Book: Selimut Debu

Buku keren memang selalu susah untuk diresensi, seperti buku ini. Pembaca setia rubrik petualang di kompas.com tentu telah akrab dengan nama Agustinus Wibowo. Penulis serial Titik Nol. Pemuda asal Jawa Timur ini adalah seorang alumnus sebuah universitas di Beijing yang melakukan perjalanan darat lintas Asia tanpa henti sejak 2005. Seorang diri dia melewati Tibet dan tempat-tempat berbahaya lain di Atap Dunia. Buku ini menceritakan fragmen perjalanannya selama di negeri Taliban, Afghanistan.

Afghanistan dalam kepala Agustinus sebenarnya tidak jauh berbeda dengan bayangan kita; penuh ranjau, perempuannya memakai burqa, dipenuhi Taliban, markas Osama bin Laden, dan hal-hal buruk lain. Namun yang berbeda adalah dia mempunyai keinginan untuk mengetahui “Bagaimana, sih, sebenarnya?”

Selama di khaak Afghanistan, dia menjelajah ke seluruh pelosok negeri. Menyisir peradaban kuno yang menjadi saksi perebutan kekuaasaan dinasti-dinasti masa lalu. Dengan shalwar qamiz berdebu, dia berbaur dengan warga lokal dan menyelami kehidupan mereka. Dia menginap di samovar-samovar terpencil. Ikut berjubelan menumpang truk Kamaz dan traktor di jalan-jalan terpencil yang jelek dan berlubang. Jika memakai pengertian ecotourism menurut Hector Ceballos-Lascurain (1987), dia telah menerapkannya dengan pokok pengamatan kultur, pola interaksi sosial, sejarah, dan kondisi terkini.

Melalui buku ini, Agustinus berusaha menguraikan “Bagaimana, sih, sebenarnya?” Afghanistan itu. Ternyata Afghanistan seperti Indonesia, multi-etnis. Juga ada beberapa etnis dominan yang merasa menjadi orang Afghan sebenarnya. Hubungannya dengan Iran juga bisa diibaratkan dengan hubungan rakyat Indonesia – Malaysia. Bedanya orang Malaysia menganggap remeh karena negeri kita dikenal sebagai pengekspor tenaga kerja, orang Afghanistan di Iran dilecehkan karena dianggap sebagai tamu tak tahu diuntung.

Setelah berkeliling ke hampir seluruh pelosok, Agustinus ternyata menemukan bahwa burqa sebenarnya hanya kultur dari salahsatu etnis yang dipaksa untuk diterapkan Taliban di Afghanistan. “Ini bukan tradisi kami. Kami hanya terpaksa…, ” ungkap seorang wanita [hal. 251]. Ketika bertandang ke Wakhan dan daerah-daerah terpencil lain, dia mengamati bahwa kaum perempuannya tidak memakai burqa sepanjang waktu. Hanya ketika saat keluar rumah atau keluar desa saja. Membuat kita merenung dan belajar memilah-milah mana yang tradisi, mana yang religi.

Satu lagi yang menarik perhatian Agustinus adalah pola interaksi antara lelaki dan perempuan di sana. Jangan harap bisa pacaran seperti di sini, mau menikah saja yang mencarikan calon adalah para Ibu. Tidak ada istilah pacaran. Lelaki dan perempuan Afghanistan dipisahkan oleh hejab berupa burqa. Selain itu mas kawin untuk mempersunting seorang wanita untuk menjadi istri juga sangat mahal. Di desa-desa terpencil saja mencapai 4,000 dolar Amerika. Lucunya, karena menjadi khareji, orang asing, Agustinus sering ditanyai begini di samovar, “Berapa harga perempuan di negerimu?” Saya sendiri terus-menerus merasa bersyukur ketika membaca buku ini karena hidup di negara yang lebih subur, makmur, lebih aman serta nyaman, dan lebih modern.

