Jangkrik

The Road

Anda pasti masih ingat kalau saya pernah bilang bahwa traveling itu menambah wawasan. Terutama wawasan geografis, sosial, dan budaya. Jangan harap pengetahuan itu datang begitu saja. Anda tetap harus  menggalinya sendiri. Bukan, bukan dengan cara mengambil pacul dan mencangkul tanah: mengobrollah dengan orang lain. Orang-orang baru yang anda temui dalam perjalanan. Percayalah, cawan anda akan diisi oleh ilmu yang tidak terduga.

Suatu ketika dalam kereta api tujuan Surabaya, saya pernah sebangku dengan seorang bapak berumur sekitar 40 tahun. Entah apa yang ada dalam kepalanya, Bapak yang naik di Madiun itu sepanjang waktu cengengesan terus. Sinyal keramahan itu “memaksa” teman seperjalanan saya untuk menyapa si Bapak. “Mau ke mana, Pak?”

“Surabaya.”  Jawabnya pendek. Masih sambil cengengesan.

“Ke Surabaya main atau…?” Harap diingat, teman saya ini hobinya tertawa.

“Oh, saya tinggal di Surabaya. Aslinya Madura. Ke Madiun bezuk teman di penjara. Ketahuan nyabu.” Tiga kalimat dari Bapak itu menghilangkan senyum sepuluh senti dari bibir teman saya. Si Bapak masih cengengesan.

Kemudian obrolan berjalan kikuk dan sang Bapak menjelaskan bahwa tahanan kasus narkoba biasanya memang dibawa ke Madiun. Tanpa diduga Bapak yang ramah ini juga bercerita tentang tradisi carok di kampungnya. Konon kedua keluarga orang yang terlibat duel maut ini akan bermusuhan selama tujuh turunan. Oke. Masalah Lembaga Pemasyarakatan dan carok ini memang tidak keluar di Ujian Tengah Semester, tapi coba bayangkan, cuma berapa orang kah yang mengerti soal ini?

Baru beberapa minggu kemarin dalam Kereta Ekspress Penataran jurusan Surabaya-Malang, saya dikibuli oleh seorang Bapak. Ketika saya bertanya asal nama Penataran, beliau menjawab bahwa Penataran itu adalah akronim dari Penumpang Untuk Rakyat. Jawaban yang aneh dan tidak meyakinkan. Saya coba merangkai-rangkai penumpang-untuk-rakyat itu menjadi Penataran. Tidak bisa. Wah, Bapak ini ngibul nih.

Perihal Penataran itu menguap selama beberapa waktu dan kembali jatuh ke dalam kepala saya tadi pagi. Saya coba search Penataran di Google. Terungkaplah fakta sesungguhnya bahwa Penataran ini adalah nama sebuah candi peninggalan Majapahit di Blitar. Traveling merangsang seseorang untuk melakukan riset dan riset mengalirkan informasi ke otak.

Masih ada yang lain, gara-gara tersesat di hutan Pulau Sempu kemarin itu, saya jadi bisa menebak seseorang berasal dari Surabaya – setidaknya dari Jawa Timur sekitar Surabaya – atau tidak dari caranya ngomong pisuhan “jangkrik”. Kata temen saya yang orang Malang, kalau orang Surabaya biasanya bilang “juaaangkrik!” CMIIW.😀

42 pemikiran pada “Jangkrik

  1. waduh, jadi parameternya berdasarkan pisuhan ya. hehehe … setiap daerah memang punya tipe pisuhan yang berbeda-beda. tapi sepanjang yang aku tau, orang Surabaya memang cenderung lebuh rude, tapi bukan berarti mereka kasar kok. They’re very nice actually🙂

  2. Nggak ngerti kenapa, setiap kali saya bepergian dengan travel atau pesawat, selalu saja penumpang sebelah saya selalu mengajak saya kenalan. Padahal saya nggak pernah mengundang orang buat kenalan. Dan di tiap kenalan, mereka selalu terdorong untuk mengoceh tentang daerah asal masing-masing. Untungnya saya tipe orang yang senang mendapat pengetahuan baru, jadi saya selalu menikmati perkenalan saya dengan orang-orang asing, hehehe.

  3. hahahah…

    6 tahun di surabaya membuat saya terbiasa dgn kata” “juangkrik tenan…!”

    hehe

    saya sering naik kereta api penataran, tapi setau saya dulu penataran tu bukan kereta api express tapi ekonomi.. gak tau yg skrg…

    kalo saya sendiri tidak tepat di bilang traveling… soalnya saya perantau… heheheh

  4. tepat sekali, 4 tahun kuliah di surabaya membuat saya fasih dengan umpatan jangkrik, hehehehe

    btw, di Bali banyak nama pura yang menggunakan kata “penataran”, kalau tidak salah “natar” itu artinya teras.

