Langkah (33): I ♥ GT

Jadi, setelah dari Senggigi kami meneruskan perjalanan ke utara menuju pelabuhan Bangsal. Dari sana kami menyeberang ke Gili Trawangan dengan public boat berongkos IDR 10,000/orang. Tidak butuh waktu lama untuk sampai di pulau terbesar dalam gugusan “The Three Gilis” itu, kurang dari satu jam public boat itu sudah menepi di pantai depan papan bertuliskan “Selamat Datang di Gili Trawangan.” Jepret! Jepret! Bergantian kami berfoto di sana.

Gili Trawangan memang mempesona. Airnya jernih dan pasirnya putih, meskipun di beberapa bagian tidak terlalu terang warnanya. Di antara ketiga Gili, Trawanganlah yang topografinya paling “mangstab”, meminjam istilah para kaskuser. Pulau ini punya bukit, tidak seperti Meno dan Air yang sepanjang pulau datar-datar saja. Dulu jika disuruh memilih pulau terindah, saya pasti akan memilih Sempu. Sekarang dalam list saya Gili lah yang nomer satu.

Berdebar rasanya ketika akhirnya tiba di pulau yang telah lama saya bayangkan. Ketika akhirnya kaki ini melangkah di pasirnya, ketika akhirnya mata ini melihat secara langsung Cidomo Gili Trawangan yang legendaris, yang ternyata menggunakan ban mobil sebagai roda. Hehe..

Dari awal, ketika merencanakan perjalanan, saya memang tidak menganggarkan akomodasi untuk di Gili Trawangan. Kalaupun ada, biaya penginapan diambil dari sisa-sisa anggaran bensin dan makan. Karena itulah yang pertama kali kami tuju adalah masjid/mushalla terdekat.

Berdasarkan riset sebelum berangkat, di Gili Trawangan ada sebuah masjid. Letaknya di selatan dermaga, agak ke dalam berbaur dengan permukiman penduduk. Ancar-ancarnya sih Bar Irlandia. Setelah berputar-putar sebentar tibalah kami di sebuah Surau, “Akhlaqul Amin II” namanya. Di sana kami disambut dengan ramah oleh seorang “bro” (karena kata beliau sekarang anak-anak Trawangan lebih nyaman makan “bro” untuk menyapa orang). Dia membukakan pintu Surau dan mengobrol-ngobrol santai dengan kami. Awalnya sih saya kira “bro” ini hanya garin biasa, taunya merangkap sebagai karyawan pemasaran sebuah penginapan. Buktinya dia malah menawarkan pada kami penginapan seharga IDR 200,000/malam. Saya yang sebenarnya ingin menanyakan apakah kami boleh menginap di Surau itu, jadi segan.

“Ntar aja lah mikirin penginapan. Mending kita lihat sunset dulu…” Senangnya punya kawan-kawan yang tidak khawatir mengenai penginapan.

Kami menolak dengan halus penawaran “bro” tadi dengan dalih, “Pengen lihat sunset dulu, Bro! Ntar kalau jadi, pasti saya bakal balik lagi ke sini.” Padahal saya sudah survey ke dalam kamarnya segala. Menarik, sih. Kasur king size, TV flat, dan suplai lancar air tawar.

Sunset spot terletak di ujung selatan pulau dan kami memilih untuk lewat dalam, lewat permukiman, bukannya lewat pantai. Ternyata banyak juga orang yang menetap di pulau ini. Di sebuah jalan setapak yang kanan-kirinya rerumputan, kami berpapasan dengan seorang ibu setengah baya. Waktu mudanya ibu ini pasti jadi SPG karena beliau sangat ramah dan supel. Dalam waktu semenit beliau sudah bercerita bahwa dirinya baru kawin lagi setelah ditinggal mati suami. Bahkan setelah mengaku bahwa kami dari Jawa, dia menawarkan kami untuk menginap di rumahnya. “Suami baru saya juga dari Jawa, lho. Pasti dia senang ngobrol-ngobrol dengan kalian.”

Sepertinya perjalanan ini memberikan kami skill baru, menolak dengan halus. Setelah melepaskan diri dari sang ibu ramah, kami melanjutkan perjalanan. Jepret! Jepret! Segalanya saya jepret. Mulai dari jalan setapaknya, tempat pembuangan sampah Gili Trawangan, ranch kuda, segalanya.

Jalan setapak itu berakhir di sebuah, tentunya, pantai berpasir putih. Indah sekali. Di kejauhan tampak Gunung Agung di Bali dan Pulau Lombok. Tapi sayang, putihnya pasir di sana terkontaminasi oleh sampah yang bertebaran. Sepertinya sisa-sisa party tahun baru yang dibuang seenaknya di pantai. Yang paling banyak sih botol-botol bir.