Membaca sepak terjangnya, maka rasanya memang tak berlebihan jika kita memberikan gelar explorer padanya, seperti yang dituliskan di kata pengantar. Buku ini seolah menegaskan bahwa masyarakat Indonesia tidak kalah dengan bangsa lain dalam soal menjelajah. Jika sekarang ketika melihat bendera maple-bendera kanada-tersampir di rucksack seorang bule, backpacker lain akan segan, bisa jadi beberapa tahun yang akan datang bule-bule akan angkat topi jika melihat kita menyematkan merah putih di ransel.😀

Hanya satu yang saya sayangkan. Buku setebal 461 halaman ini tidak diberi daftar isi. Entah terlupa atau disengaja. []

57 pemikiran pada “Book: Selimut Debu

  1. jadi ini buku yang membuatmu hampir lupa pada resolusi untuk segera tamat kuliah? hm… no wonder.

    buku sebagus ini akan sayang banget kalau nggak diterjemahkan ke dalam bahasa inggris dan dipasarkan di luar negeri. atau udah?

    1. @marshmallow: bukunya mengiming-imingi sih, uni… tapi poin resolusi buat segera tamat kuliah itu gak bisa diganggu-gugat kok.:mrgreen:

      sepertinya belum, uni. soalnya terbitnya baru tanggal 12 kemarin. lagi di Indonesia juga belum booming.

      tapi asli, ini salahsatu buku keren bikinan orang Indonesia. pasti uni berminta buat baca kan? ntar kalo udah baca diresensi juga ya? hehe…

    1. @nakjaDimande: iya, bundo. ironi juga sih sebenernya.. orang Afghan itu orang-orang yang menghormati perempuan, lihat aja dari tradisi burqa dan mereka paling anti membicarakan istri dan ibu mereka dengan pria lain, tapi di sisi lain mereka seolah-olah menganggap perempuan bisa dibeli..

  2. @ulan: cari aja.. buruan biar dapet cetakan pertama. hehehe…

    @berrydevanda: yup. pesan-pesan kemanusiaan banyak banget di buku ini.

    Sudah pernah dan kebetulan Ayah-Ibu saya orang Pariaman. Saya gede dan sekolah sampai SMA di Padang.

  3. Aih, kebetulan sekali. Saya juga lagi baca buku berlatar Afghanistan. Nanti deh saya tulis ulasannya…🙂

    Sebagaimana dikatakan bahwa manusia kebanyakan itu hanya melihat segala sesuatu dari apa yang tampak. Hanya orang-orang pilihanlah yang mampu dan mau melihat sesuatu lebih dalam. Buku ini sepertinya salah satu cara untuk melihat sesuatu lebih dalam…

    *segera ke shoping, berburu buku baru ini*😉

  4. @vizon: oke uda, saya tunggu reviewnya.:mrgreen:
    bener uda. narasi dalam buku ini bisa dikatakan netral dan tidak berpihak pada salahsatu kutub.

    @budies: salam kenal juga, mas..:mrgreen:

    @nahdhi: yang sering tampil menjelang puasa/lebaran itu ya? hehehe…

    @ireng_ajah: silakan.😀

    @merry go round: sama dong. saya juga.. hehe. apalagi yang pake embel2 backpacker agama ini lah, agama itu lah. males aja bacanya karena perspektifnya pasti dari agama tertentu.

    kalo buku ini nggak. mengenai burqa yang saya singgung dalam review di atas, itu sih sebenernya “konsekuensi” dari perjalanan ke Afghanistan. apalagi coba yang mau dibahas di Afghanistan kalau nggak melulu soal agama, tradisi (termasuk burqa ini), masa lalu gemilang dinasti-dinasti tertentu.:mrgreen:

    secara garis besar buku ini isinya studi “sosial kemasyarakatan” orang Afghan. ajaibnya, pengarangnya Katolik lho. ini yang bikin saya salut..😀

  5. Saya nunggu pdf gratisannya aja kali ya.. *ugh.. bajakan melulu nih*😀

    Jika sekarang ketika melihat bendera maple-bendera kanada-tersampir di rucksack seorang bule, backpacker lain akan segan,

    Sumpah, saya baru tahu dengan tradisi beginian. Kalo boleh tau, gara-gara apa tuh, bro?

