Langkah (39): Kintamani – Bali Bukan Cuma Pantai

Malam tanggal 1 Februari saya dipaksa mandi oleh kawan-kawan. Sayangnya sekuat saya menolak, sekuat itu pula mereka berusaha mamaksa. Sedang enak-enaknya tidur jam 12 malam sempat-sempatnya mereka membangunkan, “Jong. Mandi, Jong! Kamar mandi udah kosong, tuh. Mesakke Gede.” Kata mereka, kasihan Gede kamarnya ntar bau. Padahal kan berpendingin-ruangan dan saya nggak bau-bau amat.

Akhirnya saya mandi. Ada untungnya juga sih mandi malam-malam. Bangun pagi jadi segar untuk memulai aktivitas, memulai perjalanan. Soalnya hari itu, tanggal 2 Februari, rute yang akan dijajal lumayan panjang, ke Kintamani yang waktu tempuhnya sekitar 2 – 3 jam.

Menurut petunjuk dari Bli Gede, supaya cepat sebaiknya kami lewat by pass Ida Bagus Mantra saja. Ikuti jalan sampai ketemu persimpangan besar ke Gianyar. Dasar geblek, belum apa-apa kami sudah terbujuk persimpangan kecil dengan penunjuk arah “Gianyar”. Ketika menyadari ketololan itu, saya cuma bisa tepuk jidat. Masalahnya di Bali banyak sekali jalan alternatif yang kadang-kadang lebih jauh daripada jalan umum. Kadang-kadang juga bisa “jauh panggang dari api”. Pengennya cepat sampai di tujuan, malah jadi mutar-mutar nggak karuan.

Thank God salah mengambil jalan kali ini berujung menyenangkan. Kami lewat Sukawati, pasar seni Bali yang terkenal. Kami juga lewat Desa Lodtunduh yang terletak di pinggiran Ubud. Desa wisata seni dan budaya yang menjadi latar cerita “Perahu Kertas” karangan Dewi Lestari. Cukup lah buat mengobati rasa luka akibat kehilangan foto-foto di Gili Trawangan. Tapi sial yang ‘enak’ seperti ini cuma kadang-kadang lho. Sebaiknya kalau nggak mau menghabiskan waktu dengan percuma di Bali, ikuti jalan umum. Jangan deh masuk-masuk gang.

Untuk ke Kintamani, anda juga akan lewat Ubud. Kota seni yang digadang-gadangkan sebagai kota terbaik se-Asia berdasarkan survey yang dilakukan oleh majalah Conde Nast Traveller awal Januari lalu. Dengan jalan-jalan kecilnya dan kios-kios barang seni, Ubud memang mempesona.

Dari Ubud kami terus memacu motor ke utara. Sampailah kami di Tegallalang, daerah wisata “melihat sawah bersengkedan”. Di sini saya jadi teringat salahsatu bab di “The Naked Traveler”. Bab tentang wisata melihat pohon pisang. Ternyata kita juga punya tujuan wisata sejenis; melihat sawah bersengkedan.

Lepas dari Tegallalang barulah saya menyadari bahwa saya salah kostum lagi. Jalan menuju Kintamani bahkan lebih dingin dari Bedugul. “Brrr…” Di perempatan terakhir sebelum masuk kawasan danau Kintamani, motor kami dicegat oleh seorang ibu-ibu yang memakai pakaian tradisional Bali. Lengkap dengan sesajen-sesajen dan wadah besarnya. Tiba-tiba, tanpa diduga, beliau mengucapkan mantra-mantra tak dikenal. Ternyata ibu-ibu itu menjual do’a. Kening kami berempat diberi beras ketan putih mentah dan kedua motor diberi sesajen. Setelah kami beri imbalan sekadarnya beliau menunjukkan jalan, “Sudah dekat, kok. Kintamani bagus, nggak rugi kalian ke sini. Nanti pertigaan belok kanan.”

Ternyata memang sudah dekat dan di pertigaan memang belok kanan. Kalau lurus menuju jurang. Gunung Batur dan Danau Batur (Kintamani) sudah terhampar di depan. Tempat pertama yang kami cari adalah warung kopi. Badan ini sudah terlalu dingin untuk dipakai loncat-loncatan kegirangan karena sudah sampai di tujuan. Kami berhenti di sebuah warung, yang memiliki teras belakang untuk melihat-lihat danau, kemudian memesan Kopi Ginseng hangat.

Sambil menyeruput kopi saya membayangkan betapa dahsyatnya letusan gunung purba yang menyebabkan terbentuknya Danau Kintamani, yang berada tepat di depan saya sekarang. Gunungnya pun pasti raksasa karena Gunung Batur di barat dan Gunung Abang (2152 m dpl) di timur sebenarnya merupakan pematang kaldera.

Si Fiancuk sebenarnya ingin sekali ke Trunyan yang berada di seberang utara danau. Tapi untuk ke sana katanya harus menyewa kapal untuk menyeberang. Nggak ada jalan darat menuju ke sana. Karena sewa kapal di mana-mana mahal, dan keuangan kami pas-pasan, niat itu diurungkan dulu. “Ntar deh kalau ke sini lagi, kita ke Trunyan … “[]

7 pemikiran pada “Langkah (39): Kintamani – Bali Bukan Cuma Pantai

  1. Jadi pengen ke kintamani. Sebelum baca ini semua, saya males bgt ke bali, soale saya pikir sudah sangat tereksploitasi. tapi ternyata masih ada sisi sisi bali yang menarik untuk dijamah😀

  2. dan kalau ke trunyan itu harus berani dikibuli di tengah danau. ups! informasi ini juga kudapatkan dari penduduk lokal.

    hm… kintamani memang indah. tapi sayang, kabutnya datang tiap sebentar. kalau mau ke sana musti pagi betul agar bisa memotret sebelum kabut turun di siang hari.

    foto-fotonya bagus, dri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s