Langkah (32): Senggigi

Niatnya sih pagi-pagi sekali kami bakalan bangun dan langsung jalan-jalan ke pantai-pantai di Lombok Tengah, seperti Kuta dan Mawun, dan perkampungan Suku Sasak di Sade Rambitan. Nyatanya hari jumat tanggal 29 Januari 2010 itu kami bangun kesiangan, terlalu kesiangan malah. Sekitar pukul sebelas siang kami baru berangkat dari Narmada. Dan tujuannya pun berubah jadi ke Senggigi, terus Gili Trawangan.

Ketiadaan papan penunjuk jalan menuju Senggigi membuat kami lama berputar-putar di Mataram. Sebenarnya, paling dekat menuju Senggigi dari Narmada adalah lewat Ampenan. Dari sana tinggal ambil jalan ke utara, terus ikuti jalan mulus, sampai deh di Senggigi. Tapi bagaimana mau ke sana kalau keluar dari kota saja susahnya minta ampun. Hal sepele seperti ini harus dibenahi Dinas Pariwisata NTB nih, supaya yang tertarik ke Lombok tidak cuma turis-turis pelanggan agen perjalanan.

Karena waktu itu hari jumat, kami berhenti sejenak dulu untuk menunaikan shalat… jumat, di sebuah gang di pinggiran Mataram. Di sana azannya dua kali. Pertama untuk memanggil para pria yang sibuk beraktivitas agar ke masjid menunaikan shalat, azan kedua dikumandangkan sesaat sebelum khatib mulai berkhotbah. Dan di sini shalat jumat ada hostnya (berbeda dengan shalat jumat biasa yang sebelum ceramah cuma ada seseorang yang membacakan neraca keuangan masjid).

Host tersebut dibekali tongkat dan akan berbicara dalam Bahasa Arab sebelum menyerahkan tongkat ke khatib. Setelah tongkat berpindah dan sang khatib mengucapkan salam, sang host kemudian jadi muazin, mengumandangkan azan. Seingat saya di Jambi juga seperti ini.

Setelah shalat kami melanjutkan perjalanan. Dengan lebih semangat tentunya karena selain sudah tunai shalatnya, kami juga tadi bertanya pada orang-orang sekitar masjid. Dengan ramah mereka menunjukkan arah. Yang saya sadari, tiap daerah memiliki bentuk “keramahan” masing-masing. Ada daerah yang orang-orangnya bicara lemah lembut, ada yang suaranya keras, ada yang asal nyablak, namun semuanya memiliki bentuk keramahan tersendiri. Dan percayalah, sesangar apapun penampilan seseorang, akan membalas jika kita beri salam dan senyum. “Preman di Bandung saja kalau diberi ‘punten’ pasti akan balas senyum.” Begitu kata kawan saya yang kuliah di Bandung.

Di Ampenan barulah kami menemukan penunjuk jalan ke Senggigi. Well, kalau jalan-jalan berombongan, pakai bis pariwisata, ada atau tidak penunjuk jalan nggak akan jadi masalah. Toh pak supir bis sudah mengerti jalan. Sudah hapal di luar kepala sampai-sampai nyupir sambil merem saja bisa sampai. Beda kalau kita jalan-jalan sendirian, nggak ikut agen perjalanan. Kalau nyasar cuma peta, tanya kiri-kanan, atau papan penunjuk jalan yang bisa memberikan pertolongan. Huff, jadi independent traveler di Indonesia memang susah.:mrgreen:

Mulai dari Ampenan jalan mulai sedikit naik turun. Beberapa menit berselang laut mulai kelihatan dari jalan perbukitan yang menanjak dan saya mulai dilanda ekstase. Terus dan terus melaju tapi kok nggak sampai-sampai, ya, di Senggigi? Pantainya mana? Yang banyak malah beach resort ternama. Yaaah, kok Senggigi sudah dikapling-kapling begini?

Terus ke utara, kami tiba di sebuah pantai yang diberi nama Pantai 0.1 (baca: pantai nol koma satu). Pantai landai dan lebar dengan pasir berwarna terang yang dipenuhi pohon-pohon kelapa tinggi. Jelas pantai ini pada hari libur lebih ramai oleh pribumi karena tidak ada resort di sini. Warung-warung sate dan indomie, yang terbuat dari anyaman daun kelapa kering, berjejer di bawah pepohonan kelapa.

