Travel Melancholy

Soe Hok-gie berkali-kali menyatakan dalam tulisannya bahwa patriotisme tidak dapat ditanamkan hanya melalui slogan-slogan dan [dari] jendela-jendela mobil. Dia percaya bahwa dengan mengenal rakyat dan tanah air Indonesia secara menyeluruh, barulah seseorang dapat menjadi patriot-patriot yang baik. Walaupun tidak terobsesi untuk menjadi seorang patriot, saya percaya pada tulisan Gie itu.

Jika pernah bepergian dengan modal minim, anda pasti pernah menumpang moda transportasi umum seperti kereta kelas ekonomi, yang kondisinya masyaallah! Ongkos yang murah tentu saja harus dikompensasi dengan kesediaan untuk berbagi tempat dan bersempit-sempit dengan banyak orang. Berbagai jenis orang dengan beragam latar belakang.

Di gerbong bisa saja anda sebangku dengan seorang nenek tua yang baru saja kembali dari melihat cucu di kota A, dengan seorang bapak asal pulau garam yang baru saja menengok kawannya di penjara kota B yang tertangkap basah sedang pesta shabu-shabu, atau dengan seorang ibu muda beranak dua yang ditinggal suaminya. Singkatnya, dalam kereta ekonomi anda akan disuguhkan potret sesungguhnya bangsa ini.

Tentu saja pengalaman itu tidak bisa kita nikmati jika ikut rombongan darmawisata. Bagaimana mau menyelami realita kehidupan bangsa jika kita dininabobokan oleh bangku nyaman sebuah bus berpendingin ruangan, dengan kaca-kaca besar tertutup rapat dan bertirai yang membuat kita tidak bisa menghirup udara luar?

Pernah suatu ketika di Surabaya kawan saya terkena penyakit yang saya sebut travel melancholy. Jadi begini, setiap hari calon penumpang kereta, dan pedagang-pedagang makanan di stasiun juga tentunya, akan dihibur oleh sebuah grup musik yang memainkan lagu-lagu lama. Tidak pernah berganti, band yang tampil melulu itu.

Jago sekali mereka bermain musik. Lagu-lagu lama dibikin bernuansa blues. Di depan panggung mereka meletakkan sebuah pot bunga kosong yang telah dihias sebagai tempat menampung receh. Jangan bayangkan pot itu terisi penuh. Kalau bukan kami yang memberi seceng pertama, pasti wadah itu masih kosong melompong.

Kawan saya ini ternyata tidak tega membiarkan kami cuma memberi seribu. Dia mencari akal supaya kami bisa menyumbang “lebih”. “Pulpen sama kertas dong? Buruan!”, setelah berkata demikian dia langsung sibuk sendiri. Entah menulis apa dia di kertas lecek itu.

Selama beberapa waktu saya perhatikan terus dia menulis. Kemudian tiba-tiba dia bangkit dan berjalan ke arah panggung, menghampiri pemain gitar band itu. Tak mau kehilangan momen saya mengekor di belakangnya dan ketika sudah dekat saya dengar dia berkata, “Pak, kami nggak punya uang buat nyumbang. Tapi kami punya ini buat bapak, puisi. Simpan ya, Pak. Buat kenang-kenangan.” Setelah itu kami terlibat obrolan singkat dengan Bapak Gitaris itu karena dia harus pergi. Lumayanlah, dapat informasi sepele seperti band itu ternyata bernama La Station.

Sumpah, saya sebenarnya hampir tertawa. Bukan apa-apa, belum pernah sebelumnya saya lihat kawan saya itu bikin puisi. Jangankan puisi, menulis “biasa” saja jarang… Paling cuma tulisan list perlengkapan naik gunung. Tapi begitulah. Sebuah perjalanan bisa membuka hati dan pikiran seseorang, bikin lebih merakyat karena terbiasa berkeliaran di tengah-tengah rakyat.

Makanya, kawan. Selagi masih muda, masih diberi tenaga ekstra, dan masih diberi waktu luang, bepergianlah… Tentu engkau tidak ingin menyesali di kemudian hari, “Wah! Sudah nggak bisa lagi jalan-jalan. Sibuk cari penghasilan.”[]

26 pemikiran pada “Travel Melancholy

  1. hayoo mas, kapan2 nge-trip bareng yukk n menyelami kata2 Gie bersama, hee. Kalimat terakhirnya bener banget tuhh, makanya sekarang kutu mau berusaha ngumpulin duit. Sekitar September ada rencana ke Rinjani, mau ikut gak ?

  2. hehehe… saya juga dulu sering naik kereta ekonomi. penataran malang-sby dan sebaliknya. Lha skrg di maumere g ada kereta api… heheh..

    ttg kalimat penutpnya, iya saya setuju utk bepergian di waktu muda… Merantau… hehehehe

  3. “Sebuah perjalanan bisa membuka hati dan pikiran seseorang, bikin lebih merakyat karena terbiasa berkeliaran di tengah-tengah rakyat.”

