Langkah (12): Sendiri Itu Tidak Indah

Terang sudah digantikan gelap. Bis yang saya tumpangi menepi di sebuah restoran di tepi jalan Kendal-Pekalongan. Hanya di rumah makan inilah kupon makan gratis dari armada bis berlaku. Buru-buru saya masuk ke dalam ruangan yang telah dipersiapkan. Menu yang disajikan lumayan. Cukup menggoyang lidah dan bergizi; ayam gulai, telur dadar, sayur kangkung, dan kerupuk.

Ada sebait pantun yang populer di rumah makan di Padang: “Ka Makah alah, ka Solok alun. Makan alah, marokok alun.” Terjemahannya dalam bahasa indonesia kira-kira: “Ke Mekah sudah, ke Solok belum. Makan sudah, [tapi] merokok belum.” Intinya belum lengkap rasanya makan jika belum ditutup dengan menghisap rokok bangsa sebatang. Maka saya sulut kretek sebatang dan merokoklah saya di emperan rumah makan.

Sedang asik ngebul, muncul seorang bapak tua yang memanggul karung bekas beras. Beliau duduk di samping saya. Dari stylenya saya sudah insyaf jika bapak ini mencari nafkah dengan cara mengumpulkan plastik dan kaleng bekas untuk kemudian dijual. Ya, pemulung.

Tidak enak rasanya merokok sendirian. Saya sodorkanlah rokok bungkusan saya ke bapak tua itu, “Rokok, Pak?”

Dengan sukacita beliau menyambut tawaran saya. Air mukanya pun berubah. Sekarang lebih bersahabat dan terlihat lebih terbuka terhadap sebuah obrolan. Setelah beliau ngebul beberapa saat, saya lemparkan sebuah pertanyaan pembuka obrolan.

“Ini di mana ya, Pak? Masih di Kendal atau sudah masuk pekalongan?”

“Ini di Grinsing. Perbatasan Kendal dengan Pekalongan. Sanaan dikit sudah masuk Pekalongan.” Beliau menjawab saya dengan Bahasa Indonesia. Logat Jawanya masih kental. Pertanyaan saya memang tidak mendapat jawaban straight. Tapi bisa ditebak bahwa Grinsing ini masih masuk wilayah Kendal.

Bas-bus…

“Bapak tinggal di mana, Pak?”

“Oh. Saya tinggal di sini. Di belakang sana.” Katanya sambil menujuk ke sebuah arah, “Tapi saya asli Kendal. Ke perbatasan sini merantau.”

Bas-bus…

“Lho? Kok sampai malam masih kerja, Pak? Anak-anaknya mana?” Dari dulu saya selalu penasaran kenapa orang-orang setua itu masih saja harus berjuang mempertahankan hidupnya sendiri. Anak-anak mereka ke mana? Bukankah umur 60-70an begitu seharusnya seseorang sudah hanya akan duduk-duduk santai di sofa sambil bermain dengan cucu-cucu mereka?

“Saya nggak punya istri, Mas.” Jawaban beliau langsung saya timpali dengan “uhuk! uhuk!” penuh makna. Malang sekali bapak ini. Tua-tua begini tidak ada tempat untuk bercerita, berbagi, dan bersandar.

“Sendiri itu indah” kata Seurieus. Indah dari Hongkong?

34 pemikiran pada “Langkah (12): Sendiri Itu Tidak Indah

  1. @kawanlama95: kalo gitu memang pedih banget, bro..:mrgreen:

    @nh18: indeed, paman. salam dari padang.:mrgreen:

    @pinkparis: yap. kontemplasi memang membutuhkan kesendirian. rame-rame namanya diskusi.. hehe..:mrgreen:

    @pakacil: belum sempat nanya panjang lebar bis saya udah mau ngelanjutin perjalanan aja, pak. keknya sih ada sesuatu..

    ada 2 kemungkinan sih menurut saya. pertama bapak itu membujang karena pilihan. kedua ditinggalin istrinya karena alasan ekonomi.

    @bandit pangaratto: bener, bro. semakin berwarna semakin indah.:mrgreen:

    @zam: bang zam berminat membujang po? mehehehe..:mrgreen:

  2. “Ka Makah alah, ka Solok alun. Makan alah, marokok alun.”
    Wes mangan ora udut eneq… Hehehe….