* * *

Semenjak di Bangsal, Bos Hedi sudah berkoar-koar kalau dirinya melihat sesosok artis di Malimbu, sebuah bukit antara Senggigi dan Bangsal. Ternyata kami bertemu dengan artis itu di sunset spot. Kata Bos Hedi namanya Chacha Frederica. Saya sih percaya saja itu namanya.

Bos Hedi mengajak saya untuk berfoto bareng Chacha. Dia mengompori saya dengan berbagai kalimat. Awalnya saya deg-degan, lutut saya gemetaran. Saya memang selalu begitu ketika dalam keadaan terlalu antusias. Namun ketika kalimat pamungkasnya keluar, “Sudah jauh-jauh motoran dari Jogja kok minta foto bareng artis saja nggak bisa..”, saya langsung kalap dan menyongsong Chacha. Jepret! Jepret! Dua kali jepret dengan saya selalu berada tepa disamping Chacha.

Semalaman kerjaan saya hanya mengagumi foto itu. Takdir ternyata punya banyak kejutan.

* * *

Malamnya kami melakukan kegiatan gila; mengitar pulau malam-malam. Menurut referensi sih cuma butuh waktu dua jam untuk keliling pulau. Maka, malam itu, berbekal headlamp yang saya beli di mirota batik, berjalanlah kami menyusuri pesisir Gili Trawangan.

Sisi barat yang kami susuri sangat berbeda keadaannya dengan sisi timur.  Sisi barat tidak memilik bar sebanyak timur. Yang satu hening, lainnya semarak. Sisi barat dipenuhi oleh resort-resort mahal dan rumah-rumah sewaan yang hanya bisa dihuni oleh turis-turis berkantung tebal, sisi timur punya banyak kamar sewaan kecil yang berharga miring.

Pantai barat lebih bagus daripada pantai timur. Ketika malam saja sudah terlihat betapa putihnya pasir di sana. Tapi sayang sekali, ombaknya cukup besar, nggak enak kalau dijajal snorkling.

Ketika sedang asyik menyusuri jalan by pass  Gili Trawangan, kami berpapasan dengan tiga orang bapak berseragam yang sedang patroli. Salah seorang dari mereka bertanya malam ini kami menginap di mana. Begitu menjawab bahwa kami belum ketemu penginapan yang cocok, beliau langsung menyuruh kami untuk bersegera mencari. “Sudah jam 10, Dek. Sebaiknya cari penginapan. Sepanjang malam kami patroli.” Malam sedikit mungkin kami  akan diciduk dan digelandang ke poskamling gara-gara dicurigai maling. Ibu-ibu ramah yang kami temui sore tadi juga bercerita bahwa beberapa bulan lalu ada anak kecil yang dibantai gara-gara kedapatan mencuri kambing, “Badannya dipotong-potong. Nggak tega saya melihatnya.”

Malam itu kami tidur di pantai, beralaskan mantel hujan, berlapiskan autan. Tidak ada yang istimewa malam itu kecuali memergoki sepasang bule telenji di bawah bulan purnama.[]

 

 

 

 

11 pemikiran pada “Langkah (33): I ♥ GT

  1. apakah di sini tragedi memilukan menyangkut dokumentasi itu sudah terjadi? karena aku tak menemukan sepotong pun gambar. padahal aku sudah membayangkan bakal menikmati banyak jepretan bagus.

    hm… betul-betul ngirit deh perjalanannya, sampe-sampe tidur gratis di pantai. lumayan, dapat pemandangan “bagus” pengganti siaran di tivi flat. haha.

    trus, berhasilkah mengontak si artis itu kembali, dri?

  2. @bandit perantau: bulenya kabur gara-gara lihat kami bangun.:mrgreen:

    @merry go round: hehehe.. sengaja.😀

    @okkots: iya, bro. kebersihan pulau harus dijaga.
    saya pernah baca di kompas, kalau masyarakat Gili Trawangan kurang peka terhadap kebersihan pulaunya, bisa-bisa wisatawan asing meninggalkan Trawangan dan beralih ke pulau-pulau indah lain di lombok.

    @cipu: baca aja lanjutannya.:mrgreen:

    @marhsmallow: sehari setelah pulang dari Gili Trawangan, uni.. di post selanjutnya.😀

    makanya, saya juga sempat down karena foto2 bagus di gili trawangan hilang semua..😦

    ngirit banget untuk 13 hari di jalan. uni pasti bakal kaget kalau saya bilangin satu orang cuma ngeluarin duit berapa.😀

    kemarin saya sudah cari-cari FBnya uni. tapi belum dibalas… saya curiga itu bukan punya dia.😀

  3. bule telenji dibawah bulan purnama? huhahahahaha apa artinya itu sige?
    ohya…gili tawangan katanya bagus, temenku baru pulang honeymoon dari sana…mana foto2nya?

    sige hebat!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s