Langkah (29): Diarios de Motocicleta Minus Izin

Ceritanya saya dan kawan-kawan sok-sokan meniru Che Guevara, melakukan perjalanan lintas negeri dengan sepeda motor. Overall sama lah. Bedanya cuma (1) Che touring berdua, kami berempat (2) Che menggunakan motor gede sedangkan motor kami cuma Shogun butut dan Vario (3) Che melintasi beberapa negara di Amerika Selatan, kami cuma melintasi 5 pulau di Jawa dan di gugusan Nusa Tenggara Indonesia, dan (4) Che dan kawannya jalan dengan mengantongi izin orang tua, rombongan kami izinnya “minus dua” alias cuma dua orang yang minta izin sebelum berangkat.

Perjalanan ini sebenarnya sudah digagas sejak lama. Bahkan sewaktu praktikum di Bromo dulu, belum apa-apa kami sudah mengumbar rencana ini kepada kawan-kawan seangkatan. Kalau nggak jadi muka saya ini nggak tahu mau ditaruh di mana, nih. Rencana awal kami akan touring sampai Labuan Bajo dan menyeberang ke Pulau Komodo. Namun Atlas Indonesia dan situs ASDP menyadarkan kami bahwa untuk mencapai Labuan Bajo harus menyeberang lagi dari Pulau Lombok, melintasi Pulau Sumbawa, dan menyeberang sekali lagi. Masih jauh lah pokoknya. Dan artinya perlu biaya yang tidak sedikit. Maka dengan malu-malu kami “melipir” dan menciutkan tujuan perjalanan menjadi ke Gili Trawangan, Nusa Tenggara Barat.

Akhirnya setelah mengalami beberapa kali pengunduran, tanggal 26 januari 2010 kami berangkat dari Jogja menuju Lombok dengan dipandu selembar peta mudik Jawa-Bali-Lombok usang yang kami cetak dari internet semalam. Pitstop pertama adalah Surabaya. “Suroboyo sik. Ngko nek ditakoni wong, jawab wae arep nang Suroboyo.”

Squadnya adalah Pak Tua, Fiancuk, Bos Hedi, dan Saya. Dua nama terakhir inilah yang kabur saja tanpa mengantongi izin orang tua. Sebenarnya Bos Hedi minta izin, sih. Cuma izinnya hanya sampai Bali dan nggak bilang-bilang mau ke Lombok. Yang lebih parah itu saya. Sama sekali tidak minta izin, main berangkat saja.

Hari pertama saja efek minus izin sudah menunjukkan tajinya. Pagi-pagi sebelum berangkat motor Fiancuk, yang sehari sebelumnya sudah diservis di bengkel kawannya di Magelang, berulah. Hujan yang lebat semalam membuat karburatornya kebanjiran air dan motornya sama sekali tidak bisa distarter. Hancurlah rencana awal untuk berangkat pukul 7 pagi.

Menjelang zuhur barulah kami bisa meluncur ke timur. Belum genap enam puluh menit berjalan sial kedua datang menimpa. Baru sampai Delanggu, ban motor vario yang saya tumpangi dengan Pak Tua bocor. Maka dengan putus asa saya meng-sms Fiancuk dan Bos Hedi yang sudah di depan, “Kebanan, Cuk!” Untung di depan ada tambal ban. Tidak cukup hanya dengan kebanan (ban bocor), Tuhan melengkapi ujian ini dengan hujan. Tiga puluh menit kemudian barulah Vario putih itu bisa meluncur lagi.

Setelah saya pikir-pikir sebenarnya hanya ada satu syarat agar perjalanan yang anda rencanakan bisa terlaksana; jangan pernah benar-benar direncanakan. Maksud saya bukannya kita harus jalan tanpa persiapan. Terlebih dahulu rencanakan saja sekadarnya seperti tujuan dan waktu keberangkatan serta kepulangan. Kalau terlalu sibuk “merencanakan” biasanya perjalanan itu hanya akan terlaksana sebatas dalam angan-angan. Ada cerita mengenai seorang kawan yang sudah dua kali merencanakan perjalanan ke Bali tapi belum jadi-jadi. Ada juga komentar di salahsatu posting saya yang berisi kira-kira begini “Sudah setahun merencanakan backpacking ke Jogja, tapi gak jadi-jadi.” Bagi saya sih “just hit the road!

Dan tidak lupa juga cuma ada satu syarat agar perjalanan anda bisa berlangsung dengan aman dan nyaman. Minta izin sama orang-orang tercinta. Percayalah, restu mereka akan sangat bepengaruh pada kelancaran perjalanan anda. Nanti dalam tulisan “sesi” Lombok akan terungkap betapa sialnya perjalanan saya yang tanpa “Dedi Dores” ini.