    Malang memang, ironisnya banyak nasib yg serupa dengan si bapak itu… kesendirian adalah hal biasa…

  3. onde mande..! ada yang pake pantun buat alasan keharusan merokoknya.. **harus dijewer sama bundo niyh..😀

    jadi.., memangnya shige pernah punya pikiran untuk hidup sendiri? bundo rasa sama sekali tidak indah.. tapi bila kita memang ditakdirkan hidup spt bapak itu, semoga kita tak merasa sendirian karena ada Allah selalu mendapingi.. semoga bapak itupun bahagia dalam kesendiriannya. amiin

  4. petualangan mas morish ternyata sudah sampai pada langkah ke-12. salut banget nih. rencananya sampai langkah ke berapa, mas, hehe … semoga pengembaraannya membuahkan banyak pengalaman dan hikmah berharga. salam sukses!

  5. Salut buat pantunnya buat alesan ngerokok. Sama seperti mas noe delenger kemarin, yang katanya lebih baik umur pendek tapi bisa merokok, dari pada umur panjang tapi nggak bisa menikmati rokok kekekek….

  6. @julie: kadang-kadang memang enak. tapi kalo permanently alone, hell no!:mrgreen:

    @casrudi: wedew! saya jangan sampai deh..:mrgreen:

    @eskopidantipi: sepertinya iya, paman. normalnya gak bakal ada cowok yang mau membujang…:mrgreen:

    @pushandaka: iya bro.. enak sih enak. tapi kalo dibilang indah? lebay banget.. :mrgreen

    @alamendah: kadang-kadang memang iya, bro..

    @generasi patah hati: nah lo.. masih mau jadi “generasi patah hati”?:mrgreen:

    @payjo: hehe.. daripada saya kasih tokipan..:mrgreen: kemana aja bro?

    @bluethunderheart::mrgreen:

    @dhodie: lumayan. daripada mati gaya..:mrgreen:

    @pratama adi: sama brur!🙂

    @nakjaDimande: aduh! aduh! jewerannya nendang, bundo…:mrgreen:

    untung saya nggak mikir seperti itu, bundo..
    mudah-mudahan lah saya nggak ditakdirkan buat sendiri:mrgreen:

    @bri: yap..

    @sawali tuhusetya: hehe.. bagusnya sampai kapan ya, pak?:mrgreen:

    @jiewa: coba tawarin pizza, bro.. pasti langsung pada sumringah tuh…:mrgreen:

    @den mas: hehe.. masih bisa ngerokok kan tandanya badan masih sehat.. huahaha..

    @iderizal: ahahaha.. bisa aja lu.:mrgreen:

  7. tidak bisa dihantam kromo to.
    tergantung konteksnya.
    kalo lagi pengin sendiri ya pasti lebih indah😛
    tapi kalo dalam substansi tulisan ini memang sangat menyedihkan.
    itu kemungkinan rumah makan sendang wungu. hayo ngakuu…

  8. maka menikahlah… *lho? lho? LHO???*

    kalau masih semuda shige sih, sendiri bisa jadi indah. tapi kalau sudah lebih tua, alangkah indahnya kalau ada yang menemani… *curcol*

  9. suka seluruh ceritanya kecuali bagian rokoknya! huh!
    pake alasan didorong pantun pula.

    sendiri memang tidak indah. kan manusia itu makhluk sosial.
    jadi curiga, jangan-jangan surieus itu antisosial.
    huehehe…

  10. Mohon maaf jika Out of Topic Mas Mori…

    kembali untuk menyampaikan:
    terkait akan sangat berkurangnya aktivitas online beberapa hari ke depan, karenanya maaf duluan…
    sembari memohon pada-Nya agar diberikan kesempatan untuk menunaikan ramadhan kali ini…
    Saya menyampaikan selamat ‘Idul Fithri 1430 H sekaligus menyampaikan permohonan maaf jika ada salah pada tulisan, pada komentar, ataupun pada komentar yg tak tertuliskan.

    Semoga ketetapan takdir membuat kita dapat menjumpai ramadhan tahun depan🙂

  11. haha…. bas buusss
    buat bapak itu, sendiri sepertinya derita
    tapi deritanya mungkin sudah hampir gak trasa lg
    karna spanjang hidupnya.. penuh penderitaannnn….
    kyaaaaaaaaaa… sok ngerti lo, Mod

  12. @~noe~: sendang wungu apa nggak ya? wah, nggak baca “judul” rumah makannya aku, mas..:mrgreen:

    @yoan: setuju..🙂

    @wira: iya bro..😦

    @SQ: sendiri itu tidak indah bukan berarti kalo rame2 indah lho… haha..:mrgreen:

    @marshmallow: hehe.. paling mereka bikin lagu itu cuma buat menambah fans dari kalangan jomblo..:mrgreen:

    @pakacil: sama-sama, pakacil. saya juga ingin mengucapkan mohon maaf lahir dan batin.🙂

    @elmoudy::mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s