawar2 lagi… *jangandipentungiyasayanya…*

  6. @narpen: haha. perlu sering2 latihan sih sebenernya kalo mau ahli tawar menawar.:mrgreen: kalo beli dari calo itu takutnya ntar kalau terjadi apa-apa…๐Ÿ˜ฆ
    @marshmallow: tenang, uni. cerita selanjutnya yang ada saya yang ditegain orang.. hehe:mrgreen:
    @ciput mardianto: bener, dab. lanang yo kudu iso.:mrgreen:
    @arikaka: wakakak.. enggak kok bro.
    @diazhandsome: emang lo punya? hehe.. baca aja lanjutannya, bro.:mrgreen:
    @bakhtiar: ke Bali atau ke sini? hehehe..
    @juliawan: salam kenal juga bro..๐Ÿ™‚
    @yoan::mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s