    1. hahaha… demennya gretongan. ane sih demen ngoleksi bro.😀

      backpacker kanada biasanya masang bendera negara mereka berukuran kecil di carrier mereka. dan backpacker kanada ini terkenal dengan reputasinya sebagai penjelajah tangguh yang gemar bertualang ke tempat2 jauh, bahkan ke tempat2 yang jarang dikunjungi backpacker lain. saya pernah denger cerita ada backpacker kanada yang rela menumpang kereta ekonomi 2 minggu penuh dari moskow ke beijing. haha..

      karena reputasinya itu, maka orang segan sama backpacker kanada.:mrgreen:

  6. hoooo… keren nampaknya.

    kalau saya, pelesir di daerah rawan konflik kayaqnya bukan opsi utama:mrgreen: meski demikian, buku ini seenggaknya telah memberikan gambaran mengenai kehidupan di afghan dari sisi lain, lepas dari desas-desus yang kita dengar soal budaya dan sosial-politik di afghan

    1. yoi, buku ini keren. kalo biasanya travelogue cuma berisi “saya ke sini, saya ke sana, saya begini, saya begitu”, buku ini berisi narasi tentang afghanistan; budayanya, sejarahnya, sosial-politiknya..

      pokoknya abis baca buku ini, wawasan awam tentang afghanistan jadi banyak bertambah deh.😀

  7. Saya belajar Afghanistan itu dari film dan buku Kite Runner.. Hmm ulasan yang menarik dari sisi seorang traveller. Berani gak ngikutin jejaknya, bro?😀

    Oiya saya pun pembaca setia Titik Nol ^_^

    1. Saya malah belum baca dan nonton the Kite Runner.😀

      Traveler biasanya punya sudut pandang menarik tentang suatu hal, makanya buku2 yang dihasilkan traveler biasanya menarik juga.😀

      Cari rute lain aja lah.. hehehehe.:mrgreen:

  8. Dulu sempat jadi pembaca setia titik nol,, gak tau malah kalo bukunya udah terbit,, bergegas ke toko buku ah.

    Trus kalo masalah bendera kecil,, gimana kalo mulai sekarang kita menyematkan merah putih kecil di carrier kita saat hendak bertualang? *tiba2 pengen masang merahputih di backpack hehehe*

    btw minta ijin nge-link yawk?🙂

  9. @kimi: ntar jangan lupa direview ya.:mrgreen:
    dan, buruan beli sebelum dilabeli best seller.😀

    @sash: sebagian tulisan di buku ini diambil dari tulisannya Agus di kompas.

    menarik tuh.. *nyari bendera kecil*:mrgreen:

    wow.. silakan2. saya link juga ya blognya..😀

    @antokoe: buruan dicari om bukunya.😀

  10. Tidak ada daftar isi?
    Masih ada yang terlewat juga oleh editor untuk buku modern saat ini, terkecuali memang disengaja. Saya pun kagum sama Mas Paimo yang keliling dunia dengan menggunakan sepeda.

  11. walahhh ini buku sudha masuk list buku yang besti kubeli jika mampir ke gramedia akhir minggu ini😀

    btw…perjalanannya keren!! jadi semangat ya sige setelah membaca buku ini?😀

  12. Alhamdulillah tdk sengaja baca Blog yang bagus mbahas buku yang bagus pula, klop lah. Aku suka baca jadi baca resensi ini ingin bgt baca Debu , sayang aku tinggal di kota kecil mungkin hrs titip adik di Yogya buat beli.
    Saran buat morishige tulis juga dong pengalaman bertualangnya jadi buku! Bakat nulisnya hebat kok, kelihatan dari resensinya. Aku juga setuju untuk memasang bendera merah putih di tas para petualang biar kita bisa sehebat backpapers Argentina. Aku baca kehebatan backpapers Argentina di buku Edensor Andrea Hirata. Nampaknya Edensor juga salah satu buku ttg petualangan yang luar biasa.. Yuk buku Morishige kutunggu…jendelakatatiti.wordpress.com

  13. Saya baru baca 5 cm saja sudah deg2an, gimana baca buku ini? Nanti saya cari deh, biar kerinduan pada gunung semakin memuncak.
    Btw, udah baca Annapurna belum? Kweren juga, kisah nyata juga

  14. @bang aswi: iya bang, saya bolak-balik bukunya gak nemu daftar isi.:mrgreen:

    btw, mas Paimo kalo bikin jurnal keknya bagus juga tuh.😀

    @sunarnosahlan: iya, mas. dari zaman dahulu kala sampai sekarang. gara-gara posisinya yang strategis sih; gerbang masih timur jauh.

