Ayo Peluk Tugu Jogja

100_1083

Kurang afdol rasanya kalau main ke Jogja tapi nggak sempat foto-foto di Tugu. Orang Jogja pasti ngerti kalau yang saya maksud bukan Stasiun Tugu. Tugu yang ini adalah, pastinya, sebuah tugu yang terletak di perempatan antara Jl. Sudirman, Jl. Pangeran Mangkubumi, Jl. Diponegoro, dan Jl. A.M. Sangaji.

Tugu yang merupakan landmark kota Jogja ini dibangun sekitar tiga abad yang lalu, kira-kira setahun setelah Keraton Jogja berdiri. Bentuknya berbeda dari yang sekarang dan dahulunya monumen ini disebut Tugu Golong Gilig (Semangat Persatuan). Pada tahun 1867, terjadi sebuah gempa besar yang meruntuhkan Tugu Golong Gilig.

2810tuguasli (1)Sekitar 30 tahun setelah tugu lama ini runtuh, Belanda membangunnya kembali dengan bentuk dan ukuran yang berbeda. Pucuknya berubah dari bola menjadi kerucut, tingginya pun berkurang sekitar 10-15 meter. Kemudian Belanda menyebutnya sebagai De Witt Paal (Tugu Pal Putih). De Witt Paal inilah yang kita sebut sebagai Tugu Jogja sekarang.

Untuk menikmati suasana Tugu Jogja, sebaiknya anda memilih waktu sore atau malam hari. Sekali, saya pernah berjalan lewat tugu pada sore hari. Dari kejauhan, pucuknya yang berupa kerucut berlapis emas itu terlihat berkilau. Puncaknya tampak bersinar. Biasanya sore hari belum ramai orang yang nongkrong di sini.

Malam hari sekitar pukul 10, orang-orang biasanya mulai ramai nongkrong di sekitar Tugu. Ada yang hanya sekadar nongkrong di Circle-K, ada pula sebagian yang sibuk foto-foto narsis di Tugu. Malam sabtu atau malam minggu, anda akan melihat banyak klub motor atau skuter berkumpul di sini.

DSC00018000

Ada beberapa mitos yang berkembang tentang Tugu Jogja ini. Pertama, katanya siapa yang pernah foto di Tugu bakalan kangen Jogja terus. Kedua, katanya mahasiswa Jogja yang pernah memeluk Tugu bakalan lulus cepat. Haha! Kebetulan saya baru sekadar foto di sana, belum pernah meluk dengan sepenuh hati. Ini patut dicoba sepertinya.:mrgreen:

[Gambar Golong Gilig dicolong dari website KR]

48 pemikiran pada “Ayo Peluk Tugu Jogja

  1. Bundo klo ke Yogya ga pernah meluk dan foto di tugu, tapi kangen terus tuh shige..๐Ÿ™‚

    ntar bundo juga mau bikin mitos buat wisatawan yang ke Bukittinggi : tidak afdol rasanya bila anda ke Bukittinggi tanpa memeluk Jam Gadang..! hihi

  2. Hmmm… Berkurang 10-15 meter, tinggi sekali berkurangnya Kang… mungkin sebelum tingginya dikurang udah kayak menara kali yah, tinggi menjulang… Jangan memeluk, menyentuh aja saya belum pernah… Insha Alloh kalau ada umur panjang pengen juga liburan ke Jogja…๐Ÿ™‚

  3. berarti harus punya teman yang masih belum lulus dong. Dengan bergandengan tangan diharapkan bisa memeluk tugu secara bersama-sama dan lulus๐Ÿ˜†

  4. sudah 4 kali ke Yogya tapi aku ga poto2 . tapi walau ga poto2 namun bila kangen yogya ya aku kunjungi blog ini aja atau blognya piyud sang foto grafer. Wah aku paling seneng jalan malem cari hp second ato hp bm tapi tempatnya udah pindah dulu jalan dari tugu arah ke kodim. pindahnya kemana ya

  5. Jangankan berfoto di Tugu, berpikiran untuk berfoto di sana pun saya ndak pernah. Hehe!
    Tapi tanpa ritual itu pun, saya selalu kangen Jogja. Apalagi sekarang pacar saya masih ada di sana. Huehehe!

