Menyusuri Binalnya Biennale Jogja

Sebenarnya hari minggu ini saya ingin menggeletak saja di kamar seharian. Baca-baca bahan buat ujian lisan besok atau menyicil baca buku lain yang belum terbaca… Sambil online dan menyeruput secangkir cappucino hangat.

Tapi entah kenapa ada energi yang berusaha menyeret saya ke perempatan kilometer nol Jogja untuk melihat-lihat karya seniman yang ambil bagian dalam Biennale Jogja X-2009. Memang, hari ini adalah hari terakhir penyelenggaraan. Festival seni rupa ini sudah berlangsung selama sebulan sejak 10 Desember 2009. Berhubung Biennale ini dilangsungkan dua tahun sekali, dan saya berencana untuk lulus dua semester lagi, mungkin sekaranglah kali terakhir saya bisa main muter-muter festival ini dengan status mahasiswa (amin!).

Tema besar Biennale Jogja X-2009 adalah “Jogja Jamming: Gerakan Arsip Seni Rupa.” Selain jalanan, ada empat venue Biennale tahun ini; Sangkring Art Space, Taman Budaya Yogyakarta, Bank Indonesia (BI), dan Jogja National Museum. Saya memilih untuk melancong ke venue ketiga, kantor BI lama, tempat Pameran Arsip IVAA (Indonesia Visual Art Archive) sedang berlangsung.

Sebelum masuk ke gedung yang terletak di perempatan kilometer nol jogja itu, saya berkeliling sebentar. Sok-sok mencoba menjadi pengamat seni dan fotografer. Ada beberapa karya “aneh” yang saya lihat.

Pertama sebentuk rumah-rumahan kecil, plus sesosok orang yang sedang bersandar di rumah-rumahan itu, yang terbuat dari susunan kaleng softdrink. Di atapnya tertera judul “sweet home”. Well, sepertinya ini termasuk kategori fine-art, hanya senimannya dan Tuhan yang sungguh mengerti apa maksudnya.

Ada juga sebuah patung yang bentuknya seperti Aristoteles sedang termenung. Tetapi yang ini berwajah pribumi dan termenung di atas becak. Pada name tag di belakang becak itu tertulis bahwa judulnya “Obsesion Tour”. Lagi-lagi hanya senimannya dan Tuhan yang sungguh mengerti apa maksudnya.

Tepat di selatan Monumen Serangan Oemoem, ada satu karya menarik lagi. Kali ini sebuah rangka, entah dari logam apa, yang dibentuk sedemikian rupa menjadi sebuah keluarga yang sedang naik sepeda berboncengan. Ayah, Ibu, dan seorang anaknya. Lucunya, ban sepeda ini sengaja dibikin makjleb ke dalam trotoar. Sayang sekali tidak ada keterangan mengenai judul karya ini.

Selain tiga benda seni di atas, masih banyak lagi karya-karya seniman yang bisa anda temukan sepanjang Malioboro. Ada deretan patung kepala, ada semacam ondel-ondel, lukisan batik yang dililitkan ke batang pohon, lukisan raksasa, pokoknya bermacam-macam. Sebenarnya tidak cuma di Malioboro, sih. Titik-titik strategis lain di Jogja juga banyak yang dihiasi karya-karya seniman Biennale. Bunderan UGM salahsatunya. Dihiasi oleh sebuah patung kepala-dada beberapa orang yang sedang terbelenggu. Patung ini sempat memicu keributan antara pemasang patung, yang tak tahu apa-apa, dengan SKKK UGM karena katanya tidak mempunyai izin.

Kemudian saya melangkah ke gedung BI lama. Ngadem sambil menyaksikan rekaman perjalanan penyelenggaraan Jogja Biennale dari tahun 1988-2009. Ternyata cikal-bakal Biennale sudah dirintis sejak tahun 1983. Sebelumnya sudah empat kali seniman jogja melaksanakan acara serupa. “Ternyata sudah lama juga, ya?”

Jogja memang penuh pesona. Semenjak saya kuliah di sini, entah sudah berapa kali segala-macam-festival dilaksanakan. Festival-festival yang menarik itu tak pelak mengundang wisatawan untuk menyambangi Jogja. Turis lokal dan internasional sama-sama terpancing untuk datang ke sini. Hmm.. Mungkin metode Jogja ini perlu ditiru oleh daerah lain yang sedang berusaha mengembangkan pariwisatanya.

