Mengarifi Kearifan Lokal

Saya harus rela mengelus dada dan bersabar karena perjalanan ke Pulau Sempu tertunda lagi. Kali ini penyebabnya adalah telepon dari kawannya Bang Deka, kawan seperjalanan saya, dari Malang.

Dia bilang begini, “Kata orang sana kalau mau ke Sempu mending hari libur, Dek. Sabtu-minggu gitu. Soalnya kalau hari biasa pulaunya sepi banget. Maklum lah, terpencil dan angker pula. Kalau ngotot bener pengen jalan rabu, mending ajak orang sana biar aman.”

“Mengajak orang sana biar aman” tentu nggak bisa gratis. Biaya yang dikeluarkan untuk jasa guide pun sepertinya akan lebih besar daripada biaya transport ke sempu. Kami sepakat, ke Malang hari kamis saja.

Bukan sekali ini saja perjalanan saya tertunda bahkan batal gara-gara “pantangan” yang berlaku di suatu tempat. Waktu di Sindoro saya harus menunggu hujan reda selama setengah hari sebelum diizinkan naik. Di sana memang ada sebuah aturan yang harus ditaati bahwa jika di desa basecamp hujan, pendaki baru boleh naik setelah hujan reda. Naik Sindoro waktu bulan purnama juga dilarang. Katanya, sih, saat itu adalah waktunya setan mencari pengikut. Saya juga pernah batal naik Lawu gara-gara bertepatan dengan purnama.

Kearifan lokal yang dikemas dalam pantangan-pantangan serem itu, kalau dipikirkan lagi, sebenarnya demi kebaikan bersama, kok. Mari kita lihat.

Naik gunung bulan purnama itu dingin sekali. Pendaki sial yang naik saat itu pasti kedinginan. Kedinginan yang berlebihan mungkin saja menyebabkan mountain sickness. Nah, kalau terjadi apa-apa kan kita juga yang rugi. Selain itu orang lain akan direpotkan jika kita butuh untuk diselamatkan.

Ke Pulau Sempu sebaiknya hanya-waktu-libur-saja? Awalnya saya mikir, kok orang mau jalan-jalan dihalang-halangi, sih? Terserah saya lah mau ke sana kapan. Tapi setelah saya renungkan, kalau tiap hari orang dipersilakan saja menjamah Pulau Sempu, nggak lama lagi pulau itu pasti akan kotor sekali. Margasatwa yang di sana pasti merasa terganggu karena habitatnya disambangi manusia tiap hari tanpa henti.

Ya, memang susah untuk mengarifi kearifan lokal. Tapi tidak ada salahnya dicoba, kan?

60 pemikiran pada “Mengarifi Kearifan Lokal

    1. nebeng di atas << biar kelihatan😀

      Hmmm… kalau di papua, pesawat2 kecil yang tipe Cessna Caravan tidak berani terbang kalau siang, dan biasanya terbang waktu pagi sekali. Masalahnya, kalau siang awannya tebal sekali. Makanya di papua banyak sekali pesawat jatuh, seperti yang baru2 ini merpati.
      Tapi kalau ini bukan mitos yak? hehehe…

      1. tapi kalau di Yahukimo itu bro, kita nggak boleh mandi di sungai meskipun airnya jerniiiiiiiiiihhhhhhhh bening ning ning…
        katanya seh bisa kena malaria

        (masuk akal nggak seh???)

      2. ngiler bener pasti tuh udah jauh2 ternyata gak boleh renang. logis juga sih kalo di permukaan sungainya keliatan uget2 jentik nyamuk, saya mah juga ogah berenang di sana.
        apalagi kalo airnya tenang menggenang.
        hehe.. masalahnya saya belum pernah ke sana. someday lah bro..

        hmm.. kalo difogging dulu sebelum nyebur gmn tuh? he..:mrgreen:

  1. benar shige, lebih baik bersabar saja..
    bundo baru saja mengalami itu.. jum’at sore 11 hari yang lalu.. sudah siap” mau ke pulau sikuai sabtu pagi dengan mahasiswa KD.. segala keperluan sudah disiapkan, tapi ternyata menjelang maghrib datang kabar dari tim di P sikuai bahwa sebaiknya perjalanan dibatalkan, karena prediksi air mulai pasang..

