Langkah (34): Memory’s Forever

Saya pernah nginap semalaman di Stasiun Gubeng yang banyak nyamuk, menyakitkan. Saya juga pernah ditinggal sendirian oleh kawan di stasiun banyuwangi, malam-malam, menyebalkan. Di hutan saya pernah juga ditinggal sendirian di antara tenda-tenda dan ransel-ransel kosong, lumayan menakutkan. Pernah juga saya loncat dari kereta minyak pertamina, saat terpaksa harus menumpang kereta itu karena ketinggalan pramex ke jogja. Menyakitkan jatuhnya. Tapi rasanya nggak ada yang semenyakitkan waktu di Lombok kemarin; kehilangan kamera.

Tanggal 31 Januari, wajah kami menjadi semakin ceria karena besok pagi sudah tanggal satu, bulan baru. Dengan semangat menggebu, pagi itu saya dan kawan-kawan berangkat ke Pantai Kuta, Lombok Tengah. Pantai yang belakangan diagung-agungkan banyak orang karena keindahannya diklaim melebihi Kuta Bali. Pantai Kuta satu rute dengan perkampungan Suku Sasak di Sade Rambitan, Pantai Mawun, dan Pantai Areg Uling-yang secara tidak sengaja kami temukan.

Pantai Kuta memang bagus. Tapi alamnya doang. Pengelolaannya benar-benar payah, bahkan sepertinya memang belum secara serius dikelola pemerintah setempat. Begitu tiba di situ dan turun dari motor, saya langsung dikerubungi anak-anak yang menjajakan aneka gelang. Mulai dari gelang untaian mutiara sampai gelang rasta. “Ayolah, Mas. Ayolah, Mas.” Anak-anak itu terus-terusan memaksa saya untuk membeli dagangannya, sialnya mereka membujuk-bujuk dengan muka memelas. Jengkel, akhirnya saya keluarkan 10ribu terakhir dari kantung, “Ini, aku beli gelang dua. Sisanya kau bagi-bagi sama teman-temanmu.”

Kalau cuma sekadar menawarkan dan setelah itu mereka berlalu, sih, oke-oke saja. Tapi anak-anak itu ngikutin saya terus. Saya berputar-putar, mereka ikut berputar. Saya jongkok, mereka ikutan jongkok.. Kami foto-foto di pulau kecil, mereka ikutan eksis. Sungguh nggak nyaman. Saya jamin anda semua nggak akan betah berlama-lama di Pantai Kuta. Kalau mau menyaingi Kuta Bali, hal pertama yang sebaiknya dilakukan pemda setempat adalah menertibkan para pedagang cilik ini.

Jepret! Jepret! Kami hanya betah beberapa “jepret!” di sana. Begitu kami berlalu, anak-anak itu langsung mengerubungi mangsa berikutnya, para peserta darmawisata-entah-dari-mana. Tujuan berikutnya adalah Pantai Mawun.

Di sinilah saya mengalami infrastructural shock hebat. Di peta, Kuta dan Mawun terlihat dihubungkan oleh sebuah jalan yang lebar. Kenyataannya jalannya memang lumayan lebar, tapi hancur dan bolong di sana-sini. Mana sepanjang jalan tidak ada tambal ban, lagi. Di jalan Kuta-Mawun saya mengalami dejavu. Formasi batuannya mirip di Gunung Kidul, berbukit-bukit batugamping.

Setiba di Pantai Mawun saya bersyukur karena di sini tidak ada pedagang cilik yang “memaksakan” dagangan. Pantai berupa teluk kecil namun berombak besar itu sepi-sepi saja. Hanya ada sebuah warung yang menjajakan snack-snack ala anak SD dan minuman. Di sisi timur pantai, berderet perahu nelayan. Jepret! Jepret! Menurut pengakuan Fiancuk, foto di Pantai Mawun inilah foto-foto terbaik kami, selain di Gili Trawangan tentunya.