    Saya akan mendukungmu kalau puunya niat untuk memeluk Tugu dengan segenap hati dan jiwa. Jangan lupa diabadikan lewati foto dan ditampilkan di blog. Hehe..

  6. wah, lam kenal en lam petualangan brother!!! kapan neh ke jogjanya, kok gk kulunuwun ke gw dulu, khan bisa gw jamu๐Ÿ™‚ , wah pas ke jogja sempet mengintip sejumput surga di gunung kidul belon bro, goresan tinta Ilahi kan kita temukan di Pantai Timang, Pantai Watulawang, Pulau kalong, luar biasa…., nice blog bro, keep on asdventuring en bloging….

  7. kemaren waktu ke jogja dah pengen foto di tugu. tapi dibilangin norak krn ya letaknya di tengah jalan gt.:P
    jadi akhirnya mengurungkan niat…tp next time pasti bakalan foto2 juga

    1. @bundo: tanpa mitos2 itu pun jogja memang udah ngangenin kok, bundo.:mrgreen:

      jam gadang.. keknya terlalu lebar buat dipeluk. hehehe..:mrgreen:

      @narablog09: coba aja. pasti pegel.:mrgreen:

      @casrudi: iya, paman. tinggi menjulang. lha wong sekarang aja udah menjulang kok.:mrgreen:

      @komuter: jogja masih berhati nyaman kok, mas. tenang aja.. kalo ke sini lagi, suasananya masih tetap sama kok.๐Ÿ™‚

      @indra: mau dipeluk, dicium, dibelai, boleh-boleh aja kok mas.:mrgreen:

      @blue: apa kabar blue?:mrgreen:

      @mandor tempe: saya sendiri “masih” semester 7, paman.:mrgreen:

      @sakurata: oke bro.. that’s right. kalo punya, meluk istri memang lebih enak.:mrgreen:

      @alamendah: jogja… memang ngangenin kok bro.:mrgreen:

      @kawanlama: dulu hape second dan hp “asal gak jelas” dijual di pasar maling (sarling) di jalan pangeran mangkubumi. sekarang sarling itu udah pindah ke pasar klithikan.:mrgreen:

      @berry devanda: amin..๐Ÿ˜€

      @tary ayk: hehehe..:mrgreen:

      @achoey: ya nggak segitunya bro.. ngomong I love You full itu mending ke pacar.:mrgreen:

      @pushandaka: tentunya gak serta merta gara-gara meluk tugu, UGM bisa cepat2 meluluskan juniormu ini, bro.:mrgreen:

      doakan saja lah cepat lulus. *biar bisa jalan2 sepuasnya*:mrgreen:

      @julie: hehehe.. batalnya kenapa, tante? wah, sayang bener tuh..:mrgreen:

      @wirdan: saya udah 3 tahun lebih kok di jogja, bro.:mrgreen:

      @fathy farhat khan: saya sekarang tinggal di jogja kok bro. kuliah di sekip.:mrgreen: jogja juga?

      @itikkecil: wajib itu..:mrgreen:
      jangan ngaku ke jogja kalo belum lihat tugu. hahaha..:mrgreen:

      @ina: nah, inilah kelebihan jogja. kami para mahasiswa seolah gak kenal kata norak. setiap orang bebas menjadi dirinya tanpa harus diketawain orang. bebas berekspresi lah di sini..:mrgreen:

      @mamah aline: yang penting udah ada dokumentasinya, tante.:mrgreen:

      @tukangpoto: coba deh dengerin lagu “Yogyakarta” KLA Project.:mrgreen:

  8. Seingetku, De Witt Pal itu sebutan utk Tugu sebelum yg sekarang. Ini salah satu taktik Belanda yang mengetahui bahwa orang Jawa itu suka dengan simbol.