  5. “Traveling merangsang seseorang untuk melakukan riset dan riset mengalirkan informasi ke otak.”

    betoooll.. pastinya sebelom jalan pasti nyari info sebanyak2nya ttg tempat yang dituju

  6. Orang Surabaya bilang “juangkriik!!”? Kalau orang Yogya gimana ya bilangnya? Saya nggak pernah nyebut binatang itu sih 😀

    (kasihan ya, nasib si jangkrik, dipakai buat pisuhan … )

  7. gara-gara pisuhan gaya surabayanan itu, dulu pernah ada yang disebut dengan komputer jangkrik, yaitu komputer hasil rakitan yang gampang rusak. karena sering rusak, maka selalu diomelin oleh pemiliknya dengan kata-kata “jangkrik”…😀

  8. jadi inget dekade yang lalu saat malam-malam diriku sendirian terdampar di ujung selatan pulau garam.
    turun dari bis, berjalan tak tentu arah, dan melihat seperti ada acara yang barusan selesai.
    seseorang bilang barusan ada carok, dan untungnya diriku datang terlambat🙂

  9. JIangkrikkk itu kategori pisuhan paling sopan di Jawa Timur, buanyak yg serem2 tapi meskipun diucapkan tidak identik degan mengumpat/ marah.
    Ngomong2 gambar jalan itu kayaknya di UGM ya, tp sebelah mana sih….

  10. @auliaac: ah, nggak kok. cuma kelihatannya aja jalan-jalan terus.:mrgreen:

    @pinkparis::mrgreen: yeah, agreed. ehm, jangan salah lho. pisuhan itu kan “kebudayaan” daerah.:mrgreen:

    @fandy: kalo onta kan mesti diimpor dulu coy. jangkrik? tinggal pergi ke sawah.:mrgreen:

    @vicky laurentina: ah, mbak bisa aja. masa gak “ngerti”? saya juga suka mendengarkan orang lain. tapi sampai waktu2 tertentu juga.. tengah malam melayani obrolan orang picek juga kan mata jadinya..:mrgreen:

    @bandit pangaratto: kalo gak salah udah disebut kereta ekspress, bro. yah, bentuknya sih sama aja.. “ekonimis.”:mrgreen:

    @wira: bisa jadi artinya itu. bahasa bali juga ada yang mirip bahawa jawa, kan?

    @neng fey: yoi!😀

    @bocahbancar: semangat!:mrgreen:

    @tutinonka: kalo di jogja sih anak mudanya lebih suka misuh pake nama minuman: bajigur.. keknya sih turunan dari bajingan alias sopir gerobak.:mrgreen:

    @pencerah: ah, jangkriknya juga seneng tuh disebut2 terus.:mrgreen:

    @vizon: hehehe..:mrgreen: lucu juga, da. generasi anak kos seangkatan saya sih udah gak akrab lagi sama idiom komputer jangkrik itu. soalnya udah pada beli komputer rakitan bagus semua sih..:mrgreen:

    @indra1082::mrgreen:

    @sari ajah: saya timpuk pake jangkrik aja yah?:mrgreen:

    @eskopidantipi: hehe.. satu pisuhan khas lagi keluar.:mrgreen:

    @~noe~: untung sekali, mas noe. kalo bisnya kecepetan datang dikit gimana tuh ya?:mrgreen:

    @atik: kurang tau ya, mbak. saya bukan tukang sensus soalnya.. hehehe..:mrgreen:

    @mas8nur: itu foto jalan ke pogung, mas. di depan gedung pusat pascasarjana. yang di utara teknik itu lho. itu ngambilnya pagi-pagi musim liburan kuliah waktu kendaraan masih belum lalu lalang.

    @isnuansa: yap.😀

    @abula: lumayan, bro.:mrgreen:

  11. entah kenapa bundo merasa shige lebih jawa daripada minang.. hehhee

    sejauh-jauhnya jangkrik merantau pasti pulang juga ya shige.. hahhha bundo jahil **eh emangnya jangkrik itu konotasinya negatif gitu shige? bagi bundo jangkrik itu eksotis, terutama suaranya..

    klo dikendaraan, ga ada yg mau ngajak bundo kenalan krn kerjaannya tidur mulu..😛

  12. @quinie: trims juga udah berkunjung..:mrgreen:
    “carok” itu duel ala Madura. duel sampai salah seorang mati.

    @nakjaDimande: hehe.. mungkin karena cerita saya kebanyakan settingnya di Jogja, bundo.:mrgreen:
    umpatan jangkrik di sini sama dengan umpatan “baruak” di sumbar, bundo..:mrgreen:

    @quinie: komen yang pertama dikira spam.. dijaring akismet..:mrgreen:

    @dobleh yang malang: salam hangat selalu juga blue..😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s