    ditunda seminggu, ternyata kondisi masih tak memungkinkan.. akhirnya hanya bisa ke P.sikuai dalam mimpi..🙂

    1. @kawanlama95: hm.. mengarifi kan bukan berarti harus mengikuti, bro.:mrgreen:
      @nakjaDimande: aduh. sayang sekali ya, bundo.😦 tapi ya itu tadi.. semua pasti demi kebaikan bersama.:mrgreen:
      sabar aja. suatu saat insyaAllah akan ke sana. just always keep that on your mind. hehe..

    1. @edda: yap.😀
      @julie: ok. di balik pantangan2 itu ternyata terkandung banyak makna.:mrgreen:
      @anny: hm.. ya. tapi tetep harus mengarifi kearifan lokal tadi.😀
      @planet orange: buset. beberapa? serem amat ya.😦

  2. Ada pepatah arek ngalam :
    Mowo deso mowo coro🙂
    Walopun itu mungkin hanya mitos, tapi kalo kita jadi ragu mending ndak usah, tapi kalo hati memang bisa 100% yakin, ya bisa diterobos. Saya punya beberapa kenalan yang super nekat, entah kenapa kok ya selamat2 saja walo nerobos yang mungkin dikhawatirken oleh orang2 biasa.
    Jogo kampus biru ne yo Mas🙂.

    Tukeran link yuk mas, ben eling jogja terus:mrgreen:

    1. @dadang: hm.. berarti “kearifan kampus”, ya?:mrgreen:
      dari tahun ke tahun keknya udah banyak banget yang mengulas tentang penerimaan mahasiswa baru. mulai dari uang masuknya yang selangit, tidak merakyat, sampai ke masalah ospek di beberapa universitas yang masih menerapkan perpeloncoan.

      tapi telinga yang dituju gak pernah denger unek2 proletar..

  3. Orang2 sana pasti sudah mengenal baik dengan tabiat alam disana. Pantangan yang serem2 hanyalah bungkus belaka, bukan.
    Tak ada ruginya memperhatikan saran penduduk lokal dengan melogikan pantangan2 itu.
    Salam hangat dari Surabaya

  4. kearifan lokal itu sebetulnya muncul bukan sekonyong-konyong, tapi dari pengalaman hidup yang sudah lama sangat. hanya, cara mengekspresikannya yang berbeda dengan cara pikir modern. contoh yang shige sampaikan itu amat sangatlah benar.

    saya ingat, nenek saya dulu sering memberikan pantangan akan beberapa hal. sebut saja misalnya tidak boleh meniup peliut di malam hari nanti bakal kedatangan ular. tentu saja itu sulit untuk dinalar. tapi, ada benarnya juga. bukankah meniup peluit pada malam hari akan mengganggu para tentangga?

    so, tetaplah hormati kearifan lokal itu, namun mari dinalar dengan baik, sehingga kita bisa memahami makna yang sesungguhnya…

    nice post brother…😀

  5. Iya benar, kadang yang seperti itu bertepatan dengan hal yang harus dipertimbangkan juga, walau alasan kita bukan karna alasan mereka, tapi kadang juga ada hal lain yang harus kita pikirkan juga buat mentaati larangan mereka.
    seperti purnama tadi karena dingin, walaupun ada juga yang berpikir karna setan ada lagi cari pengikut.
    terima kasih..
    Iklan Gratis

  6. tak selalu yang lokal arif. tempe bongkrek adalah produk lokal banyumas. namun lebih banyak orang yang keracunan ketimbang yang kekenyangan. tempe ini sudah sepuluh tahun lebih dilarang peredaran dan pembuatannya oleh peraturan daerah.

    salam blogger,
    masmpep.wordpress.com

  7. kearifan lokal adalah aset sebuah bangsa. karenanya mari kita inventarisir, kita hargai dan kita wariskan. jangan begitu budaya kita diklaim bangsa lain, baru kita ributkan dan perhatikan.

