Langkah (5): Selamatkan Jalak Bali

19 Juli 2009. Selepas Tabanan, minibis ringkih yang kami tumpangi dari Terminal Ubung Denpasar akhirnya rusak juga. Setelah puas memaki-maki, supirnya mengoper kami ke minibis lain yang sesak namun sama ringkihnya. Kemudian saya terjebak dalam lamunan.

Perjalanan selalu mengajarkan saya banyak hal. Jauh lebih komplit daripada pendidikan moral yang dikemas dalam PPKn. Bahkan petuah guru agama bahwa “sebaiknya kita selalu menjaga hati” serasa ecek-ecek bila dibandingkan dengan apa yang disuguhkan sebuah perjalanan.

IMG_2123_resize

IMG_2144_resizeGambar atas pose waktu sunrise, gambar bawah Pantai Sindhu, Sanur

Di hari pertama, seorang bapak yang mengimami shalat isya tiba-tiba memberi kami uang 20 ribu setelah saya bertanya-tanya tentang Bedugul. “Untuk tambahan beli bensin,” katanya. Saya dibuat malu karena sebelumnya saya sempat membatin dalam hati, “ini orang kok mukanya sombong bener sih?” Tapi nggak mungkin lah bapak ini menyangka saya tukang palak.:mrgreen:

Masih di hari pertama. Tanpa syarat kawan-kawan Mapala Udayana menerima dan mengizinkan kami untuk menginap di sekretariatnya. Saya memang mengaku Mapala juga. Dan itu memang benar. Mereka sih percaya saja meskipun sebenarnya mereka bisa saja mengecek KTM saya. Tapi siapa tahu saya berbohong, siapa tahu saya cuma memanfaatkan jaringan persaudaraan Mapala Indonesia.

Di hari kedua saya dibuat terharu ketika melihat seorang bapak yang begitu kuat menggenggam pergelangan tangan anaknya yang masih kecil. Beliau seolah tidak akan membiarkan sedetik pun anak itu lepas darinya. Kasih sayang orangtua ternyata begitu besar pada anak-anaknya.  Tiba-tiba saya jadi kangen dan ingin memeluk Ayah dan Ibu.

Hari terakhir di Bali seolah-olah tidak mau kalah untuk memberikan saya petuah. Saya diajari untuk husnudzon ketika berhadapan dengan seorang pemilik rental motor tatoan di Kartika Plaza. Penampilannya memang preman. Namun diluar dugaan ternyata dia maklum bahwa kami belum mengerti aturan penyewaan dan membatalkan penyewaan motor di hari terakhir, kemudian tanpa banyak omong Bli itu mengembalikan uang sewa motor sehari penuh.

IMG_2146_resize

“Dek, dek, oper ke bis yang di belakang sana, ya.” Bapak kenek bis yang, berdasarkan obrolan dengan beliau, keturunan melayu itu membangunkan saya dari renungan. Kami dioper lagi di daerah Negara.

Beberapa saat kemudian saya melihat gapura besar tanda sudah memasuki daerah Taman Nasional Bali Barat(?) yang diatasnya bertuliskan, “Selamatkan Jalak Bali … .” Lho? Selamat “kan” Badak Jawa?:mrgreen:

(Tamat)

37 pemikiran pada “Langkah (5): Selamatkan Jalak Bali

  1. jadi ingat pengalaman bundo dulu, dalam perjalanan ke purwokerto bertiga teman.. satu bis dengan seorang bapak tua yang ternyata adalah seorang ustad.. beliau harus datang ke acara pelepasan jemaah haji disuatu desa yang beliau tak tau persis tempat.. dengan sok iye kami anter beliau sampai ditempat dan pulangnya dikasih uang, 20 ribu juga.. hehhhe

    perjalanan kemarin itu adalah Le grand voyage milik shige
    makaciy shige sudah berbagi, bundo senang menikmatinya

  2. wah aku inget jejak petualangku waktu baru lulus kuliah ya hampir samalah dengan dikau. ya kesanur juga seeh. memang meyenangkan ya.jangan lupa ke pulau sarangan ada tokoh muda disitu rumahnya deket mejid lama tuh.salami ya