Menurut penuturan mas-mas yang nongkrong di sana, pantai mawun termasuk spot favorit para turis untuk berselancar. “Mereka sudah pulang dari tadi. Selain di sini, di pantai sebelah juga ramai turis yang surfing.” Ternyata di antara Kuta-Mawun ada sebuah pantai lagi, namanya Pantai Areg Uling. Pantai lebar dan landai tapi berombak besar. Di beberapa titik mencuat karang-karang tajam mematikan. Ketika di pantai itu, di kejauhan saya lihat banyak orang sedang berselancar.

* * *

Mendung membuat kami harus bergegas meninggalkan pantai selatan Pulau Lombok. Tujuan berikutnya adalah perkampungan Suku Sasak di Sade Rambitan. Masih sepi ketika akhirnya kami tiba di sana. Begitu selesai memarkir kendaraan kami dihampiri oleh seseorang, pemuda setempat. Dia akan menjadi guide kami di perkampungan. “Bayarnya seikhlasnya saja, Mas.” Begitu jawabnya ketika Bos Hedi menanyakan tarif.

Bangunan pertama yang kami temui begitu masuk kampung, tentunya selain gerbang dan bale-bale untuk nongkrong, adalah rumah kepala desa Sade. Di sekelilingnya berjejer gelang, kalung, dan kain dagangan penduduk setempat. “Mata pencaharian utama kami adalah bertani. Kalau musim tanam berakhir, semuanya menenun.” Jelas guide kami, di kanan kiri memang banyak anak gadis yang menenun. Dia juga bilang, “Di sini ada sekitar 150 rumah dan penduduknya sekitar 700 orang.”

Bangunan yang paling mendominasi di sini adalah Bale Tani, rumah tradisional suku sasak yang ruangannya hanya terdiri dari 3 ruangan. “Tani” adalah mata pencaharian utama orang Sade, “bale” adalah tipe rumahnya. Salahsatu ruangan dikhususkan untuk anak gadis. Dia mengajak kami masuk ke sebuah rumah. “Kalau rumah ini anak gadisnya sudah dilarikan orang.” Kami cekikikan. Lalu jepret! Jepret! Terabadikanlah momen kami di Bale Tani.

“Oh, ya…”, ujar mas guide seperti tiba-tiba ingat sesuatu. “Bale Tani setiap beberapa waktu selalu diberi tahi kerbau. Selain ritual juga untuk menjaga supaya rumah tetap kuat. Kan lantainya terbuat dari tanah liat…”

“Tahi kerbaunya dioles atau diapain, Mas?” Tanya Bos Hedi. Saya langsung menyibukkan diri, malas memikirkan tahi kebo.

* * *

Sudah lewat jam makan siang dan perut kami semua sudah sangat lapar. Kami kembali ke Mataram. Di Mataram kami ngadem sebentar di Mataram Mall, Cakranegara, kemudian berkeliaran di toko-toko baju untuk mencari kaos bertuliskan “I ♥ GT”, I love Gili Trawangan. Di Trawangan kemarin harganya selangit, IDR 90,000. Sia-sia, tidak ada. Akhirnya cuma beli yang tulisan “Senggigi”  saja.

Jam dua siang, ketika sedang makan di KFC, paket attack yang murah-meriah,  entah kenapa saya tiba-tiba ingin melihat preview foto di kamera. Saya bongkarlah tas kecil Pak Tua, tempat saya meletakkan kamera. Hari ini saya memang sengaja tidak bawa tas sendiri. Saya keruk-keruk kok tidak ada? Penasaran, saya keluarkan semua isi tas Pak Tua. “Ah, kameranya hilang.” Kalau tidak salah saya bilang begitu ke kawan-kawan. Semua pada cengar-cengir saya, tak percaya. “Ojo bercanda kowe, nyuk!!”

