Langkah (3): Sekali Bom, Akibatnya Segudang

17 Juli 2009. Saya tertidur pulas sampai Tabanan. Di Tabanan inilah saya mendapat kabar buruk dari Jakarta yang akan sedikit mempengaruhi perjalanan ini.

Mati gaya di bis, saya online via ponsel. Saya facebookan karena yang paling gampang dibuka dari hp adalah situs jejaring sosial ini. Setelah beberapa saat scroll up-scroll down terbacalah status seorang teman yang kira-kira berbunyi, “… ada bom lagi di Jakarta.” Deg! Sial, kok waktu saya lagi jalan-jalan malah ada bom? Kerjaan siapa lagi ini?

Bis akhirnya menepi di depan Terminal Ubung. Di sini kami mengisi perut dulu sebagai persediaan bahan bakar jalan kaki ke Kuta. Pemborosan yang lumayan: nasi rendang plus nasi tongkol Rp. 19.000.

Setelah kenyang, kami langsung melangkah ke selatan. Kali ini, karena belajar dari pengalaman nyasar tahun lalu, saya membawa peta kota Denpasar. Saya akui bahwa jarak Ubung-Kuta lumayan jauh untuk dijajal berjalan kaki, tapi saya ini memang dasarnya pejalan kaki. Jadi jarak segitu masih masuk akal, lah. Beda dengan teman seperjalanan saya. Baru jalan beberapa kilo saja sudah kapok. Nggak apa-apa lah. Saya juga sedang belajar untuk mengerti orang lain.

Susahnya Mencari Penginapan Murah

Masalah pertama datang. Sepertinya minggu kemarin adalah peak season. Tak tanggung-tanggung, semua penginapan daerah poppies yang ada di catatan hasil browsing saya hampiri, plus penginapan saya tahun kemarin. Satupun tidak ada yang kosong.

Di manakah kami akan menginap malam ini? Apakah akan menggelandang saja di Kuta?” Di keramaian Pantai Kuta saya berpikir. Rencananya besok pagi kami akan menyewa motor untuk dipakai jalan-jalan. “Kenapa ngga sekarang saja nyewa motornya? Kan motornya bisa dipakai untuk mencari penginapan di tempat lain. Sanur misalnya. Atau masjid.Bali 5

Ide ini saya obrolkan dengan si Arif dan dia setuju. Kami menyewa motor dan kemudian keliling mencari masjid.

Bom-bom yang meledak itu memecah belah umat

Memang susah menemukan masjid di Kuta, namun bukannya tidak ada. Kami sholat maghrib dan isya di masjid ar-rahmat yang terletak di Jl. Raya Kuta. Juga numpang mandi meskipun di pintu kamar mandinya sudah ditulis besar-besar: DILARANG MANDI.:mrgreen:

Setelah shalat isya, saya SKSD kepada sang takmir masjid dan bertanya apakah kami diperbolehkan menginap semalam di sini. Beliau menggeleng, “wah, ndak berani saya, Dek. Sejak bom-bom itu susah untuk percaya begitu saja sama orang asing. Apalagi tadi pagi baru ada bom lagi.”

Terkutuklah pelaku semua pengeboman yang pernah terjadi di Indonesia. Cerdik sekali mereka. Sekali mengebom, akibatnya segudang. Coba perhatikan kembali kata-kata Pak Takmir di atas, “… orang asing”? Gara-gara bom sialan itu hilang sudah rasa percaya sesama saudara seiman. Kisah kaum muhajirin yang disambut kaum anshor di Madinah tinggal cerita. Semua dicurigai. Padahal saya berjenggot juga enggak.

Dengan perasaan kecewa kami keluar dari masjid itu. Tapi tenang, plan B masih ada. Menginap di sekretariat kawan-kawan Mapala Universitas Udayana.

Setelah beberapa kali dikerjai jalan-jalan satu arah Denpasar, sampailah kami di Mapala Udayana. Mereka menyambut kami seperti menyambut saudara jauh yang sudah lama tidak datang. Dan tiba-tiba saya merasa sedang berada di rumah sendiri.