    1. @diazhandsome: doakan saja rencana saya selanjutnya bisa jalan.. hehe..:mrgreen:
      @faza: oke.. tapi… intinya sih bukan di Jalak Balinya, mas.. hehe..😆
      @kawanlama95: wah, kebetulan saya nggak ke situ tuh paman.. bagus ya, pulaunya?
      @fadhilatul muharram: ya.. karena intinya bukan di Jalak Bali malang ituu..😦
      @belajar: perlahan-lahan saja, tante..:mrgreen:
      @kw: kapan? kapan? kapan? kapan?
      @nadya: iya, masi libur.. rencananya minggu depan mau ke sempu… yay!!! doakan saja jadi..😀

  3. Segalanya harus diselamatkan,,ga cuma flora dan fauna Indonesia tercinta,,tp juga jatidiri bangsa dan semangat nasinalisme yang harus dijaga agar tidak pudar,,

    I love Indonesia…Merdeka!!!

  4. perjalanan memang mengajarkan banyak sekali hal, mulai dari geografis, sosiobudaya, akhlak dan perilaku, komunikasi, dan begitu banyak hal lainnya. menariknya, semua diajarkan melalui praktek langsung, bukan petuah abstrak para guru.

    sayang serial perjalanan ke bali ini sudah selesai.

    jalak bali, burung yang secara fisik tidak terlalu unik atau conspicuous kupikir, tapi memang hanya ada di sana. memiliki jalak bali harus dengan izin. aku pernah melihat seorang pejabat kecamatan di nusa penida memiliki jalak bali bewarna putih. wah, musti perkara tuh kalau ketahuan.

  5. @mel: iya, tante..:mrgreen:
    @edda: itu diaa..
    @ditda: itu cuma judulnya, cuy.. he..
    @norland: yap.
    @cantigi: tunggu apa lagi, bro. begitu ada waktu luang, langsung jalan
    @mahardika: judulnya ini juga sekalian pengen liat, orangnya baca atau nggak.. hehe..
    @kanglurik: hehe..
    @perigitua: iya sobatku saayaaankkk..:mrgreen:
    @AeArc: ya ya..
    @marshmallow: btw di indonesia sebenernya kan banyak banget hewan2 endemi seperti itu uni: ada ikan bilih di singkarak, komodo di pulau komodo, jalak bali, harimau sumatra, badak jawa… semua itu perlu banget untuk dipelihara. kelemahan kita tuh baru mulai konservasi setelah “sesuatu” itu mau punah. sayang banget kan?
    @casualcutie: mudah2an bisa ke sana.. pengen ke the three gilis dan bima..
    @blue: amin..

  6. Halo bos, nice trip.. perjalanan backpacking ini emang seru karena bisa ngebuka perspektif kita akan sesuatu yang baru.. Berwisata namun merasa menjadi bagian dari masyarakat dimana kita berkunjung!! Sukses ya bos!

  7. Sukses.. mori…
    dah sampai kan dirimu..

    daku lupa, lupa ijin hehehe
    linkmu tak masukin ke myblogroll …
    udah lama sich.. maaf ya ndak ijin dulu

    piss…🙂

  8. Eugh…senangnya backpeckeran…. Ada rencana BPan lagi ga mas? Boleh dech kasi2 info, sapa tau bisa ikutan ngerasain jadi mushafir. Ini seriusan loh…. +pasang tampang serius, hehehehe+

    1. @coretanpinggir: trims bro..
      @ade: hehe.. iklan tahun berapa tuh, uni? saya sih generasi milenium.. hehe..
      @eka situmorang-sir: selain menarik rambut orang, saya sepertinya juga bisa menarik pelajaran…. hehe..

  9. Ya ya.. saya setuju. Perjalananmu memang menarik luar biasa, apalagi klo dialami sendiri ya..
    Kisah diterima mapala itu misalnya, saya juga takjub.

    Btw ternyata jalak balinya cuma seuprit di ujung paragraf. Hahaha. Menipu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s