Ketika sedang asyik menjepret repro fotonya Affandi, baterai kamera saku saya habis. Mau tak mau saya harus pulang. Saya cegat bis jalur 4 di perempatan Hotel Limaran. Tak lama kemudian saya tiba di kamar dan langsung online. Dan dengan ditemani secangkir cappucino hangat, saya tulislah karangan ini.[]

34 pemikiran pada “Menyusuri Binalnya Biennale Jogja

  1. di tempat terbuka ya shige, jogja sdg ngga hujan berarti yaa..? klo di Bukittinggi mau ditaroh di mana hasil karya seniman itu krn hampir tiap hari hujan terus, hehhhehhe

    ehm, yg tekadnya mengakhiri masa kemahasiswaan secepat mungkin. Amiin, bundo doakan lancar!

  2. @wahyunivers: wew!

    @nakjaDimande: hujan-hujan juga sih, bun.:mrgreen:
    tapi karya yang dipajang di luar itu pake bahan yang gak mudah rusak gara-gara air.πŸ˜€

    Binnale Bukittinggi keknya bagus tuh bunyinya.πŸ˜€

    amin! trims bun. doain ya..πŸ˜€

    @nahdhi: yoi, dab!

    @amalendah: silakan mas. mau posisi keberapa aja, saya kasih. hehe..

    @titiw: oya? jogja binnale emang keren. ke sini langsung gak sebelum bikin tulisannya?:mrgreen:

    mudah2an, tante. doain ajah..πŸ˜€

  3. BJ emang keren, khususnya ide Public on the Move. Nyesel juga coz sampe BJ slese belum sempat ke BI ama Sangkring Art Space, untungnya kemaren ikut closing di JNM,,keren abies euy…

  4. @venus: rame, mbok. semarak gitu.:mrgreen:
    dua tahun lagi aja mbok ke jogja lihat biennale selanjutnya…πŸ˜€

    @wiseman wannabe: akhir tahun 2011 kan masih ada dhil. jangan khawatir.πŸ˜€

    @sash::mrgreen: kemarin itu saya ke BInya sekitar jam 12an siang. sampe jan 2an. nyampe di kosan saya baru ngerti kalo closingnya jam 3. arghhh!!😦
    jadi nyesel deh pulang cepet.

    @merry go round: yep. makanya gak heran kalo KLA project sampe bisa bikin lagu “yogyakarta”.:mrgreen:

    thanks for the prayer.:mrgreen:

    @si ponang: yoi, coy! kemarin terakhir… saya ke sana pas injury time. hehehe..

    @bee: yoa!

  5. hehehe,, yang jam 3 tuh masih acara public lecture kalo gak public hearing, tapi yang beneran closingnya jam7 malam, sekalian pemberian penghargaan.

    Bagi yang gak sempet liat BJ, mulai tanggal 15-22 ada Biennale Anak tempatnya di TBY,, kayaknya seru juga tuh, baru pertama kalinya di Indo.

  6. @takodok: buangeeet!!!:mrgreen:

    @sash: waduh, jadi begitu? kirain beneran jam 3 beneran closingnya. tau gitu mending saya balik ke sana lagi.:mrgreen:

    keren. biennale anak.. yang ditampilin pasti lucu-lucu tuh.πŸ˜€

  7. yogya, sebuah kota yg denyut seninya sgt keras keras detaknya. Kreatifitas para seniman seolah2 tak pernah mati, selalu ada ide utk membuat yogya selalu hidup…

  8. wahhh….liat postingan ini jadi nyesel, pas kemarin libur taon baru ga sempat nengok kesitu. Musti nunggu dua taon lagi nihh…:(

    betewei…
    Selain seni yang berbau rupa kayak gitu, di Jogja juga berkembang sangat baik bentuk seni yang lain, sesuai dengan julukannya: Kota Budaya. Segala macam seni dan budaya berkembang disana, misalnya saja dalam bentuk musikalitas, wuihh…Jogja tempatnya bersemayam tuh, coba aja sering nongkrong di TBY ato UNY, banyak pertunjukkan musik dan teater disana. Dijamin ga bakal mengecewakan. Kayaknya sekarang lagi rame2nya deh…
    Ini jelas wajib dicoba…
    dan saia tunggu postingan berikutnya…

  9. woooooogh!!!! apiiikkk!!!πŸ˜€
    saya malah enggak bisa pulang kampung pas gelaran jogja jamming itu. cuman merana liat iklannya di tivi…😦 mana iklannya juga dibikinnya keren lagi

    btw, saya suka banget foto nomer 2 itu. keren banget pokoknya, latar belakang karya affandi-nya bikin fotonya kaya warnaπŸ˜€

  10. ternyata indonesia punya rodin juga, tapi alih-alih bernama “the thinker” patung ini justru dinamai “obsession tour.” apa maksudnya, ya?

    keren ya biennale ini. pantes aja hatimu mendesak untuk ke sana, walaupun target selesai kuliah hanya dua semester lagi. justru itu kamu ngotot, kan?

    yogya keren banget, ya? pantes siapa pun yang pernah ke sana ingin kembali.

