Langkah (27): Tengger Yang Gelap Dan Bau

Sore itu, hari terakhir di Bromo, saya kembali ke Homestay Sedulur dengan tertatih-tatih. Begitu tiba di teras saya langsung menghampar. Praktikum ketiga ini memang paling mobile dan menguras energi. Saya serta dua orang teman lagi kebagian metode Self Potensial yang lintasannya membujur relatif barat-timur, dari sisi terdekat Bromo, yang bertopografi ekstrem, ke arah Cemoro Lawang.

Di dalam penginapan keadaan tidak bertambah baik. Bak mandi kosong karena air kran mati entah apa sebabnya. Padahal badan yang bau ini butuh diguyur air. Kawan-kawan lain memilih untuk mencari toilet umum. Selidik punya selidik, ternyata tidak cuma kran di penginapan kami yang tidak mengeluarkan air, seluruh kampung juga mati air. Kata empunya penginapan, “Sering dek kayak gini.” Omong-omong, listrik di Ngadisari juga sering mati. Untung kami bawa genset dari Jogja. Jadi walaupun mati lampu, malam hari kami tetap bisa presentasi.

Nggak tau ya, tapi saya kok merasa masyarakat Ngadisari, Tengger, seperti dikhiananti. Di tengah hingar-bingar Visit Indonesia, mereka dituntut untuk memberikan pelayanan yahud untuk wisatawan. Dan perlahan, secara tidak langsung, namun pasti mereka diubah menjadi masyarakat komersil yang hanya akan membantu jika segepok duit berpindah ke tangan mereka. Namun herannya kebutuhan mereka sendiri kadangkala diabaikan oleh penguasa. Seperti air dan listrik yang sering “mogok” ini.

Wisatawan mungkin tidak menyadari fakta ini karena mereka tidak menginap di rumah warga. Mereka tidur di hotel-hotel berkamar nyaman dan berkasur empuk yang menyediakan air mandi biasa dan air panas. Terpisah dari lingkungan masyarakat Tengger.

Untungnya pihak TNBTS responsif. Setiap air mati, mereka akan membantu warga dengan mendistribusikan air gratis dari rumah ke rumah, menggunakan mobil khusus seperti punya korps pemadam kebakaran.

Kabut yang sudah membayangi sejak di Lautan Pasir tadi akhirnya sampai juga di Ngadisari. Berhubung bantuan air dari TNBTS belum datang dan saya sudah tidak tahan dengan bau sendiri, akhirnya saya juga mencari tempat mandi. Ketemu, di selatan pos pembelian karcis. Bayar IDR 3,000 anda bisa mandi sepuasnya, sampai air habis.

22 pemikiran pada “Langkah (27): Tengger Yang Gelap Dan Bau

  1. wah hebat juga persiapan dari jogja bawa genset! memangnya berangkat satu kelompok besar ya shige trus kesana gimana bawa-bawanya tuh genset?

    seperti biasa perjalanan shige, keren!

  2. @antokoe: sama-sama ,as.😀

    @tary bailah::mrgreen:

    @nakjadimande: perjalanan kali ini rame, bun. satu angkatan 32 orang.:mrgreen: dulu aja yang dikit, kan dulu itu survey pendahuluan doang.

    dari jogja, ke probolinggo dulu naik kereta. abis itu nyambung pake angkutan Elf ke bromo. genset itu cuma parkir di penginapan aja.. kebetulan banget waktu di sana kemarin lagi sering banget mati lampu. tiap praktikum jauh kita emang bawa genset kok bun. :mrgreen:

  3. Ada “fakta” baru mengenai sumbing. di sekeliling sumbing banyak bermunculan sumber mata air panas. Benarkah sumbing kembali “beraktifitas”? FGA-ne gimana mas?

