Langkah (35): Kamera Kejutan

Masih dalam keadaan berkabung karena kehilangan kamera, malam hari tanggal 31 Januari kami kembali ke Bali. Meninggalkan Lombok dan kamera saya yang sekarang entah berada di mana. Empat jam saya dan kawan-kawan bertahan di ferry yang lebih jelek daripada saat berangkat kemarin. Kali ini tak ada AC, bangkunya seperti bangku antrian PLN, penjaja makanan berlalu lalang, dan dengkuran bersahutan. Empat jam pula saya membungkus diri dengan sleeping bag dan tidur di lantai ruang penumpang kapal. Lumayan. Tidur saya nyaman.

Belum subuh ketika ferry berlabuh di Padang Bai. Tidak ada pemeriksaan ketat seperti di Gilimanuk. Kami memacu motor ke Sanur. Sehabis dari Sanur, kami ke Sanglah. Ke rumah Gede, teman kecil Bos Hedi, yang dulu pernah tinggal di Jogja. Lama kami berputar-putar di Denpasar mencari-cari alamat Gede. Dan hampir pula saya menduga alamat yang diberikannya palsu; siapa pula yang akan percaya kalau anda menyebutkan bahwa anda tinggal di Jalan Saturnus?:mrgreen:

Berkat bantuan seorang tukang parkir, sampailah kami di rumah Gede. Ternyata Gede sudah besar. Awalnya saya kira Gede sebaya dengan Bos Hedi, artinya sebaya pula dengan kami. Ternyata dia sudah lulus kuliah S1 dan sekarang sedang mengambil S2. Beda sekitar 4-5 tahun dengan kami.

Tidak ada adegan-adegan lebay seperti di sinetron waktu Bos Hedi dan Gede bertemu. Yang ada, kami hanya duduk-duduk mengobrol di teras ditemani Kopi Bali yang beraroma khas. Sekalian kami curhat masalah kehilangan kamera. Gede menanyai kami malam ini rencananya mau tidur di mana. Bos Hedi bilang belum tahu. Well, sebenarnya saya memang berharap Gede menawarkan kamarnya untuk dipakai menginap. Tapi ya, kalaupun nggak, nggak masalah. Tahu-tahu di ujung percakapan dia menawarkan, “Ya sudah kalian nginap di sini saja.” Ujarnya dengan Bahasa Indonesia aksen Bali. “Kalian juga bisa pakai kamera aku kalau mau. Ayo kita ke kamarku saja sekarang… Biar kalian bisa istirahat atau beres-beres.” Thank God!

Saya, sih, kalau beres-beres sekadarnya saja. Bersihin badan kalau jalan-jalan, sih, sudah puas dengan hanya mandi koboi dan pakai deodoran. Nggak bakal kelihatan bedanya, toh dandanan saya paling cuma kaos oblong, celana pendek, dan sandal jepit. Di kamar Gede saya cuma menghabiskan waktu dengan mengagumi tiga buah gitar elektrik “Ibanez” yang berjejer dengan indah di pojok kamar. Juga mengamat-amati poster Blink 182 dan Travis Barker solo, serta poster-poster menarik konser band-band indie.

Ketika semua sudah beres dan kami mau berangkat, pagi itu mau ke Bedugul dulu rencana, Gede berkata, “Tolong ambilin tas kotak di meja itu dong?” Entah siapa yang bergerak mengambilnya. Selanjutnya Gede membuka tas itu dan keluarlah kamera mewah; DSLR Nikon D90 mulus dan lengkap. Pasti waktu itu kami berempat serempak berkata “WOW!” dalam hati.

“Jagain baik-baik, ya, kamera ini. Jangan sampai hilang lho…” Bli Gede mewanti-wanti. Sebenarnya lebih ke ledekan sih gara-gara kami punya reputasi menghilangkan kamera sendiri. Hehe.

Dunia kok rasanya jadi berwarna lagi, ya? Kemarin siang sampai tadi waktu di Sanur rasanya dunia berjalan suram dan semuanya dalam mode sephia. Sekarang semua sudah kembali gembira. Seolah waktu itu Tuhan tiba-tiba muncul dari kamar gelap tempat persembunyianNya, lalu bersama para malaikat keluar sambil menating kue ulang tahun kemudian berteriak, “SURPRISE!!!”[]

29 pemikiran pada “Langkah (35): Kamera Kejutan

    1. haha.. saya malah deg2an waktu bawa nikon D90 itu kemana-mana. bodynya aja harganya sepuluh juta.:mrgreen: kalo hilang, bisa-bisa kami pulang jalan kaki.😀
      yoa. you’re pertamax bro.:mrgreen:

  1. Masih dalam keadaan berkabung karena kehilangan kamera, malam hari tanggal 31 Februari kami kembali ke Bali.

    memangnya ada ya tgl 31 Februari?😆

    Nikon D90? baru di pinjamin aja sudah senang kayak gituh, sok atuh beli… *komen sinis orang yang juga pengin😎 *

  2. @andrysianipar: makasih dah mampir bro.😀

    @gerhanacoklat: iya dong.😀 gile aja kalo sampe hilang.. hehe.

    @zam: oke masbro. tapi hasilnya biasa aja kok mas. saya biasanya cuma pakai kamera saku.😀

    @merry go round: saya juga mupeng.:mrgreen:

    @cipu::mrgreen:

    @okkots: yoi, bro. yang penting ada kamera..😀

    @hersu: saya malah belum pernah punya yang begituan, mas.😀

    @cipu: oke dah bro.. ntar saya jemput.😀

    @quinie: malah jauh lebih bagus pinjeman ini.:mrgreen:

    @sash: jauh lebih bagusss..:mrgreen:

    @nisa:😀

    @escoret: jangan heran lah bro kalo hasilnya biasa aja.:mrgreen: lha wong saya biasanya cuma pake kamera saku kok. hehe.. kalo saya mengaku fotografer handal, tapi hasilnya cuma biasa aja, nah itu perlu dipertanyakan..:mrgreen:

  3. @huang: banyak sih keknya, masbro.. untuk lebih detail, main aja ke fotograferljurnal.wordpress.com.:mrgreen:

    @gandi wibowo: gile aja kalo ilang. bakalan pulang jalan kaki kami tuh..:mrgreen:

    @marshmallow: yoi, uni. saya aja sampe kaget dia nyerahin begitu aja kamera bagusnya.

    sebenernya sih lumayan beda, un.. tapi karena temen2 udah terbiasa lihat saya, jadinya biasa aja.. padahal jauh beda sumpah!:mrgreen:

    @ria: samperin aja ntar kalo main ke bali. hihihi..:mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s