Langkah (38): Another Day in Kuta

Jalan-jalan hari pertama di Bali berakhir di Kuta. Percaya atau tidak, pertama kali ke Bali saya cuma muter-muter Kuta selama dua hari. Setelah itu pulang ke Jogja. Itu sudah. Kali kedua ke Bali saya menjadikan Kuta sebagai tempat transit sebelum pergi ke mana-mana. Dengan masker di muka, waktu itu sedang marak-maraknya pemberitaan mengenai flu babi, saya berdua dengan kawan membentangkan tikar mantel hujan di pasir dan bersantai. Tidur-tiduran sambil baca buku plus mengamat-amati bule cantik yang berlalu-lalang.

Sebelum-sebelumnya belum pernah saya kehujanan di Kuta. Baik itu gerimis yang rintik-rintik ataupun hujan badai. Suasana semarak dan cerah selalu. Tiap hari saya bisa melihat matahari terbenam di sana. Sunset yang bikin orang penasaran bukan karena indahnya, banyak tempat lain yang lebih eksotis untuk menikmati matahari terbenam dibanding Kuta, namun karena masalah tempatnya. “BALI, COY!”

Awal Februari kemarin entah kenapa Kuta menyambut saya dengan hujan badai. Bukan bermaksud lebay, hujan badai yang saya maksud memang benar-benar hujan badai. Begitu tiba di pantai, kami langsung foto-foto. Di gerbang Kuta yang ada tulisannya Pantai Kuta, kemudian bergerak ke dalam untuk foto-foto loncat yang sedang musim sekarang ini.

Eh, begitu sedang asyik loncat-loncat, dari arah Jimbaran terdengar suara gemuruh. Kemudian gemuruh itu berganti menjadi suara seperti kran air ketika sedang mencuci mobil. Angin kencang dahulu, hujan badai kemudian. Kami langsung kalang-kabut mencari perlindungan. “Party is over, Dude! No surfing, no sun-bathing, no kayaking, no streetwalking anymore!

Ternyata Januari-Februari kemarin pantai barat Bali memang sering hujan disertai badai. Di salahsatu koran online saya sempat baca bahwa petugas kebersihan Kuta sampai kalang-kabut membersihkan sampah yang bertebaran di sepanjang pantai yang dibawa oleh badai dari daratan, saking intensnya badai menghantam Kuta. Kuta terbasah yang pernah saya lihat.

Padahal kalau sedang cerah, kau bisa melakukan banyak hal di pantai yang termahsyur itu. Bule-bule kebanyakan ke sini buat belajar surfing dan buat bikin kulit coklat dengan melakukan sun-bathing. Ombaknya memang kelihatan, oleh mata awam saya, sebagai ombak yang sesuai untuk dipakai belajar. Tidak terlalu besar seperti mentawai, dan tidak terlalu kecil seperti di Senggigi. Pasirnya pun putih dan lembut, nyaman untuk dipakai tidur-tiduran. Walaupun ternyata pasir Kuta sebenarnya bukan asli dari sana melainkan pasir hibah dari daerah Jimbaran ke Selatan. Pepohonannya juga lumayan rimbun untuk membuat angin bertiup sepoi-sepoi menyegarkan meskipun tidak senyaman berbaring-baring di Gili Trawangan. Dan, kalau mau, di sini anda juga bisa main layangan. Saya pernah melihat segerombolan bule Eropa sibuk menggulung-gulung benang layangan di Kuta.

Jalan-jalan di pedestrian Kuta siang hari juga asyik. Selain berasa di luar negeri, kita juga akan menemukan banyak bangunan unik, aneh, dan terkenal, yang sering digunakan orang sebagai tempat foto-foto. Yang paling saya gemari sih nongkrong-nongkrong di depan Hard Rock Hotel dan mengamat-amati orang-orang yang berpose di depan papan surfing raksasa bertuliskan Hard Rock Hotel Bali. Atau kau bisa juga nongkrong-nongkrong dan berfoto di Bali Bomb Monument di timur Gang Poppies Lane II.