    Tugu Pal Putih itu merupakan simbol persatuan, penyatuan konsntrasi, yang dilambangkan dengan bentuk bulat bola. Belanda tahu ini dapat menjadi “simbol persatuan”, maka Belanda mengubah bentuknya menjadi lancip sehingga simbol persatuan hilang.

    Konon tugu Pal Putih ini digunakan Sultan untuk berkonsentrasi. Dari Pagelaran Kraton, dia menatap puncak Tugu Pal Putih yg secara imajiner berhubungan langsung ke Gunung Merapi.

    Oiya, ada lagi teknik Belanda mematahkan simbol-simbol kraton. Contohnya ketika membangun rel kereta api yg memotong “garis imajiner” Kraton-Merapi tepat di rel yg sekaran ini.

    Untuk melawan kekuatan “masjid Agung”, Belanda membangun Gereja di samping Gedun Agung. untuk menandingi kraton, gedung Agund dibikin. Benteng Vredeburg, dibangun untuk mengawasi kraton di mana letaknya merupakan jarak tembak ke arah kraton..๐Ÿ˜€

    oiya. ada mitos, kalo kita memeluk Tugu Jogja, maka suatu saat kita akan kembali ke Jogja. mitos dan ritual ini dilakukan oleh anak-anak yg lulus kuliah sebelum kembali ke tempat asal atau sebelum pergi merantau..๐Ÿ˜€

    1. @zam: menarik, kang. saya baru ngeh dengan sejarah keberadaan rel yang memotong garis imajiner merapi-laut kidul itu. belanda memang cerdas, buktinya mereka memanfaatkan “keyakinan” kita terhadap simbol-simbol. dengan cara mengubah Tugu Golong Gilig lah, atau dengan memotong garis imajiner itu lah.

      kabarnya dulu waktu vredeburg masih dipakai belanda, ada sebuah meriam yang moncongnya selalu diarahkan ke keraton ya, kang? tapi konon katanya, pernah meriam itu ditembakkan ke arah keraton tapi gak meledak. hehe… kasian deh lo belanda.:mrgreen:

      btw, itu gereja yang disamping mirota batik bukan, kang? wow, ternyata udah lama juga ya. saya kira yang di depan taman pintar itu yang lebih tua.

      wah, tanpa mitos pun sebenernya jogja udah ngangenin kok, kang. “berhati nyaman”…:mrgreen:

  9. @andthree: saya sih belum lihat foto yang lama. apalagi liat langsung. kan ane 20th century boy, bro.:mrgreen:

    tapi keknya lebih megah yang dulu. soalnya lebih tinggi dan besar.

    bukan, belanda bukan percaya sama simbol2 itu. mereka cuma manfaatin kepercayaan kita terhadap simbol2 seperti itu.

  10. @joesatch yang legendaris: kui.. bingung aku njawabe, kang.:mrgreen:

    @sunarnosahlan: iya, mas. udah lama banget itu tugu.

    @nahdhi: ketoke gur nge-cat thok.. biasa je, ben ketok anyar maneh.:mrgreen:

  11. halo bro, thanks buat sarannya buat ke NTT….berubung waktunya belon cukup jd blm masuk list. Wah blog kita mirip nech, bedanya situ Back Pack, saya Back Packernya motor๐Ÿ˜†

  12. Dulu pertama kali ke Jogja waktu SD, lalu SMA. Semuanya pas study tour. Setelah itu (karena jatuh cinta kali ya….) aku berangan2 suatu saat pengin tinggal yang lama di Jogja. Ternyata angan tersebut kesampaian 2008 kemarin hingga sekarang karen atugas belajar.
    Tapi setahu di Jogja dan sering banget lewat tugu pal putih belum pernah nongkrong atau kepikiran meluk itu tugu.
    Jatuh cinta dengan Jogja sepertinya tak akan pernah terpuaskan.

  13. hahaha… shige, saya pernah tuh berfoto-foto ria pada malam hari di situ… ah, suatu saat akan saya bikin postingan soal berfoto di tugu itu, hehehe…๐Ÿ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s