Kami hanya sebentar di Senggigi. Hanya jalan sampai ke ujung utara Pantai 0.1, main air sebentar, lalu kembali ke Jalan. Maklum, tujuan kami sebenarnya kan Gili Trawangan.[]

17 pemikiran pada “Langkah (32): Senggigi

  1. wah, bersih nian itu pantai terlihat.
    dan sepakat, papan petunjuk jalan memang tak bisa dipandang sepele. informasi yg penting sekali itu.
    walau kadang sudah baca papan petunjuk saja masih bisa nyasar *jelas saia kalo ini*😀

  2. wogh!😯
    foto nomer telu! keren sangat, masbrur. itu pantai senggigi atau sudah termasuk ke 0.1? jangan2 kayaq Parang tritis – parang kusumo – TPI depok yang bersebelah-menyebelah lokasinya😕

    btw, di kampung saya juga ada pake host koq. di jakarta sini, di masjid tempat saya biasa sholat jumat juga ada hostnya. kalo pas masih kuliah dulu, saya mayan sering ibadah di pogung, nggak pake host deh seinget saya

  3. Mantap, Bro, pantainya. Wah, harus sering jalan-jalan lagi, nih, karena beberapa daerah juga azannya dua kali pas Jumatan. Di Bandung pun maish banyak. Malah ada yang ceramahnya pake bahasa Arab dari awal sampai akhir, padahal baru mukadimah saja alias pembukaan doang waktu Jumatan di Anyer ^_^

    Ralat : Bukan ‘punteun’ tapi ‘punten’….

  4. walau hanya sebentar, kunjungan ke senggigi tetap menarik, kan?
    ya, memang tak bisa menutup mata soal peta dan petunjuk jalan di kebanyakan tempat di indonesia. menjadi independent traveler menjadi kurang terbantu. itulah salah satu keheranan kebanyakan orang indonesia saat berwisata di tempat-tempat lain di negara lain: kenapa kita justru lebih pede saat berwisata di luar yang notabene belum pernah sama sekali kita kunjungi? selain keamanan, petunjuk arah pun lengkap sehingga kita tak takut tersesat.

  5. @nahdhi: yoi, dab.. masih dalam rangka jalan2.😀

    @pakacil: hehehe. kalau masalah akses ke tempat2 wisata, Bali masih nomer 1, pak. makanya saya paling sebel kalo orang-orang menyamakan daerahnya dengan Bali… jelas beda lah. Bali udah siap dengan kunjungan wisatawan, kebanyakan daerah belum. paling yang menyaingi baru jogja.😀

    @venus: makasih mbok. happy valentine’s day juga.😀

    @cipu: awas ntar lantainya basah bro.😀

    @okkots: yang di mataram ini pakai MC bro. tapi emang sih awalnya doang.:mrgreen:

    @bri: salam hangat juga bri.😀

    @merry go round: *ngeles* maklum, capek banget abis motoran jauh.:mrgreen:

    @kurotsuchi: Sebenernya sih Senggigi ini nama daerah aja, bro.. jadi sepanjang daerah Senggigi, disebut Pantai Senggigi. celakanya spot2 bagus udah dikapling sama resort2 mahal.😦

    @darahbiroe: trims dah mampir.. oke deh.😀

    @bangaswi: saya lupa nambahin detail kalau pembukannya pakai bahasa arab, bang.

    oh, punten doang ya? oke deh, trims koreksinya..:mrgreen: saya edit deh, bang. hehe..

    @marshmallow: iya, uni… tetep menarik.
    ya, anggap aja traveling di Indonesia latihan buat ke luar negeri. hehehe.. *mudah2an bisa ke luar negeri, amiiiinn*

  6. itu pantai 0.1??? lucu banget namanya? ada sejarahnya gak kok dinamain itu?

    kapan ya aku bisa seperti jalan2 gila kayak gitu…keren euy sige!!! bener2 pelancong sejati

  7. Cara mengobati kencing nanah dengan obat alami trica jus merupakan suplemen kesehatan herbal yang terbuat dari tribulus dan maca. Sangat aman dikonsumsi dan mampu membantu anda memberantas kumankuman penyebab penyakit kencing nanah (gonorrhea). Tricajus bisa dikonsumsi sebagai alternatif cara mengobati kencing nanah dengan mudah dan praktis. Tricajus tersedia dalam bentuk serbuk siap seduhsehingga penyajiannya pun cukup mudah dan praktis cukup seduh dengan air dingin bisa dengan air es asalkan jangan dengan air mendidih karena bisa merusak kandungan yang terdapat di dalamnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s