Pendakian Tanpa Kamera

Dalam kode etik yang biasa dipakai anggota pecinta alam, ada sebaris kalimat berbunyi “take nothing but picture.” Namanya saja pecinta alam. Tentu yang diutamakan bagaimana agar alam tetap terjaga kelestariannya. Agar anak cucu kita juga melihat alam yang sama indahnya dengan kita.:mrgreen:

Oleh karenanya setiap naik gunung saya selalu berusaha agar kata di belakang “but”  itu selalu saya ambil. Hitung-hitung buat kenangan. Lagipula saya juga tidak berminat membawa-bawa edelweiss, sang bunga keabadian, turun. Biarlah mereka tetap di tempatnya. Anda juga pasti tidak mau direnggut paksa dari rumah kan, begitu juga mereka.

Marapi di Bukittinggi, Sumatra Barat, itulah gunung yang pertama saya naiki. Kelas 3 SMA setelah Ujian Akhir Nasional (UAN). Di saat teman-teman seangkatan sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi, saya berdua dengan Ajat justru sibuk mendaki gunung.:mrgreen:

Dua kali sudah saya ke Puncak Marapi. Namun satu pun saya tidak punya foto yang membuktikan bahwa saya pernah berada di sana. Maklum, pada pendakian pertama saya cuma naik berdua dan dua-duanya tidak punya kamera, pun handphone berkamera. Jangankan kamera, yang pokok-pokok seperti tenda dan sleeping bag saja kami tidak bawa. Kompor kupu-kupu sejumlah tiga juga selangnya bocor semua.:mrgreen:

Kali kedua ke Marapi, kami bertiga. Squadnya masih sama dengan pendakian pertama, hanya tambah satu orang yang tidak berbeda kerenya. Masih tanpa kamera. Sayang sekali. Padahal pemandangan dari Puncak Marapi indah sekali.😦

Yang paling melimpah dokumentasinya adalah pendakian Merapi dan Merbabu. Seolah-olah membuktikan adanya kesenjangan perekonomian antardaerah, ketika berkuliah di Jogja saya mendapati bahwa orang-orang sini teknologinya lebih update. Kamera digital sudah begitu populer. Dalam sebuah rombongan pendaki, pasti ada saja satu orang yang membawa camdig. Beda dengan di Sumatra. “Sungguh terlalu!” Kata Bang Rhoma.

29 pemikiran pada “Pendakian Tanpa Kamera

  1. hmm.. akhirnya saya paham juga.. maaf mas.. tadi baca pertama agak sambil ngantukk …🙂 sekarang setelah baca yang ke 3 kalinya, baru paham.. ternyata kena masalah gak bawa kamera toh.. maaph

  2. kenangan tak selesai hanya dalam kertas ukuran kartu pos atau memori komputer, bukan?🙂
    tenang saja, asal tak lupa yang di otak lebih abadi rasa-rasanya😀

  3. Percaya kok sige😀
    kapan mo naik gunung lagi? aku ya mbok ya di ajak….
    pengen nyobain naik bromo and semeru…

    ohya aku pernah baca buku yang judulnya “5 cm” wew…itu ceritanya bagus…

  4. As for me, ntah kenapa rasanya kalo mau pergi ke tempat jauh gitu kalo ndak bawa kamera jadi males berangkat:mrgreen: meski ujung2nya tetep ga ada self-portrait, tapi cuman jepretin pemandangan dowangan. *jadi tambah pengen beli DSLR*😐

  5. kamdig emang revolusi budaya yg gila-gilaan. dgn adanya kamdig, seolah-olah menghapus banyak sekat. bila dulu orang merasa “sayang” karena utk memotret itu seperti “bertaruh”, gambarnya bagus atau tidak, dan terbatas oleh jumlah frame dalam 1 roll film. sekarang, orang bisa jepret kapan pun dan berapa pun.

    dulu, utk motret, orang harus dandan. bahkan utk potret di rumah, karena berfoto itu semacam ritual ketika ada acara tertentu. tapi sekarang, bangun tidur bisa potret, bahkan kalo perlu, boker pun sambil motret..😀

    mungkin postingan ini bisa lebih menjelaskan maksud saya.😀

  6. wahhh, wahhh, sayang sekali yah mas. FYI sih, kutu juga sampe sekarang belom punya CamDig sih, paling cuma HP bertenaga 3.2 MP. Hmm sedikit yah kutu tambahin :

    Take Nothing But Picture
    Leave Nothing But Footsteps
    Kill Nothing But Time

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s