    @ria: hehe.. iya, tambah semangat buat melancong.:mrgreen:

    @muamdisini: iya, menambah wawasan tentang afghanistan tepatnya.

    @yuliaslovic: kalo sarang narkoba saya setuju, karena afghanistan memang dikenal sebagai salahsatu negara yang memiliki ladang opium terbesar di dunia. tapi kalau dibilang sarang teroris, harus didefinisikan dulu teroris itu apa.

    @rhyzq: silakan dicari mas, jangan diburu.:mrgreen: kalau mau berburu babi hutan aja. hehe..😀

    @jendelakatatiti: trims mbak udah berkunjung.😀 saya sih masih dalam tahap belajar menulis.:mrgreen:

    edensor memang menarik, mbak. tapi studi sosialnya jauh lebih bagus buku selimut debu ini. hampir semua “kulit” afghanistan dibuka di sini. berbeda dengan edensor yang cuma menceritakan pengalamannya jalan-jalan keliling eropa.😀

    makasi, mbak. mudah-mudahan nanti bukunya tercipta, amin.😀

    @dian: yang pasti sih waktu baca buku ini kita jadi nggak sabar buat menanti aliran informasi di halaman selanjutnya.😀

    Annapurna saya belum baca karena dulu sih, menurut saya, kalah pamor sama Into the Thin Air dan Into the Wild.😀 kedua buku terakhir saya malah sudah baca dari dulu.😀

    btw diresensi dong mbak Annapurnanya.😀

  15. wah resensi menarik bang.. jadi tertarik untuk mempelajari lebih lanjut tentang afganistan nih.. tau sendiri kan, yg kita denger di sini kadang udah ditambah bumbu ini dan itu..
    hmmm… harus segera cabut ke toko buku nih.. moga2 masih ada..
    makasih yah.. ^^

  16. pasti ada maksud tertentu dengan tidak adanya daftar isi, hee, bukunya tebal juga yah mas. Salut dengan gaya mas shige meresensi, gak kayak Kutu yang amburadul dan serba gado2 ^^

    yukk ahh, sematkan merah putih di ransel …

  17. Dari resensi yang diberikan, tampaknya saya harus mendaftarkan buku tersebut dalam buku-yang-harus-dibeli-bulan-ini. Cerita perjalanan si penulis pernah dimuat di Kompas, dan saya kagum dengan pilihan lokasi perjalanannya yang tidak biasa itu.

  18. Buku ini memberi kejelasan mengenai pernyataan dr Mu’min (pakar foreksik FKUI) perihal kondisi jenasah Nurdin M Top, dan mungkin para alumni afganistan lainnya.

  19. Wow..
    kebetulan ambo juo pengemar berat tulisanyo sajak mengenalnyo di kompas jauh sebelum bukunyo terbit kawan,
    dan jujur wakatu ambo mambaco tulisanyo,,acok tabawo suasana ambo,kadang manangih,kadang galak,kadang bakaco kaco matoko,,
    dan mambuek ambo sadiah waktu mambaco tulisan beliau yang terakhir di blognyo,,sadiah bana,,
    oh yo ambo suko bapatualang juo da,,salam kenal,,
    ambo urang Piaman Juo tapeknyo di kampuang dalam,tapi rang gaek ambo marantau ka Muara Bungo Jambi.sadangkan ambo marantau ka Saudi,he he

    Salam kenal yo da..”

  20. Ping-balik: wooden baby gate
  21. Ping-balik: Summer baby Gates

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s