(… Bersambung)

29 pemikiran pada “Langkah (3): Sekali Bom, Akibatnya Segudang

  1. asyiiik… yang gretong emang selalu dicari.
    ya, bom laknat itu memang telah memberikan dampak yang begitu luar biasa. terkutuklah mereka!

    syukurlah masih ada rencana B yang ternyata sangat potensial. aku beberapa kali mengunjungi unud. apakah mapalanya terletak di kampus jalan sudirman denpasar atau bukit jimbaran?

  2. @nadya: perlahan-lahan lebih seru tapi kan? haha..
    @bakhtiar: iye bro.. kutuk!!!
    @nakjaDimande: iya, bundo. ke manapun jalan, selama masih ada mapalnya, akomodasi aman.. he..
    @marshmallow: yang di sudirman, uni. yang deket perempatan itu. waktu mau masuk dan ditanyain satpam, saya bilang aja ini kunjungan dari mapala fakultas di ugm..hehehe..
    sempat nyasar-nyasar juga karena ternyata di denpasar banyak jalan satu arah. untung aja bawa peta. hehe..

  3. @warm: wah, saya belum pernah kopdar tu, om..:mrgreen:
    @indra: 1082: yoi, cuy!
    @yoan: ehm.. perasaan agama saya ini tidak suka mempersulit umatnya, deh. kok tiba-tiba jadi banyak yang bukin-bukin aturan ya… dan yang gak ikut aturan itu dianggap kurang beriman. haha..
    @uni: salam kenal juga..
    @itikkecil: iya, tante.. untung saya punya kawan2 yang baik. he..
    @nisa: ayo.. haha..
    @edda: begitulah..
    @noe: jadwalnya sih untung enggak, paman… pengaruhnya sedikit di akomodasi.. hehe..
    @odol gigi: iya. terlalu..
    @ndop: saya sudah di jogja lagi, ndop.. senin malam nyampe jogja..
    @Ndre: gw udah donlot, bro.. keren lagunya.
    @Ade: harus itu, uni.. he..:mrgreen:
    @deka: salam kenal juga..🙂
    @mercuryfalling: ternyata lelucon saya masuk juga.. hehe.. jarang yang nyadar sama yang beginian..:mrgreen:
    @mel: ini tujuan pernyataanya ke saya atau ke tukang bom?? he..
    @eka situmorang-sir: yang di poppies (1 dan 2) penuh semua, tante.. dan yang murah-murah udah gak sebanyak dulu ternyata. di internet tuh, banyak info yang menyesatkan. penginapan yang katanya 40-60 ribu ternyata 200ribu.. haha..
    @alfaroby: mari..
    @riy4nti: oke deh.. linknya saya pasang juga.:mrgreen:

  4. waduh, iya sih.. apalagi bali gtu ya. udah dua kali kena bom.
    kok baik banget si anak2 mapala itu ;D
    dan kok bisa ada ide numpang disana?
    hehehe. seru banget jalan2nya.. saya paling suka ide gratisan :p

  5. gw tertarik ama fotonya..
    gradasi biru langit terasa teduh n riang.. rasanya kok pengen ada di bawahnya..
    mas morishige.. bolehkah tukeran link? gw udah masukin ke myblogroll

  6. @narpen: mapala itu solidaritasnya tinggi banget. entah kenapa. hehe.. sama, biaya seminimal mungkin itu yang saya cari.:mrgreen:
    @elmoudy: itu agak khilaf saya motonya.. horizonnya agak miring dikiiit.. oke.. segera saya pasang di blogroll..:mrgreen:
    btw salam kenal ya.

  7. halo..halo.. kita ketemu lagi hihihi..
    baru liat2 lagi nich.. waaaaaaaaaaa ceritanya seru

    hmm.. Menginap di Masjid masa ndak boleh..haduh..haduh…
    terjadi Krisis Kepercayaan ternyata.. tapi Allah maha Pemberi kemudahan Alhamdulillah.. kalian bisa menginap di MAPALA UDAYANA.

    Kalau saya mah..udh kebingungan kali yak hehehe
    yg ada dipikiran saya bisanya menginap di Masjid
    tidak terpkikirkan untuk menginap di MAPALA UDAYANA..

    hmm.. buat pelajaran saya juga nich.. hihihi..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s