    Saya suka dengan kalimat ini.

    Saya memang jarang naik kereta, tapi di bis pun seringkali mengalami hal yang sama. Bertemu dengan banyak orang dengan berbagai latar belakang, dan saling membagi kisah,,, acapkali percakapan yang singkat dengan orang-orang di perjalanan mampu membuka mata hati serta menyadarkan tentang banyak hal….

  4. selalu ada kisah di setiap perjalanan, aku naik kereta palembang – Lahat karena kulihat ada bapak2 ga dapet duduk aku kasih tempat duduk maksudku nanti gantian gitu, tau taunya eh kok sampe lahat ga gantian. jadi memang kita harus belajar mengikhlaskan sesuatu tanpa ada embel2 ya.

  5. Gosh.luv this post sooo much!!!

    Setuju bgt,trip dgn bis darmawisata dmn d dlmny kt bs haha-hihi,dgn AC yg dngin,dan tmpt tujuan yg udh drancang tour guide ga akan meninggalkan kesan apapun.tp coba kalau kt backpack,bnyk bgt hal dan pengalaman br yg bs kt dpt.

  6. Dengan hormat disampaikan bahwa BlogCamp ( http://abdulcholik.com ) masih dalam tahap penyelesaian perbaikan karena landing gear mengalami gangguan.
    Beberapa tehnisi sedang kerja keras untuk mengembalikan kondisinya.
    Saya sementara berada di Posko Bhirawa ( http://mbahcholik.info ) dan saat ini sedang menggelar promosi kaos loreng.
    Silahkan para sahabat berkunjung sebelum waktu promosi habis.
    Salam hangat dari Bhirawa.

  7. betul sekali shige, kita harus bepergian selagi bisa, karena dengan begitu kita akan mendapatkan banyak pengalaman. berdiam diri di kampung halaman, hanya akan menjadikan diri kita manja…

    ada pepatah yang mengatakan:
    singa jika tak tinggalkan sarang, takkan mendapat mangsa
    anak panah jika tak tinggalkan busur, takkan kena sasaran

  8. Salam kenal Bro …

    Tulisan yang tulus saya bilang … sungguh menyentil! Luar biasa bisa melihat langsung potret asli keseharian masyarakat kebanyakan. Foto2nya kena banget bro, mastebbb pisan🙂

    Nice posting nih. Salut!

  9. Wah, saya jadi tersindir nih secara belum pernah bepergian sesering ini. Bersepeda juga sudah mulai berkurang karena kesibukan mengantar keluarga. Heuh! Harus bisa! Minimal saya besok bisa bertemu dengan Mas Paimo, sang petualang sejati yang telah berkeliling dunia dengan sepedanya hehehehe….

  10. @nakjadimande: beneran, bun.. itu temen saya tiba-tiba jadi aneh. saya mana pernah kepikiran mau ngasih bapak2 itu puisi segala..😀

    foto paling atas itu diambil di surabaya, bundo. kalau nggak salah antara stasiun semut (surabaya kota) dengan stasiun gubeng.

    @kutubacabuku: menarik tuh. kapan-kapan dah.😀 yang sering saya amati itu bnyk temen2 saya yang ogah kalo diajak jalan wktu kondisi masih fit sekarang, dan banyak juga saya ketemu orang sudah berumur yang “menyesali” kenapa dulu waktu muda dia di situ-situ aja.😀

    @bandit: yoi bro. semakin tua itu, sepertinya lho, semakin banyak yang akan dipikirkan. apalagi ntar kalo udah berkeluarga.. mau jalan-jalan? anak istri sama siapa di rumah? hehe..:mrgreen:

    @sash: beberapa bulan yang lalu saya numpang Sumber Kencono dari surabaya ke jogja. gilaa.. di dalem bis udah kayak sarden. mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, manula, berhimpitan dalam bis. saya sih paling terenyuh kalo melihat nenek-nenek atau kakek-kakek yang sendirian dalam perjalanan.. “anak-anak dan cucu mereka ke mana yah?” apa sebegitu susahnya hidup mereka sampai-sampai orangtua yang sudah tua dibiarin jalan sendirian..😦

    @kawanlama: mantap bro… memang harus begitu, sesuai pelajaran PPKn dulu.😀

    @merry go round: selain itu kalo berombongan jadwalnya sudah diatur, ke mana-mana berbondong-bondong. udah kayak apa aja gitu.. hehehe…:mrgreen:

    @bhirawa: semoga blog utamanya cepat sembuh, pakdhe.😀

    @nahdhi: foto yang paling atas itu di surabaya, dab. kalo mau ngerel di lempuyangan aja..😀

    @rumah keadilan: salam kenal juga, kawan.😀

    @vizon: iya uda. dan yang diberi kesempatan merantau seharusnya juga bersyukur..

    btw pepatah itu kapan-kapan saya masukin tulisan ya? bagus.😀

    @iman: sebenernya ini sebagai pengingat juga sih buat saya..:mrgreen:

    thanks ya dah mampir.😀

    @bangaswi::mrgreen: Mas Paimo sekarang menetap di mana ya, bang? pengen juga nih ketemu. hehe..