Tapi jika ingin mencari masjid, jangan harap akan menemukannya di sana. Saya sempat tertipu oleh sesosok bangunan berarsitektur seperti masjid. Megah. Namun setelah didekati ternyata itu bukan masjid. Masa masjid namanya Kamasutra?[]

21 pemikiran pada “Langkah (38): Another Day in Kuta

  1. Mesjid paling dekat di daerah Kuta adalah di dalam hotel Ibis (kalo gak salah). Disitu ada musholla untuk pegawai nya.
    ATau kalo mau mesjid yang lebih gede, ada di dekat Bandara, tepatnya di daerah Kampung Bugis. Disitu ada mesjid gede dikelilingi warung warung makan Halaal

  2. @-H-: amin..😀

    @okkots: kintamani udah nyoba belum bro? trus daerah singaraja katanya juga bagus lho.. *belum pernah ke singaraja*

    @cipu: wah, kalo yang di ibis berarti orang luar gak boleh masuk y? saya sih kalo di kuta biasanya sholat di masjid Ar-Rahmat. letaknya di Jl. Raya Kuta, deket sentra parkir kuta. pernah juga nginep semalam, dengan mengendap-endap, di sana.:mrgreen:

    @nakjadimande: segan saya majangnya di sini, bundo.:mrgreen: mending foto2 yang biasa aja yang dipajang di blog.😀

    kamasutra itu ternyata resto, lounge, and club, bundo..:mrgreen:

  3. hm..ntah kenapa saya kurang nyaman dengan kuta,Kmaren waktu mblusukan ke bali, saya pikir kuta adalah tempat yg cukup ramah, beberapa kejadian yang bikin gak enak..
    1. mulai dari tukang sewa motor yang jutek abis walopun akhirnya dapet mtor di counter lain..
    2. trus supir angkotan kota yang nyolot banget ketika kita kasih duit yang kurang (biasa aja kali..kan emang kita bukan orang sono)
    3. nyari2 hotel yang murah gak dapet..padahal menurut info dari sana sini rate room yg paling biasa itu rata2 dibawah 120rb tapi kok setelah puter rate-nya diatas 170 semua yak..walopun pada akhirnya dapet losmen yg 50rb-an (itupun setelah ngubek2 Poppies hampir 3 jam)
    4. ngeprint peta Bali yg gak lebih dari kertas A4 ikenai tarif 10rb whhhhaaaaaaatttt??? (melengking 10 oktaf)

    kejadian2 diatas membuat saya agak sedikit gimnaaa gitu sama Kuta, dan saya lebih Jatuh cinta sama Ubud daripada Kuta..hahhaha pokoknya Ubud is the best lah🙂

  4. @omagus: segera aja dilaksanakan, om..:mrgreen:

    @adhadi praja: untung waktu nyewa motor saya dapet bli yang ramah, walaupun penampilannya serem karena tatoan. saya kan bilang mau minjem 3 hari. tau2 dua hari udah terjelajahin semua yang pengen dikunjungi.. kami balikin dah tu motor. tau2 di notanya ada peraturan kalau pembatalan dikenai denda 50% dari sewa satu hari yang dibatalkan itu. untungnya bli itu nggak ngedenda, malah ngebalikin duit rental seharian.:mrgreen:

    kalo sopir angkot di bali mah saya juga males. suka ngasih harga seenak jidatnya.:mrgreen: makanya sebelum berangkat biasanya saya sedia duit pas, biar gak diambil lebih sama dia.. dan riset dulu waktu itu ongkosnya angkot di bali berapa.

    hotel waktu peak season biasanya emang mahal sih. kalo pada rame dan tarif hotel mahal, biasanya saya nyari yang gratisan. rental motor, trus main ke mapala Udayana. nginep gratis dah..:mrgreen:

    saya belum pernah nginep di ubud. lewat doang sih udah.. keknya perlu dicoba tuh nginep di ubud.😀

    @sash: grebegannya besok ya? aduh, kamera lagi nggak ada nih.:mrgreen: liat besok deh. kalo berangkat, mungkin kita bisa ketemu di sana.😀

    @and1k: maksudnya yang jarang masjidnya itu di daerah kuta, bro.😀

  5. kamasutra udah jelas bukan nama mesjid. hihi.
    dasar ya kamu bawaannya mau cari penginapan gratis mulu, nyari mesjid.
    kuta memang asyik. tapi terlalu banyak bule sehingga kita yang malahan berasa turis di negeri asing, mereka penduduk lokalnya.

    tapi yang paling bikin ilfil adalah kemacetan di daerah sekitar situ, terutama jl. legian. secara badan jalan kecil banget dan kiri kanan penuh pertokoan dan pejalan kaki. duh.

    soal badai di bali, terakhir aku ke sana februari tahun lalu, kami sempat tidak bisa mendarat di ngurah rai dan pesawat ngetem di mataram untuk beberapa lama hingga badai reda. ternyata banyak daerah di bali banjir saat itu.

  6. Hm hmmmm………..jadi kangen sama pantaiiii😀

    tapi bener juga siiihh masalah kondisi pantai (atau laut?) yang kurang bagus di bulan jan-feb, soalnya saya sempat cari2 info untuk travel ke KarJaw bln feb, tapi banyak yg blg kondisi laut untuk bulan itu ngga bagus dan sangat tidak disarankan untuk berlibur ke daerah pantai di rentang waktu tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s