Langkah (31): We Bridge The Nation

Diiringi pandangan aneh karyawan-karyawan SPBU-karena numpang nginap saja tanpa beli bensin, kami meluncur ke arah Ketapang. Ya, pagi tanggal 28 Januari 2010 itu kami akan menyeberang. Ke Bali. Ini kali kedua saya menyeberangi Selat Bali pagi-pagi, saat matahari belum sepenuhnya melepaskan diri dari puncak-puncak gemunung Taman Nasional Bali Barat dan masih memancarkan sisa-sisa semburat fajar. Lumayan spektakuler, lah, pemandangannya.

Harusnya kami naik kapal dari pelabuhan ASDP yang besar, yang lazim digunakan penumpang umum untuk menyeberang. Namun entah kenapa, mungkin karena pengen cepat-cepat sampai di Gilimanuk, pagi itu kami membelokkan motor ke arah pelabuhan LCM  (landing craft marine) yang lebih populer di antara kalangan sopir truk ketimbang penumpang reguler. Truk gandeng memang terlihat lebih mendominasi daripada kendaraan pribadi.

Kapal-kapal LCM tidak membutuhkan dermaga seperti kapal ferry biasa dan “agaknya” bisa bersandar seenaknya di pantai manapun. Begitu sampai di pelabuhan, ferry jenis ini bisa segera menurunkan pintu ayunnya tanpa perlu repot-repot menyesuaikan diri dengan posisi dermaga. Langsung, cepat, dan tidak merepotkan. Mungkin tiga alasan itu yang menyebabkan ferry LCM menjadi favorit sopir truk.

Dari google earth, daratan Jawa dan Bali seolah tak berpisah. Jaraknya memang dekat sekali dan kedalaman Selat Bali hanya sekitar 60 meter. Terbilang dangkal untuk ukuran lautan. Makanya pada cuaca normal penyeberangan dari Jawa ke Bali “tenang-tenang” saja. Namun keadaanya akan lain sekali jika cuaca buruk, kapal akan oleng kanan-kiri gila-gilaan. Agustus 2008 ketika saya pertama kali menyeberangi Selat Bali, kapal yang saya tumpangi berjuang setengah mati melewati cuaca buruk. Kapalnya ya, seperti saya bilang tadi, oleng kanan-kiri gila-gilaan. Untung saja saya tidak menderita mabuk laut.

Empat puluh lima menit setelah berangkat, kapal kami merapat di Pelabuhan Gilimanuk. Dekat sekali, kan? Bandingkan dengan penyeberangan Merak-Bakauheni yang memakan waktu 2-3 jam, atau penyeberangan Padang Bai-Lembar yang butuh waktu 4-5 jam.

Singkat cerita sekitar 4.5 jam kemudian kami tiba di Pelabuhan Padang Bai. Dari Denpasar, anda bisa mencapai Padang Bai lewat By Pass Ida Bagus Mantra (Baca: Ida Bagus Manthre). Dibandingkan jalur reguler lewat Gianyar, lewat by pass jauh lebih cepat. Sebenarnya awalnya kami akan lewat Gianyar. Namun ketika makan pagi di “nasi jinggo siang” di warung, Ibu sang pemilik menyarankan kami agar lewat by pass saja. “Dari sini luruuus saja. Nanti mentok belok kiri. Abis itu luruuss saja. Nanti kalau ada petunjuk, belok kanan.”

Padang Bai lebih indah daripada Ketapang dan Gilimanuk. Pasirnya berwarna cerah dan airnya biru. Dari atas ferry, jika melihat ke bawah, akan terlihat kawanan-kawanan ikan kecil yang bermain-main di tembok dermaga. Persis seperti foto-foto di google.

Anda yang pernah ke Bali via darat dari Jawa pasti memperhatikan betapa ketatnya pemeriksaan untuk masuk ke Pulau Dewata. Sebenarnya nggak ketat-ketat amat sih, tapi minimal setiap orang harus memperlihatkan KTP dirinya kepada petugas di pos pemeriksaan. Tapi keadaannya akan lain sekali ketika akan meninggalkan Bali. Semua orang dilepas begitu saja tanpa pemeriksaan. Gimana ya, Kok saya mikir seolah-olah pulau yang perlu diamankan cuma Bali?

Ferry menuju Lombok yang kami tumpangi mewah sekali. Ferry paling mewah yang pernah saya tumpangi. Ruangannya nyaman ber-AC dengan bangku-bangku empuk. Beda sekali dengan ferry Ketapang-Gilmanuk tadi yang bangkunya saja seperti bangku tunggu PLN zaman dulu.