  4. Wah tulisan berseri ini semakin menarik!
    Dijadikan buku kayak seri petualangan kayaknya seru, Sob!

    Btw, Ngadisari itu di tengger ya?
    Deket sama Ngadireso? Karena Ngadireso itu ada di Malang dan kaki gunung juga…

  5. cuman bayar 3000 bisa ngabisin air?
    huh! dasar petualang nggak menggalakkan konservasi.
    atau saking baunya ya, dri? hihi.

    keren deh praktikumnya. aku juga mau kalau gini.
    tapi nggak termasuk sulit mandinya lho, ya.

  6. Wah, cuma 3000, bisa mandi sepuasnya???

    Eh, btw, pertanyaan saya yg di post sebelumnya belon di jwb lho,
    Bromo, bagi masyarakat awam yg tak biasa Advanture ke wilayah-wilayah berat, apa aman? Maksudnya gak perlu energi tinggi buat bisa kesana.

  7. @si rusa bawean: iya, paman. bromo memang keren..

    @muamdisini: *mendukung*

    @nahdhi: kenampakannya udah apa aja bro? baru sumber air panas doang? gempa2 vulkaniknya gimana? bisa jadi sih aktif lagi.. kan banyak juga gunung yang dulunya dikira orang udah extinct, tau-tau meletus dahsyat. lihat aja di google contoh2nya.:mrgreen:

    nah, kamu besok ini FGAnya di sumbing aja gimana?? targetnya menyelidiki apakah sumbing aktif lagi.. menarik tuh..😀

    @kutubacabuku: iya, sependapat kita. keknya itu perlu diangkat tuh di majalah backpackingnya Kutu.:mrgreen:

    @kawanlama95: iya, bro. menarik sekali malah.

    @DV: yang benar mas..:mrgreen:

    kalo ngadireso itu kalo nggak salah di daerah Tumpang, Malang. lebih dekat ke Mahameru daripada Bromo.

    @marshmallow: hehehe.. maklum uni. ngerapel mandi.:mrgreen: di jogja saya concern kok dengan konservasi. buktinya saya mandi seminggu cuma beberapa kali. hehehehe..

    @escoret: itulah, paman. sampai sekarang saya belum pernah ke dieng meskipun sudah beberapa kali ke daerah temanggung dan wonosobo. mudah2an dalam waktu dekat ini bisa ke sana. saya penasaran sama telaga warna dieng, dan perspektif lain sumbing-sindoro.😀

    @bisnis di internet: sebenernya sih yang saya garis bawahi itu bukan pelayanan “di sana”nya. tapi pelayanan pemerintah terhadap rakyat yang kebetulan hidup di lingkungan daerah wisata. seperti penduduk Ngadisari ini.

    @kidungjingga: saya sih nggak sampe habis. cuma sampe airnya tinggal dikiiiit lagi.:mrgreen: maklum, ngerapel mandi selama 2 hari. hehehe…

    @fanz: tunggu apa lagi? main aja ke sana kalau ada waktu luang.😀

    @tukangpoto: ah, yang benar, paman?:mrgreen:

    @laston: salam kenal juga..:mrgreen:

    @snowie: iya, kalau tega.:mrgreen:

    hehe.. belum kejawab y.😀 bromo aman kok. banyak keluarga yang berwisata ke sana. gak perlu energi tinggi buat ke sana.. yang perlu disiasati cuma waktu ke sananya aja. seperti nyampe di probolinggonya mending siang supaya Elf masih lancar.

    di sananya pun kalau mau jalan-jalan tanpa mengeluarkan energi, tinggal sewa jip (hard top).:mrgreen:

  8. Tergelitik dengan kutipan dikhianati itu gan..
    Tidak hanya di Tengger saia pikir, tetapi potret tersebut banyak kita jumpai di objek wisata lain.. ah sayang sekali😦

  9. dikhianati ya.. bener jg sih. saya kebayang katanya jalur ke ladang dan tempat penduduk mencari kayu bakar sekarang jadi resort mewah.. tempat kami ngecamp 2002 lalu.
    oh ya..blm permisi numpang lewat disini.. salam kenal gan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s