Kenyataannya kamera itu memang tidak ada. Hilang sudah dokumentasi di Gili Trawangan, Sade Rambitan, Kuta, Areg Uling, dan Mawun. Hilang sudah foto bareng Chacha Frederica. Yang tersisa cuma memory card 1 GB yang berisi perjalanan sampai Senggigi. Semua shock, bahkan ayam spicy yang pedas itu saja terasa hambar. Kami pulang ke Narmada dengan lesu, semangat sudah hilang bersama dengan raibnya kamera.

Di Narmada barulah saya dan kawan-kawan bisa berpikir bahwa kehilangan kamera bukan akhir dari segalanya. “Agustinus Wibowo saja semangatnya tetap hidup ketika kameranya hilang di perjalanan China-Afghanistan. Masa kita yang cuma ke Lombok mesti bunuh diri gara-gara kamera hilang?” Lagian, nggak ada yang sempurna di dunia ini. Apapun itu, pasti ada cacatnya. Termasuk perjalanan ini.

Pictures fade away but memory’s forever – New Found Glory. []

 

21 pemikiran pada “Langkah (34): Memory’s Forever

  1. udaahhh jangan sedih! memorinya bakal lebih kuat terekam di benak shige. tanpa gambar pun bundo bisa bayangkan satu persatu tempat itu berdasarkan cerita shige. **kecuali yang tentang tahi kebo:mrgreen:

  2. @cipu: Chacha Handika mah penyanyi dangdut, bro..😀 ketauan nih suka dangdut.:mrgreen:

    saya foto bareng sama Chacha Frederica. :p

    @okkots: amiiin.. ntar di bali kamera itu ada ‘gantinya’ lagi kok.:mrgreen:

    @nakjadimande: makasih, bundo.. tapi tetep aja sedih. huaaa…😦

  3. turut berduka cita om. saya juga pernah keilangan,,untungnya cuma lens cover😀

    gimana klo potonya di gambar sendiri aja pake sotosop. kan masi keinget2 trus tuh di memory?!? hee:mrgreen:

  4. Nggak melongok blog ini bentar aja sudah ketinggalan beberapa cerita, begitu baca malah dapat cerita sedih. Semoga abis ini dapat kamera baru yang lebih bagus😀

  5. @pakacil: benar pak. amin… semoga dimudahkan lah jalan ke sana dengan kamera baru yang lebih bagus.:mrgreen:

    @[H]: hahaha.. ide bagus tuh. gimana kalo lu yang bikinin. hehehe..:mrgreen:

    @sunarnosahlan: trims dah main ke sini pak.😀

    @antokoe: yah, mau gimana lagi bro.. udah takdir kameranya hilang.:mrgreen:

    @sauskecap: banget. kami berempat langsung tidur begitu sampe di Narmada. capek badan dan otak. berharap semuanya cuma mimpi, dan waktu bangun pagi seseorang akan bilang, “AYO KITA KE GILI! Kesiangan nih!”:mrgreen:

    @merry go round: yoa, ini penyebab posting2 sebelumnya kurang dokumentasi.😦

    @aap: bawa kamera 10 lah besok2.:mrgreen:

    @sash: amin..:mrgreen:

    @imumph: oke, trims ya.😀

    @dhodhie: gila!! rasane loro tenan, bro.:mrgreen: K.A.M.E.R.A itu kan vital banget kalo lagi jalan2..😦

  6. waduhhhh pantes di postingan gili tawangan gak ada fotonya…kamerau hilang toh sige😦 turut berduka cita ya…hiks…

    hilangnya di kute kah? atau di gili tawangannya?…

  7. @ria: hilangnya tuh antara Sade Rambitan dan Mataram Mall. nggak tau kenapa, beneran. terakhir saya pegang kamera itu di depan gerbang permukiman sasak di Sade. abis itu masuk tas, trus di KFC mau lihat-lihat preview, tau-tau hilang..😦

  8. Kalo di Bali, dijamin barang2 ente semua ga bakalan ilang brow… Ayo ke Bali aja, ngapain ke lain tempat, kalo ntar barang2 ente sekalian ilang…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s