Kami membunuh waktu empat jam dengan tidur-tiduran, tidur beneran, dan menonton film yang disajikan awak kapal. Waktu itu filmnya “Spiderman 3”. Bosan di dalam, saya dan kawan-kawan jalan-jalan ke atas, ke anjungan. Beberapa kali ferry kami berpapasan dengan ferry lain. Di antara ferry-ferry yang berpapasan itu, ada satu yang berkesan bagi saya. Sebuah yang bertuliskan “we bridge the nation“, tagline dari ASDP. Jika tulisan itu berada di ferry “muda” yang “sehat” tentu akan terlihat sangar. Namun tulisan itu saya lihat di ferry tua yang tampak ngos-ngosan membelah Selat Lombok. Alih-alih sangar malah terkesan ngotot. Mengibakan. Saya mencoba memikirkan kira-kira berapa orang yang sudah diantarkan ferry itu dari dan menuju Lombok.

Jam tiga lewat sudah mulai terlihat tanah Lombok. Beberapa menit kemudian mulai terlihat hamparan pasir putih perawan berlatar hutan perbukitan rendah. Waktu itu saya teringat pada kisah “The Sea Wolf” karangan Jack London. Sepotong kalimat akhirnya berbunyi begini, “… Humphrey and Maud buried ‘Sea Wolf’ in the Pacific Ocean and stood on deck, watching the land as their ship got nearer and nearer to it.

Pukul empat lewat kami keluar dari ferry, menginjak tanah Lombok untuk pertama kalinya. Untung tidak dihampiri calo-calo bemo karena kami… pakai motor.[]

22 pemikiran pada “Langkah (31): We Bridge The Nation

  1. saya suka satire tentang we bridge the nation-nya.
    mengingatkan saya yg dulu kerap menggunakan kapal laut menyeberangi laut jawa yg kerap menghadapi kondisi laut yang mengerikan, apalagi dengan kemampuan berenang yg pas²an, membuat saya kian minder😦

  2. Bali dan Lombok memang luar biasa, bang.. ^^ saya sendiri mulai jatuh cinta pada dua pulau ini..
    btw, di tempatku ada kompetisi kecil-kecilan niih… ikutan yaaa..
    tak tunggu partisipasinya..

  3. iya mas, pemeriksaannya ketat banget, dulu saya nyeberang lewat darat pas bali bombing masih anget.. bawa tas carrier, dengan KTP Sukoharjo. surat jalan dari kampus banyak membantu spy bisa lolos.

  4. ihhhh bikin ngiri!!!
    kapan ya aku bisa backpackeran sampe sana…
    pengen juga ke bali udha lama aku gak kesana…

    dan lombok? mmm aku sama sekali blom pernah kesana…

    ferrynya ber AC harganya berapaan tuh sige?

  5. @nahdhi: wis lah, dab.. sing online tapi. pak eddy gek lungo..😀

    @dian: ayo, mbak. ambil cuti aja..:mrgreen: *ngiming2i*

    @sash: thanks.😀

    @marshmallow: hehe.. ujung2nya dan brown’s saya bener2 kelupaan, uni.😀 menyusul Dicken’s yang udah labih dulu terlupakan. hehehe..

    @diazhandsome: trims bro.. silakan diliat foto2nya.😀

    @cipu::mrgreen:

    @okkots: karimun jawa yuk?:mrgreen:

    @pakacil: inilah “kena”nya, pak. kita hidup di negara maritim, tapi justru penduduknya nggak banyak yang bisa renang. :p bandingin dengan orang eropa atau amerika yang rata-rata bisa renang. hehehe.. peace!!

    @merry go round: keadaannya sedikit lebih buruk daripada biasanya sih. tapi overall masih aman lah. hehe..

    @wahyu am: *jawaban diplomatis* Indonesia, dab!:mrgreen:

    @isnuansa::mrgreen:

    @nitya: lumayan bikin pantat tepos..😀
    ya, ketat juga sih.😀

    @agung pushandaka: hehe.. mumpung punggung masih bisa diajak kompromi, masbro.😀

    @joddie: lombok aja sudah indah begitu, apalagi semakin ke timur ya?😀

    @sauskecap: judulnya mirip2 blog kontraktor jembatan, ya emangnya?:mrgreen:

    @taka: untung belakangan ini udah nggak ada lagi bom di bali. kalau nggak, pasti udah bener-bener ketat banget tuh..:mrgreen:

    @snowie: of course.:mrgreen: I did the long trip during my free time.. In a gap time between semester or after UTS.😀

    @ria: harganya sih AC nggak AC sama aja…:mrgreen: cuma ngandalin keberuntungan. per orang 41 ribu. kalo pakai motor 86 ribu/motor. orangnya gak bayar.😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s