Langkah (9): Hari Merdeka

Didikan ekskul Paskibra membuat saya terbiasa mengkuti upacara 17 Agustus dengan khidmat. Tak perlulah saya mencari alasan “muluk-muluk”, saya upacara dengan tertib karena menghargai pelaksana upacara. Nggak mudah lho mengibarkan bendera dengan benar di depan ratusan orang.

merah_putih

Makanya saya kecewa sekali sewaktu mengikuti upacara bendera di laguna Segara Anakan Pulau Sempu, Malang, 17 Agustus kemarin. Semua gerak-gerik pelaksana upacara dibalas dengan guyonan oleh para peserta. Seakan-akan upacara itu cuma lelucon.

Sungguh, suasana upacara ini tidak sesuai dengan harapan saya. Harusnya di tempat-tempat terpencil seperti ini orang-orang upacara dengan benar. Dengan khidmat dan penuh penghayatan. Bukannya malah ketawa-ketiwi nggak jelas.

upacara_bendera_sempu

Ingin rasanya saya melempar si gendut berbaju merah itu dengan wajan. Kurang didikan mungkin idiom yang tepat untuknya: dia melolong-lolong seperti anjing hutan sewaktu pasukan menyanyikan lagu syukur. Bang Roy, kenalan dari Surabaya yang asli Sibolga dan dibesarkan dalam didikan semi militer SMA 1 Matauli, sampai geleng-geleng kepala tanda prihatin.

Suasana tujuhbelasan di Pulau Sempu kemarin berbeda 180 derajat dengan upacara di Puncak Kenteng Songo, Gunung Merbabu, dua tahun lalu. Di bawah pimpinan Jagawana, polisinya gunung, para pendaki mengikuti rangkaian upacara dengan khidmat. Dalam amanatnya, Inspektur upacara dengan lihai menarik persamaan antara pahlawan dan kami, para pendaki gunung. Akibatnya beberapa orang yang terlalu menghayati pidato sampai menangis terharu, termasuk saya. Beda sekali dengan campers Sempu kemarin. Jangankan menangis terharu, upacara dengan khidmat saja tidak mau.

Omong-omong, bukankah para guru di sekolah pernah mengajarkan kita ungkapan “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya”? Mengikuti upacara peringatan kemerdekaan dengan khidmat, di mana pun itu, adalah salahsatu cara untuk menghargai perjuangan para pahlawan.

20 pemikiran pada “Langkah (9): Hari Merdeka

  1. biasa shige, justru orang” seperti itu mempermalukan dirinya sendiri.. nunjukin kuliatas dirinya yang memang segitu-gitunya saja.. boro” menghormati orang lain apalagi menghargai jasa pahlawan..

    bundo ga pernah mengikuti upacara di puncak gunung.. tapi bisa membayangkan khidmat dan harunya.. karena memang perjalanan ke puncak gunung adalah perjuangan membuang ego diri..

    semoga kita menjadi generasi yang bisa menghargai jasa pendahulu kita.. amin

  2. benar kata bundo. orang yang hanya bisa mengolok-olok seperti itu, tidak hanya dalam upacara bendera, semata-mata mengolok-olok dirinya sendiri. semestinya upacara bendera di tempat-tempat yang tidak biasa seperti itu lebih khidmat. ngemeng-ngemeng, kenapa nggak beneran kamu lempar wajan aja orangnya? *manas-manasin*

    adri, kamu kok jalan mulu, sih? tahun lalu di puncak gunung pula! sumpah, aku iriiii!!! *sambil jambak-jambak rambut sendiri*

    ps. orang upacara kamu kok malah motret-motret tho? sekarang siapa yang nggak khusuk upacara nih? hm…

  3. setuju sama bundo dan uni
    (jangan2 komentar dibawahnya juga sama)

    Butuh kerendahhatian untuk memahami makna kemerdekaan bro. Mereka, yang cengigas cengingis itu, harus tahu makna perjuangan, bukan hanya dari buku, tapi kalau perlu, sekalian terjebak atawa tersesat di gunung sampai nangis darah. Biarkan alam mengajari mereka agar tidak cengeng dan hedonis. Semangat traveling, harusnya membekaskan kebanggaan dan cinta terhadap negeri sendiri, terhadap perjuangan bangsa ini, bukan hanya sekedar bangga-banggaan.

    (doh, jadi ikut emosi gini…)

  4. aahhhh…udah dua kali ni q ga pernah ikutan upacara bendera..
    ga seperti dulu waktu sma, sering jadi petugas paskibraka… sekarang dah jadi mahasiswa malah jarang ikutan peringatan hari kemerdekaan…

  5. @nakjaDimande: mungkin di gunung upacaranya jadi lebih khidmat krna utk mencapai tempat upacara capeknya setengah mati, bundo..:mrgreen: berarti jalur trekking ke Segara Anakan perlu diperpanjang nih.. hehe..

    @noersam: merdeka, bro!

    @marshmallow: wajannya masih kotor, uni. jadi masih di luar jangkauan.:mrgreen: sisa-sisa minyak utk menggoreng ikan teri masih belum dibersihin. hehe..
    foto yang nomor dua itu yang ngambil bukan saya..😛 tapi vokalisnya radja.. hehe..

    @den mas: sabar, bro.. sabar.:mrgreen:

    @eskopidantipi: mungkin ini efek dari bolos pelajaran sejarah ya?😀

    @nur ichsan: saya juga ikutnya bukan upacara2 yang formal gitu..:mrgreen:

    @elmoudy: hehe.. untung ane masih muda. *kabur juga*

    @ira: yoi.. link kamu saya pasang juga deh. salam kenal ya..:mrgreen:

    @fandy: salam kenal juga.😀

    @uni: who knows??

  6. walah… saya jadi tersinggung nih. soalnya saya sering ketawa ketiwi pas upacara. hehe… lagian, inspekturnya kalo amanat selalu berbanding terbalik dengan yang dikatakannya.

    tapi, gw sering jadi petugas upacara. karena gw paling diem… nah lho?

  7. sayang sekali wajannya.
    tonjok aja. ndak ada modal wajan.
    upacara adalah salah satu momen yang paling kutunggu saat pendakian. suasana yang lain daripada yang lain🙂
    sayang merbabu 2 tahun lalu diriku ndak pas 17-an. kalo ndak, bisa ketemu muka kita🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s