  8. lha emang malem2 bulan purnama lebih dingin dari malem2 yang bukan bulan purnama gtu???
    terlepas dari itu, saya setuju. Kemungkinan besar, mereka memiliki alasan dibalik paham2 seperti itu. Tapi ya klo untuk niatan yang mulia (misal menolong orang ato apa gtu), tidak terhalangi oleh mitos2 begitu..

  9. Err….jadinya sekarang lagi di Sempu ya? Ditunggu postingannya.
    Saya juga niat mau ke Sempu, tapi buta arah begini😀

    Soal pantangan begitu sepertinya ga hanya soal yang berhubungan dg alam aja sih, tapi juga yang lain-lain macam soal adat seperti “jangan duduk di depan pintu”. Sekilas emang aneh, tapi kalau dipikir-pikir lagi ada benarnya juga dan ga ada ruginya untuk dipatuhi *selama masuk akal aja*🙂

  10. tahun lalu diriku naik lawu pas banget dengan bulan purnama.
    pas ndak ada larangan. dan pas sendirian😆
    ternyata memang dinginnya benar2 menusuk tulang. sampai di pos 5 diriku cuma bisa ngringkel berselimut jaket bertutupkan ransel, dengan menyalahkan langkah kaki yg terlalu cepat hingga sampai di pos 5 masih dini hari🙂
    itu pertama kali diriku naik gunung malam hari tanpa menyalakan senter.
    mantabs😀

  11. beginilah dua buah pepatah lawas berlaku: “Bumi sama dipijak, langit sama dijunjung” dan “lain padang lain belalang”, hal serupa juga berlaku dikala awal-awal kami masuk ke misi penugasan dan pihal administration yang notabene orang2 bule semua tidak bisa dansulit menerima kenyataan untuk mengeluarkan biaya “selametan” saat sebuah tower communication harus didirikan didaerah kampung pelosok di Liberia (West Africa).. sulit mengakomodasikannya dalam administrasi accountingnya, begitu kilahnya..

    Namun, hey mister – kata saya: kamu mau misi ini berjalan lancar? semua orang terhubung saluran telepon dna koneksi internetnya ke HQ, maka ini adalah biaya kacang goreng.. and remember, we are in the middle of nowhere..😀

    Mengarifi kearifan lokal.. adalah salah satu sarat penting, daam hal ini kita disini pertimbangannya adalah –> Survival. jadi ya baiknya bisa fleksibel sambil mengasah ketrampilan bernegosiasi, meski kadang banyak kearifan lokal itu sering dimanfaatkan terhadap pendatang.

    Salam hangat dari negeri si bau kelek, seneng sudah bisa mampir kesini..

  12. Kearifan lokal ini dibuat untuk melindungi keselamatan manusia dan lingkungan, namun karena penyampaian yang salah dan terkadang dibumbui dengan klenik. Sehingga membuat beberapa orang tidak menghiraukannya. Akibatnya kecelakaanlah yang diterima!

  13. bener, dri. sebetulnya setiap ketentuan setempat itu dibuat atas dasar kebaikan, hanya karena masayarakat kita masih banyak yang percaya tahayul, maka dikemaslah mereka dalam mitos. hal-hal semacam juga berlaku dalam dunia kesehatan, yang bila diamati secara ilmiah dan mendalam, ternyata ada benarnya. hanya logikanya saja yang perlu diperbaiki agar lebih masuk akal bagi yang tidak percaya tahayul dan mitos.

  14. Saya mengucapkan SELAMAT menjalankan PUASA RAMADHAN.. sekaligus Mohon Maaf Lahir dan Bathin jika ada kata kata maupun omongan dan pendapat yang telah menyinggung atau melukai perasaan para sahabat dan saudaraku yang kucinta dan kusayangi.. semoga bulan puasa ini menjadi momentum yang baik dalam melangkah dan menghampiriNYA.. dan menjadikan kita manusia seutuhnya meliputi lahir dan bathin.. meraih kesadaran diri manusia utuh.. meraih Fitrah Diri dalam Jiwa Jiwa yang Tenang

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaank
    I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s