Langkah (25): Menyelinap ke Museum Dirgantara Mandala

Museum Dirgantara Mandala

Berkawan dengan seorang pengamat alutsista ternyata memberikan pengaruh baik terhadap saya. Jika sebelumnya saya masa bodoh terhadap sejarah dirgantara Indonesia, akhir-akhir ini saya jadi lumayan sering mencari tahu tentang persoalan itu. Lumayan menambah pengetahuan, lah. Dan puncaknya hari ini (12/11). Saya dan si kawan asli Ngawi jalan-jalan ke Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala Yogyakarta.

Museum ini terletak di kompleks Pangkalan Udara TNI-AU Adisutjipto Yogyakarta. Sekitar 0.5 km ke selatan dari pertigaan Janti. Karena terletak di dalam kompleks, pengunjung perseorangan diwajibkan untuk meninggalkan kartu identitas di pos penjagaan. Dari sorot mata anggota AU yang menjaga portal, saya tangkap pandangan heran. Saya sih maklum saja karena, kecuali keluarga yang hendak piknik, sepertinya masyarakat umum memang jarang yang berkunjung ke museum dirgantara.

Museum ini buka dari pagi sampai pukul 3 sore. Untuk masuk, setiap pengunjung harus mengisi buku tamu terlebih dahulu dan membayar bea masuk IDR 3,000.

Museum dirgantara luas dan bersekat-sekat. Setiap ruangan besar mengusung tema sendiri-sendiri. Ruang pertama yang saya lewati diisi oleh foto-foto Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU) dari yang paling awal sampai yang terkini, tokoh-tokoh penting yang merintis AU, pataka-pataka serta figura-figura berisi urutan dan tanda pangkat TNI-AU.

Indonesian Air Force Heroes

Namun yang paling menarik dari ruangan itu adalah patung perunggu empat orang pahlawan dari satuan AU; Iswahjudi, Abdul Halim Perdanakusuma, Prof. Dr. Abdulrachman Saleh, Agustinus Adisutjipto. Sebelumnya saya hanya tahu bahwa keempat nama ini diabadikan sebagai nama-nama Bandara dan Pangkalan Udara (Lanud), namun sama sekali tidak mengerti siapa sebenarnya mereka.

Kawan, mereka semua adalah para pahlawan yang mati muda. Adisutjipto dan Abdulrachman saleh meninggal karena Dakota VT-CLA yang mereka tumpangi ditembak jatuh oleh Kitty Hawk Belanda di Maguwo. Iswahjudi dan Halim Perdanakusuma gugur di Tanjung Hantu Malaya. Oh ya. FYI, Adisutjipto adalah seorang perintis AAU dan Halim Perdanakuma ternyata dilahirkan di Sampang Madura.

Ruang kedua bercerita tentang sejarah dunia dirgantara Indonesia. Ternyata industri pesawat terbang sudah mulai dirintis jauh sebelum masa Habibie. Pada tahun 1948 Indonesia sudah bisa membuat sebuah pesawat bermotor. Pesawat ini diberi nama WEL-1/RI-X. Pembuatan pesawat ini dipimpin oleh Kapten Wiweko Supono. WEL sendiri sebenarnya merupakan singkatan dari Wiweko Experimental Lightplane.

Pesawat WEL-1/RI-X

Seksi selanjutnya berisi reproduksi foto-foto bersejarah yang berkaitan dengan AU. Sebenarnya seksi ini membosankan. Tapi ada sebuah foto yang menarik perhatian saya. Foto Leo Wattimena, seorang penerbang yang menjadi Wakil II Panglima Komando Mandala. Bukan apa-apa, ekspresinya sangar. Sontak saya berceletuk pada kawan asli Ngawi, “Ekspresine kok sangar tenan yo, Dab.”

Leo Wattimena

Dengan style pendongeng dia menjawab, “Leo Wattimena itu salahsatu pilot terpandai di zamannya. Tapi suka mukul anak buahnya kalau salah. Habis pensiun dia nyari duit jadi pilot pesawat sipil. Biasa lah, yang pro-Sukarno kan gak diperhatiin kesejahteraannya sama orba. Meninggalnya, ya, karena kecelakaan pesawat sipil.”

