Langkah (37): Terapi Emosi di Kebun Raya Eka Karya – Bali Bukan Cuma Pantai

Gerimis dan hujan seolah tak bosan-bosan mengiringi kami. Dari dinihari tadi di Padang Bai sampai sekarang ketika kami meninggalkan Pura Ulun Danu, basah selalu. Bali akhir-akhir ini memang sering hujan. Makanya Bli Gede tadi berpesan, “Kalau hujan, tas kameranya langsung dibungkus sama kantung plastik merah yang di dalam tas itu ya..”

Obyek kedua hari ini adalah Kebun Raya Eka Karya (Bali Botanical Garden), Bedugul. Saya dan Fiancuk sama-sama pernah membaca tulisan mengenai kebun raya ini di kompas.com. Yang saya lihat tempat ini, pastinya, hijau dan dipenuhi oleh pepohonan yang tinggi. Jika dari arah denpasar, Kebun Raya Eka Karya beberapa kilometer sebelum Pura Ulun Danu Beratan. Jalan masuknya persis di sebuah belokan ke kanan. Kalau lurus ke Kebun Raya, belok kanan ke Bedugul.

Kebun raya yang mempunyai taglineConservation and Culture in Harmony” ini diresmikan pada tanggal 15 Juli 1959 dengan luas area 157,5 ha. Akan halnya kebun raya, kawasan Eka Karya berada pada ketinggian 1.250 – 1.450 m di atas permukaan laut. Dengan temperatur yang berkisar antara 18 – 20 °C dan kelembaban  70 – 90%, kawasan ini menjadi rumah yang nyaman bagi ribuan koleksi tanaman seperti; berjenis-jenis mawar, anggrek, kaktus, begonia, tanaman-tanaman yang digunakan untuk ibadah umat Hindu Bali, dan banyak sekali tanaman-tanaman tinggi yang akan susah jika diminta menyebutkan namanya satu per satu. Saat ini Kebun Raya Eka Karya dikelola oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Dibanding Pura Ulun Danu Beratan, karcis masuk Kebun Raya Eka Karya agak mahal. Sudahlah biaya parkirnya sekitar Rp. 7000/motor, selanjutnya anda juga harus membayar biaya masuk yang harganya hampir sama dengan parkir motor. Di pura tadi kami bahkan nggak bayar uang parkir karena memang penjaganya lupa meminta.

Nah, fase perjalanan yang paling mengetes kesabaran saya adalah ketika di kebun raya kemarin. Pertama penyebabnya adalah kamera. Karena memang suka foto-foto, dan memang kurang fotogenik serta sebelumnya sayalah yang punya kamera, saya didaulat untuk memegang kamera Bli Gede. Konsekuensinya ya saya harus rela untuk mengikuti ketiga kawan ke mana-mana untuk mengambil foto mereka. Perintah-perintah semacam ini menjadi akrab; “Sini, sini, fotoin aku.” “Abis itu aku ya!!” “Agak ke atas dikit.. Yak!” “Kasih aba-aba ya sebelum foto!”

Pertama-tama sih saya santai-santai saja. Tapi setelah sekian lama dan saya seolah cuma menjadi fotografer keliling Kebun Raya, emosi ini sampai juga ke leher. Bayangkan, ketika saya difoto, yang mana merupakan kesempatan langka, kawan-kawan masih saja teriak-teriak, “Jong, aku Jong! Background-nya itu tuh yang kayak padang rumput teletubbies. Yang ada cemara di belakangnya!!!” Untung saja saya sudah mulai bisa menyembunyikan perasaan; walaupun emosi, saya senyam-senyum gak jelas saja sambil meladeni kawan-kawan saya yang narsis semua.

Yang kedua, kesabaran saya dilatih ketika salah seorang kawan ngotot untuk melihat pura di sudut kebun raya. “Aku lihat di tivi, bagus puranya,” ujarnya. Saya cuma menimpali dengan “Oh, ya?” karena saya memang belum pernah mendengar desas-desus kalau pura di sana bagus. Maka dengan menerobos rumput becek, tidak lagi memerdulikan kondisi kaki yang sudah seperti habis bertani, kami melangah ke pinggiran kebun raya. Eh, setelah lama berjalan, tahunya puranya biasa saja. Tidak ada yang istimewa kecuali letaknya yang di dalam kebun raya. Sudah begitu, ketika akan kembali ke gerbang utama, kami dihadang segerombolan anjing yang terus-menerus menyalak dengan air muka mengancam. “Jangan lari! Jangan lari!” Sepanjang jalan cuma itu yang bisa kami ucapkan. Sambil sesekali menggertak dan berlagak mau melepar batu ke gerombolang white fang wannabe itu. Untung kami selamat sampai di parkiran tanpa kekurangan anggota badan.[]

28 pemikiran pada “Langkah (37): Terapi Emosi di Kebun Raya Eka Karya – Bali Bukan Cuma Pantai

  1. Aiiihhh….ceritanya sudah bertumpuk gini :p

    saya juga sering sebel dengan masalah kamera dan fotografer. Karena yang (selalu) membawa kamera dan (paling) rajin mengabadikan moment adalah saya, jadi temen2 dengan santainya minta difoto ini-itu, jadilah dalam foto diri sendiri paling sedikit (ugh). Lebih nyebelin lagi, waktu minta difotoin sama yang laen, hasilnya ngga sebagus jepretan sendiri (sigh).