  11. oya, dri. aku jadi bernostalgia dengan event yang kurang lebih setipe yang rutin digelar di sydney, tapi lokasinya adalah di sepanjang pantai bondi yang terkenal di sana. seninya juga instalasi, jadi rada-rada ribet dimengerti deh.

    aku pernah post di sini. entah kamu udah pernah baca.

  12. @nda: yoi.. selalu nemu cara bikin jogja selalu hidup. baru-baru ini, entah dalam rangka Biennale atau nggak, di perempatan Malioboro-Jl. Mataram, ada yang masang baling2 besar yang kalau ditiup angin berbunyi.. porosnya dipasangin logam yang kalau beradu dengan logam lain bunyinya berisik. hehe.. ada2 aja idenya.

    @vizon: sapu raksasanya keren, da.. btw lidiny dari apa itu ya? dari bambu atau besi?

    amin.. mudah2an lanjut S2 dan S3.:mrgreen:

    @arsumba: Jogja-Jember kan cuma seharian perjalanan, mas..:mrgreen:

    @eta: mbak Rossiiii!! iya nih. pengen juga aku nongkrong2 di TBY atau spot2 yang banyak senimannya di jogja.. kapan2 lah.πŸ˜€

    katanya tanggal 15 ini mau ada Biennale anak. tapi kalo ngga bisa pulang, dua tahun lagi ajahh.. bersabar dulu. hehe..

    @nadya: saya sih emang sengaja mau ke sana buat motret2..:mrgreen:

    @blooges: ditunggu deh field reportnya jalan-jalan ke jogja..πŸ˜€

    @kurotsuchi: sayang sekali, dab. event dua tahunan ini terlalu sayang untuk dilewatkan.. hehe..:mrgreen:

    @abula: selamat juga, paman.πŸ˜€

    @marshmallow: patung “benerannya” namanya “the thinker” ya, uni? modelnya aristoteles bukan? CMIIW..:mrgreen: ya itu tadi; cuma Tuhan dan senimannya yang sungguh mengerti apa maksudnya.πŸ˜€

    iya, uni. masa harus nunggu dua tahun lagi buat liat Biennale. kan targetny setahun lagi. hehe.. amiiiin!

    yoi, jogja keren banget. kalo kangen jogja, tinggal dengerin “Yogyakarta”nya Kla project aja.πŸ˜€

    di Sydney juga ada? menuju TKP, un.:mrgreen:

  13. ahhhhhhhhhhh….semakin tertarik dateng lagi ke jogja!!!
    dan seniman2 yang majang karyanya itu beneran kreatif2 ya!!

    aku suka yg rumah yg judulnya sweet home, mungkin ceritanya biarpun rumahnya kecil dan termasuk RSSSSSSS akan Rumah sederhana sangat sangat sangat sangat susah seonjor sekali tetep aja sweet hoome bagi yang punya… Like this!!πŸ˜‰

  14. Loh, yang sweet home itu di sebelah mana?
    Kok saya nggak pernah ngelewati?
    Paling suka yang di TBY, dari bahan-bahan logam bekas, digantung-gantungkan di pintu masuk. Kewren mampus!!

  15. Yogya memang kota seni yang selalu kreatif, aku juga nonton Bienalle tapi yang di Taman Budaya, wow karya-karya yang dipamerkan bikin aku jeprat-jepret terus pakai kamera yg sengaja kubawa. Padahal waktuku untuk nonton hrsnya sebentar , karena terlena dengan keindahan yang tergelar aku pulang ke kota kecilku sampai kemalaman . Sayang kameraku sedang ketlisut atau lupa naruhnya jadi blm sempat ku upload di BLOG.
    Kalau lihat karya seni tidak harus tahu maksudnya dinikmati saja, kalau kita sdh bisa menikmati keindahannya itu sudah apresiasi. Thanks, o ya izin kupasang link Shige di blogku, jendelakatatiti.wordpress.com.. Sukses terus…

  16. Ping-balik: Twerbosepics

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s