Dan hari itu “kesialan hari ini” ditutup dengan berputar-putar di Surabaya karena Pak Tua agak lupa jalan ke rumah kontrakan Eko. Padahal dia sudah berkali-kali ke sana.[]

19 pemikiran pada “Langkah (29): Diarios de Motocicleta Minus Izin

  1. Pantesan Shige menghilang cukup lama. [itu bulannya salah ketik shige?]

    hmm, ada yang pergi tanpa Dedi Dores, namun syukurlah sudah pulang dengan selamat. Bundo tunggu cerita lanjutannya.

  2. @nahdi: haha.. iya bro.😀

    @nakjadimande: nice correction, bundo.. iya salah ketik. *jadi malu* untung belum dibaca banyak orang.😀

    iya, bun. syukur banget bisa pulang dengan selamat. tapi akhirnya “karena suatu hal” ngaku juga sama ibu pas di lombok.:mrgreen:

  3. wow…hebat…
    nanti cerita ya bagaimana perjalanannya…
    semoga selamat tiba kembali ke jogja😉
    ohya sampai pulau sumatera gak naik motornya?😀

  4. I agree, langsung jalan aja. Kebanyakan rencana malah kadang membatalkan acara karena yang satu mau nya ini yang lain maunya yang itu. Ayo, dilanjutkan atuh petualangannya🙂

  5. ternyata butuh restoe boemi pula ya?:mrgreen: ban mbledhos, hujan kenceng campur angin, itu caution kah?😛

    btw, kalo langsung hit the road, saya malah sering enggak kelakonnya😐 semisal pengen mudik ke jogja, saya kudu bikin planning dulu, itung weton, tanggal merah, hari kejepit, antri tiket kereta, baru bisa pulang jogja:mrgreen:

    btw, masbro. intipin temuan situs bersejarah di UII doms, kombo mahasiswi cakep + situs pemujaan syiwa itu keliatannya yahud kalo dibikin jadi postingan😛

  6. aaahhh.. saia tau, suatu hal yang menyebabkan terpaksa harus ngaku di lombok itu, pasti gak jauh² dari gara² kehabisan pelor.😀

    pertanyaan penting ini mas shige, kapan akan bosan jalan² ?
    whuihihihi….

  7. Pantesan saya bolak-balik kesini kok gak ada postingan baru, ternyata lagi sibuk jalan-jalan toh,, sip sip,, ditunggu cerbungnya😀

    Saya setuju banget dengan “perencanaan perjalanan”. Saya sering merencanakan buat kesana dan kesini, semua hanya sebatas rencana, tapi kalo spontan ‘yuk berangkat sekarang’ apa ‘besok brangkat’, biasanya malah terlaksana smua hehehe…

    Tentang pergi minus ijin,, sampai sekarang saya belum berhasil muncak di gunung manapun, soalnya SK dari ibu gak pernah turun, dan saya gak berani melanggar,,, takut terjadi apa-apa kalo tetep ngeyel.

  8. @ria: alhamdulillah saya selamat sampai kembali ke jogja..😀
    ke sumatra? kan perjalanan ini ke timur.:mrgreen:

    @cipu: nggak batal kok bro.😀

    @okkots: dan lebih enak kalo jalan dengan sedikit orang..😀

    @merry go round: banyak banget😀 silakan dibaca ya.:mrgreen:

    @bluethunderheart::mrgreen:

    @depz: sok atuh..:mrgreen:

    @kurotsuchi: yoi bro. butuh banget, percaya deh.😀

    gile, pakai ngitung weton segala? haha.. mungkin ini bedanya anak kuliahan sama orang kantoran ya, bro? *berbahagia*

    ntar kalo saya jalan-jalan ke sana, tak posting di sini masbro.😀

    @pakacil: bukan masalah pelor sih, pak. masalah lain yang lebih bikin pengen nyemplung ke laut.:mrgreen:

    pertanyaan penting ini mas shige, kapan akan bosan jalan² ?

    saya malah juga ikutan nanya sama diri sendiri nih pak.. “kapan ya?”:mrgreen:

    @banditsp: yoi bro. tapi kan mesti nyeberangin selat alat dulu plus melintasi sumbawa.. over budget keknya sih.😀

    @sash: hehe.. kalo naik gunung sih saya selalu minta izin ke ibu. gak pernah cabut gitu aja.:mrgreen:

    @aap: jangan cuma bermimpi bro. langsung wujudkan saja.😀

    @fiancuk: meneng ae kw cuk.. hahaha!

    @diazhandsome: siapa yang bawa laptop?

  9. nah, jadi ini laporan lengkapnya.
    maklum, selama ini cuma mengikuti timeline-nya aja melalui twitter.

    tapi gak nyangka kalau ternyata kalian naik motor lho, dri.

    soal rencana vs spontanitas itu aku setuju, dri. seringkali sesuatu yang tanpa rencana matang terlaksana, walaupun hasilnya tentu saja tergantung keberuntungan. toh tanpa rencana berikut segala antisipasinya. sebaliknya kalau rencana kelewat panjang memang seringkali batal. kelewat banyak antisipasi kali, ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s