  2. @nahdhi: namanya aja travelogue, bro..:mrgreen: hehehe.

    @rita: jarang sih yang ke sini. paling yang rame pas ada outbound2 perusahaan manaa gitu.😀 jadi kalo mau menyepi, atau romantis2an sama pacar mungkin, di sini enak.:mrgreen:

    @merry go round: setuju tuh sama yang terakhir. pas kite jepret orang lain bagus, giliran kitanya fotonya kacau.:mrgreen:

    @mas stein: saya juga mas. gemetaran waktu ngelewatin anjing-anjing itu.:mrgreen:

    @rindu:😛

    @sash: yap. pura batu meringgit. kalo mau ke pura mesti lewat taman panca yadnya dulu. ada sih fotonya..😀 keknya taman tanaman upacara panca yadnya itu belum sepenuhnya kelar, masih terus dibangun.😀

    @mursidlafaliana: mau apanya, masbro?:mrgreen:

    @okkots: gerbangnya jelas, tapi emang kurang mencolok sih. makanya mungkin gak kelihatan..:mrgreen:

    @cipu: hehe… :p

  3. Wah … jadi pingin ke sana nih, kayaknya adem banget ya hehehe.

    Ngadepin temen2 yang narsis seharian? wah emang bener2 melatih kesabaran tuh bro🙂

  4. hehhhee sabar ya shige.. klo perginya sama bundo, bundo dgn senang hati pegang kamera dan motretin shige dengan latar apapun.😀

    ha ha jangan lari..! dengkul gemetaran setelah sampai di parkiran.

  5. @imansulaiman: indeed, bro.. apalagi pada gak ngerti kalo kita tuh sebenernya nahan emosi.:mrgreen:

    @mamahaline: silakan, tante.. letaknya sebelum pura ulun danu..:mrgreen:

    @syelviapoe3: nambahin pahala ya? hehe.. oke deh.:mrgreen:

    @pakacil: rame, pakacil. saya aja lewat sampe gemetaran.. *punya trauma juga terhadap anjing*

    @dhodie: yoi, bro..:mrgreen:

    @nakjadimande: “jangan lari!” itu keknya agak sulit bundo..:mrgreen: soalnya saya jalannya cepet, dan suka lari. hehe..

  6. Enak bener kayaknya travelling terus *sirik*
    Iya yah…postingan kamu ini menyadarkan saya kalau Bali tuh bukan cuma pantai. Wisata hutannya pun ternyata ciamik. Way to go, Bro…

  7. Hehe, kok apes banget nasibmu bro? Sempat ke mana lagi selama di Bali?
    Kebun Raya Bedugul biasanya dipakai sekolah-sekolah dan instansi untuk melakukan acara keakraban atau perpisahan. Makanya musim akhir tahun ajaran, lokasi ini ramai dengan anak sekolahan.🙂

  8. @gimbal: ajib coy!:mrgreen:

    @darahbiroe::mrgreen: ketahan akismet masbro..

    @soyjoy76: cuma menikmati masa gila-gilaan sama teman-teman, masbro.:mrgreen: yoi, hutannya juga gak kalah indah daripada pesisirnya..

    @agung pushandaka: takdir bro. hehe..:mrgreen: lumayan lah keliling-keliling. kalo pegunungannya juga sampe kintamani sih.😀 mempesona dah, budaya dan keelokan alamnya.😀

    hmm.. jadi begitu ya, bro. tapi asli, kebun raya bedugul bikin saya pengen mengunjungi kebun raya-kebun raya lain..😀

  9. senasiiiib!!! secara aku suka motret dan kurang suka dipotret, maka aku juda selalu kebagian jadi fotografer tidak resmi bagi teman-teman. padahal kesukaanku adalah memotret pemandangan dan obyek selain manusia narsis! huh!

    hahahahaaa…

    perjalananmu ini pasti berkesan banget deh, soalnya mentally challenging.

  10. @jendelakatatiti: bener. saya jaga banget itu kamera..:mrgreen:

    @marshmallow: sama, uni. saya juga lebih suko motret2 pemandangan dan benda-benda mati. motret manusia, basi.:mrgreen: *apalagi disuruh motret orang sambil loncat2an, jelek banget hasilnya*

    @zephyr: sengaja masbro.:mrgreen:

  11. Peregangan yang terjadi ketika mengejan itulah yang biasanya menyebabkan pembuluh darah yang berada di sekitar anus pecah sehingga terjadi pendarahan. Memang begitu tak nyamannya jika mengalami wasir sat hamil tapi yang menjadi pertanyaan apa hubungan antara wasir dengan kehamilan? Ternyata ada beberapa faktor penyebab yang menimbulkan wasir saat hamil. Perubahan hormone yang berada di dalam tubuh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s