Sedang asyik-asyik mengangumi foto Leo Wattimena, tiba-tiba museum menjadi riuh. Segerombolah siswa-siswi study tour muncul dari arah entrance. Dari bahasanya, saya tebak mereka berasal dari daerah Jawa Barat. Anyway, jarang-jarang lho ada biro wisata yang memasukkan “mengunjungi museum” dalam program mereka.:mrgreen:

Lanjut. Ruangan selanjutnya memamerkan seragam-seragam TNI-AU dari zaman baheula sampai sekarang. Ada satu yang bentuknya menggelitik perut; seragam pilot jadul yang celananya pendek.

Berikutnya adalah ruangan berisi sejarah pendidikan dan sekolah komando AU. Hanya berisi foto-foto petinggi-petinggi AAU, Seskau, dan replika seragam dan asesoris para KASAU terdahulu. Seksi ini adalah yang paling membosankan. Tak heran adik-adik study tour itu banyak yang memilih menskip ruangan ini, melangkahi penghalang, dan langsung menuju tempat paling menarik; Hanggar.

Hanggarnya lebih besar dari yang saya bayangkan. Jika dilihat dari atas, hanggar ini akan terlihat seperti huruf “T” besar. Di sini parkir bermacam-ragam pesawat, rudal, kendaraan, dan peralatan tempur TNI-AU. Ada sekitar 36 koleksi mulai dari pemburu P-51 Mustang, bomber B-25 buatan USA, beberapa jenis MIG, Helikopter Sikorsky UH-34D, pesawat angkut Dakota VT-CLA, sampai pesawat Jetstar yang dibeli Soekarno dari perusahaan Lockheed, USA, sewaktu menjadi presiden dulu.

Pesawat-Pesawat

Seksi terakhir sebelum exit adalah diorama. Kata si kawan asli Ngawi, Monumen Jogja Kembali (Monjali) juga berisi diorama-diorama seperti ini. Tadi saya katakan kalau yang paling membosankan adalah ruang sejarah pendidikan AU. Well, izinkan saya meralatnya. Yang paling membosankan di museum ini menurut saya adalah ruang diorama.:mrgreen: Mungkin karena diletakkan paling akhir, kesannya kronologi sejarah yang dipaparkan di seksi ini seolah-olah “mengulang kaji” dan oleh karena itu jadi membosankan.

diorama

Sebelum keluar ada sebuah ruangan berisi foto-foto pesawat TNI-AU. Foto-foto itu membuat saya sadar bahwa ternyata negara kita tidak “sekecil” yang saya bayangkan. Negara ini punya potensi besar untuk maju dan berdiri sejajar dengan negara-negara besar lain di dunia.

32 pemikiran pada “Langkah (25): Menyelinap ke Museum Dirgantara Mandala

  1. wisata museum … one of my fave. blm pernah dengar ttg museum ini. Dan bagian Hanggar memang kelihatannya sangat menarik. Dengan tiket yang cuma 3.000 rupiah, kok jadi kebayang museum ini kurang dana buat perawatannya ya?๐Ÿ™‚

  2. Wah saya pernah kemari waktu masih SD, medio 80-an…
    Kalo nggak salah ada kursi yang dulu dipake Adi Sucipto waktu meninggal ya?

    Saya serem kalau pas di situ hehehe

  3. aku pertama kali ke museum itu saat SMA kalau tidak salah. atau malah SMP ya? wah, saking lamanya sudah lupa. dulu kesanku museum itu “muram”–seperti layaknya museum2 yg lain. tapi sebenarnya menarik juga kalau wisata museum, apalagi tiketnya cukup murah hehe. bagaimanapun museum adalah salah satu tempat untuk kita bisa belajar ttg bangsa ini.

  4. tampaknya harus langsung ke museumnya agar bundo bisa paham dan mencintai sejarah dirgantara Indonesia

    dari artikel shige setidaknya bundo tahu bahwa negara kita tidak โ€œsekecilโ€ yang bundo bayangkan juga.๐Ÿ™‚

  5. @pinkparis: kalo dilihat dari suasana museumnya, museum ini lumayan terawat dan terkelola dengan baik. kali aja TNI-AU lumayan banyak mengalokasikan anggaran utk perawatan museum ini.:mrgreen:

    @mangkum: keknya gak ada, mang. makanya, main-main lah ke jogja sekali-sekali.:mrgreen:

    @DV: wah. udah lama juga ya, mas.:mrgreen:

    kemarin itu yang saya liat cuma bagian tengah sampe ekor pesawat Dakota VT-CLA tumpangan Adisucipto yang jatuh ditembak belanda itu, masbro. tapi saya gak liat-liat bagian dalamnya..
    emang serem sih.:mrgreen:

    lagian waktu itu di hanggarnya gak ada orang lain kecuali saya dan temen saya.:mrgreen:

    @krismariana::mrgreen:
    dulu waktu SD, SMP, SMA, saya juga males ke museum. tapi sekarang jadi sadar kalo ke museum itu bener-bener nambah wawasan.:mrgreen:

    @alamendah: silakan, mas.:mrgreen:
    wow, sampe 3 kali? puas dong foto2 di hanggar? hehehe..

    @nakjaDimande: bener, bundo. makanya untuk mencintai Bung Hatta, saya pengen bener ke rumah kelahirannya yang di bukittinggi itu. hehehe..:mrgreen:

  6. saya malah gak tahu kalau di situ ada museum dirgantara. Melihat semua yang ditampilkan saya merasa Indonesia itu Besar sekali yah

  7. Kok pake ‘menyelinap’ segala bang shige, kayak nggak bayar aja…hehe. Dulu saya bercita-cita jadi insinyur pesawat terbang tapi nggak kesampaian karena matematikanya jeblog…hiks.

  8. keren dab! udah pernah ke museum Kirti Griya punyanya Ki Hajar Dewantara di Taman Siswa? terus ke Museum Jend. Soedirman di deket Bakmi Kadin? di Mandala Bakti Wanitatama itu juga ada museum yg menjadi cikal bakal Hari Ibu.๐Ÿ˜€

  9. sebetulnya disebrang museum (halaman AAU) msh ada lagi bbrp monumen pesawat terbang yg patut dilihat, juga dibonbin ada juga tuh 1 pesawat..udah reyot katanya…kesian, ga tau deh yg dipinggir danau gajah mungkur msh ada ga?agak kesono lagi di telaga sarangan jg ada tuh katanya, yg begini nih gimana mau punya generasi penerus yg cinta dirgantara? wong mo liat peninggalanya aja syusah? selain mencar2 letaknya, ada jg yg ga boleh masuk krn kawasan bandara militer! nahlo…lengkaplah sudah. hayooo…gimana nih solusinya?

  10. wah, ada rekan ‘seperjuangan’ nih, hehehe, galakkan budaya kunjungi museum

    saya dan teman2 kalau sabtu sering kumpul2 di depan๐Ÿ˜€

    ngomongin bagian paling serem: pressure chamber….hehehe
    sama pesawatnya pak karno yang jetstar

    di AAU ada mig 17 sama mig 19 dan A-4….sekarang museum ketambahan koleksinya looo, ada OV-10 bronco

    monggo dicek๐Ÿ˜€

  11. Saya pernah ke Museum Dirgantara Yogyakarta ini bersama istri anak dan ibunda tercinta pada tahun 2011. Kita datang karena tetes air mata Bung Karno yang kecewa dan geram kepada Belanda belum mengakui Irian Jaya (Papua dan Papua Barat) masuk dalam wilayah RI (Hasil Konfrensi Meja Bundar) di Den Hag,Belanda. Pada akhirnya bisa membebaskannya pada tahun 1963 jadi masuk wilayah RI, karena dengan pemberitahuan pihak Amerika Serikat kepada Belanda,bahwa RI telah membeli peralatan Alutsista yang jumlahnya lumayan banyak dari Rusia, seperti Pesawat Pembom,Jet Tempur,Kapal Fregat,Kapal Selam,Roket,termasuk Para Pilot dan Nahkoda-nya. Dibeli di Rusia dan uangnya didapat dari persetujuan dan amanah dari para Raja-raja di Seluruh Wilayah RI.

  12. Sekedar tambahan info bahwa Museum TNI AU Dirgantara Mandala ini merupakan Museum Dirgantara terbesar se-Asia Tenggara. Dihalaman depna paling selatan terdapat pesawat Pembom Tupolev TU-1625 yang sangat ditakuti pada jamannya.. saat ini pun Angkatan Udara China masih menggunakan Tupolev TU-16 yang telah dimodifikasi sehingga terlihat baru kembali. Tambahan koleksinya yaitu Mobil & Truck ” Guess ” yang sangat diburu oleh kolektor” mobil antik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s