  11. Makanya, kawan. Selagi masih muda, masih diberi tenaga ekstra, dan masih diberi waktu luang, bepergianlah… Tentu engkau tidak ingin menyesali di kemudian hari, “Wah! Sudah nggak bisa lagi jalan-jalan. Sibuk cari penghasilan.

    Ini maksudnya apa?? *nunjuk-nunjuk*
    Saya tidak pernah jalan-jalan lagi bukan berarti saya sudah tua..
    *lirik cermin*

  12. Selagi masih muda, masih diberi tenaga ekstra, dan masih diberi waktu luang, bepergianlah… Tentu engkau tidak ingin menyesali di kemudian hari –> gw suka ini.. he.he.. gw juga suka keliling2 – tapi belon sebanyak mas morishige kayak’e .. mantap mas buat petualangannya.. lanjutkan deh, dan bagi semua pengalamannya di sini yah.. ^^

  13. hihihihih temenmu lucu deh😀
    gak ada duit puisi pun jadilah…hahahahaha…

    aku masih sempet jalan2 kok, doakan ya soalnya cuti kalo kerja disini lumayan banyak😀

    sige…foto2mu bagus banget, kayaknya bagus kalo kamu kumpulin dalam satu galery khusus yg memuat perjalanan mu galery online gitu…

  14. Shige salut deh buat jalan-jalan ketemu dengan rakyat Indonesia, Shige sudah jadi wakil rakyat beneran bisa jadi dan pasti lebih tahu kondisi rakyat daripada wakil rakyat yang duduk di dewan tapi jarang turba sukanya kunja dan raker melulu, habis-habisin duit rakyat!Kalau pun mereka turun ke bawah ya cuma selintas hanya utk basa basi, keluhan yg didengarkan blm tentu ditindaklanjuti.
    Pengin berpetualang juga seperti Shige, ya kecilkecilan lah tiap hari berangkat kerja naik mikrobus berdeska-desakan dengan petani mau ke ladang dan bakul sayur.
    Selamat berpetualang, semoga dapat himah dari petualanganmu!

  15. First time komen niy, sudah baca beberapa artikelnya dan saya pikir bagus juga terutama artikel soal naik gunung, obsesi saya yang sampai sekarang belom kesampaian, anyway btw busway . .

    saya pernah naek kereta api ekonomi sby-jky sendirian. Sebelumnya saya paling “jelek” naek bisnis. Dengan naek kereta ekonomi saya bisa melihat orang-2 yang tadinya tidak terlalu saya perhatikan. Sewaktu ditas kereta yang berpedingin “AC” itu saya bisa melihat kehidupan orang kebanyakan, bisa merunung, bisa mengoreksi diri. anyway naek kereta ekonomi juga gada matinya. food & beverage murah dan tersedia 24/7. Tiap 5 menit mesti ada aja penjual mamin (makanan& minuman) lewat.

    Ga kayak kelas Execuitive, udah mahal ga enak pula dan sering tertipu (atau lebih tepatnya saking bloonnya suka ga bisa ngebedain mana makanan jatah mana makanan dijual restorka).

    Oya kalau soal hiburan emang stasiun di Sby gada matinya, selalu ada Live Band terutama sore hari😉

    Keep up the good work Mas🙂

  16. saya lebih menikmati perjalanan dengan moda2 ekonomis seperti ini, karena saya bisa melihat wajah2 rakyat indonesia, tawa mereka lepas dan saya suka itu…coba deh ngobrol sama sesama penumpang pasti seru !!!

    salam🙂

  17. itulah menantangnya traveling di Indonesia, apalagi kalo pake transportasi publik. selain kondisinya yg naudubillah, belum lagi sistem transportasinya yang semrawut.

    makanya, orang Indonesia lebih suka ke LN. selain lebih murah, transportasinya mudah. selain itu juga KEREN! :p

    aku pernah ditanya, kamu nulis blog traveling udah pernah ke NEGARA mana aja? aku jawab, masih di seputar Jawa, dia ngakak. :p

    pas kuceritakan balik soal beberapa obyek di Jawa yg pernah kukunjungi, dia balik nanya, “ada toh?” jyaahh!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s